Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalanan
Motor Mandala melaju pelan menyusuri jalan kota yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam. Angin berembus lembut, membawa sisa hangat siang yang perlahan memudar. Keyla duduk di belakang, berpegangan hati-hati, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain.
Mereka melewati deretan ruko dan pepohonan, hingga motor itu melambat saat melintas di depan sebuah kafe yang cukup ramai. Cahaya lampu kafe memantul di kaca-kaca besar, menampilkan siluet orang-orang yang tertawa dan berbincang.
Pandangan Keyla tertarik ke sana.
Di area parkir kafe itu, sebuah mobil yang sangat ia kenal terparkir rapi.
Mobil Erga.
“Man…” suara Keyla nyaris tenggelam oleh suara mesin.
Mandala melirik sekilas lewat kaca spion. “Kenapa?”
“Itu…” Keyla menolehkan kepala sedikit, memastikan. Dadanya terasa mengencang. “Mobil Erga.”
Mandala refleks memperlambat laju motor. Tanpa mereka sadari, di depan kafe itu, Erga baru saja keluar dari pintu bersama seorang perempuan. Rambut panjangnya tergerai, tawanya lepas, lengannya sesekali menyentuh lengan Erga dengan akrab.
Keyla mengenali wajah itu dalam sekejap.
Nara.
Sahabatnya sendiri.
Langkah Keyla terhenti meski tubuhnya masih duduk di atas motor yang bergerak pelan. Napasnya tercekat. Ada rasa dingin yang menjalar dari dada hingga ke ujung jemarinya.
“Itu… Nara,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.
Mandala tak bertanya lagi. Dari kaca spion, ia melihat cara Keyla menunduk, bahunya mengeras. Ada sesuatu yang runtuh, pelan namun nyata.
Di depan kafe, Erga tertawa, tampak santai. Tangannya membuka pintu mobil untuk Nara gerakan kecil yang terlalu akrab untuk sekadar teman. Mereka tak melihat motor yang melintas perlahan di seberang jalan. Atau mungkin, tak menyadari siapa yang sedang menyaksikan.
“Keyla…” Mandala membuka suara, ragu. “Kita mau berhenti?”
Keyla terdiam beberapa detik. Lalu ia menggeleng pelan. “Nggak.”
Suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Lanjut aja.”
Mandala menuruti. Ia memutar gas perlahan, meninggalkan kafe itu di belakang. Namun bayangan yang barusan mereka lihat tak ikut tertinggal.
Beberapa meter setelahnya, Keyla menunduk. Helm menutupi wajahnya, tapi Mandala bisa merasakan perubahan napasnya lebih dangkal, lebih berat.
“Maaf,” kata Keyla tiba-tiba.
Mandala mengernyit. “Buat apa minta maaf?”
“Jadi… jadi ngerepotin,” jawab Keyla.
Mandala terdiam sejenak. “Aku nggak merasa direpotin.”
Keyla menelan ludah. “Erga pacar aku,” ucapnya pelan, seolah pengakuan itu berat untuk diucapkan. “Dan Nara… sahabat aku sejak SMA.”
Mandala tak langsung menanggapi. Ia hanya fokus pada jalan di depan, memberi ruang agar Keyla bisa bernapas di antara kalimat-kalimatnya sendiri.
“Aku mungkin salah lihat,” lanjut Keyla, seperti berusaha menyangkal. “Mungkin cuma kebetulan.”
Namun nada suaranya tak meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
“Kalau pun bukan kebetulan,” ujar Mandala akhirnya, suaranya rendah dan tenang, “itu bukan salah kamu.”
Keyla terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tak menawarkan solusi. Tak menghakimi siapa pun. Tapi justru itu yang membuat dada Keyla terasa semakin sesak.
Motor terus melaju, membelah malam yang kian pekat. Di antara dua insan yang sama-sama sedang kehilangan pegangan Mandala dengan pekerjaannya, Keyla dengan kepercayaannya ada keheningan baru yang lahir. Keheningan yang bukan lagi canggung, melainkan saling memahami tanpa perlu banyak kata.
...
Motor Mandala akhirnya melambat saat memasuki kawasan perumahan elit. Jalanan lebar, bersih, dan sunyi kontras dengan gang sempit tempat Mandala biasa pulang. Lampu-lampu taman menyala teratur, memantulkan bayangan pepohonan yang tertata rapi.
Di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam dengan lambang keluarga Pratama, Mandala menghentikan motornya.
“Ini rumah aku,” ujar Keyla pelan.
Mandala mengangguk. Ia turun lebih dulu, menurunkan standar motor, lalu melepas helmnya. Keyla ikut turun, menyerahkan helm dengan gerakan hati-hati. Untuk sesaat, mereka berdiri berhadapan, terpisah hanya jarak satu langkah.
“Terima kasih, Mandala,” kata Keyla tulus. “Kalau nggak ada kamu… aku nggak tahu harus gimana malam ini.”
Mandala menerima helm itu. “Sama-sama.”
Jawabannya singkat, namun sorot matanya menyiratkan perhatian yang tak ia ucapkan.
Keyla menoleh ke arah rumahnya. Lampu teras menyala terang, namun entah mengapa, langkahnya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia kembali menatap Mandala.
“Maaf ya… kamu jadi ikut lihat hal yang nggak enak,” ucapnya lagi, lebih pelan.
Mandala menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Ada jeda. Hening yang sarat oleh perasaan yang belum siap mereka pahami.
“Aku… mungkin bakal jarang ketemu Erga beberapa hari ini,” ujar Keyla tiba-tiba, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Aku butuh mikir.”
Mandala tak memberi saran. Ia tahu, saat seperti ini, Keyla tak butuh nasihat hanya ruang.
