Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa di Tengah Hutan
Matahari semakin tinggi ketika Bambang dan Ucok menemukan jalan setapak. Bukan jalan besar. Bukan jalan beraspal. Hanya setapak tanah yang membelah semak-semak, lebarnya tidak lebih dari setengah meter, tapi itu cukup untuk membuat hati Bambang berdegup lebih cepat. Jalan setapak berarti ada manusia. Manusia berarti desa. Desa berarti pertolongan.
"Kaki kita sudah tidak kuat, Ucok," kata Bambang sambil menunjuk ke tanah. "Lihat itu. Bekas telapak kaki. Masih baru. Mungkin orang desa yang baru lewat."
Ucok berjongkok dan memeriksa bekas telapak kaki itu. Bekas telapak kaki telanjang. Ukurannya kecil. Mungkin milik anak-anak. Atau milik perempuan. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah jalan setapak itu membentang. "Bekasnya masih segar. Tanahnya masih lembab di bagian tepi. Orang ini lewat mungkin satu jam yang lalu. Atau kurang."
"Kita ikuti," kata Ucok. "Tapi hati-hati. Bisa jadi ini jalan yang sama yang dipakai makhluk-makhluk itu untuk keluar masuk hutan."
Bambang menelan ludah. "Jalan yang dipakai makhluk? Maksudnya makhluk-makhluk itu juga lewat sini?"
"Mungkin. Tapi kita tidak punya pilihan. Kita butuh air. Kita butuh makanan. Kita butuh bantuan."
Mereka berjalan menyusuri setapak itu. Kaki Bambang sudah melepuh. Sepatu pantofelnya yang sudah retak di bagian depan kini semakin rusak. Solnya terlepas di bagian kanan, membuatnya harus berjalan dengan cara yang aneh agar tidak tersandung. Ucok berjalan di depan dengan langkah mantap meskipun wajahnya pucat dan bibirnya pecah-pecah karena kehausan. Botol air mereka sudah kosong sejak tiga jam lalu. Mereka sempat menemukan aliran kecil di sela-sela batu, tapi airnya keruh dan berbau tanah. Bambang meminumnya karena tidak ada pilihan. Ucok juga. Perut mereka sekarang keroncongan tidak karuan.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, Bambang mulai melihat sesuatu di antara pepohonan. Bukan pohon. Bukan semak. Tapi atap. Atap seng. Berkarat. Miring di satu sisi. Tapi itu atap. Itu rumah.
"Ucok, lihat itu!" seru Bambang.
"Aku lihat. Diam. Jangan teriak-teriak."
Mereka mendekati bangunan itu dengan hati-hati. Rumah itu kecil. Dindingnya dari papan kayu yang sudah lapuk. Beberapa papan bahkan copot, meninggalkan lubang-lubang yang gelap di dinding. Halaman rumah tidak terawat. Rumput tumbuh tinggi di mana-mana. Tidak ada tanda-tanda orang tinggal di sini. Tapi setidaknya ini adalah bangunan manusia. Ini bukti bahwa mereka tidak sendirian di hutan ini.
Ucok mengetuk pintu kayu yang setengah terbuka. Tidak ada jawaban. Dia mendorong pintu perlahan. Pintu berdecit keras. Di dalam, ruangan sempit dengan meja kayu, dua kursi, dan ranjang yang tidak ada seprainya. Debu di mana-mana. Jaring laba-laba di setiap sudut. Rumah ini sudah lama tidak dihuni.
"Tidak ada orang," kata Ucok. "Tapi setidaknya kita bisa istirahat di sini. Cari air di belakang rumah. Biasanya sumur ada di belakang."
Mereka berjalan ke belakang rumah. Benar saja. Ada sumur. Tua. Batu-batunya berlumut. Tali timbanya putus. Tapi airnya masih ada. Bambang melihat ke dalam sumur. Airnya jernih. Tidak keruh seperti air di aliran tadi. Dia bisa melihat bayangannya sendiri di permukaan air. Wajahnya kotor. Rambutnya acak-acakan. Matanya cekung. Dia terlihat seperti orang yang sudah seminggu tidak tidur.
Ucok menemukan ember plastik bekas di dekat sumur. Retak di bagian bawah, tapi masih bisa dipakai. Dia mengikatkan tali rapia yang dia temukan di dapur ke gagang ember itu, lalu menurunkannya ke sumur. Air ditarik naik setengah ember. Cukup untuk mereka berdua.
