NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Karena Kamu”

Pagi ini adalah hari ketiga Nayla tinggal di rumah itu. Ia menggeliat ke sana kemari, meregangkan tubuhnya di atas kasur Arkan.

Kebetulan, Arkan tidak ada di sampingnya.

Merasa aman, Nayla pun berguling-guling sesuka hati. Ia menguap lebar, bahkan tanpa sadar mengeluarkan suara yang… cukup memalukan.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi, ada seseorang yang memperhatikan semua tingkah anehnya.

“Apa itu?” teriak suara kecil yang tiba-tiba terdengar.

“Ya kentut lah,” jawab Nayla santai, tanpa berpikir panjang.

Arkan langsung mendekat sambil tertawa lebar.

“Hahaha, kakak kentutnya banyak sekali!” katanya polos, lalu naik ke atas kasur.

Nayla baru menyadari sesuatu.

“Kakak kira Arkan gak ada di kamar… Loh, kamu sudah mandi ya?” tanyanya penasaran.

“Arkan tadi main sama papah. Arkan juga dimandiin sama papah,” jawab Arkan dengan wajah polos.

Nayla tersentak.

“Arkan… di kamar bermain ada papah?” tanyanya, kini dengan suara berbisik.

Arkan mengangguk kecil, lalu melirik ke satu arah.

“Itu papah lagi lihat kita…”

Seketika tubuh Nayla membeku.

Ia terdiam.

Tertunduk.

Wajahnya memanas.

Astaga… aku mau hilang saja sekarang… batinnya menjerit.

“Kakak?” panggil Arkan lembut.

“Kenapa? Kakak sakit?”

Di sisi lain, seseorang menahan tawa.

Gemes.

Pasti dia malu sekali, pikirnya dalam hati.

Ayah Arkan masih bersandar santai di dinding, memperhatikan gadis yang kini berubah kaku seperti patung—padahal sebelumnya begitu bebas menggeliat ke sana kemari.

“Arkan…” bisik Nayla pelan.

“Hem?” Arkan mendekatkan telinganya.

“Papahmu… masih ada?” tanyanya hati-hati.

Arkan mengangguk.

Belum sempat Nayla bereaksi—

“Nai. Mandi, siap-siap. Kita pergi keluar.”

Suara itu terdengar jelas.

Lagi-lagi panggilan itu.

Nai.

Kenapa bukan Nayla saja sih… atau Nay? gerutu Nayla dalam hati.

“Iya…” jawabnya pelan, hampir seperti berbisik.

Setelah terdengar bunyi pintu tertutup, Nayla kembali menoleh ke arah Arkan.

“Arkan, papahmu sudah pergi?” tanyanya hati-hati.

“He’em. Kakak sana mandi. Kita kan mau jalan-jalan,” ujar Arkan sambil menarik tangan Nayla agar segera turun.

“Jalan?” Nayla mengerutkan kening.

“Kita mau jalan-jalan,” ulang Nayla, memastikan.

“Iya! Papah bilang kita mau ke mall!” teriaknya semangat.

“Arkan. Kakak nggak tuli, ya. Jangan teriak-teriak,” tegur Nayla.

Arkan hanya tertawa cengengesan.

“Arkan pikir kakak masih ngantuk, jadi Arkan teriak. Hehehe…”

Nayla melipat kedua tangan di dada, menyipitkan mata menatapnya.

Arkan hanya nyengir, lalu berbalik pergi.

“Dah, Kakak. Jangan lama ya!”

Nayla menghela napas panjang.

“Huu…”

**

Sinar matahari pagi masuk perlahan dari jendela, menyelinap di antara gorden yang bergerak pelan tertiup angin.

Wuuung…... suara pengering rambut memenuhi ruangan.

Nayla berdiri di depan cermin, mengeringkan rambutnya yang masih basah. Sedari tadi ia menggerutu dalam hati.

Kenapa Arkan juga, gak ngebangunin sih… Biasanya dia yang bangunin aku. Huu... ini gara-gara semalam begadang. Kesalnya dalam hati

Bagaimana tidak?

