Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ketemu Calon Suami
Emeery datang ke kampus diantar oleh supir. Bukan dia yang mau, tapi sang ayah yang menyiapkan, takut-takut putri semata wayangnya kabur lagi.
"Mer!" seru ketiga sahabatnya sambil melambaikan tangan, mereka telah tiba lebih dulu dan menunggu Emeery untuk masuk ke dalam kelas.
"Akhirnya Tuan Putri masuk kuliah lagi. Nih aku bayar utang kemaren," ucap Talita sambil menyodorkan uang selembar berwarna merah, "sisanya nanti ya, hehe." Lanjutnya.
"Singkirin duit kecil kamu, Lit! Aku gak butuh," balas Emeery dengan nada congkak, mendorong uang selembar itu bak orang paling kaya di negeri ini. Dia memang sering kali melupakan hutang sahabat-sahabatnya, terutama Talita. Meskipun nantinya dia yang akan kenal omel orang tuanya.
"Aku udah keseringan ngutang, Mer, aku nggak enak," balas Talita lagi, mereka sambil berjalan sejajar.
"Nggak usah! Persahabatan kita lebih mahal dari pada utangmu," jawab Emeery dengan tegas, membuat Talita mengembangkan senyum. Dia beruntung sekali mendapatkan sahabat seperti Emeery dan yang lainnya.
"Punyaku juga kan, Mer?" timpal Nino sambil menaik turunkan alisnya.
"Yeh, ikut-ikutan aja kamu, No!" Zoe menggetok bahu Nino menggunakan tumpukan buku di tangannya.
Emeery menarik salah satu sudut bibirnya. "Lunas. Tapi pulang kuliah traktir kita makan," jawabnya sambil terkekeh. Namun, baru beberapa detik bicara seperti itu dia langsung teringat bahwa hari ini dia ada agenda untuk bertemu calon suaminya. Ceilah, belum apa-apa udah jadi calon suami.
"Eh nggak deh, hari ini aku ada acara soalnya," sambung Emeery.
"Acara apa? Sama keluarga ya?" tebak Zoe. Mereka sungguh tahu sebesar apa keluarga Emeery jika dikumpulkan. Pasti dikit-dikit ngadain acara.
Sebelum menjawab tatapan Emeery tertuju pada seorang pemuda yang baru saja melewati gengnya. Siapa lagi kalau bukan Anjas—sang mantan kekasih yang sudah membuatnya sakit hati.
"BUKAN, TAPI AKU MAU KETEMU CALON SUAMI. ORANGNYA GANTENG, KAYA, SETIA LAGI!" Emeery sengaja mengeraskan suaranya supaya Anjas mendengar isi percakapan mereka. Berharap Anjas panas hati.
Tepat sasaran, telinga pemuda itu masih berfungsi dengan baik, sehingga mendengar apa yang Emeery katakan. Sementara ketiga sahabatnya justru melongo.
"Ca—calon suami, Mer?" tanya Talita dengan gagap. Tidak percaya jika sang sahabat akan move on secepat ini, apalagi dengan embel-embel yang extreme 'Calon Suami'.
"IYA, ORANG YANG BISA NERIMA AKU APA ADANYA, BUKAN CUMA DIJADIIN BAHAN TARUHAN, APALAGI SUKA MOROTIN UANG JAJAN. NO MOKOND0-MOKOND0 CLUB!" jawab Emeery makin keras sambil menatap Anjas yang mematung di tempatnya berdiri. Gadis itu segera melangkahkan kakinya kembali, bahkan sampai menyenggol bahu teman Anjas yang kebetulan dekat pintu kelas, "misi calon Nyonya mau lewat." diiringi para sahabatnya yang mengejar di belakang.
"Aw, kenapa tuh bocah?" keluh teman Anjas.
"Mer, tunggu-tunggu. Jelasin ke kita dulu!" teriak Zoe, melirik sekilas ke arah Anjas yang sepertinya tersindir berat. Wajahnya masam.
