NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Anak Pel*cur

Tak mau menyerah, Intan masih berusaha untuk melamar pekerjaan. Namun ternyata nasib baik belum berpihak padanya. Sebenarnya salah satu temannya menawarkan pekerjaan, tapi Intan menolaknya karena tempatnya terlalu jauh yaitu di luar kota. Iya, Intan tidak diijinkan oleh sang ibu jika bekerja di tempat yang jauh karena bu Yuyun tidak mau ditinggal sendirian di rumah.

Jadi terpaksa Intan harus mencari pekerjaan yang lain saja. Dan hari ini Intan kembali mendapat panggilan untuk interview namun dia tidak lolos.

"Ya ampun susah banget sih cari pekerjaan. Apa aku kerja jadi pembantu saja ya... " ucap Intan yamg sudah capek setiap hari keliling namun tidak ada hasil.

Namun jika pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, di kompleks perumahan yang tidak jauh dari rumah Intan juga banyak yang membutuhkan. Gajinya mulai dari delapan ratus ribu hingga satu juta lima ratus tergantung pekerjaannya. Dari pada terus- terusan nganggur tanpa penghasilan, Intan berniat menjadi pembantu rumah tangga sambil menunggu panggilan kerja di tempat lain.

"Apa...? Kamu mau menjadi pembantu...?'' bu Yuyun rupanya mendengar gumaman Intan.

"Tidak boleh... Ibu tidak mengijinkan kamu kerja jadi pembantu. Kamu ini cantik Intan, badan kamu juga bagus. Dari pada kamu kerja jadi pembantu, mending kamu kerja di tempat ibu bekerja..." sambung bu Yuyun.

"Memangnya kenapa kalau Intan jadi pembantu bu, lagi pula di rumah ini Intan sudah seperti pembantu. Setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan disuruh- suruh terus sama ibu..." jawab Intan.

"Eh Intan , jadi kamu keberatan kalau ibu suruh- suruh kamu untuk mengerjakan pekerjaan rumah...!'' bu Yuyun kesal.

Intan pun diam tidak berani menjawab.

"Wajar dong kalau ibu nyuruh kamu buat ngerjain pekerjaan rumah. Ibu kan sudah capek kerja setiap malam..." sambung bu Yuyun.

"Memang pekerjaan ibu seberat apa sih...? kan setiap malam ibu hanya menemani laki- laki hidung belang, kok ibu bisa kecapekan. Memangnya berapa laki- laki yang ibu layani setiap malamnya...?'' entah kenapa pertanyaan seperti itu tiba- tiba meluncur dari mulut Intan.

"Lancang kamu Intan, dasar anak tidak tahu diuntung...! Berani- beraninya kamu bertanya seperti itu pada ibu...!"

"Plakkkk...." tiba- tiba bu Yuyun menampar pipi Intan.

"Ibu...hik...hik...." Intan menangis sambil memegangi pipinya yang sakit.

"Kalau bukan karena ibu yang berkerja setiap malam di diskotik, kamu tidak akan bisa sebesar ini Intan...! Kamu pasti sudah mati karena kelaparan...! Memangnya kamu pikir ibu bekerja seperti ini untuk siapa...! Untuk ngasih makan kamu dan bapa kamu...! Untuk menyekolahkan kamu...! Bisa- bisanya kamu menghina ibumu sendiri dengan pertanyaan seperti itu...! Keterlaluan kamu Intan...!!'' bu Yuyun marah.

Dan Intan pun hanya bisa menangis menyesal karena telah memberikan pertanyaan yang menyinggung hati sang ibu.

"Maaf.. Bu... Maafkan Intan...hik..hik..." ucap Intan.

"Awas ya Intan... Kalau sampai kamu bertanya seperti itu lagi... Ibu robek mulut kamu...!'' sahut bu Yuyun lalu masuk ke dalam kamar.

Begitu juga dengan Intan yang juga masuk ke kamarnya dan kembali menangis di sana.

