Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Paman dan bibi Aira saling bertukar pandang, kebingungan yang jelas terpancar dari wajah mereka. Penjelasan Bima barusan terasa terlalu tiba-tiba, terlalu tidak masuk akal untuk langsung diterima begitu saja.
“Jadi… maksud kamu,” ucap sang paman pelan, menatap tajam ke arah Bima, “Aira menangis karena kamu melamarnya?”
Aira yang duduk di samping Bima langsung menegang. Wajahnya memucat, lalu memerah dalam waktu bersamaan. Ia membuka mulut, ingin meluruskan semuanya, ingin menjelaskan bahwa itu bukan seperti yang mereka kira. Namun kata-kata seakan terjebak di tenggorokannya.
“Pa… itu sebenarnya—”
“Iya, Om.”
Suara Bima memotong cepat, tenang, dan tanpa ragu.
Aira langsung menoleh ke arahnya dengan mata membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bima bahkan tidak mencoba menyangkal. Justru sebaliknya, ia memperkuat kebohongan itu.
“Saya memang melamar Aira,” lanjut Bima dengan nada serius. “Dan saya siap bertanggung jawab.”
Kening paman Aira berkerut. Tatapannya semakin tajam, seakan mencoba menilai apakah pemuda di hadapannya ini benar-benar serius atau hanya sedang mempermainkan keadaan.
“Pendapat Aira bagaimana?” tanyanya kemudian.
Pertanyaan itu seperti beban berat yang langsung dijatuhkan ke pundak Aira. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung harus menjawab apa. Semua ini terlalu mendadak. Ia bahkan belum sempat memahami situasinya sendiri, apalagi diminta memberikan jawaban.
“Aku…” suaranya pelan, ragu. “Aku…”
Namun sebelum ia bisa melanjutkan, Bima kembali mengambil alih.
“Saya sudah lama mencintai Aira, Om.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan menjadi hening seketika.
Aira menoleh lagi, kali ini dengan ekspresi campuran antara terkejut dan kesal. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Bima terus memperdalam kebohongan ini.
“Kami dulu pernah pacaran waktu SMA,” lanjut Bima, matanya kini tertuju lurus ke depan. “Kami sempat berpisah, dan itu kesalahan saya. Tapi sekarang saya paham… Aira adalah yang terbaik untuk saya.”
Bibi Aira yang sejak tadi diam akhirnya menghela napas panjang.
“Kalau memang begitu…” katanya pelan, “masih ada satu masalah besar.”
Semua perhatian langsung beralih padanya.
“Kakak saya,” lanjutnya, menatap Aira sejenak sebelum kembali ke Bima. “Ayahnya Aira bukan orang yang mudah menerima hal seperti ini.”
Aira langsung menunduk. Hanya dengan mendengar kata “ayah,” dadanya sudah terasa sesak.
“Beliau orangnya keras,” sambung sang bibi. “Mendidik anak dengan disiplin tinggi. Menilai orang juga sangat ketat. Dan yang paling sulit… beliau selalu ingin menang sendiri.”
Paman Aira mengangguk pelan, menguatkan ucapan istrinya.
“Kalau soal pernikahan anaknya, dia tidak akan sembarangan menyetujui,” tambahnya. “Bahkan kakak Aira saja butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan restu.”
Bima terdiam sejenak, mencerna semua itu. Namun alih-alih terlihat gentar, ekspresinya justru tetap tenang.
“Saya tidak takut, Om,” jawabnya akhirnya. “Saya akan berusaha mendapatkan restu dari ayah Aira.”
Aira menatapnya lagi. Kali ini bukan karena marah, tapi karena benar-benar tidak mengerti. Kebohongan ini sudah terlalu jauh. Terlalu dalam. Dan Bima… seolah tidak punya niat untuk berhenti.
Paman Aira bersandar, lalu menatap Bima dengan serius.
“Saya juga belum setuju,” katanya tegas. “Kalau kamu memang serius, buktikan dulu kalau kamu tidak akan menyakiti keponakan saya.”
Bima mengangguk tanpa ragu.
“Kalau saya menyakiti Aira,” katanya mantap, “saya siap menerima hukuman apa pun dari Om.”
Ucapan itu membuat suasana kembali hening. Kali ini bukan karena kebingungan, tapi karena keseriusan yang terpancar dari kata-kata Bima.
Bibi Aira akhirnya berdiri.
“Sudahlah,” katanya lebih lembut. “Kalau kalian mau keluar, silakan. Tapi jangan pulang terlalu malam.”
Bima langsung ikut berdiri dan mengangguk sopan.
