Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Surat dari Masa Lalu
Fajar yang menyingsing kali ini terasa lebih hangat di kulit Arkan Xavier. Berita penangkapan Bramantyo telah menyebar ke seluruh penjuru Lapas seperti api yang melalap rumput kering. Di kantin, di lapangan, hingga ke sudut-sudut gelap sel, nama Arkan dibisikkan dengan nada yang berbeda; bukan lagi sebagai "Anjing Sipir", melainkan sebagai pria yang berhasil menjatuhkan raksasa dari balik jeruji besi tanpa melepaskan satu peluru pun.
Suasana di Blok Hunian Minimum jauh lebih tenang pagi itu. Arkan sedang duduk di meja perpustakaan, merapikan buku-buku yang sempat ternoda debu kerusuhan kecil semalam. Tiba-tiba, Kepala Lapas Suprapto masuk bersama Sofia Xavier. Wajah ibunya tampak pucat, namun matanya memancarkan kelegaan yang mendalam.
"Arkan," Sofia meletakkan sebuah amplop kulit tua yang sudah agak rapuh di atas meja kayu.
"Polisi baru saja menyelesaikan penggeledahan di brankas rahasia Bramantyo. Mereka menemukan ini terselip di balik dokumen palsu yang dia gunakan untuk memfitnah keluarga Malik."
Arkan menatap amplop itu. Ada stempel lilin merah dengan lambang keluarga Xavier yang sudah pecah. "Ini... dari Ayah?"
Sofia mengangguk. "Bramantyo mencurinya sesaat setelah ayahmu wafat. Dia tahu jika surat ini sampai ke tangan Rahman Malik, rencana besarnya untuk menguasai aset Xavier dan menghancurkan keluarga Malik akan gagal total.
Dia menyimpan ini sebagai 'kartu as' untuk memeras kita jika sewaktu-waktu kita melawannya."
Arkan membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan di dalamnya tegas namun berantakan di beberapa bagian, menunjukkan sang penulis sedang dalam kondisi emosional yang hebat saat menulisnya.
"Untuk Rahman Malik, sahabat yang kukhianati..."
Isi surat itu adalah pengakuan dosa yang paling murni dari mendiang Xavier Senior. Ia mengaku bahwa kecemburuannya pada integritas Rahman-lah yang membuatnya gelap mata. Ia menuliskan bagaimana ia menyesal telah memisahkan Rahman dari anak-anaknya, dan bagaimana ia sebenarnya ingin mengembalikan seluruh aset itu sebelum ia menghembuskan napas terakhir. Di akhir surat, tertulis sebuah kalimat yang membuat jantung Arkan berdegup kencang:
"Rahman, jika putraku Arkan tumbuh menjadi pria seperti aku, kumohon maafkanlah dia. Tapi jika dia memilih jalanmu, bimbinglah dia. Karena hanya dia yang bisa memutus rantai kutukan darah Xavier ini."
Arkan memejamkan mata. Air mata jatuh ke atas kertas tua itu. Selama ini ia merasa memikul beban dosa ayahnya sebagai kutukan, namun surat ini membuktikan bahwa ayahnya pun merindukan pengampunan di detik-detik terakhirnya.
Sementara itu, di Blok C yang lebih ketat, suasana jauh dari kata damai. Bramantyo, yang terbiasa dengan setelan jas mewah dan aroma parfum mahal, kini mengenakan seragam oranye yang gatal dan berada di sel yang sama dengan Bongkeng.
"Gara-gara kau, rencana ini hancur!" bentak Bramantyo, mencoba menyerang Bongkeng dengan tangannya yang halus.
Bongkeng tertawa, suara tawa yang menyeramkan. Ia mencengkeram kerah baju Bramantyo dan membantingnya ke dinding sel.
"Kau yang bodoh, Tuan Besar! Kau meremehkan serigala yang sedang lapar. Arkan Xavier bukan lagi orang yang bisa kau beli dengan uang. Dia punya sesuatu yang tidak kau miliki: Seseorang untuk diperjuangkan."
Bramantyo gemetar. Ia menyadari bahwa di dalam sini, ia bukan siapa-siapa. Uangnya tidak bisa membeli udara yang lebih segar atau perlindungan dari pria seperti Bongkeng yang kini merasa dikhianati olehnya. Di luar, seluruh hartanya disita oleh negara sebagai bukti tindak pidana pencucian uang.
Di paviliun panti asuhan, Aisyah sedang membacakan surat dari ayahnya kepada anak-anak panti ketika Sofia Xavier dan Leo datang membawa salinan surat dari mendiang Xavier Senior.
Aisyah membaca setiap kata dengan napas tertahan. Ia menyerahkan surat itu kepada ayahnya, Rahman Malik, yang duduk di kursi goyang di teras.
Rahman membaca surat itu dalam diam.