“Kalau kamu butuh teman buat ngobrol,” katanya akhirnya, hati-hati, “aku ada.”
Keyla menatapnya, mata itu berkilat terkena cahaya lampu gerbang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum kecil senyum yang rapuh, namun jujur.
“Makasih,” ucapnya. “Hati-hati di jalan.”
Mandala mengangguk. Ia mengenakan helm, menyalakan motor. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Keyla,” panggilnya.
Keyla mengangkat kepala.
“Kamu nggak sendirian,” ucap Mandala pelan.
Keyla terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa hangat, menenangkan sesuatu yang sejak tadi bergetar di dadanya.
Ia mengangguk kecil. “Iya.”
Gerbang rumah perlahan terbuka. Keyla melangkah masuk, menoleh sekali lagi saat motor Mandala mulai menjauh. Lampu merah di bagian belakang motor itu makin lama makin kecil, lalu menghilang di tikungan jalan.
Di balik gerbang yang kembali tertutup, Keyla menyandarkan punggungnya sesaat. Dadanya terasa sesak, namun untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa menarik napas lebih dalam.
Sementara Mandala melaju meninggalkan kawasan itu, pikirannya kembali penuh. Ia sadar, tanpa ia rencanakan, hidupnya mulai bersinggungan terlalu dekat dengan dunia Keyla.
...
Keyla melangkah masuk ke halaman rumah. Gerbang besi hitam menutup perlahan di belakangnya, menyisakan bunyi denting halus yang memecah kesunyian malam. Lampu-lampu taman menerangi jalur setapak menuju pintu utama, namun langkah Keyla terasa lebih berat dari biasanya.
“Non Keyla?”
Seorang satpam mendekat dari pos jaga, wajahnya tampak heran.
“Iya, Pak,” jawab Keyla pelan.
“Biasanya Non pulang sama Pak Heru. Ini… tadi dianter siapa?” tanyanya hati-hati.
Keyla berhenti sejenak. “Teman kampus.”
Satpam itu mengangguk, meski raut wajahnya jelas menyimpan kebingungan. “Pak Heru nggak jemput, ya, Non?”
Keyla menggeleng. “Nggak.”
“Baik, Non. Hati-hati,” ucap satpam itu sambil memberi hormat kecil.
Keyla melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Dadanya masih terasa sesak, bukan hanya karena apa yang ia lihat di kafe, tapi juga karena kekesalan yang sejak sore mengendap—ponselnya mati, sopir tak datang, dan ia harus pulang dengan cara yang sama sekali tak ia rencanakan.
Begitu pintu utama terbuka, suasana rumah terasa hangat oleh cahaya lampu gantung. Aroma teh hangat samar tercium dari ruang makan.
“Keyla?”
Suara Bayu Pratama terdengar dari dalam. Pria itu duduk di ruang keluarga, masih mengenakan kemeja kerja meski jasnya sudah dilepas. Ia menoleh saat melihat putrinya masuk.
“Kamu pulang bareng siapa?” tanya Bayu, nada suaranya datar, namun penuh perhatian.
Keyla meletakkan tasnya di sofa. “Teman kampus.”
Bayu mengamati wajah putrinya lebih saksama. “Heru ke mana? Kamu tahu?”
Keyla mendengus kecil, jelas kesal. “Itu yang aku juga mau tanya, Yah. Aku nunggu lama. Ponsel aku mati. Aku kira dia lupa atau sengaja nggak jemput.”
Bayu terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, seolah menimbang kata-kata.
“Heru sudah nggak kerja di sini lagi, Keyla.”
Keyla menoleh cepat. “Apa?”
Bayu berdiri, berjalan mendekat. “Ayah belum sempat bilang. Kejadiannya baru.”
“Kenapa?” suara Keyla meninggi, campuran kaget dan kesal. “Kenapa aku nggak dikasih tahu?”
“Karena Ayah juga masih ngurus semuanya,” jawab Bayu tenang. “Heru kena masalah.”
“Masalah apa?”
Bayu menatap putrinya lurus. “Judi online.”
Keyla terdiam. Kata itu jatuh begitu saja, berat dan tak terduga.
“Dia pakai uang pinjaman, lalu mulai nekan orang-orang sekitar. Ayah nggak bisa pertahankan dia lagi,” lanjut Bayu. “Bukan keputusan yang mudah.”
Keyla mengepalkan tangannya. “Terus aku disuruh nunggu di kampus tanpa tahu apa-apa?”
Bayu mendekat, nada suaranya melunak. “Maaf. Itu salah Ayah.”
Keyla memalingkan wajah, menahan emosi yang bercampur aduk. Hari itu terlalu penuh kehilangan kepercayaan pada Erga, rasa bingung dengan Nara, lalu sekarang ini.
“Ayah akan carikan sopir baru,” ucap Bayu. “Mulai besok.”
Keyla tak langsung menjawab. Ia mengangguk pelan, lalu mengambil tasnya kembali.
“Aku mau ke kamar,” katanya singkat.
Bayu memperhatikannya naik ke tangga, punggung putrinya tampak lebih rapuh dari biasanya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun ia memilih diam. Beberapa malam memang harus dilewati tanpa penjelasan.
Di kamar, Keyla menutup pintu perlahan. Ia menyandarkan punggungnya, menghela napas panjang. Hari itu seperti runtuh sedikit demi sedikit orang-orang yang ia percaya, satu per satu, memperlihatkan sisi yang tak pernah ia duga.
Ia melangkah ke tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di sana. Ponselnya kini sudah terhubung ke charger. Layar menyala.
Nama-nama notifikasi bermunculan.
Termasuk satu nama yang membuat jarinya berhenti.
Mandala.
Keyla menatap layar itu lama. ia teringat ucapan Mandala "kamu enggak sendiri."
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