NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi menyapa Seoul dengan kabut tipis yang lembut menyelimuti setiap jendela-jendela rumah-rumah di lingkungan itu, memberikan kesan misterius pada pemandangan pagi yang biasanya jelas dan cerah.

Cahaya matahari yang baru mulai muncul berusaha menerobos lapisan kabut putih susu itu, menciptakan kilau keemasan yang menyebar lembut di permukaan tanah yang masih sedikit lembap akibat embun pagi.

Namun di kediaman keluarga Bahng, suasana jauh dari kata tenang atau damai seperti biasanya. Udara dalam rumah terasa penuh dengan ketegangan yang tak terlihat, seolah-olah sesuatu yang besar akan segera terjadi dan mengubah segalanya.

Axel baru saja merebahkan tubuhnya dengan lelap di sofa ruang tengah setelah menghabiskan seluruh malam berada di bawah tanah bersama Samuel. Mata kirinya yang sudah mulai merah karena kurang tidur sedikit terbuka dan tertutup seiring dengan irama napasnya yang dalam, menunjukkan bahwa kantuk sudah mulai menyerangnya dengan kuat. Jas dokternya yang kusut tergeletak di lantai dekat kaki sofa, sementara rambutnya kini tampak berantakan dan menutupi sebagian dahinya. Ia sudah hampir terlelap sepenuhnya ketika suara getaran yang singkat namun jelas terdengar dari atas meja kopi yang terletak tepat di depannya.

Ponselnya bergetar dengan ritme yang dikenalinya dengan baik—bunyi notifikasi dari aplikasi percakapan berwarna hijau yang selalu ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Lusy. Suaranya terdengar seperti ledakan yang sangat keras di tengah kesunyian pagi itu, menghancurkan kantuknya seketika dan membuatnya terbangun dengan posisi terlentang sebelum akhirnya duduk tegak dengan tubuh yang kaku. Detak jantungnya berdebar dengan cepat, membuatnya merasa seperti sedang mengalami kejutan yang sangat besar.

Ia menjulurkan tangan kanannya dengan cepat untuk mengambil ponselnya, jemarinya sedikit gemetar karena campuran rasa kantuk dan rasa ingin tahu yang luar biasa. Layar sentuhnya yang masih hangat menunjukkan pesan baru dari kontak yang disimpan dengan nama 'Lusy ❤️', dan dalam hitungan detik setelah membacanya, seluruh tubuhnya terasa seperti terkena sengatan listrik ribuan volt.

Lusy ❤️: Axel! Ada kejutan besar! Aku baru saja mendapat persetujuan cuti semester lebih awal dari dekan fakultas. Papa juga sudah memajukan jadwal pembukaan cabang perusahaan di Korea—semuanya akan mulai beroperasi minggu depan! Aku akan pulang, Axel! Aku akan tinggal di rumahmu dulu sampai rumah Papa di daerah Gangnam selesai direnovasi. Can't wait to see you, sayangku! 😊✨

Mata Axel membelalak lebar, bola matanya bergerak cepat dari satu kata ke kata lain seolah tidak bisa mempercayai apa yang dibacanya. Ia terduduk tegak di sofa dengan badan yang kaku, kedua tangan menggenggam ponselnya dengan sangat erat sampai buku jari-jarinya mulai memucat. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti kelopak matanya dan membuatnya merasa sangat lelah menghilang tanpa sisa, digantikan oleh debaran jantung yang berpacu liar seperti kuda yang sedang berlari di lintasan pacu. Sebuah campuran antara euforia yang luar biasa dan kepanikan yang mencekik menghantam dirinya secara bersamaan, membuatnya sulit untuk bernapas dengan normal.

"Minggu depan?" Ia melihat ke arah jendela ruang tengah dengan mata yang kosong seolah sedang membayangkan kedatangan Lusy. "Tinggal di sini? Di rumah ini?"

Ia mengalihkan pandangannya perlahan ke sekeliling ruang tengah yang kini sudah merangkap sebagai area kerja daruratnya sejak beberapa waktu terakhir. Sejak ia lebih banyak menghabiskan waktu meracik zat kimia dan melakukan percobaan di rumah daripada di laboratorium resmi rumah sakit, beberapa peralatan laboratorium yang ia anggap "lebih aman" untuk diletakkan di atas tanah mulai merayap naik dari bawah tanah dan memenuhi setiap sudut yang tersedia.

