"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Keberhasilan dan Kata-Kata Dingin
POV Zhira
Dengan nafas yang masih memburu dan jantung yang berdegup kencang, aku mendorong pintu rumah.
"Assalamu’alaikum!" sapaku dengan suara yang sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Surat itu kupegang sangat erat, hampir kusut karena terlalu kugenggam.
Di ruang tamu, Ayah Alvin sedang duduk sambil membaca koran, dan Ibu Zainal sedang menyapu lantai. Mereka berdua menoleh ke arahku.
"Wa’alaikumsalam. Kenapa terengah-engah begitu? Dikejar setan?" tanya Ibu Zainal dengan nada ketus seperti biasa.
Aku tidak peduli dengan nada bicaranya. Hari ini aku punya kabar yang akan mengubah segalanya. Aku berjalan mendekat, wajahku berseri-seri meski air mata sudah siap tumpah lagi.
"Yah... Bu... Lihat ini!" seruku sambil menyodorkan amplop cokelat tebal itu ke depan mereka. "Zhira dapat! Zhira dapat beasiswanya! Dapat yang penuh lho, Bu! Semua biaya kuliah ditanggung, nggak perlu keluar uang sepeser pun!"
Wajah Ayah Alvin langsung berubah kaget, lalu menyebar senyum lebar yang sangat tulus. Dia buru-buru mengambil surat itu dan membacanya dengan cepat.
"Ya Allah... Benar ini, Zhira? Beasiswa penuh? Ke universitas yang kamu mau?" tanya Ayah tak percaya, matanya berbinar-binar.
"Benar, Yah! Guru bilang nilai Zhira paling tinggi dan esainya disukai dewan juri. Jadi Zhira bisa kuliah tanpa beban biaya sama sekali!" jelasku antusias.
Ayah Alvin berdiri lalu memelukku erat sekali. Pelukan hangat yang sangat lama tak kurasakan. "Bangga... Ayah bangga sekali sama kamu, Nak. Kamu hebat! Kamu membuktikan kalau kamu bisa!"
Air mataku jatuh, kali ini bercampur rasa bahagia yang luar biasa. Di pelukan Ayah, aku merasa semua lelah dan air mata selama ini terbayar sudah.
Namun, saat aku melepaskan pelukan dan menoleh ke arah Ibu Zainal, senyum di bibirku perlahan memudar.
Ibu Zainal tidak tersenyum. Dia tidak terlihat bahagia sama sekali. Dia hanya menatap surat itu sekilas dengan wajah datar, bahkan sedikit cemberut. Sapunya masih terus bergerak menyapu lantai, seolah apa yang terjadi ini bukanlah hal penting.
"Yah... Ibu..." panggilku pelan, berusaha mencari respon darinya. "Jadi Zhira nggak akan minta uang kuliah kok, Bu. Semua sudah ditanggung. Zhira bisa kuliah..."
Ibu Zainal berhenti menyapu. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan tatapan bangga, tapi lebih ke arah... kesal?
"Halah, cuma beasiswa doang sombongnya bukan main," ucapnya pelan tapi cukup terdengar. "Memang pikir Ibu apa? Ibu kan dari awal juga sudah bilang nggak akan kasih uang. Jadi wajar kalau kamu cari cara sendiri."
Kata-katanya seperti air dingin yang menyiramku tiba-tiba. Antusiasmeku seketika padam.
"Tapi kan ini prestasi, Bu. Banyak yang daftar tapi cuma sedikit yang dapat. Zhira berjuang keras belajarnya sampai malam-malam..." coba aku menjelaskan, berharap dia bisa mengerti usaha yang kulakukan.
"Belajar itu memang kewajiban murid. Untuk apa juga dibuat-buat susah kalau emang dasarnya pintar," potong Ibu Zainal dingin. Dia meletakkan sapu dan berjalan menuju dapur. "Yang penting jangan sampai kuliahmu itu mengganggu pekerjaan rumah. Kamu tetap harus cuci piring, nyapu, dan urus adik-adikmu sepulang kuliah nanti. Jangan merasa hebat lalu jadi malas!"
"Zainal... Zhira kan baru dapat kabar baik. Kita senang-senang dulu dong," coba Ayah menenangkan. "Anak kita berhasil lho."
"Berhasil apaannya? Belum tentu sampai lulus! Orang pintar kalau sombong ya percuma juga. Lagian kuliah itu cuma formalitas, yang penting nanti bisa cari duit," jawab Ibu dari dapur tanpa bahkan mau menatapku.
Aku menunduk dalam. Jari-jariku mengepal kuat di sisi tubuh. Kenapa? Kenapa sesulit itu baginya untuk mengucapkan satu kata "selamat" atau "bangga"?
Aku sudah berhasil. Aku sudah membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kaki sendiri, bahwa aku tidak membebani mereka secara finansial. Tapi kenapa sikapnya tetap sama? Tetap dingin, tetap meremehkan.
"Terima kasih, Yah," bisikku pada Ayah. "Zhira masuk kamar dulu ya mau rapihin buku."
Ayah mengangguk pelan sambil menepuk bahuku dengan lembut, "Sana istirahat, Nak. Abaikan apa kata Ibu. Yang penting Ayah tahu, kamu anak hebat."
Aku berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarku. Pintu kututup perlahan, mengurung rasa kecewa itu kembali di dalam hati.
Di atas meja belajar, aku memandangi surat keputusan itu lagi. Tulisannya jelas, resmi, dan membanggakan. Tapi kenapa rasanya tidak semanis yang aku bayangkan?
Aku pikir dengan keberhasilan ini, tembok penghalang antara aku dan Ibu akan runtuh. Ternyata tidak. Tembok itu masih ada, bahkan mungkin semakin tinggi karena rasa iri atau entah apa namanya yang ada di hati Ibu.
"Tidak apa-apa, Zhira," bisikku pada diri sendiri sambil menghapus sisa air mata. "Kamu kuliah bukan demi pujian Ibu. Kamu kuliah demi masa depanmu sendiri. Demi bisa keluar dari sini dan membuktikan bahwa kamu berharga."
Aku menyimpan surat itu di dalam laci paling dalam, menyimpannya sebagai bukti bahwa aku mampu. Malam ini, meski rumah ini tetap dingin, aku tahu ada jalan terang yang sudah terbuka di depanku. Dan aku akan berjalan di atasnya, walau harus melangkah sendirian.
POV End
Waduh, Ibu Zainal kok gitu ya 😤 Tapi untung ada Ayah Alvin yang support. Gimana Bab 8-nya? Lanjut Bab 9 nanti ya! Semangat terus nulisnya! 💪❤️