*
*
*
Sepulang kuliah Emeery benar-benar menyambangi tempat yang sudah diinfokan sang ayah. Berbekal nomor meja serta kartu nama pria itu, Emeery berjalan sambil celingukan. Sebab restoran itu memang cukup ramai oleh pengunjung.
"Gerry Mahesa," eja Emeery sambil mengerutkan kening. Rasa-rasanya dia pernah membaca nama itu, tapi di mana ya?
Bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang. Saat tiba di meja dengan nomor yang sama, Emeery tidak mendapati siapapun. Apakah sang duda belum datang? Atau justru tidak mau bertemu dengannya karena tidak setuju dijodohkan.
"Kalo sampe nggak mau, rugi sih nyia-nyiain aku yang masih kinyis-kinyis ini," cerocos Emeery tanpa tahu kalau orang yang dimaksud sudah ada di belakangnya.
"Ehem!" Pria itu berdehem.
Makdeg! Jantung Emeery seakan tak berdetak seperkian detik, apalagi saat dia pelan-pelan membalik badan dan melihat wajah Gerry.
"OM!"
"KAMU!"
Mereka langsung berucap berbarengan karena saking terkejutnya dengan kehadiran masing-masing. Orang-orang di sekitar sampai mengalihkan perhatian sesaat, sementara keduanya saling celingukan—saling memastikan bahwa mereka tidak bertemu dengan orang yang salah. Namun, tidak ada lagi yang datang ke meja.
"Ngapain kamu di sini?!" tanya Gerry lebih dulu dengan nada sedikit tak ramah, hingga membuat Emeery memicing tajam.
"Heh bebaslah, ini kan tempat umum. Lagi pula ini meja udah dipesen, Om, aku—aku mau ketemu sama seseorang! Jadi Om yang harus cari meja lain," tandas Emeery dengan berkacak pinggang.
Gerry menelan ludahnya susah payah, dari pernyataan Emeery barusan sudah dipastikan 99,99% bahwa gadis inilah yang dimaksud oleh ayahnya. Mati gue!
"Siapa?" tanya Gerry sambil so cool memasukan tangan ke dalam saku celana.
"Dih kepo," jawab Emeery langsung mengambil alih tempat duduk. Dia masih optimistis bahwa pria yang ditunggu belum datang.
"Ck, aku cuma tanya, namanya siapa?" Kali ini Gerry sedikit menyentak, karena dari pengalaman di pertemuan mereka Emeery ini sangat tengil orangnya.
Emeery mengernyitkan bibirnya sambil menatap sinis, lalu mengeluarkan kartu nama yang dia pegang untuk membaca kembali sang pemilik nama.
Dengan penuh rasa tak sabar Gerry merebutnya dan dia langsung menganga. Tidak meleset sama sekali dugaannya. Dia mengusap wajah, kemudian ikut duduk sebelum Emeery kembali menyerocos.
"Loh loh, Om ngapain?!" Emeery sedikit panik.
Karena sudah terlanjur berada di sana, Gerry pun berusaha menghargai anak dari rekan bisnis ayahnya—yang ternyata bocah tengil yang menabrak mobilnya Minggu lalu.
"Om, jawab!" seru Emeery mendesak Gerry yang malah berusaha memanggil pelayan. Gerry menatap Emeery sebentar, kemudian mengeluarkan kartu nama yang sama.
Detik itu juga Emeery langsung membulatkan kelopak matanya dan menutup mulut menggunakan kedua tangan. Pelayan datang untuk mencatat pesanan, sementara Emeery masih sibuk dengan keterkejutannya.
"Jangan buang waktuku, kamu mau pesan apa?" tanya Gerry setelah menyebutkan pesanannya.
Akan tetapi bukannya menjawab, Emeery malah melayangkan pertanyaan lain. "Jadi, jadi Om itu duda?"
Gerry balas melotot.