NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SERIBU SATU PIKIRAN

Keheningan di dalam dimensi independen itu terasa begitu damai, namun bagi Rimba Dipa Johanson, keheningan itu sedikit terganggu oleh kekakuan pelayannya. Setelah tur keliling rumah mewah di balik gubuk tersebut selesai, Rimba berdiri di depan Lara, menatap wanita cantik itu dengan tangan bersedekap di dada.

“Tuan, apa yang Tuan butuhkan sekarang?” tanya Lara dengan nada yang sangat formal, kepalanya sedikit menunduk menunjukkan kepatuhan yang mutlak.

Rimba menghela napas panjang. “Lara, aku butuh kamu bicara pakai ‘aku-kamu’. Jangan panggil aku ‘Tuan’ terus. Rasanya aneh, aku ini cuma pemuda desa, bukan raja.”

Lara mendongak, matanya yang indah menatap Rimba dengan keraguan yang nyata. “Tidak bisa, Tuan. Saya diciptakan sebagai pelayan Anda. Terasa kurang ajar dan melanggar kode etik saya jika bicara pada Tuan dengan kata ‘kamu’.”

“Ayolah, Lara. Hidup ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan protokol kaku begitu,” Rimba terkekeh, lalu menunduk ke arah Cesar yang masih sibuk berputar-putar di antara kaki panjangnya. “Mari kita bersenang-senang, mari kita bergembira... Benar kan, Cesar?”

Cesar berhenti berputar, mendongak ke arah Rimba, dan menggonggong dua kali dengan semangat. Seolah-olah serigala kecil itu adalah pendukung setia setiap ide gila tuannya.

Lara tampak bimbang, jemarinya yang lentik saling bertaut. “Jadi... saya harus panggil apa?”

Rimba menyunggingkan senyum jahil. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma samar bunga pegunungan dari tubuh Lara. Ia mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mata Lara dengan mimik jenaka. “Bagaimana kalau panggil... ‘Sayang’?”

Lara tersentak. Matanya membulat sempurna, wajahnya yang putih seperti porselen seketika memerah hingga ke telinga. “Ma...masa harus panggil ‘Sayang’?” tanyanya terbata-bata, nyaris seperti orang yang sedang tersedak.

Melihat reaksi itu, Rimba tidak bisa menahan tawa. Tawa lepasnya menggema di seluruh ruangan mewah itu. Ia merasa sangat bahagia bisa menggoda wanita yang tadinya tampak seperti robot sempurna ini.

“Oke, oke, itu nanti saja kalau kamu sudah siap,” Rimba mengedipkan sebelah matanya. “Sekarang, aku akan panggil kamu Lara, kamu panggil aku Rimba. Dan kita saling pakai ‘aku-kamu’. Mengerti?”

Lara terdiam, menunduk dalam-dalam. Ia memainkan ujung jarinya, tampak sangat kebingungan menghadapi perintah yang tidak ada dalam manual pemrogramannya. Bagi Lara, menuruti perintah adalah kewajiban, namun perintah untuk menjadi "setara" adalah konsep yang sangat asing.

“Jadi... ada yang Tuan—maksud saya, yang... Anda butuhkan?” tanya Lara lagi, masih gagal memanggil nama.

Rimba memutar bola matanya, berpura-pura kecewa. “Haaah... payah. Aku nggak mau bicara sama kamu kalau kamu masih mempertahankan gaya bicara kaku begitu. Bye... Ayo, Cesar, kita ke ruang latihan saja!”

Rimba berbalik dengan gaya cuek yang dibuat-buat, melangkah lebar menuju ruang latihan. Cesar, tanpa perlu diperintah, segera berlari menyalip Rimba dengan ekor yang bergoyang kencang.

---

Di dalam ruang latihan yang luas, Rimba langsung menuju altar batu hitam. Ia duduk bersila di sana, merasakan hawa dingin yang sejuk merambat dari batu ke tubuhnya. “Cesar, kamu meditasi juga di altar ini ya. Kita barengan... oke, Bro?”

Cesar bukannya duduk bersila seperti Rimba, ia malah langsung merebahkan tubuh gempalnya dengan santai tepat di samping Rimba. Ia menguap lebar, menampakkan deretan gigi kecilnya yang tajam, lalu memejamkan mata dengan tenang. Rimba tersenyum tipis, mengusap leher Cesar sejenak sebelum ia sendiri mulai memejamkan mata.

Rimba mulai mengatur napasnya. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya untuk masuk ke dalam apa yang disebut sebagai "Perpustakaan Mental".

Seketika, pandangan gelap di balik kelopak matanya berubah. Ia seolah berdiri di sebuah koridor tanpa ujung yang dipenuhi oleh rak-rak buku raksasa yang melayang. Namun, pemandangannya tidak seindah yang ia bayangkan. Banyak rak yang tampak berwarna abu-abu kusam dan redup, seolah-olah tertutup oleh kabut tebal yang tidak bisa ditembus.

“Sepertinya ini berhubungan dengan tingkat kultivasiku,” gumam Rimba dalam batinnya.

