NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi dalam Koper

Pukul tiga pagi. Waktu di mana dunia seolah berhenti berputar, kecuali bagi Sheilla yang kini bergerak seperti bayangan di dalam kamar kecilnya. Suara jarum jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang menghakimi setiap gerakannya. Dengan jemari yang masih gemetar, ia menarik sebuah koper tua dari atas lemari koper yang dulu ia bawa dengan penuh harapan saat pindah ke rumah ini tiga bulan lalu.

Ia membuka lemari pakaiannya. Deretan baju yang ia beli untuk menyenangkan mata Ardhito gaun-gaun lembut, blus berwarna cerah yang kata orang bisa membuat wajahnya segar kini tampak seperti kostum badut yang menyedihkan. Sheilla mengabaikan itu semua. Ia hanya mengambil beberapa potong kaos, celana jins, dan sweater longgar. Ia tidak butuh menjadi cantik lagi. Ia hanya butuh menjadi bebas.

--

Setiap barang yang ia masukkan ke dalam koper terasa begitu berat, seolah membawa beban kenangan yang memuakkan. Sheilla berhenti sejenak saat tangannya menyentuh sebuah kotak beludru kecil di laci meja rias. Di dalamnya ada cincin pernikahan mereka. Cincin emas putih yang melingkar di jarinya hanya sebagai simbol belenggu, bukan cinta.

Perlahan, ia melepas cincin itu. Kulit jarinya terasa ringan, namun hatinya terasa kosong. Ia meletakkan cincin itu di atas meja rias, tepat di samping sebuah surat pendek yang sudah ia tulis dengan tinta yang sempat luntur karena tetesan air mata.

“Aku kembalikan status ini padamu, Dhito. Kamu benar, pernikahan ini adalah kesalahan. Dan aku adalah orang paling bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Jangan cari aku, karena bagimu, aku memang tidak pernah ada.”

Sheilla menatap tulisan itu. Singkat, padat, dan tanpa sisa rasa manis. Ia tidak ingin Ardhito merasa menang, tapi ia juga tidak ingin pria itu merasa dicintai lagi. Ia ingin Ardhito tahu bahwa satu-satunya orang yang peduli padanya di dunia ini baru saja ia hancurkan hingga tak bersisa.

--

Sheilla menyeret kopernya perlahan, sangat pelan, agar rodanya tidak mengeluarkan suara di atas lantai marmer. Ia melewati kamar utama. Pintu itu tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tidak ada cahaya yang keluar. Ardhito mungkin sudah pulang dan tertidur pulas, atau mungkin dia belum pulang sama sekali karena asyik di pelukan Valerie.

Sheilla berhenti tepat di depan pintu itu. Untuk terakhir kalinya, ia menatap kayu jati yang kokoh tersebut. Dulu, ia sering berdiri di sini, ragu untuk mengetuk, berharap Ardhito akan membukanya dan mengajaknya masuk. Sekarang, ia hanya merasa mual.

"Selamat tinggal, Dhito," bisiknya nyaris tak terdengar. "Terima kasih sudah mengajariku bahwa cinta saja tidak pernah cukup untuk mempertahankan seseorang yang ingin pergi."

Ia melangkah menuju pintu keluar apartemen. Saat tangannya menyentuh gagang pintu dingin, ia teringat semua janji bodoh yang ia buat pada dirinya sendiri saat SMA dulu janji untuk selalu ada untuk Ardhito, janji untuk membahagiakannya. Kini, ia mematahkan semua janji itu demi satu janji baru: untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.

--

Udara dingin lobi apartemen menyambutnya saat pintu lift terbuka. Satpam penjaga hanya menatapnya dengan heran, melihat seorang wanita dengan wajah sembab dan lebam di pipi membawa koper di jam yang tidak lazim. Tapi Sheilla tidak peduli. Ia terus melangkah keluar, menuju jalanan yang masih basah oleh sisa hujan semalam.

Ia memesan taksi online dengan tangan yang tidak lagi gemetar sehebat tadi. Ada rasa lega yang aneh, sebuah kelegaan yang datang bersama rasa perih yang luar biasa. Seperti mencabut peluru dari luka yang sudah infeksi; sangat menyakitkan, tapi perlu agar bisa sembuh.

Saat taksi itu bergerak menjauh dari gedung apartemen mewah yang kini tampak seperti penjara raksasa, Sheilla menoleh ke belakang melalui jendela yang berembun. Lampu-lampu kota mulai redup berganti cahaya fajar yang abu-abu.

Dia tidak tahu ke mana dia akan pergi setelah ini. Dia tidak punya rencana besar. Yang dia tahu hanyalah satu hal: dia tidak akan pernah menoleh lagi. Penantian delapan tahun itu berakhir di sini, di kursi belakang sebuah taksi yang membawanya pergi menuju ketidakpastian yang jauh lebih baik daripada neraka yang baru saja ia tinggalkan.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!