Mereka minum bergantian. Airnya dingin dan segar. Bambang belum pernah merasakan air seenak ini seumur hidupnya. Dia minum sampai perutnya terasa penuh. Ucok juga. Setelah itu, mereka duduk di teras rumah itu, menatap hutan di depan mereka. Matahari sudah cukup tinggi. Panas mulai terasa meskipun di bawah naungan pohon.
"Kita harus cari desa," kata Ucok. "Rumah ini sudah kosong. Mungkin pemiliknya pindah. Atau mungkin..."
Ucok tidak melanjutkan kalimat.
"Mungkin pemilik rumah ini sudah menjadi salah satu makhluk itu. Mungkin rumah ini adalah rumah salah satu korban."
"Tapi setidaknya kita punya arah," kata Bambang. "Jalan setapak tadi pasti menuju ke suatu tempat. Desa. Atau perkampungan. Atau setidaknya jalan raya."
"Kita lanjutkan setelah istirahat sebentar. Aku tidak bisa jalan lagi sekarang. Kakiku... lihat."
Ucok melepas sepatu boot hitamnya. Kakinya bengkak. Di beberapa tempat, kulitnya mengelupas karena terlalu lama basah dan bergesekan dengan sepatu. Ada luka lecet di tumit dan di jari-jari kakinya. Beberapa luka sudah mengering, tapi beberapa masih basah dan terlihat merah.
Bambang melepas sepatunya juga. Keadaannya tidak lebih baik. Kaki kirinya melepuh di tiga tempat. Kaki kanannya bengkak di bagian pergelangan. Setiap kali dia melangkah, rasa sakit itu menjalar sampai ke lutut.
"Kita tidak bisa lanjut kalau kaki kita begini," kata Bambang. "Kita butuh istirahat. Minimal sehari. Cari daun-daunan untuk obat luka. Di kampung, ibu saya pakai daun sirih untuk luka. Atau daun lidah buaya."
"Kita tidak punya waktu sehari. Makhluk-makhluk itu tahu kita kabur. Mereka akan mencari. Mereka bisa mencium bau kita dari jarak jauh."
"Bau? Mereka punya hidung?"
"Aku tidak tahu. Tapi mereka selalu tahu di mana kita berada. Itu sudah cukup."
Bambang terdiam.
"Makhluk-makhluk itu sepertinya selalu tahu posisi mereka."
"Atau mungkin... mungkin ada yang melacak mereka dari dalam."
Bambang menatap tangannya sendiri. Tangannya kotor. Kuku-kukunya hitam karena tanah. Tapi tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sudah dimasuki makhluk.
"Bagaimana dia bisa tahu bahwa pikirannya masih murni miliknya?"
"Ucok," tiba-tiba Bambang memanggil.
"Apa?"
"Kamu pernah merasa... ada yang salah dengan pikiran kamu? Kayak ada suara yang bukan suara kamu? Atau kayak ada yang bisikin sesuatu?"
Ucok menatap Bambang lama.
"Aku merasakannya setiap hari," kata Ucok. "Setiap malam. Ada yang bisik-bisik di kepalaku. Kadang suara anak kecil. Kadang suara perempuan. Kadang suara teman-teman yang sudah berubah. Mereka bilang, ikut kami. Ikut ke hutan. Di sini dingin. Di sini enak. Tidak perlu takut. Tidak perlu lapar. Tidak perlu kerja."
"Kamu jawab?"
"Tidak pernah. Tapi mereka tidak berhenti. Setiap malam. Setiap malam mereka coba. Dan setiap malam aku harus kuat. Karena kalau aku lemah, kalau aku jawab, kalau aku ikut... aku akan jadi kayak Dul. Kayak Joni."
Bambang menggigit bibirnya.
"Kita tidak bisa terus begini," kata Bambang. "Kita butuh bantuan profesional. Dokter. Psikiater. Seseorang yang bisa membersihkan pikiran kita dari bisikan-bisikan itu."
"Kita butuh keluar dari hutan ini dulu," kata Ucok. "Itu prioritas. Masalah bisikan, kita pikirkan nanti. Sekarang, kita istirahat sampai siang. Lalu kita lanjut."
Mereka beristirahat di dalam rumah kosong itu. Bambang merebahkan tubuhnya di lantai kayu yang berdebu. Ucok duduk di kursi dekat jendela, matanya terus mengawasi ke arah hutan. Tidak ada yang tidur. Tidak ada yang berani tidur.
Sekitar pukul satu siang, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kaki masih sakit, tapi setidaknya sudah sedikit istirahat. Bambang mengikat sol sepatunya yang terlepas dengan tali rapia. Tidak nyaman, tapi lebih baik daripada berjalan tanpa sol. Ucok membalut kakinya dengan potongan kain yang dia ambil dari gorden rumah itu.
