NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Latihan di Bawah Tanah

Arga terbangun oleh suara langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Bukan langkah biasa—ringan, terukur, nyaris tak terdengar. Hanya seseorang dengan pelatihan tinggi yang bisa bergerak seperti itu. Ia membuka mata dan duduk di dipan kayunya. Di dalam Dantian, Benang Emas berdenyut tenang, seolah menyambut hari baru.

Pintu batu kamarnya bergeser terbuka. Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu. Tubuhnya ramping dibalut jubah hitam yang sama dengan pemburu lainnya, tapi ada emblem perak berbentuk bulan sabit di kerahnya—tanda yang tidak dimiliki pemburu biasa. Rambutnya hitam pendek, dipotong rapi di atas bahu. Matanya tajam, menatap Arga seperti menilai barang dagangan.

"Kau Arga?" Suaranya datar, tanpa keramahan.

"Ya."

"Aku Sinta. Darmaji menyuruhku melatihmu. Bangun. Kita mulai dalam lima menit." Ia berbalik dan menghilang ke lorong sebelum Arga sempat menjawab.

Arga menghela napas. Hari pertama.

Lima menit kemudian, ia berdiri di sebuah ruangan luas yang tampak seperti arena latihan bawah tanah. Lantainya dari batu keras, dinding-dindingnya dipenuhi bekas goresan senjata dan ledakan energi. Beberapa pemburu lain sedang berlatih di sudut-sudut ruangan—ada yang bertarung satu lawan satu, ada yang melatih jurus, ada yang bermeditasi.

Sinta sudah menunggu di tengah arena. Di sampingnya, sebuah rak kayu berisi berbagai senjata latihan—pedang kayu, tongkat, pisau tumpul.

"Pilih senjatamu," katanya singkat.

Arga berjalan ke rak. Matanya menyapu pilihan yang ada, lalu ia mengambil sebilah pisau kayu—pilihan yang sama dengan senjata yang biasa ia gunakan. Sinta mengangkat alis.

"Pisau? Melawan lawan yang lebih besar, kau akan kalah jangkauan."

"Aku terbiasa."

"Terserah." Sinta mengambil pedang kayu untuk dirinya sendiri. Ia memutar-mutar pedang itu dengan cekatan, pemanasan. "Darmaji bilang kau punya potensi. Katanya kau bisa bertahan melawan Naga Bumi. Aku ingin melihat sendiri."

Tanpa aba-aba, ia menyerang.

Cepat!

Arga nyaris tidak sempat mengaktifkan Langkah Bayangan Bulan. Pedang kayu Sinta meleset beberapa senti dari bahunya. Tapi sebelum ia bisa mengatur keseimbangan, serangan kedua sudah datang—kali ini mengarah ke kakinya. Arga melompat, tapi ujung pedang masih mengenai betisnya.

Dukk!

Rasa sakit menjalar. Tapi Arga tidak jatuh. Ia mendarat dengan satu kaki, langsung bergerak ke samping saat serangan ketiga datang.

"Gerakanmu bagus," komentar Sinta, suaranya masih datar meski ia terus menyerang. "Tapi terlalu bergantung pada menghindar. Di pertarungan sungguhan, kau tidak bisa selamanya menghindar."

Ia meningkatkan kecepatannya. Pedang kayunya kini bergerak seperti bayangan—cepat, sulit ditebak. Arga mengerahkan seluruh kemampuan Langkah Bayangan Bulan. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut lebih cepat, mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya.

Sret! Sret! Sret!

Tiga tebasan beruntun. Arga menghindari dua yang pertama, tapi yang ketiga mengenai lengannya. Rasa sakit yang sama. Lalu serangan berikutnya—tusukan ke arah dada. Arga memiringkan tubuh, tapi tidak cukup cepat. Ujung pedang kayu mengenai tulang rusuknya yang belum sembuh total.

Braakk!

Ia terpental, jatuh terduduk. Napasnya tersengal. Tulang rusuknya berteriak protes.

Sinta menurunkan pedangnya. "Cukup untuk hari ini."

"Aku masih bisa—"

"Cukup." Suaranya tegas. "Kau terluka sebelum latihan dimulai. Melanjutkan hanya akan memperparah. Besok kita lanjutkan."

Arga ingin membantah, tapi ia tahu Sinta benar. Ia bangkit dengan susah payah, menahan rasa sakit di rusuknya.

