NovelToon NovelToon
Hatimu Milik Siapa?

Hatimu Milik Siapa?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.

Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.

​Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.

"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"

Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)

Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Racun di Balik Kata-kata

Rumah besar itu biasanya terasa sunyi, tapi malam ini kesunyiannya terasa mencekam, seolah-olah oksigen di dalamnya telah ditarik paksa keluar.

Tania melangkah masuk dengan santai, menaruh tas kerja dan kunci mobilnya di atas meja konsol. Ia tidak menyalakan lampu ruang tengah, membiarkan kegelapan yang temaram menyelimuti ruangan.

​Tapi, ia tahu dirinya tidak sendirian. Aroma sandalwood yang tajam dan familiar tercium di udara.

​"Dari mana saja kamu?"

​Suara berat itu muncul dari arah sofa panjang. Rey duduk di sana, masih dengan kemeja kantor yang sudah kusut, tapi matanya menatap Tania dengan intensitas yang mengerikan.

Ada kemarahan yang tertahan di sana, sebuah emosi yang jarang ia tunjukkan pada Tania karena biasanya ia hanya memberikan sikap abai.

​Tania tidak berhenti. Ia terus melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. "Bukan urusan kamu, Rey. Aku sudah bilang tadi pagi, kan?"

​"Bukan urusan aku?" Rey bangkit, langkah kakinya terdengar berat saat mendekati Tania di area dapur.

"Tania, kamu itu masih istri ku. Dan tadi siang... apa-apaan itu? Kamu makan berdua sama laki-laki itu di tempat umum? Kamu sengaja mau bikin aku malu?"

​Tania meneguk air putihnya perlahan, sangat tenang. Ia bisa merasakan dadanya berdenyut, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun.

​"Malu?" Tania meletakkan gelasnya dengan denting yang nyaring di atas kitchen island. Ia berbalik dan menatap mata Rey dengan berani.

"Yang bikin malu itu siapa, Rey? Istri yang makan siang sama teman lamanya, atau suami yang pamer kemesraan sama mantan kekasihnya di media sosial sementara istrinya ada di kota yang sama?"

​Rahang Rey mengeras. "Aku sudah bilang, Bianca itu lagi ada masalah. Aku cuma bantu dia!"

​"Bantu dia sampai harus beli steak dan wine berdua? Bantu dia sampai harus pakai jam tangan pemberian istrinya buat nge-date sama dia?" Tania tertawa sinis, suaranya bergetar karena emosi yang mulai meluap.

"Tadi siang, saat kita berpapasan di restoran itu... kamu bahkan nggak tahu kan kalau aku lihat semuanya? Kamu terlalu sibuk menatap Bianca sampai kamu lupa kalau aku juga ada di sana"

​"Itu beda, Tania! Aku sama Bianca nggak ada apa-apa!"

​"Oh ya? Terus aku sama Adrian juga nggak ada apa-apa. Kenapa kamu harus marah?" Tania menantang.

"Kenapa, Rey? Apa kamu merasa ego kamu sebagai laki-laki terluka karena ada pria lain yang bisa bikin aku tertawa, hal yang nggak pernah kamu lakukan selama ini?"

​Rey maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka. Ia mencengkeram pinggiran meja, mengurung tubuh Tania.

"Adrian itu suka sama kamu dari dulu. Aku tahu itu. Kamu sengaja kan manfaatin dia buat balas dendam sama aku?"

​Tania menatap wajah suaminya dari jarak dekat. Ia bisa melihat setiap garis kemarahan di wajah pria itu. Anehnya, melihat Rey marah seperti ini justru membuat Tania merasa menang. Ternyata, selama ini Rey hanya menganggap Tania sebagai barang miliknya—bukan sebagai manusia yang punya perasaan. Dia tidak takut kehilangan cinta Tania, dia hanya takut kehilangan "kepemilikannya".

​"Kalau iya, kenapa?" tantang Tania. "Adrian menghargai aku, Rey. Dia dengerin aku bicara. Dia tahu bunga favoritku tanpa perlu aku kasih tahu ribuan kali. Dia ada di sana saat kamu lebih milih jaga hati wanita lain."

​"Tania, tutup mulut kamu!" Rey membentak.

"Jangan berani-berani bandingin aku sama laki-laki itu!"

​"Kenapa? Takut?" Tania mendorong dada Rey agar menjauh. "Jujurlah, Rey. Kamu marah bukan karena kamu cinta sama aku. Kamu marah karena kamu merasa properti kamu lagi disentuh orang lain. Kamu nggak pernah cinta sama aku, kan? Dari awal, dari malam pertama kita, hatimu memang nggak pernah ada di rumah ini. Hatimu tertinggal di masa lalu kamu sama Bianca."

​Suasana mendadak senyap. Nafas Rey memburu. Kata-kata Tania barusan seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran yang selama ini coba ia sembunyikan.

​"Kalau memang kamu nggak bahagia, kenapa kamu nggak pernah bilang?" suara Rey merendah, tapi terdengar dingin dan menusuk.

