Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Lulu hanya mengedikan bahunya, lalu wajahnya mengarah pada Bela yang saat ini berdiri di hadapan Gian. Nisa yang berdiri di belakang diam hanya berdiri dengan tanda tanya besar di atas kepalanya, tentang siapa sebenarnya wanita yang datang saat ini.
"Gian ... Maaaf." Tanpa aba-aba Bela langsung bersimpuh di hadapan Gian dengan suara Isak tangisnya.
Nisa reflek maju 2 langkah, tangannya terulur ke arah Bela, tapi niat itu urung karena Gian sudah melakukannya terlebih dahulu. Gian memegang kedua lengan Bela dan mengajaknya untuk berdiri.
"Maaaf ... maaaf." Lirih Bela yang langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan Gian.
"Aku sudah memaafkan ... "
"Benarkah?" Bela langsung melepas pelukannya, mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.
Gian menatap Bela, wanita yang dulu selalu diutamakan setelah ibunya, wanita yang selalu di buatnya tersenyum ceria, kini dia datang setelah memberi luka dengan derai air mata.
"Gian, benarkah? Jawab dengan sungguh-sungguh, apa kamu benar sudah memaafkan aku?"
"Iya." Jawab Gian, kini wajahnya tak lagi memandang Bela, pria itu menjawab sambil menundukkan kepalanya.
"Bisakah kita memulai dari awal lagi?"
Nisa dengan raut wajah polosnya langsung mendongak kala mendengar apa yang di ucapkan oleh Arabela, dan itu sangat terlihat jelas oleh Lulu.
"Gian sudah menikah, wanita yang di belakangnya itu adalah istrinya." Kata Lulu dengan lantang, raut wajahnya berubah menjadi kesal ketika Bela dengan seenaknya meminta untuk kembali pada Gian.
Mata Bela langsung mengarah pada Nisa, "Kamu?" Ucapnya.
Gian sama sekali tidak membenarkan atau menyanggah, pria itu hanya bisa diam, karena pernikahan yang dia jalani saat ini adalah 100% buka keinginannya, dan wanita yang ada di hadapannya saat ini juga sedang berada dalam keadaan rapuh, jadi itulah yang membuat Gian diam membisu.
"Gian ... Benar apa yang di katakan Ibu?" Air mata Bela kembali menggenang di pelupuknya. "Gian jawab Gian!" Bela dengan kasar menarik kerah baju Gian dan menariknya dengan emosi.
Lulu tak bisa tinggal diam, dia langsung menarik tubuh Bela dari belakang untuk menghentikan apa yang sedang dia lakukan pada anak satu-satunya itu. "Cukup Bela, CUKUP! Kamu sudah membuang anakku, lalu sekarang kamu tidak terima dengan kenyataan ... bahwa Gian sudah menikah! Pergi kamu dari rumah ini ... Jangan berani kamu sekalipun menginjakan kaki disini."
"Gian, Nisa ... Masuk!" Bentak Lulu.
Nisa yang baru pertama kali melihat Lulu semarah itu langsung bergegas menuruti perintah mertuanya, dia berjalan dengan cepat ke dalam rumah dan di susul oleh Gian, yang berjalan perlahan seperti kehabisan energi.
Di teras rumah saat ini tersisa Lulu dengan Bela, keduanya masih dengan keadaan emosi.
"Tunggu apa lagi? Ayo pergi cepat!"
Dengan tubuh gemetar dan dada yang terasa sesak, wanita itu akhirnya berjalan keluar pagar.
Selagi Gian diam, aku anggap pernikahan itu bukan atas dasar keinginannya, bisa saja Ibunya yang menjodohkan Gian dengan wanita norak itu. Batin Bela.
Di dalam kamar.
Nisa sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Bela, yang sekarang sudah dia ketahui bahwa wanita itu adalah mantan kekasih suaminya. Karena cinta belum tumbuh di antara keduanya, Nisa hanya sedikit terkejut tanpa menuntut penjelasan dari Gian.
Gian duduk di tempat tidur, mengusap kedua pipi hingga puncak kepalanya, pria itu sangat terlihat kalut, tapi Nisa dengan santainya berlalu lalang menyiapkan keperluan mandi Gian dan juga baju gantinya.
Untung saja aku tidak menyimpan banyak harapan pada pria kadal ini. Batin Bela.
