Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERONDONG NAKAL
Villa yang dipesan Rico berada jauh dari keramaian kota.
Tempat itu sengaja dipilihnya.
Ia ingin ruang yang tenang… atau lebih tepatnya, ruang yang tidak akan mengganggu mereka ketika kehilangan kendali satu sama lain.
Sejak malam di kolam renang, kedekatan mereka terasa semakin intens.
Seolah mereka memang sedang memasuki fase yang disebut orang sebagai bulan madu liar—penuh tawa, ciuman cepat, dan godaan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Malam di villa itu hangat.
Lampu kamar hanya menyala redup, membuat suasana terasa intim.
Anela duduk di tepi tempat tidur sambil memandang Rico yang baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah.
Rico berhenti di pintu kamar.
Menatap Anela cukup lama.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “aku sengaja pesan villa ini.”
Anela mengangkat alis.
“Kenapa?”
Rico tersenyum miring.
“Supaya kalau kamu berteriak… tidak ada yang komplain.”
Anela langsung tertawa.
“Kamu memang nakal.”
Rico mendekat, duduk di sampingnya.
Tangannya menyentuh pinggang Anela dengan santai, tidak terburu-buru, tapi cukup membuat napas Anela berubah pelan.
“Aku suka kamu yang seperti itu,” bisik Rico.
“Yang seperti apa?”
“Yang tidak takut menikmati momen.”
Suasana berubah lebih panas secara perlahan.
Ciuman mereka menjadi lebih lama, lebih dalam, tapi tetap terasa seperti permainan dua orang yang sama-sama tahu cara menggoda tanpa harus terburu-buru.
Dalam percakapan kecil di sela napas, Anela akhirnya mengungkap sesuatu yang membuat Rico sedikit terkejut.
“Aku lebih tua dua tahun lho dari kamu.”
Rico mengerjap.
“Serius?”
Anela mengangguk, tersenyum nakal.
“Kakak kelas,” katanya.
Rico langsung tertawa kecil.
“Jadi aku selama ini berurusan dengan kakak kelas sexy?”
Anela memukul bahunya pelan.
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Terlambat,” jawab Rico.
Ia mendekat lagi, suaranya lebih rendah sekarang.
“Kalau kamu kakak kelas… berarti aku harus lebih sopan?”
Anela memutar mata.
“Coba saja.”
Rico justru semakin dekat, menempelkan dahinya ke dahi Anela.
“Kalau aku jadi adik kelas,” bisiknya, “aku akan jadi adik kelas yang sangat menyusahkan kakaknya.”
Anela tertawa pelan.
“Kamu memang berondong nakal.”
Rico menundukkan wajahnya ke leher Anela, membisikkan sesuatu yang membuat pipi Anela memerah.
“Kakak kelas yang membuat aku jadi nakal,” balas Rico. Tangannya menyusuri punggung dan bahu Anela.
Anela menggunakan bodysuit berwarna ungu sexy yang menutupi bagian intimnya.
"Baju ini hot banget, sayang" goda Rico pada Anela, sejurus kemudian ia menyingkirkan bagian budysuit yang menutupi milik Anela, memperlihatkan mahkotanya yang menjadi tempat vaforit milik Rico.
Tak tahan dengan pemandangan indah itu, Rico langsung menancaap Anela, kali ini dengan tegas, tidak lembut seperti biasanya.
Blessss, milik Rico benar-benar masuk sekali hentakan, Rico tetap memberi ruang pada Anela untuk menyesuaikan diri. Begitu Anela mulai melengkungkan tubuhnya menyediakan dadanya untuk dimainkan, Rico menangkapnya, menciuminya, dan memainkan sepuasnya hingga kemudian ia bergerak mantap, ia memandangi sesuatu yang besar miliknya sedang bergerak masuk dan keluar dari milik Anela yang terhalang sedikit kain bodysuitnya, benda mungil nan menggoda itu memerah, dan tak lama kemudian...
"oooooh...Ahhh Rico...."
"Ahhhh.... Ahnela....oooh hot banget sa...yang!"
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan banyak tawa, banyak ciuman hangat, dan permainan peran kecil yang membuat suasana semakin intim—kakak kelas yang dominan, adik kelas yang nakal, tapi tetap saling menggoda dengan cara yang penuh chemistry.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “aku suka saat kamu memanggilku dengan cara itu tadi.”
“Cara apa?”
“Berondong nakal,” jawab Rico sambil tertawa kecil.
Anela memutar mata, tapi senyumnya tetap ada.
“Aku serius,” lanjut Rico, suaranya lebih rendah sekarang. “Aku suka kamu yang tidak mencoba berpura-pura jadi orang lain saat bersamaku.”
Mata Anela melembut.
Ia mengangkat tangan, menyentuh dada Rico dengan ringan—bukan dorongan, hanya sentuhan yang terasa hangat dan penuh makna.
“Kamu juga begitu,” balasnya.
Sunyi sebentar.
Hanya suara angin malam dan napas mereka yang mulai berubah ritmenya.
Rico akhirnya memeluknya.
Tidak kasar.
Tidak terburu-buru.
Hanya pelukan erat yang terasa seperti tempat pulang setelah hari yang panjang.
Anela menyandarkan kepalanya di bahunya, memejamkan mata sebentar.
“Kamu benar-benar sengaja pesan villa ini,” gumam Anela.
“Iya,” jawab Rico jujur. “Aku ingin waktu tanpa gangguan.”
Anela tertawa kecil.
“Kamu suka kalau aku berisik ya?”
Rico tertawa pelan.
“Aku suka kalau kamu menjadi diri sendiri.”
Malam itu mereka tidak selalu bergerak cepat.
Kadang hanya berbaring saling berhadapan.
Kadang hanya berbagi ciuman pelan yang terasa seperti percakapan tanpa kata.
Kadang hanya tertawa karena salah satu dari mereka terlalu gugup atau terlalu bersemangat.
Ada saat-saat di mana Rico menatap Anela lama sekali, seolah mencoba mengingat setiap detail wajahnya dalam cahaya malam.
Dan Anela membalas tatapan itu dengan cara yang sama—tenang, hangat, tapi penuh rasa percaya.
Karena bagi mereka, keintiman bukan hanya tentang keinginan.
Tapi tentang memilih untuk tetap dekat, bahkan setelah semua ketegangan, semua godaan, dan semua dunia luar yang mencoba memisahkan mereka.
Di villa yang sunyi itu, malam terasa panjang…
dan cinta mereka terasa semakin dalam, semakin nyata, tanpa perlu kata-kata yang terlalu banyak.