"Mas Ridwan... Intan kangen sama mas Ridwan...hik..hik...kenapa mas Ridwan tega ninggalin Intan sendirian..hik..hik..." Intan terus menangis sambil menatap foto pernikahannya dengan Ridwan.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Malam berikutnya, bu Yuyun libur kerja. Sekitar pukul tujuh malam, seorang perempuan berumur sekitar lima puluh tahun datang bertamu ke rumah bu Yuyun. Namanya mami Monic. Dia adalah pemilik diskotik di mana bu Yuyun kerja setiap malam.

"Eh mami sudah datang..." bu Yuyun cipika- cipiki menyambut kedatangan bosnya.

Usia mami monic hanya beda beberapa tahun saja di atas bu Yuyun. Namun keduanya masih sama- sama cantik.

"Silahkan duduk mami..." ucap bu Yuyun.

"Rumah kamu nyaman ya Yun, adem, banyak tanaman hias di halaman dan juga di teras. Rajin banget kamu menanam tanaman hias. Rumah jadi terlihat asri..." ucap mami Monic.

"Itu anak saya si Intan yang menanamnya mami..." sahut bu Yuyun.

"Oh Intan... Mana dia...? Mami sudah lama banget nggak ketemu sama Intan, pasti sekarang dia sudah besar ya. Terakhir ketemu waktu dia masih sekolah SMP kalau tidak salah..." ucap momi Monic.

Bu Yuyun lalu memanggil Intan di dalam kamar.

"Ya ampun Intan, kamu makin cantik aja sih... Badan kamu tinggi,langsing, nggak kalah kamu sama model dan artis yang ada di tv..." mami Monic begitu kagum melihat kecantikan Intan.

"Mami bisa saja..." Intan tersipu malu karena pujian mami Monic.

"Beneran Intan... Mami nggak bohong. Berapa sih umur kamu...?'' tanya mami Monic.

"Sembilan belas tahun mami..." jawab Intan.

"Masih muda banget...oya Intan ,mami turut berduka atas meninggalnya suami kamu... Kamu yang sabar ya..." ucap Mami Monic sambil mengusap lengan Intan.

"Iya mami makasih...'' jawab Intan.

"Oya Intan sekarang kegiatan kamu apa..? Apa kamu kerja...?'' tanya mami Monic.

"Dia masih nganggur Mi... Sudah cari kerja ke sana kemari belum dapat juga. Mi, carikan kerja buat Intan dong Mi..." jawab bu Yuyun.

"Intan mau kerja di tempat mami...?'' tanya mami Monic.

"Ehm..." Intan tidak berani menjawab.

"Mi, Intan itu munafik anaknya, dia nggak mau kerja di tempat mami karena takut diomongin sama tetangga..." ucap bu Yuyun.

Ucapan bu Yuyun pun membuat Intan menjadi tidak enak pada mami Monic.

"Kenapa malu, tempat mami itu memang hiburan malam. Tapi di sana ada banyak pekerjaan. Ada bagian waiters, bagian meracik minuman, penerima tamu dan lain- lain. Kalau kamu mau kerja di tempat mami, mami bisa tempatkan kamu di tempat yang kamu nyaman..." ucap mami Monic.

Iya, mami tentu paham alasan Intan tidak mau kerja di diskotik miliknya. Pasti intan takut dianggap wanita penghibur oleh orang lain.

"Beneran mami...?" tanya Intan.

"Iya... Kalau menurut mami kamu tuh cocoknya ada di bagian waiters..." jawab mami Monic.

"Kalau waiters itu tugasnya apa saja Mi...?'' tanya Intan.

Mami monic lalu menjelaskan apa saja yang dikerjakan oleh seorang waiters

"Bagaimana...? Kamu mau kerja di tempat mami...?'' tanya mami Monic.

Intan lalu menoleh pada sang ibu.

"Ayo jawab kamu mau atau tidak..." sahut bu Yuyun.

