Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arabella Vs Cewek Munafik
Mobil taksi yang Ara tumpangi berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi. Bi Wati dan Ara langsung turun dari taksi tersebut.
“Bi, ini rumah gue?” tanya Ara.
Bi Wati hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dia terlalu gemas melihat sikap dan tingkah Ara yang sangat berbeda dari biasanya. Dulu pemalu dan penakut, sekarang justru terlihat sedikit lebih berani.
Ara menatap bangunan tinggi itu. Perlahan, dia membuka gerbang masuk. Mansion Kalandra—bangunan tiga lantai itu tampak megah dan mewah, membuat Ara melongo tidak percaya.
Alea di dalam dirinya ikut terdiam.
“Jadi si Ara ini anak orang kaya? Tapi kenapa mereka semua nggak ada yang jemput?” gumam Alea dalam hati.
Setelah puas memandangi bangunan tersebut, Ara menoleh ke arah Bi Wati.
“Ayo, Bi. Kita masuk,” ajaknya.
Mereka melangkah masuk ke dalam mansion Kalandra. Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu, Ara melihat beberapa remaja tengah berkumpul di sana. Mereka tertawa dan bercanda gurau tanpa menyadari kehadirannya.
“Dasar gila. Adik kalian baru aja selamat dari maut, tapi kalian malah santai bercanda di sini,” gumam Ara pelan.
Dengan ekspresi cuek, dia berjalan melewati mereka semua tanpa menyapa—tidak seperti Ara yang dulu.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kakinya terdengar jelas. Tawa di ruang tamu seketika terhenti. Satu per satu pasang mata menoleh ke arahnya.
“Berhenti.” Suara itu datang dari seorang remaja pria yang usianya tak jauh berbeda dari Ara.
Ara menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
“Akhirnya kakak pulang juga,” ucap Vania.
Gadis itu bangkit dari duduknya, berjalan mendekat, lalu memeluk tubuh Ara dengan erat.Seolah-olah dia sangat mengkhawatirkannya.
“Vania panik banget waktu lihat Kak Ara ketabrak mobil,” lanjut Vania dengan suara lembut.
Ara langsung membalikkan tubuhnya. Tatapannya terkunci pada wajah Vania, bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
“Lo beneran khawatir waktu gue celaka?” tanya Ara pelan, namun nadanya dingin.
Auranya membuat Vania merasakan hawa sejuk merambat di punggungnya.
“Maksud kakak apa?” tanya Vania sambil melepaskan pelukan. Mengangkat wajahnya menatap Ara dengan tatapannya tampak polos.
“Vania beneran khawatir sama kakak,” tambahnya.
Ara menatapnya tanpa berkedip.
“Lo yakin?” ucapnya tenang.
“Bukannya waktu gue kecelakaan, lo ada di sana? Bahkan gue lihat sendiri lo lari bareng temen lo itu.”
Nada suaranya tetap datar, namun mengandung tekanan yang membuat ruangan mendadak hening.
Semua orang terdiam. Mereka menunggu, penasaran dengan apa yang akan Ara lakukan pada Vania—seperti sebelum-sebelumnya.
“Kakak, apa yang kakak ucapin?” suara Vania bergetar.
“Waktu itu Vania ada di rumah bareng Bang Kenzo.”
Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya saling menggenggam, tubuhnya gemetar hebat, seolah dia adalah korban.
“Cukup, Ara.” Bentakan itu datang dari arah sofa.
Seorang remaja pria duduk di sana, menatap Ara dengan sorot mata tajam, penuh ketidaksukaan. Kenzo—kakak kandung Ara.
“Kamu memang nggak pernah berubah,” lanjutnya dingin.
“Sifatmu tetap aja kayak gini.”
Ara tersenyum sinis. Perlahan, dia menatap Kenzo dengan sorot mata tajam.
“Emang sikap gue kayak apa?” bentaknya. “Kenzo Kalandra.”
Ruangan itu seketika membeku. Semua orang terperangah. Tidak ada yang menyangka Ara berani melawan, bahkan membentak Kenzo.
“Kamu....” Kenzo menunjuk Ara dengan wajah menegang.
“Ah, sudahlah. Gue capek,” potong Ara. “Mau istirahat.”
Tanpa menunggu jawaban, Ara membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
“Dasar sinting. Siapa yang menindas, siapa yang jadi korban,” gerutunya kesal sambil menghentakkan langkah kakinya. “Heran deh gue."
♧♧♧♧
Di ruang tamu, semua orang terdiam membisu. Tatapan mereka tertuju pada punggung Ara yang perlahan menghilang di balik pintu, meninggalkan suasana canggung yang menggantung di udara.
“Kenzo, ada apa sama adek lo?” tanya Devan, memecah keheningan.
Kenzo hanya mengedikkan bahunya dengan ekspresi acuh.
“Palingan juga dia cuma caper,” jawabnya santai, seolah apa yang Ara lakukan barusan hanyalah drama lama yang sudah biasa ia lihat.
“Jangan begitu, Kak,” timpal Vania pelan. Ia menatap Kenzo dengan wajah lembut.
“Mungkin Kak Ara lagi capek, makanya dia membentak kakak tadi.”
Kenzi yang berdiri di dekat Vania mengulurkan tangan, mengelus kepala gadis itu perlahan.Senyum tipis terbit di wajahnya.
“Kamu memang adik yang paling pengertian, Vania. Nggak kayak Ara, sikapnya selalu keras.”
Vania menundukkan wajahnya, jemarinya saling bertaut. “Kak, jangan ngomong gitu,” katanya lirih, seolah keberatan.
“Nanti Vania jadi nggak enak, lagian Kak Ara itu sebenarnya baik kok.”
Namun, tanpa disadari siapa pun, sudut bibir Vania terangkat tipis—senyum kecil yang tak sejalan dengan nada suaranya.
"Ara seberapa keras usahamu, mereka tidak akan pernah memihak kepadamu," kata Vania dalam hati.
“Kamu memang pantas dapet perhatian sebanyak itu, Vania,” ujar Farell, teman si kembar, sambil mengangguk setuju.
Vania hanya mengangkat wajahnya sedikit, tatapannya terlihat polos. Tapi di balik itu, ada kepuasan yang diam-diam mengendap.
"Teruskan saja caramu itu Ara. Tapi ingat satu hal, jangan coba main-main denganku."