​"Aku sudah bilang, Rey. Lewat masakan yang kamu abaikan, lewat kopi pagi yang nggak pernah kamu sentuh, lewat perhatian-perhatian kecil yang kamu anggap angin lalu. Aku sudah bicara lewat semua itu selama tiga tahun, tapi kamu tuli." Tania menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai mendesak keluar. "Lirik lagu yang sering aku dengerin itu benar, Rey... Sampai hilang baru kau mengerti artinya menghargai."

​Rey terdiam. Ia menatap istrinya yang kini terlihat begitu rapuh tapi sekaligus begitu kuat di hadapannya. Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dadanya—sebuah rasa sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin meraih tangan Tania, ingin bilang bahwa dia tidak bermaksud seperti itu, tapi egonya kembali berbisik.

​"Kamu mau apa sekarang? Cerai?" tanya Rey dengan nada getir.

​Tania menatap suaminya lama sekali. Ia mencari-cari sisa cinta di mata Rey, tapi yang ia temukan hanyalah kegelapan dan kebingungan.

​"Aku nggak tahu," jawab Tania jujur. "Tapi malam ini, aku nggak mau tidur di kamar yang sama dengan pria yang baru saja menghabiskan waktu dengan wanita lain."

​Tania berbalik, berniat menuju kamar tamu. Namun, langkahnya terhenti saat ponsel Rey di atas meja makan berdering nyaring. Sebuah panggilan video masuk. Layarnya menyala, memperlihatkan nama Bianca.

​Rey melirik ponsel itu, lalu melirik Tania. Ada keraguan di matanya.

​Tania tersenyum getir, senyum yang paling menyedihkan yang pernah Rey lihat. "Angkat saja, Rey. Jangan biarkan dia nunggu. Bukannya dia 'tanggung jawab' utama kamu?"

​Tania melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke kamar tamu dan mengunci pintunya dari dalam. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, merosot perlahan sampai terduduk di lantai yang dingin. Ia membungkam mulutnya dengan tangan, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara.

​Di luar, di ruang tengah yang sepi, Rey menatap ponselnya yang masih bergetar. Ia meraih ponsel itu, jempolnya bergerak di atas layar, bimbang antara mengangkatnya atau mematikannya. Namun, saat ia melihat pintu kamar tamu yang tertutup rapat, ia justru merasakan sebuah ketakutan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Ketakutan bahwa mungkin... kali ini Tania benar-benar akan "hilang".

​Rey akhirnya menekan tombol merah, menolak panggilan Bianca. Ia melempar ponselnya ke sofa dengan kasar, lalu ia menyugar rambutnya dengan frustrasi. Ia duduk di sana, dalam kegelapan, baru menyadari bahwa suara detak jam dinding di rumahnya ternyata terdengar sangat memekakkan telinga saat tidak ada suara tawa istrinya.

​Tiba-tiba, ada sebuah pesan masuk di ponsel Tania yang tertinggal di meja. Layarnya menyala, memperlihatkan sebuah pesan dari Adrian.

​Adrian: "Tan, kalau kamu merasa rumah itu terlalu sesak malam ini... kabari aku ya. Aku ada di sini."

​Dan dari balik pintu kamar tamu, Tania tidak tahu bahwa Rey sedang membaca pesan itu dengan mata yang berkilat penuh amarah dan penyesalan yang mulai merayap.

1
Daulat Pasaribu
awal yg sad thor bacanya
@Yayang ♡ Risa
Rey kamu dan Bianca sama sama dapat karmanya
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wkwkwk Bianca dibully habis"nya, mulutnya tajem juga itu narapidana
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
dia ga hanya mendukungmu tapi dia melihat kamu dengan bakatmu juga🤭
🧡⃟ʏᴇ ʜͫᴀᷲᴏʀᴀɴ⁴
Adrian perhatian banget, cowo idaman
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
skrng Tania lebih bersinar iya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cie Tania dilamar Adrian ini🤭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
karma emang datang begitu cepat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🧡⃟ᴍᴜᴍᴜ⁷
mulai dari awal lagi rey, harus semangat
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
karma sedang kalian alami, semoga kalian sadar iya
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
ga selamanya kita selalu diatas
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
sabar iya
𝐀⃝🥀мυмυ
rey rey kamu harus sabar iya
Yayang Lop3♡ Risa
Bianca kamu taubat kesalahan kamu besar banget
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
semoga kamu bisa belajar dari tania iya bianca
❤️⃟Wᵃfᴍᷟᴀᷰxᷟɪᷰᴀᴏʏᴜ
maun kasian tapi itu karna buat kalian yg jahat ke tania
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢ ᴛɪɴɢ ʀᴜɪ
Kasian ibunya rey sakit"an tapi mau gmn dia dlu ga membela tania
☘𝓡𝓳 мυмυ
kalian berdua harus smaa" belajar berubah lebih baik lagi dan bertaubat
ѕ⍣⃝✰ѕнєη нᷟαᷴσᷟηᷴαη
uhuy adrian romantis sekali🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
cie adrian selalu ada buat tania🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!