Karena saat ini ia baru berada di tingkat satu rendah, mayoritas ilmu pengetahuan tingkat tinggi masih terkunci. Hanya beberapa modul di rak bagian bawah yang bersinar terang, menandakan bahwa ilmu tersebut bisa ia akses.

Rimba berjalan menyusuri barisan modul itu hingga matanya tertumbuk pada satu judul yang menarik: "Seribu Satu Pikiran".

Ia menyentuh modul itu, dan seketika deskripsi ilmu tersebut muncul di benaknya. Ini adalah teknik pemahaman untuk membelah kesadaran. Jika seseorang mampu menguasainya, ia bisa membagi pikirannya menjadi beberapa bagian. Artinya, dalam satu waktu yang sama, ia bisa mempelajari beberapa ilmu sekaligus atau melakukan tugas berbeda tanpa kehilangan fokus.

“Ini luar biasa!” batin Rimba berteriak senang. Sebagai calon mahasiswa IT, ia tahu betapa berharganya kemampuan multi-tasking yang sempurna seperti ini.

Karena ia masih di tingkat awal, ia hanya bisa membelah pikirannya menjadi dua. Namun, itu sudah lebih dari cukup. Rimba segera menekan judul modul tersebut. Tiba-tiba, banjir informasi tentang tahapan pembelahan pikiran tahap satu mengalir deras ke dalam kesadarannya.

Rimba semakin larut. Ia lupa pada waktu, lupa pada dunia luar. Napasnya bergerak ritmis sesuai dengan sistem kultivasi yang ia pelajari. Meskipun ia tampak diam tak bergerak, tubuh fisiknya mulai bermandikan keringat.

Tanpa ia sadari, pusat Dantian di perutnya bekerja keras. Energi Qi dari bumi dan langit yang melimpah di dimensi itu tersedot masuk melalui batu hitam tempatnya duduk, mengisi telaga energinya yang mulai kosong karena digunakan untuk memproses informasi tingkat tinggi di otaknya.

Pemahaman Rimba terhadap 'Seribu Satu Pikiran' terus merangkak naik. 10 persen... 25 persen... hingga mencapai 40 persen. Namun, pada titik itu, ia merasakan rasa haus yang luar biasa di dalam perutnya. Cadangan Qi-nya menipis. Kultivasi tingkat satu rendah miliknya belum sanggup menopang proses pembelajaran yang terlalu lama.

Rimba membuka matanya, menghembuskan napas panas. Ia turun dari altar dengan tubuh yang terasa sedikit lemas namun pikirannya terasa sangat tajam. Cesar yang tadinya tidur pun langsung bangkit dan melompat-lompat kecil mengiringi langkah Rimba keluar dari ruang latihan.

Begitu pintu terbuka, Rimba tertegun. Lara masih berdiri di sana, persis di posisi saat Rimba meninggalkannya tadi. Wajah cantik itu tampak cemas.

“Kenapa kamu masih berdiri di sini?” tanya Rimba sambil mendekat.

Lara mengangkat wajahnya, menatap Rimba dengan tatapan yang sedikit berair. “Saya... saya takut Rimba tidak mau bicara lagi sama saya.”

Rimba tertegun sejenak, lalu senyumnya mengembang. Lara akhirnya memanggil namanya! Meski suaranya kecil dan sedikit gemetar, itu adalah kemenangan besar baginya.

“Nah, begitu dong. Kalau kamu panggil nama, aku kan jadi semangat,” Rimba terkekeh. Ia merasa rasa lelahnya hilang seketika melihat kepolosan Lara.

“Saya harus bagaimana, Rimba? Saya tidak ingin Tuan—maksud saya, kamu, marah,” tanya Lara dengan nada sedih yang tulus.

Rimba kembali merasa jiwa jahilnya bangkit. “Hmm, gimana ya? Supaya aku nggak marah lagi, kamu jadi istriku aja ya?”

Lara kembali terbengong. Wajahnya yang tadi sudah mulai tenang kembali merah padam. “Ja-jangan ngomong gitu, Rimba... Aku jadi takut.”

Rimba tertawa terbahak-bahak mendengar Lara akhirnya menggunakan kata ‘aku’ dan ‘kamu’ meskipun dalam keadaan terdesak. “Gitu dong! Itu kalimat paling bagus yang pernah aku dengar darimu hari ini!”

Tanpa ragu, Rimba melangkah maju dan merangkul bahu Lara dengan santai, mengajaknya berjalan menuju arah dapur. Lara tampak kaku, tubuhnya sedikit gemetar karena kontak fisik yang mendadak itu, namun ia tidak menolak.

“Aku bahagia kalau kamu seperti barusan. Sekarang, mari kita rayakan perubahan besar ini!” Rimba menoleh ke arah Lara dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius. “Aku lapar. Masakin sesuatu yang enak ya, Sayang...”

Lara kembali terlongo. Kali ini wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Di kakinya, Cesar menggonggong riang seolah ikut menantikan perjamuan pertama mereka di dimensi itu.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!