Tangannya yang memegang kertas itu bergetar hebat. Setelah selesai, ia menatap langit sore yang berwarna jingga. "Dua puluh tahun, Aisyah... dua puluh tahun Ayah menyimpan dendam ini. Dan ternyata, di ujung hayatnya, dia pun menderita karena dosa itu."
Rahman Malik menoleh pada Aisyah. "Kirimkan pesan pada Arkan lewat Leo. Katakan padanya... hutang darah ayahnya sudah lunas. Sekarang yang tersisa hanyalah masa depan yang harus dia bangun sendiri."
Aisyah memeluk ayahnya dengan erat. Ia merasa seolah sebuah gunung besar yang selama ini menghimpit pundak keluarganya baru saja diangkat oleh tangan Tuhan.
Status "Warga Binaan Teladan" Arkan kini diperluas. Kepala Lapas Suprapto memberinya izin untuk memulai program "Literasi untuk Pertobatan". Arkan mulai mengumpulkan narapidana yang buta huruf atau yang ingin belajar agama.
Sore itu, di perpustakaan, Arkan sedang mengajar kelas kecil ketika ia melihat Rifqi, narapidana muda yang membantunya menjebak Bongkeng, tampak murung.
"Ada apa, Rifqi?" tanya Arkan.
"Bang... masa hukuman saya tinggal sebulan lagi. Tapi saya takut keluar. Saya tidak punya keluarga, tidak punya pekerjaan. Saya takut kembali ke jalanan dan menjadi sampah lagi."
Arkan menatap pemuda itu. Ia teringat dirinya sendiri beberapa tahun lalu. "Kau tidak akan menjadi sampah, Rifqi. Aku sudah bicara dengan Dokter Aisyah. Yayasan Malik membutuhkan tenaga kebersihan dan keamanan tambahan di panti asuhan. Jika kau mau bekerja keras dan jujur, kau punya tempat di sana."
Mata Rifqi berbinar. "Benarkah, Bang? Abang percaya pada saya?"
"Aku percaya pada siapa pun yang mau bersujud dan mengakui kesalahannya," jawab Arkan tegas.
Hari Sabtu tiba kembali. Namun kali ini, Aisyah tidak datang sendirian. Ia datang bersama Rahman Malik dan Hamdan. Ini adalah pertama kalinya Rahman Malik mau menginjakkan kaki di Lapas untuk menemui Arkan.
Arkan berdiri kaku saat melihat Rahman masuk ke ruang kunjungan dengan bantuan kruk. Ia segera menunduk dalam, tidak berani menatap mata pria yang hidupnya dihancurkan oleh ayahnya itu.
"Arkan," suara Rahman Malik terdengar serak namun penuh wibawa. "Angkat kepalamu. Seorang pria yang sudah berani mengakui dosanya tidak perlu menunduk di depan manusia."
Arkan mendongak, matanya berkaca-kaca.
"Aku sudah membaca surat ayahmu," lanjut Rahman. "Dan aku sudah memaafkannya. Dan untukmu... terima kasih karena telah menjaga putriku meski kau berada di dalam sini. Transfusi darahmu waktu itu... ternyata bukan hanya menyelamatkan nyawaku, tapi juga menyatukan kembali rasa kemanusiaan kita."
Hamdan menepuk bahu Arkan. "Belajar mengajinya jangan berhenti, Arkan. Aku sudah menyiapkan jadwal khusus untukmu saat kau bebas nanti. Kau akan menjadi asistenku di pesantren kecil yang sedang kami bangun."
Aisyah hanya berdiri di sana, menatap Arkan dengan senyum yang paling indah. Ia tidak perlu bicara banyak; sorot matanya sudah mengatakan semuanya.
Saat mereka pulang, Arkan berdiri di depan jendela perpustakaan, melihat mobil yang membawa mereka menjauh. Ia menyentuh saku seragamnya, di mana surat dari ayahnya dan surat remisi barunya berada.
Malam itu, Arkan menulis di buku catatannya dengan tinta yang mantap:
Pengampunan adalah kunci yang paling kuat. Ia tidak hanya membuka pintu penjara ini, tapi ia membuka pintu hati yang selama ini terkunci oleh kebencian. Ayah, istirahatlah dengan tenang. Aku akan melanjutkan hidup ini dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan: dengan cinta, bukan dengan kekuasaan.
Saat Arkan mulai mendapatkan kedamaian, muncul kabar dari Leo bahwa beberapa "pemain lama" dari klan Xavier yang masih berada di luar negeri merasa terancam dengan program transparansi aset yang dilakukan Arkan. Mereka mulai merencanakan sesuatu untuk "menyingkirkan" Arkan sebelum ia bebas, karena Arkan dianggap sebagai ancaman bagi rahasia-rahasia klan Xavier lainnya yang masih terkubur.