Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan
Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Bukan karena suhu yang berubah
tapi karena sesuatu di dalam dirinya mulai retak.
Kirana mundur setengah langkah.
Refleks.
Seolah jarak bisa memberi ruang untuk berpikir.
Tapi justru di situlah semuanya masuk.
Lebih dalam.
Lebih liar.
Kata-kata itu memilih untuk lupa
tidak tinggal sebagai kalimat.
Mereka membuka pintu.
Dan di balik pintu itu
bukan satu kenangan yang menunggu.
Tapi banyak.
Terlalu banyak.
Potongan demi potongan mulai bermunculan.
Tidak berurutan.
Tidak rapi.
Tapi cukup untuk melukai.
Tangannya langsung naik ke kepala.
Menekan pelipisnya kuat-kuat,
seolah bisa menghentikan arus yang memaksa masuk.
“Ada apa…?” Li Wei melangkah lebih dekat lagi, suaranya turun, hampir berbisik.
Tapi Kirana ( Mei )tidak menjawab.
Karena sekarang dia melihat.
Bukan dengan mata.
Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Lampion yang sama.
Tapi tidak setenang ini.
Lebih ramai.
Lebih hidup.
Dan dia Mei berdiri di tengahnya.
Bukan sendiri.
Li Wei ada di sana.
Lebih muda.
Lebih ringan.
Tertawa tanpa beban yang sekarang jelas menghantui wajahnya.
Tangan mereka saling menggenggam.
Erat,sangat erat .
Seolah dunia di sekitar mereka tidak cukup penting untuk diperhatikan.
“Aku janji,” suara Li Wei yang lebih muda terdengar jelas, “aku nggak akan ninggalin kamu.”
Mei tersenyum.
Bukan senyum kecil seperti yang Kirana kenal sekarang.
Ini lebih terang,lebih lembut .
Lebih berani.
“Kalau kamu bohong, aku bakal cari kamu,” jawabnya ringan.
“Di mana pun kamu sembunyi.” ucap Kirana (mei di masalalu)
Li Wei tertawa ,mereka tertawa bahagia.
Dan untuk sesaat, semuanya terasa… utuh.
Kirana terengah.
Matanya terbuka lebar sekarang,
tapi bayangan itu belum pergi.
Masih berlanjut.
Dipaksa lanjut.
Langit yang sama.
Tapi lampionnya berkurang.
Angin lebih kencang.
Dan suara tawa tadi… hilang.
Digantikan oleh sesuatu yang lain.
Tegangan.
“Ini satu-satunya cara,” suara lain masuk.
Suara yang sekarang berdiri di belakangnya.
Lebih dingin.
Lebih tenang.
Tapi jauh lebih menentukan.
“Kalau kamu tetap di sini, semuanya bakal hancur.”
Mei menggeleng keras.
Air matanya jatuh, satu per satu, tanpa sempat dia hapus.
“Pasti ada cara lain”
“Nggak ada.” Potongannya cepat. Tegas.
Sunyi sejenak.
Lalu pelan
lebih pelan dari sebelumnya
“Kalau kamu tetap bersamanya … Li Wei akan mati.”
Dunia terasa berhenti di situ.
Kirana merasakan dadanya menegang.
Karena bahkan tanpa melihat kelanjutannya,
dia tahu
itu bukan ancaman kosong.
“Mei…”
Suara Li Wei muncul lagi.
Sangat lemah kali ini.
Seolah dia juga tahu sesuatu yang tidak diucapkan.
Mei menoleh.
Dan di tatapan itu
ada sesuatu yang tidak pernah Kirana rasakan sebelumnya:
Keputusan.
Bukan karena dia ingin.
Tapi karena dia harus.
“Aku…” suaranya pecah, tapi dia tidak berhenti,
“…aku nggak bisa tetap di sini.”
Li Wei diam.
Tidak marah.
Tidak langsung bereaksi.
Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
“Kenapa…?” akhirnya dia bertanya.
Pelan.
Dan Mei.....
tidak menjawab pertanyaan itu.
Dia melangkah mundur.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Air matanya tidak berhenti.
Tapi tubuhnya tetap bergerak.
Menjauh.
“Lupain aku,” katanya.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Seolah bukan dia yang memilih kata-kata itu.
Seolah kata-kata itu… sudah menunggu untuk diucapkan sejak lama.
Li Wei mengerutkan kening.
“Apa maksud kamu”
“LUPAIN AKU!” kali ini lebih keras.
Lebih putus.
Dan itu
itu adalah pertama kalinya suara Mei terdengar seperti seseorang yang sedang menghancurkan dirinya sendiri.
Kirana tersentak kembali ke sekarang.
Napasnya kacau.
Matanya basah tanpa dia sadar kapan mulai menangis.
“Gue…” suaranya hampir tidak terdengar,
“…gue yang milih…”
Kalimat itu menggantung.
Berat.
Karena sekarang dia tahu.
Ini bukan tentang sesuatu yang diambil darinya.
Ini tentang sesuatu yang dia sendiri lepaskan.
Dengan sadar.
Dengan alasan.
Dan alasan itu
Kirana langsung menoleh ke Li Wei.
Tatapannya berubah.
Bukan bingung lagi.
Bukan ragu.
Tapi penuh sesuatu yang lebih dalam.
Lebih tajam.
“Gue ninggalin lo…” bisiknya.
Li Wei membeku.
Dan untuk pertama kalinya sejak dia muncul di dunia ini lagi
ada luka yang benar-benar terlihat di wajahnya.
Bukan samar.
Bukan tersembunyi.
Tapi nyata.
Hidup.
Seolah semua waktu yang hilang… tidak pernah benar-benar menyembuhkan apa pun.
Di belakang mereka,
sosok itu akhirnya melangkah keluar dari bayangan sepenuhnya.
Wajahnya kini terlihat jelas.
Dan kali ini
tidak ada lagi keraguan.
Kirana menatapnya.
Lama.
Karena sekarang dia tahu kenapa wajah itu terasa dekat.
Bukan karena familiar.
Tapi karena
ada bagian dari dirinya sendiri di sana.
Sosok itu tersenyum tipis.
Bukan senyum hangat.
Bukan juga dingin sepenuhnya.
Tapi seperti seseorang yang akhirnya melihat rencana panjangnya… mulai berjalan lagi.
“Sekarang kamu ingat,” katanya pelan.
Matanya tidak lepas dari Kirana.
“Atau… harus aku panggil Mei........!?”
Sunyi.
Lampion bergoyang pelan di atas mereka.
Dan di antara tiga orang itu
tidak ada lagi ruang untuk pura-pura tidak tahu.
Karena permainan ini…
baru saja benar-benar dimulai.