Di atas meja makan besar yang biasanya digunakan untuk makan bersama keluarga, terdapat jajaran mikropipet berukuran berbagai macam yang tersusun rapi namun jelas tidak sesuai dengan fungsi meja itu sebagai tempat makan. Di sebelahnya juga ada beberapa botol sampel kaca yang berisi zat berwarna-warni yang belum dibersihkan atau disimpan dengan benar, sebagian bahkan masih terbuka dan menimbulkan aroma kimia yang sangat lembut namun tetap terasa menyengat.

Di sudut ruangan dekat rak buku yang penuh dengan buku-buku medis, tumpukan jurnal ilmiah internasional berserakan seperti menara kartu yang hampir roboh setiap saat. Beberapa halaman jurnal itu terbuka dengan tergesa-gesa, menunjukkan bagian-bagian yang dianggap penting oleh Axel dan diberi sorotan kuning atau merah.

Di arah dapur yang hanya dipisahkan oleh sebuah partisi kayu rendah, kondisi tidak jauh lebih baik—di atas meja kerja dapur yang biasanya digunakan untuk memasak, ada beberapa tabung reaksi plastik yang ia letakkan begitu saja di samping tumpukan piring bersih yang baru saja dicuci oleh ayahnya. Beberapa dari tabung itu bahkan masih berisi sisa cairan eksperimental yang belum selesai digunakan.

"Sial..."

Ia berdiri dengan cepat dari sofa. Kemudian ia mulai berjalan mondar-mandir di atas karpet tebal ruang tengah dengan langkah yang tidak menentu, tangan kirinya terus meremas rambutnya yang sudah berantakan hingga membuatnya tampak lebih berantakan dari sebelumnya.

Batinnya sedang dalam keadaan yang sangat tidak stabil—suara kegembiraan dan kesenangan bersorak dengan sangat keras karena sang tunangan akan segera kembali ke pangkuannya setelah berpisah selama hampir setahun penuh. Namun sisi logisnya yang selalu bekerja dengan sangat baik dan rasional berteriak histeris dengan suara yang tidak kalah kerasnya, menyadari bahwa ada bahaya besar yang mengancam jika Lusy mengetahui tentang ambisi ilegalnya yang sedang ia kerjakan di bawah tanah.

Rumah ini harus kembali terlihat seperti rumah seorang dokter normal yang memiliki kehidupan yang teratur dan tidak berbahaya—bukan seperti markas ilmuwan gila yang sedang menantang maut dengan melakukan percobaan yang tidak diizinkan oleh hukum dan etika medis.

"Axel? Kenapa kamu mondar-mandir di ruang tengah pagi-pagi begini seperti orang yang sedang melakukan setrikaan tanpa setrika?"

Sebuah suara yang akrab dan tenang memecah kesunyian yang mulai terasa sangat tegang. Doni, sang Ayah muncul dari arah dapur dengan cangkir kopi hitam pekat di tangan kanannya, wajahnya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda usia dipenuhi dengan ekspresi heran dan sedikit khawatir. Ia mengenakan baju tidur katun berwarna biru tua yang nyaman, dan rambutnya yang sudah bercampur putih tampak sedikit berantakan karena baru saja bangun tidur. Ia berhenti di dekat pintu partisi dapur, menatap anaknya dengan dahi yang sedikit berkerut menunjukkan kebingungannya terhadap tingkah laku Axel yang tidak biasa.

"Lusy, Yah. Lusy pulang minggu depan—bahkan mungkin lebih cepat lagi kalau pesawatnya bisa ditempati. Dia akan tinggal di sini dulu sampai rumah orang tuanya selesai direnovasi. Orang tuanya juga akan ikut kembali ke Korea untuk mengawasi pembukaan cabang bisnis baru mereka."

Doni tertegun sejenak mendengar kabar itu, matanya menunjukkan ekspresi kejutan yang jelas. Namun tidak lama kemudian, senyum lebar yang hangat merekah di wajah tuanya, membuat garis-garis halus di sekitar matanya semakin terlihat jelas. Ia mengangkat cangkir kopinya ke arah bibirnya dan meneguk secangkir kecil sebelum menjawab.