Sinta berjalan mendekat. "Tapi aku akui, gerakanmu tidak biasa. Itu bukan teknik dari sekte atau klan mana pun yang kukenal. Dari mana kau mempelajarinya?"

"Aku belajar sendiri."

"Omong kosong." Tapi Sinta tidak memaksanya. "Simpan rahasiamu. Di ordo ini, semua orang punya rahasia. Yang penting kau bisa diandalkan dalam misi."

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. "Istirahat. Nanti siang, Darmaji ingin menemuimu di ruang arsip. Katanya kau ingin membaca tentang Langit Kesepuluh." Ia berhenti sejenak. "Dan Arga... kau tidak buruk. Untuk pemula."

Ia pergi.

Arga berdiri sendirian di arena latihan. Lengannya memar, rusuknya sakit, tapi ada kepuasan aneh di dalamnya. Ia sudah lama tidak dilatih oleh orang lain. Sebagai Kaisar Langit, ia adalah yang melatih, bukan yang dilatih. Berada di posisi ini terasa... menyegarkan.

Sinta kuat. Ranah Pemurnian Qi tahap ketujuh, mungkin kedelapan. Tapi teknik pedangnya... ada sesuatu yang familiar.

Ia menggelengkan kepala. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang, ia harus menemui Darmaji.

---

Ruang arsip ternyata adalah gua kecil di ujung lorong, dipenuhi rak-rak batu yang menampung puluhan gulungan kitab. Udara di dalamnya kering dan berdebu, dengan bau kertas tua yang khas. Darmaji sudah menunggu di sana, duduk di meja batu dengan beberapa gulungan terbuka di depannya.

"Kau datang," katanya tanpa menoleh. "Duduk."

Arga duduk di seberangnya.

"Aku sudah mengumpulkan semua yang kami miliki tentang Langit Kesepuluh." Darmaji mendorong tiga gulungan ke arah Arga. "Tidak banyak. Sebagian besar adalah legenda dan spekulasi. Tapi ada beberapa fakta yang mungkin menarik bagimu."

Arga membuka gulungan pertama. Tulisan di dalamnya kuno, menggunakan aksara yang tidak lagi umum digunakan. Tapi ia bisa membacanya—tiga ribu tahun pengetahuan memberinya kemampuan untuk memahami hampir semua bahasa kuno.

"Langit Kesepuluh adalah tempat kelahiran para Dewa Pertama. Mereka yang mendiami tempat itu disebut 'Yang Tidak Bernama', karena nama mereka terlalu suci untuk diucapkan oleh makhluk fana. Konon, mereka menciptakan sembilan langit sebagai percobaan, dan dunia fana adalah hasil percobaan yang gagal..."

Arga membaca dengan saksama. Banyak yang sudah ia ketahui dari kitab warisannya. Tapi ada satu bagian yang menarik perhatiannya.

"...tiga Liontin Langit diciptakan sebagai kunci. Masing-masing dijaga oleh tiga keluarga penjaga. Saat ketiganya disatukan, gerbang akan terbuka. Tapi hanya mereka yang memiliki 'Darah yang Diberkati' yang bisa menggunakannya..."

Tiga keluarga penjaga. Ibunya pasti berasal dari salah satu keluarga itu.

"Kau menemukan sesuatu?" tanya Darmaji.

"Tiga keluarga penjaga. Kau tahu siapa mereka?"

Darmaji menggeleng. "Tidak ada catatan tentang itu. Nama-nama mereka sengaja dihapus dari sejarah. Tapi..." ia berhenti sejenak, "...ada rumor bahwa salah satu keluarga itu bermukim di wilayah selatan. Di balik Pegunungan Kabut."

Pegunungan Kabut. Arga menyimpan informasi itu.

"Terima kasih," katanya sambil menutup gulungan.

Darmaji menatapnya. "Arga, aku tidak tahu apa yang kau cari. Tapi hati-hati. Pengetahuan tentang Langit Kesepuluh telah menghancurkan banyak orang. Jangan sampai kau menjadi salah satunya."

Arga mengangguk dan bangkit. Saat ia berjalan keluar ruang arsip, ia merasakan liontin di dadanya berdenyut. Seolah mengingatkannya bahwa perjalanannya masih sangat panjang.

Dan di suatu tempat di luar sana, dua pecahan lainnya menunggu.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!