NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Risih

Hari ini seperti biasa Guno bersiap untuk kembali mengajar. Ia mengenakan sepatu, membenarkan letak dasinya, kemudian menyalakan mesin mobil. Ibu mertuanya yang sedari tadi memerhatikan dari dalam rumah, perlahan berjalan keluar untuk menegurnya.

"Kenapa tidak pakai motor?"

"Lagi ada keperluan Bu!"

"Ibu hari ini ada arisan dengan ibu-ibu komplek, kamu tidak kasihan melihat Ibu menumpang di mobil orang lain?"

"Hm... sementara Ibu menumpang dulu ya, soalnya hari ini ada yang harus Guno antar."

"Siapa?"

"Kepala sekolah!"

"Bukannya kepala sekolah punya mobil sendiri?" tanya sang mertua sangsi.

"Beliau memang punya, tapi katanya hari ini sekalian ada rapat di hotel makanya mau bareng saya"

"Rayu dong biar kamu yang naik mobilnya lalu mobilmu Ibu pakai hari ini"

"Tidak bisa Bu, Guno sudah janji"

Guno menghampiri ibu mertuanya lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Hari ini Ibu menumpang dulu ya" ucapnya, kemudian langsung berlari masuk ke dalam mobil agar tidak perlu mendengar omelan ibu mertuanya lagi.

Tanpa berlama-lama Guno langsung tancap gas, pagi ini ia begitu bersemangat. Cara membawa mobilnya pun tidak seperti biasanya seharusnya di persimpangan ia berbelok ke kanan, namun kini ia malah berbelok ke kiri. Setelah berkendara selama lima belas menit, Guno berhenti tepat di depan sebuah rumah yang dihuni oleh siswinya, Tamara.

Alasannya sungguh klasik saat berkata akan mengantar kepala sekolah, kenyataannya ia menjemput Tamara tanpa sepengetahuan dan izin gadis itu.

Guno keluar dari mobil ia berjalan penuh percaya diri menghampiri Tamara yang sedang berpamitan kepada ibunya.

"Tama, ayo!"

Tanpa basa-basi Guno langsung mengajak Tama. Tentu saja hal ini membuat Tama kebingungan dan semakin risih. Ibu Tama pun bertanya-tanya melihat sosok lelaki yang menjemput putrinya untuk pertama kali.

"Tama, siapa ini?" tanya sang ibu.

Tama ingin menjawab namun kalah telak oleh kesigapan Guno yang langsung mengambil alih pembicaraan.

"Oh iya. Saya Guno, gurunya Tama Bu" ucap Guno sembari mengulurkan tangan.

"Oh, gurunya. Tapi kenapa Bapak menjemput anak saya?"

"Katanya Tama mau bareng Bu supaya tidak terlambat masuk kelas"

Kening Tama semakin mengernyit. Ia beberapa kali menggelengkan kepala sebagai tanda protes, namun ibunya lebih fokus memerhatikan Guno.

"Oh! Padahal Pak Guru, kalau misalkan Tama meminta berangkat bersama jangan diiyakan. Mungkin anak saya hanya bercanda" tutur ibu Tama.

"Saya bisa membedakan kok Bu mana yang bercanda dan mana yang serius. Tenang saja, lagi pula saya tidak keberatan"

"Tapi lain kali kalau Tama minta bareng lagi, jangan ya Pak. Tidak enak dilihatnya, tidak sopan kalau Tama naik mobil dengan Bapak"

"Tidak apa-apa Ibu. Kami kan guru dan anak didik, lagi pula sudah kewajiban saya mengantar siswa berangkat sekolah dengan selamat."

"I-iya Pak" ucap ibu Tama kaku.

"Kalau begitu kami izin pamit ya Bu. Permisi!"

Guno menyentuh tangan Tama, memberi kode untuk segera pergi. Dengan hati kesal dan terpaksa, mau tidak mau Tama menurut. Ia mencium tangan ibunya lalu masuk ke mobil Guno. Guno mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Tama hanya diam sembari membaca pesan di ponselnya.

"Diam terus, seperti yang di sebelah bukan orang saja" sindir Guno.

Tama mengembuskan nafas berat "Saya harus bagaimana Pak?"

"Ngobrol dong! Jangan main ponsel terus! Lagi chatting-an ya sama gebetanmu?"

"Apaan sih Pak!"

Guno tertawa kecil "Kamu kalau mengobrol dengan saya santai saja, tidak usah kaku. Kalau kamu mau curhat tentang pasangan saya siap mendengarkan semuanya"

"Jadi Bapak kesepian?"

"Kok kesepian?"

"Bapak repot-repot menjemput saya hanya karena ingin tahu tentang kehidupan saya-kan?"

"Kepedean kamu! Saya cuma menjalankan kewajiban sebagai guru. Tidak usah sok cantik!"

Tama merasa sangat kesal ia kembali membuang muka ke arah ponsel. Ia masuk ke grup chat sekolah yang beranggotakan lebih dari dua ratus orang. Di sana mereka membahas berbagai hal, bahkan guru yang asyik diajak bercanda pun bergabung di sana.

Membaca candaan teman-temannya, Tama tersenyum kecil hingga mengeluarkan tawa singkat yang terdengar oleh Guno.

"ketawain siapa kamu?"

"Sama anak-anak dan Pak Irfan"

"Pak Irfan? Wali kelas sebelas IPS 2?"

"Ya!"

"Kamu dekat dengan Pak Irfan?"

"Tidak, kami hanya bercanda di grup chat"

"Grup yang mana?"

"Itu... grup gabungan anak kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas. Tapi hanya untuk yang mau bergabung saja"

"Masukkan saya dong! Saya juga mau masuk ngobrol sama kalian disana"

"Tapi aku bukan adminnya"

"Siapa adminnya?"

"Pak Irfan!"

Guno menggerutu dalam hati "Sialan! Kenapa anak itu tidak mengajakku masuk? Apa dia takut tersaingi? Oke, kalau itu maunya aku bisa menggaet anak-anak lebih banyak daripada anggota grup itu!"

Meski kesal dan cemburu karena merasa Irfan lebih maju darinya Guno tetap menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat santai di hadapan Tama. Sesampainya di tempat parkir, Tama turun dari mobil Guno. Hal ini sontak menjadi pusat perhatian, siswa-siswi yang melihat mereka langsung menyoraki membuat suasana menjadi gaduh.

"Cie!!!"

"Bapak pasangan baru ya?!"

"Duh, mau dong jadi istri kedua!"

Sorakan itu membuat Tama ketakutan ia berlari melewati lorong-lorong kelas yang mulai ramai. Namun, di tengah kepungan tatapan sinis dan sorakan ia justru menabrak Indri, siswi kelas dua belas IPA dari kelas lain yang sudah menunggunya di depan kelas IPA-2.

Bruk!

Indri sudah bersiap sehingga ia tetap berdiri dengan angkuh, sementara Tama jatuh terduduk di lantai. Indri tersenyum sinis lalu angannya meraih dagu Tama, memaksa mereka saling tatap.

"Kamu pelakor?"

"Hah?"

Pelakor!

Itulah sebutan baru untuk Tama karena terlihat berangkat bersama Guno yang istrinya baru meninggal seminggu yang lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!