Bangun kesiangan, Arkan sudah dimandikan papahnya.

Dan tadi lagi ..

“Aaaaa…” teriak batinnya frustasi

Nayla menarik rambutnya sendiri pelan, lalu memukul kepalanya ringan.

“Malu…cokk"

“Huuuu…”

Ia menghembuskan napas berat.

Setelah memenangkan diri. Nayla melanjutkan aktivitasnya.

Buk…

Buk…

“Kakak…Kakak…

Buka pintunya!”

Suara cempreng dari luar kamar membuatnya kembali menghela napas.

ceklek

“Ada apa?”

Pintu baru saja terbuka, Arkan langsung menerobos masuk dan memeluk kakinya.

“Kakak lama sekali,” ucapnya cemberut.

Nayla tersenyum gemas, lalu menarik pelan bibir mungil Arkan.

“Ihh kamu ini. Kakak sudah selesai kok.”

Arkan langsung tersenyum lagi.

Yaudah, ayo kalau gitu!” ucapnya cengengesan

Saat Nayla keluar kamar, ternyata semua orang sudah menunggunya.

Aduh… malu banget.

“Oma!” teriak Arkan sambil menarik lengan Nayla.

“Oh, Nay sudah siap. Ayo kita berangkat. Nanti sarapannya di mall saja,” ujar Oma dengan senyum hangat.

“Maaf, Oma…” ucap Nayla pelan.

“Enggak apa-apa. Memangnya sekarang jam berapa sih? Baru jam sembilan kok,” jawab Oma menenangkan.

“Tapi kan…”

“Yah, enggak apa-apa, toh, Nay,” potong Oma lembut.

“Kalau Oma sih, yang penting Arkan enggak ngamuk. Biarpun kamu tidur seharian, selama Arkan tenang… itu sudah cukup.”

Nayla mengangguk kecil.

Namun di dalam hatinya, rasa bersalah itu masih tertinggal.

Mereka berjalan beriringan.

Arkan melompat-lompat kecil di depan, terlihat begitu kegirangan.

**

-Di mall

Sebenarnya Nayla masih merasa malu akan kejadian di kamar Arkan tadi.

Namun ia menebalkan muka, berusaha terlihat biasa saja.

Kalau ia terlalu kaku, Oma pasti akan peka.

Jadi ia memilih mengabaikan rasa canggung itu.

Setelah selesai sarapan, mereka berbincang hangat.

Di tengah-tengah itu, ponsel papahnya Arkan berdering.

Ternyata dari Kak Danu.

Ia pun bergegas pergi.

Nayla diam sejenak.

Lalu dalam hati—

Yesss…

“Tahu nggak, Nay?” tanya Oma lembut.

“Tahu apa, Oma?”

“Papahnya Arkan… berubah banget,” ucap Oma dengan nada sedikit dramatis.

Nayla hanya tersenyum kecil, membiarkan Oma melanjutkan.

“Baru kali ini dia seperti ini…” Oma menghela napas pelan.

“Dia jadi lebih sering berkumpul. Setiap makan, selalu ada.”

Oma tersenyum tipis.

“Dulu, kalau pulang ke sini, jarang sekali makan bersama. Papahnya Arkan sibuk sekali.”

Nayla terdiam, mendengarkan.

“Makasih ya, Nay…” ucap Oma lembut, penuh ketulusan.

Nayla sedikit terkejut.

“Gara-gara … Keningmu kepentung pesawat. keluarga Oma jadi terasa lebih hangat.”

Oma tersenyum kecil.

Nayla langsung teringat kejadian itu.

Dan rasa bersalah kembali datang. Sebetulnya ia sangat menyesali perbuatannya dulu.

Oma menepuk pelan tangan Nayla,

"Nay, yang berlalu, biarlah berlalu. Lagian pula kalau Arkan gak digituin mungkin saat ini masih nakal. Ucap Oma penuh kelembutan

Nayla hanya tersenyum, Ia mencoba mengambil hikmah baik dari kejadian itu

---------

Hy guys. Maaf ya, lagi gak mood nihh🙏🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!