Hingga waktu makan malam tiba, Lulu masih diam tak berbicara ... Padahal Akbar sudah membuka pembahasan sejenak mungkin, tapi hanya Nisa yang tertawa ... Gian dan Lulu hanya fokus pada isi piringnya.
" Nisa ... Kenapa kamu tidak buka warung makanan siap saji waktu di desa? Masakanmu tidak ada yang gagal loh." Puji Akbar.
"Sudah banyak Yah yang berjualan disana, Nisa tidak mau menjadi pesaing mereka. Nisa lebih nyaman bekerja di pabrik waktu itu."
Akbar hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sebenarnya dia sudah kehabisan pembahasan untuk memancing Lulu bicara saat ini.
"Ibu ... Kamu sakit hm?" Tanya Akbar yang sudah tidak tahu lagi sebab istrinya bersikap seperti itu sepulang dirinya bekerja.
Lulu hanya menggelengkan kepalanya.
Gian reflek mendongak, dia sebenarnya tidak nyaman melihat ibunya murung dan tidak seperti biasa.
"Bu udahlah ... Gak usah terlalu di fikirkan kejadian tadi." Kata Gian yang memberanikan diri untuk bersuara.
Akbar hanya melihat Gian dan istrinya itu secara bergiliran, karena dia tidak tahu apa yang sedang di bicarakan.
*Brak
Lulu menggebrak meja makan lumayan keras.
"Kenapa tadi kamu bersikap seperti itu pada Arabela? Mata kamu buta? Nisa ... Istri kamu ada di situ! Bisa-bisa nya kamu memperlakukan orang yang sudah merendahkan kamu dengan sebegitu baik. Ibu lebih bangga jika tadi kamu langsung mengusirnya, Tapi apa yang terjadi? Kamu seolah terpana dengan kehadirannya, bahkan kamu tidak menjelaskan padanya jika statusmu sekarang adalah seorang suami dari Nisa!"
Akbar sudah paham apa yang sudah terjadi di rumah ini, tanpa bertanya lebih detail dia lebih memilih memegang tangan istrinya dan mengusapnya dengan lembut. "Sabar Bu, di jaga emosinya ... jangan sampai darah tinggi." Ucap Akbar.
"Ibu sudah salah paham dengan pemikiran ibu sendiri." Sanggah Gian.
"Ibu punya mata, Ibu bisa melihat betul jika kamu masih menaruh rasa peduli pada wanita itu! Ibu tidak bisa membayangkan perasaan Nisa tadi sore, karena ibu sendiri tidak ingin merasakan seperti itu!"
"Ibu aku baik-baik saja." Ujar Nisa.
"Aku butuh waktu untuk menerima pernikahan ini, itulah alasan diamku saat tadi Bela bertanya." Sahut Gian.
"Butuh waktu tidak harus menyakiti, Nisa bisa bilang tidak apa-apa ... Tapi ibu tahu betul apa sebenarnya yang ada di dalam hatinya."
Bagaimana cara memberitahu Ibu ya? Aku tidak merasakan sakit hati karena aku juga tidak mencintai Gian. Batin Nisa.
"Jika suatu saat pernikahan kalian memang tidak bisa terjalin sebagai mana mestinya, Ibu melarang keras hubunganmu dengan Arabela, dan kamu ... Nisa ... Tetaplah menjadi anak ibu apapun statusmu nanti." Lulu beranjak dari kursinya lalu meninggalkan meja makan dengan langkah yang cepat.
Akbar menghela nafasnya, dia menyatukan kedua tangannya di meja sambil menatap Gian. "Bayangkan ... Ketika Arabela tidak membelamu sama sekali ketika kamu di rendahkan oleh keluarganya. Ibumu bukan mengekang ... Dia hanya berniat melindungi anak satu-satunya, camkan itu Gian!"
"Nisa ... Ayah mau menyusul ibu."
"Iya ayah." Kata Nisa.
Hanya tersisa mereka berdua di meja makan, selama Nisa tinggal di rumah ini ... Keadaan ini adalah yang paling mencekam.
Gian lanjut menghabiskan makananannya, dengan sebelah tangan memijat keningnya, tak ada pembicaraan apapun di antara mereka saat ini.
***
Satu Minggu berlalu.
"Hah Nikah?" Kata Ranti saat Bela berhasil mengajaknya bertemu di sela-sela kesibukannya.
"Iya Ranti ... Ibunya sendiri yang bilang kalau Gian sudah menikah, Nisa namanya." Jelas Bela.
"Hahahaha ... Kamu kena tipu, Nisa itu sepupunya!"