Intan diam beberapa saat. Setelah berfikir dia lalu mengangguk pertanda dia mau untuk bekerja di tempat mami. Melihat Intan mengangguk, bu Yuyun dan mami Monic pun tersenyum.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Sudah beberapa minggu ini Intan menjalani malam- malamnya untuk bekerja di diskotik sebagai waiters. Tugasnya adalah mengantar makanan ringan serta minuman kepada para tamu. Sebenarnya Intan merasa tidak nyaman karena walaupun tugasnya hanya mengantarkan minuman dan makanan ringan tapi tak jarang ada tamu yang usil menggoda dia.

Bahkan kadang berani mencolek- colek bagian tubuhnya.Maklumlah, siapa sih yang tidak akan tergoda dengan Intan. Dia masih muda, cantik, tinggi, hidungnya mancung, matanya indah dan bodynya bagus. Setiap mata laki- laki yang memandang tentu saja akan terpesona padanya.

Untungnya mami Monic melalui anak buahnya tidak tinggal diam. Jika ada yang menggoda ataupun mengganggu Intan, maka orang itu akan kena tegur. Dan jika si pengganggu itu tidak berhenti menganggu Intan, maka mereka akan dikeluarkan dari bar.

Karena Intan selalu pergi kerja di malam hari dan pulang menjelang pagi, tentu saja hal itu tak luput dari gunjingan para tetangga. Mereka tentu saja curiga jika Intan telah mengikuti jejak sang ibu menjadi wanita penghibur untuk laki- laki hidung belang.

"Intan... Ke mana aja, lama nggak kelihatan...?'' tanya salah satu ibu- ibu yang sedang mengerubuti tukang sayur keliling.

Intan yang sedang menyiram tanaman hias di depan rumah pun menoleh ke arah ibu- ibu tersebut.

"Ada kok bu...'' jawab Intan sambil tersenyum.

"Kamu sekarang kerja di mana...? Kok perginya malam terus...?'' tanya ibu satunya lagi.

"Ehm... Di restauran bu..." jawab Intan.

"Di restauran...? Memang ada ya restauran yang bukannya tengah malam...?" sahut ibu- ibu satunya.

"Eh Intan , kamu ngaku saja deh, kamu kerja di diskotik bareng sama ibu kamu kan...? Memangnya kami nggak tahu apa, setiap jam sebelas malam kamu berangkat kerja, dan pulangnya menjelang pagi. Jadi kamu sekarang sudah jadi pel*cur seperti ibumu...?'' tanya ibu- ibu.

Mendengar pertanyaan ibu itu, Intan terdiam sambil menatap ke arah mereka.

"Ya ampun Intan... Saya nggak nyangka, setelah jadi janda kamu malah terjerumus ke dunia hitam. Kasihan sekali Ridwan. Dia pasti di akhirat menangis menanggung perbuatan kamu..." sahut ibu satunya lagi.

Mendengar nama Ridwan di sebut, Intan tentu saja tidak terima. Intan menggeleng- gelengkan kepalanya.

"Saya pikir kamu anak yang lugu dan baik Intan, ternyata kamu sama saja seperti ibumu..."

"Ya namanya juga anak p*lacur bu,tentu saja di dalam tubuhnya mengalir darah p*lacur..."

"Aku bukan p*lacur...!'' Intan terlihat kesal.

"Kalau kamu bukan p*lacur, ngapain kamu kerja di tempat p*lacur, memangnya tidak ada kerjaan halal di tempat lain...?"

"Hei...! Ngapain kalian ngomongin anak saya...!" tiba- tiba bu Yuyun keluar dari rumah menghampiri ibu- ibu rumpi.

"Dasar ibu- ibu kurang kerjaan...! Bisanya cuma nyiyirin hidup orang saja...! Pergi nggak kalian dari sini...!'' bentak bu Yuyun.

"Ini juga tukang sayur...! Ngapain kamu berhenti di depan rumah saya...! Kamu sengaja ya biar ibu- ibu tukang gibah ini belaja sambil ngomongin keluarga saya...!'' kali ini abang tukang sayur ikutan kena semprot.

