Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Peringatan di Ambang Kehancuran
Malam di Eisenberg Manor berubah menjadi medan pertempuran emosional yang jauh lebih mengerikan daripada garis depan di Utara. Aula paviliun yang biasanya sunyi dan megah kini dipenuhi oleh aura kemarahan dari dua keluarga besar.
Di tengah ruangan, Matthew berdiri mematung. Seragam militernya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya yang merah menunjukkan kerapuhan yang belum pernah dilihat siapa pun. Di hadapannya, dua kakak laki-laki Daisy—Arthur dan Julian—berdiri dengan tangan mengepal, napas mereka memburu, siap menghantam wajah sang Jenderal Agung jika ayah mereka tidak menahan pundak keduanya.
"Lepaskan aku, Ayah! Biar aku beri pelajaran pada pria ini!" Teriak Julian, kakak kedua Daisy yang terkenal temperamental. "Adikku tidak pernah menghilang seperti ini selama dua puluh enam tahun hidupnya! Apa yang kau lakukan padanya, Jenderal Matthew?!"
Arthur, si sulung yang lebih tenang namun tatapannya mematikan, hanya menatap Matthew dengan kebencian murni.
Ayah Daisy, sang Duke tua yang merupakan orang kepercayaan Raja, melangkah maju. Ia memberi isyarat agar kedua putranya mundur. Suaranya rendah, namun setiap katanya bergetar dengan otoritas yang membuat suasana ruangan membeku.
"Cukup," ucap Duke tua itu. Ia menatap Matthew yang hanya bisa tertunduk diam. "Matthew, aku memberikan putri bungsuku padamu karena aku percaya pada namamu. Tapi hari ini, kau telah menghancurkan kepercayaan itu."
Matthew mencoba bicara, suaranya parau dan pecah. "Ayah mertua... saya akan menemukannya. Saya sudah mengerahkan seluruh unit pelacak..."
"Tidak perlu," potong Arthur dengan dingin. "Jika kami yang menemukan Daisy lebih dulu, aku pastikan kau tidak akan pernah melihat wajah adikku lagi seumur hidupmu. Aku akan membawa kasus ini ke hadapan Raja dan membatalkan pernikahan kalian, apa pun taruhannya."
Ancaman itu menghantam Matthew lebih keras daripada peluru mana pun. Ia merasa dunianya runtuh. Saat keluarga Daisy keluar dari paviliun dengan kemarahan yang meluap, Matthew jatuh berlutut di lantai porselen yang dingin.
Belum sempat Matthew mengumpulkan sisa kewarasannya, pintu besar paviliun kembali terbuka. Ibunya, Duchess Helena, masuk dengan tergesa-gesa, diikuti oleh nenek Matthew yang sudah sepuh yang duduk di kursi roda yang didorong oleh pelayan.
Helena langsung berlari ke arah putranya. Tanpa peringatan, ia memukul dada bidang Matthew berkali-kali dengan tangan gemetarnya.
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Matthew!" Helena menangis histeris. Setiap pukulan tangannya pada seragam Matthew adalah bentuk frustrasi atas kebisuan putranya selama empat tahun ini. "Apa yang kau sembunyikan?! Kenapa istrimu sampai lari darimu?! Dia wanita yang begitu sabar, dia begitu sabar menunggumu waktu kau pergi berperan selama dua tahun ini... jika dia sampai pergi tanpa jejak, itu artinya kau sudah menghancurkan hatinya sampai tidak bersisa!"
Matthew hanya diam, membiarkan ibunya melampiaskan kemarahan padanya. Ia merasa pantas mendapatkan setiap pukulan itu.
"Hentikan, Helena," suara tajam Lady Catherine—Nenek Matthew memecah suasana.
Nenek Matthew itu memberi isyarat agar pelayannya mendekatkan kursi rodanya pada Matthew. Meskipun fisiknya lemah, matanya masih setajam elang. Ia menatap cucu laki-lakinya dengan pandangan yang menusuk hingga ke tulang.
"Matthew, lihat aku," perintah Nenek Catherine.
Matthew mendongak perlahan, menatap neneknya dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan.
"Hampir empat tahun kau menyia-nyiakan wanita itu. Dua tahun kau tinggalkan dia demi perang yang kau pilih sendiri. Dan sekarang, setelah kau pulang, kau malah membuatnya melarikan diri?" Ucap Catherine bertanya dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Apa yang kau lakukan sehingga dia meninggalkanmu, Matthew? Kejahatan apa yang kau sembunyikan di belakang punggung istrimu?"
"Nenek... aku hanya... aku hanya ingin memperbaiki masa lalu," bisik Matthew putus asa.
"Masa lalu tidak bisa diperbaiki dengan cara menghancurkan masa depanmu, bodoh!" Catherine memukul sandaran kursi rodanya. "Kau mengejar bayangan, sementara berlian di tanganmu kau biarkan jatuh ke lumpur. Cari dia. Cari dia sebelum kakak-kakaknya menemukannya, atau kau akan kehilangan alasanmu untuk hidup selamanya."
Setelah ibu dan neneknya dibawa ke kamar untuk beristirahat, Matthew bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu. Peta Ibukota terbentang di meja.
"Sial! Sial! Sial!" Matthew mengacak rambutnya dengan kasar.
Ia tahu kakak-kakak Daisy memiliki jaringan informasi yang luas di kalangan bangsawan. Jika mereka menemukan Daisy lebih dulu, mereka akan menyembunyikan Daisy bagaimanapun caranya, dan Matthew tidak akan pernah bisa menembusnya tanpa pertumpahan darah.
Ia mulai mengingat-ingat setiap detail tentang Daisy. Daisy yang mandiri. Daisy yang memiliki penghasilan sendiri dari royalti lagunya. Daisy yang selalu ingin memiliki tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang nama Eisenberg atau keluarganya.
"Royalti lagu..." gumam Matthew. Matanya berkilat.
Ia segera meraih telepon militer di mejanya. "Hubungkan aku dengan departemen audit pajak pusat! Sekarang! Aku butuh data transaksi aset atas nama Daisy von Eisenberg dalam satu tahun terakhir. Cari aset properti yang tidak terdaftar di buku keluarga besar!"
Matthew menunggu dengan napas memburu. Ia mondar-mandir di ruangan itu seperti singa yang terluka. Setiap menit yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan. Ia tidak peduli lagi pada Maira. Ia tidak peduli lagi pada Adelie. Di kepalanya hanya ada wajah Daisy yang tenang namun menyimpan luka yang sangat dalam.
Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia takut kehilangan Daisy bukan karena status atau politik, tapi karena ia baru sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu dengan cara yang paling menghancurkan.
"Lapor, Jenderal!" suara di telepon terdengar. "Ditemukan transaksi pembelian unit apartemen di Distrik Pusat atas nama pribadi Nyonya Muda, enam bulan yang lalu. Alamatnya di Menara Safir, lantai dua puluh."
Matthew tidak menunggu sedetik pun. Ia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar. Ia mengendarai mobilnya seperti orang gila, menerobos lampu merah dan salju yang semakin lebat. Ia harus sampai di sana sebelum fajar. Ia harus sampai di sana sebelum kakak-kakak Daisy menemukannya.
"Tunggu aku, Daisy," bisik Matthew di balik kemudi dengan suara yang tercekat oleh tangis. "Tolong, jangan pergi dariku..."
Malam itu, sang Jenderal Agung yang ditakuti di medan perang, kini hanyalah seorang pria rapuh yang sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sisa hidupnya yang hampir hancur karena kebohongannya sendiri.