“Terima kasih, Tante. Saya akan pastikan Aira tidak menangis lagi.”
Paman Aira menatapnya tajam.
“Saya pegang kata-kata kamu,” ujarnya. “Kalau kamu berani menyakiti dia… saya sendiri yang akan menghajar kamu.”
Bima hanya tersenyum tipis.
“Saya mengerti, Om.”
Tak lama kemudian, Bima dan Aira keluar dari rumah. Udara malam terasa lebih sejuk, namun suasana di antara mereka justru terasa panas.
Begitu masuk ke dalam mobil, Aira langsung menoleh dengan wajah kesal.
“Kenapa kamu tidak meluruskan semuanya?” katanya cepat. “Kamu malah membuat semuanya semakin salah paham!”
Bima menyalakan mesin mobil, lalu meliriknya sekilas dengan senyum santai.
“Memangnya salah?” balasnya ringan. “Kalau harus menikah minggu depan pun, saya siap.”
Aira langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya memerah, antara malu dan kesal.
“Kamu ini serius atau bercanda sih?” gumamnya.
“Sangat serius,” jawab Bima tanpa ragu.
Aira menurunkan tangannya, lalu menatapnya tajam.
“Kita ini bahkan masih dalam proses… balikan,” katanya menekankan. “Kenapa kamu sudah bicara soal pernikahan?”
Bima mengangkat bahu ringan.
“Saya tidak masalah,” ujarnya santai.
Aira menghela napas panjang.
“Aku bahkan belum mau balikan dengan kamu,” katanya jujur.
Kali ini Bima terdiam. Senyumnya perlahan memudar, digantikan ekspresi yang lebih serius, sedikit murung.
“Saya sungguh-sungguh, Aira,” ucapnya pelan.
Nada suaranya membuat Aira terdiam sejenak. Namun pikirannya tetap dipenuhi keraguan.
“Kamu tidak tahu seperti apa ayahku,” katanya akhirnya, suaranya melemah. “Dia… selalu membuatku takut.”
Bima menoleh padanya, memperhatikan dengan seksama.
“Kalau ayah kamu menolak,” katanya kemudian, “kita nikah lari saja.”
Aira langsung menatapnya tajam.
“Aku tidak mau!” protesnya cepat.
Bima tersenyum kecil.
“Benar juga,” katanya santai. “Nikah lari pasti capek.”
Aira langsung memukul lengannya.
“Jangan bercanda!” serunya kesal.
Bima tertawa pelan, lalu menatapnya lebih serius.
“Aira,” panggilnya lembut. “Kamu menolak lamaran saya?”
Pertanyaan itu membuat dada Aira terasa semakin sesak. Seakan-akan seluruh tekanan yang ia rasakan sejak tadi tiba-tiba menumpuk dalam satu titik.
Ia menunduk, menghindari tatapan Bima.
“Aku…” suaranya hampir tak terdengar. “Aku tidak tahu.”
Itu adalah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.
“Aku belum yakin,” lanjutnya pelan. “Kamu bisa menghadapi ayahku atau tidak. Aku juga belum mengenal orang tuamu. Semuanya terlalu cepat.”
Bima menghela napas pelan.
“Ayah kamu akan saya hadapi,” katanya tegas. “Soal orang tua saya… memang ada sedikit masalah.”
Aira mengangkat kepalanya, menatapnya dengan bingung.
“Masalah apa?”
Bima terdiam sejenak, seolah menimbang apakah ia harus mengatakannya sekarang atau tidak.
Saat ini dia sedang dijodohkan oleh ibunya
Tapi dia akan menyelesaikannya, setelah itu memberi tahu Aira.
Aira menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari jawaban. Namun yang ia lihat justru keseriusan yang membuatnya semakin bingung.
“Kamu ini…” gumamnya pelan. “Kenapa semuanya jadi seperti ini?”
Bima tersenyum tipis.
“Mungkin karena dari dulu memang harusnya seperti ini,” jawabnya.
Aira tidak langsung membalas. Ia hanya menatap ke depan, pikirannya kacau.
Di satu sisi, ia masih menyimpan luka lama. Di sisi lain, Bima berdiri di hadapannya dengan keseriusan yang sulit diabaikan. Namun di atas semua itu, bayangan ayahnya selalu menjadi tembok besar yang membuatnya ragu untuk melangkah.
Mobil terus melaju di jalan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan menjadi saksi diam dari percakapan yang belum menemukan ujungnya.
Dan di dalam mobil itu, dua orang yang pernah saling mencintai kini kembali dipertemukan oleh perasaan yang sama… namun dengan beban yang jauh lebih berat dari sebelumnya.