Mereka berjalan lagi menyusuri setapak. Kini dengan lebih hati-hati. Setapaknya semakin jelas. Semakin lebar. Di beberapa tempat, mereka melihat bekas roda sepeda motor. Itu pertanda baik. Sepeda motor berarti desa tidak terlalu jauh.
Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka mulai mendengar suara. Suara ayam berkokok. Suara anjing menggonggong. Suara manusia.
Bambang hampir menangis mendengarnya. Suara manusia. Suara kehidupan.
"Setelah berhari-hari hanya mendengar suara angin, suara daun, suara makhluk-makhluk mengerikan, kini dia mendengar suara ayam."
"Suara yang biasa. Suara yang normal. Suara yang membuatnya ingat bahwa dunia normal masih ada di luar sana."
Mereka mempercepat langkah meskipun kaki sakit. Setapak itu kini berubah menjadi jalan tanah yang lebih lebar. Di kiri kanan jalan, mulai terlihat ladang. Singkong. Jagung. Sayur-sayuran. Tanda-tanda bahwa manusia tinggal di sini. Bekerja di sini. Hidup di sini.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah desa. Desa kecil dengan puluhan rumah kayu berderet di sepanjang jalan tanah. Ada warung kecil di tikungan. Ada masjid dengan kubah hijau di ujung jalan. Ada anak-anak yang bermain bola di lapangan tanah. Ada ibu-ibu yang duduk di teras sambil mengupas kelapa.
Mereka menatap Bambang dan Ucok dengan tatapan aneh.
Bambang mendekati warung di tikungan. Seorang ibu setengah baya berdiri di balik meja kayu, matanya membulat melihat Bambang.
"Bu, tolong," bisik Bambang. "Kami butuh bantuan. Kami dari pabrik karet. Kami kabur. Ada... ada sesuatu di sana. Sesuatu yang mengerikan."
Ibu itu mundur selangkah. Matanya ketakutan.
"Pabrik karet."
"Kamu dari pabrik karet?" tanya ibu itu dengan suara bergetar.
"Iya, Bu. Kami kabur. Kami butuh telepon. Kami butuh polisi."
Ibu itu menggeleng pelan. "Tidak ada yang boleh datang dari pabrik karet ke sini. Sudah lima tahun. Sudah lima tahun tidak ada yang keluar dari sana."
"Kami keluar, Bu. Kami buktinya."
Ibu itu menatap Bambang lama. Kemudian matanya beralih ke Ucok.
"Kalian harus pergi," katanya pelan. "Kalau mereka tahu kalian di sini... mereka akan datang. Mereka akan cari kalian. Dan mereka tidak akan hanya mengambil kalian. Mereka akan ambil kami juga."
"Siapa mereka?" tanya Bambang. "Perusahaan?"
Ibu itu menggeleng. "Bukan perusahaan. Mereka. Makhluk-makhluk dari pabrik itu. Mereka sudah lima tahun mengintai desa kami. Mereka tidak pernah masuk. Tapi kalau kalian di sini... kalian akan membawa mereka ke sini."
"Bu, kami tidak mau membawa siapa pun ke sini. Kami hanya butuh bantuan. Telepon. Atau kendaraan. Kami akan pergi. Kami tidak akan tinggal."
Ibu itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia menatap Bambang, lalu menatap Ucok, lalu menatap sekeliling desa yang sunyi. Kemudian dia menghela napas panjang.
"Di ujung desa, ada rumah kepala desa. Dia punya telepon. Tapi kalian harus cepat. Sebelum matahari terbenam. Karena kalau malam tiba dan kalian masih di sini..."
Ibu itu tidak melanjutkan kalimat.
"Terima kasih, Bu," kata Bambang.
Dia dan Ucok berjalan cepat menuju ujung desa. Di belakang mereka, ibu warung itu menutup pintu kayunya. Begitu juga dengan ibu-ibu lain yang tadi duduk di teras. Pintu-pintu tertutup satu per satu. Jendela-jendela dikunci. Desa yang tadi terlihat hidup kini berubah menjadi sunyi dalam hitungan menit.
Hanya anak-anak yang masih bermain bola.
"Mereka tidak tahu. Mereka belum mengerti."
Bambang berdoa dalam hati. "Semoga matahari tidak cepat terbenam. Semoga mereka sampai di rumah kepala desa sebelum gelap. Semoga telepon itu berfungsi. Semoga ada yang mau membantu."
"Karena jika tidak... mereka akan kembali ke hutan. Kembali ke kegelapan. Kembali ke makhluk-makhluk itu."
"Dan kali ini, mungkin mereka tidak akan bisa kabur lagi."