"Itu berita luar biasa sekali, nak! Akhirnya rumah ini akan terasa hidup lagi setelah sekian lama hanya kita berdua yang tinggal di sini. Aku sudah sangat merindukan suara tawa Lusy yang selalu membuat rumah ini jadi lebih hangat. Tapi kenapa wajahmu malah terlihat pucat dan seperti sedang menghadapi badai besar?"

"Lihat sekeliling kita saja, Yah! Rumah ini berantakan parah! Semua tempat penuh dengan barang-barang kerja ku yang tidak seharusnya ada di ruang tamu atau dapur. Aku tidak mungkin membiarkan Lusy melihat semua ini. Dia tahu kalau aku orang yang terlalu fokus pada pekerjaan dan suka membawa pekerjaan pulang—tapi dia tidak tahu kalau aku membawa 'pekerjaan' ini ke ruang makan kita atau bahkan ke dekat tempat kita memasak makanan. Aku harus membereskan semuanya sekarang juga!"

Doni terkekeh dengan suara yang hangat dan penuh pengertian, kemudian menggelengkan kepalanya dengan lembut seolah sudah tahu akan hal ini terjadi sejak lama. Ia berjalan lebih jauh ke dalam ruang tengah dan duduk di ujung sofa dengan tenang, masih memegang cangkir kopinya dengan hati-hati.

"Ayah sudah bilang kan, nak? Kamu terlalu terobsesi dengan pekerjaanmu sampai lupa dengan keadaan sekitarmu."

Ia menoleh ke arah meja makan yang berantakan dengan ekspresi yang tidak terlalu terkejut. "Nah, sekarang rasakan akibatnya sendiri. Tapi tenang saja, Ayah tidak akan membiarkanmu sendiri menghadapinya. Ayah akan membantumu memindahkan barang-barang ini kembali ke... tempat seharusnya mereka berada."

Axel segera bergerak sigap setelah mendengar kata-kata itu, rasa panik yang melanda dirinya membuatnya bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Ia mulai memunguti botol-botol sampel kaca dengan tangan yang sedikit gemetar, hati-hati menyimpannya ke dalam kotak kardus yang ia ambil dari gudang belakang. Setiap botol yang ia pegang dan pindahkan dari meja makan seolah mengingatkannya pada janji yang pernah ia ucapkan pada Lusy beberapa waktu yang lalu—janji tentang "sesuatu yang sangat spesial" yang akan ia persembahkan saat mereka bertemu kembali. Ironisnya, sesuatu yang ia harapkan akan menjadi bukti cinta dan dedikasinya itu kini menjadi beban berat yang harus ia sembunyikan dengan sangat rapat dari wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘣 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, pikir Axel sambil menggendong tumpukan jurnal medis yang tebal dengan kedua tangan, merasa bagaimana beratnya membuat lengan kirinya sedikit terasa kesemutan.

Ia berjalan perlahan menuju pintu yang mengarah ke gudang belakang, mata yang fokus melihat jalan agar tidak menjatuhkan jurnal-jurnal berharga itu.

𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘓𝘶𝘴𝘺 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪—𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘣 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶—𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬𝘰𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵. 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶.

Sambil memindahkan kotak-kotak berisi bahan kimia dan peralatan kecil ke arah tangga bawah tanah, Axel membayangkan wajah Lusy yang ceria dan penuh senyum, tawa wanita itu yang selalu bisa meruntuhkan setiap benteng logika dan rasionalisasi yang pernah ia bangun dalam dirinya. Rasa rindu yang sudah lama menumpuk dalam hatinya kini bercampur dengan rasa takut yang dalam—ketakutan akan kehilangan kepercayaan dan cinta sang kekasih jika rahasia gelap yang tersembunyi di bawah lantai rumah mereka ini terbongkar ke permukaan.

Setiap gerakan tangannya yang memindahkan barang-barang itu semakin cepat seiring dengan berjalannya waktu, karena ia menyadari bahwa waktu yang ia miliki sangat terbatas.

"Seminggu..." Ia menutup rapat pintu lemari kayu yang menyembunyikan tangga bawah tanah, kemudian memutar kunci dengan sangat erat hingga terdengar suara yang jelas. "Aku punya waktu seminggu untuk membuat rumah ini tampak normal lagi—seperti rumah yang layak untuk ditempati oleh orang yang dicintai. Dan setelah itu... aku harus menjadi aktor terbaik dalam hidupku di depan wanita yang paling aku cintai di dunia ini."

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!