"Bu..bukan begitu bu Yuyun..." sahut abang tukang sayur.

"Pergi nggak dari sini...! Jangan mangkal di sini lagi...!'' seru bu Yuyun.

"Iya...iya... saya pergi..." abang tukang sayur mendorong gerobaknya menjauh dari depan rumah bu Yuyun.

Begitu juga dengan ibu- ibu tukang gibah itu yang takut melihat bu Yuyun marah dan langsung bubar tidak jadi belanja sayur.

"Ayo masuk...." bu Yuyun menarik tangan Intan dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.

"Bu... Intan tidak mau kerja di diskotik lagi. Intan malu bu, di omongin terus sama tetangga..." ucap Intan begitu mereka sudah berada di ruang tengah.

"Apa kamu bilang...? Kamu mau keluar...? Nggak bisa...! Kamu mau jadi pengangguran lagi dan membiarkan ibu kerja sendirian...?'' bu Yuyun nampak kesal.

"Intan mau cari kerja di tempat lain saja bu..." sahut Intan.

"Cari di mana...? Selama ini kamu nyari kerja nggak dapat- dapat...!'' tanya bu Yuyun.

Intan terdiam, iya sebenarnya dia juga tidak tahu mau cari pekerjaan di mana lagi.

"Sudahlah Intan, kamu tidak usah dengarkan omongan ibu- ibu tukang gibah itu. Mereka itu orang- orang munafik. Kerjaannya cuma ngomongin orang tapi tidak mau ngaca sama kelakuannya sendiri..." ucap bu Yuyun.

"Mereka itu bisanya cuma nyinyir... Kalau kita susah juga mereka nggak perduli. Mereka malah tertawa. Sudahlah... Kamu tidak usah pikirkan omongan mereka. Dan kamu harus tetap kerja di tempat mami Monic. Kalau kamu keluar dari pekerjaan itu ibu nggak enak sama mami...." sambung bu Yuyun.

Intan pun tidak bisa berbuat apa- apa lagi selain hanya menuruti apa kata sang ibu.

Malam harinya Intan kembali kerja seperti biasa. Berangkat pukul sebelas malam dengan naik ojek on line dan pulang jam dua pagi. Begitu seterusnya. Dan seminggu sekali dia mendapat libur satu hari. Dan dari pekerjaannya itu, Intan sudah bisa membeli ponsel baru, baju baru dan barang lainnya yang dia butuhkan.

Dan kini Intan sudah menjalani pekerjaannya selama empat bulan. Intan merasa sudah mulai nyaman bekerja di tempat itu. Omongan tetangga tentang pekerjaannya pun tidak pernah Intan hiraukan lagi. Yang terpenting niat Intan hanya bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Toh Intan merasa tidak ada yang salah dengan pekerjaannya. Intan tidak menjual diri pada laki- laki hidung belang seperti yang dipikirkan oleh para tetangganya. Intan bukan pelacur, namun dia hanya seorang waiters.

Malam ini seperti biasa Intan pergi bekerja pukul sebelas malam. Ini adalah malam minggu, maka suasana diskotik lebih ramai dari hari biasa. Seperti biasa Intan dan pegawai lain menerima pesanan dan mengantar pesanan tersebut kepada para tamu.

Tiba- tiba datanglah tiga laki- laki dan langsung duduk di meja bagian pojok. Terlihat di sana dua di antara tiga laki- laki tersebut sepertinya sudah terbiasa datang ke diskotik. Sedangkan laki- laki yang satunya lagi sepertinya baru pertama kali. Karena dia telihat tidak nyaman berada di ruangan tersebut.

"Aku pulang saja ya...'' ucap pria yang bernama Aldi.

"Kamu ini gimana sih, baru juga datang udah mau pulang...Kita senang- senang dulu sebentar..." sahut salah satu temannya yang bernama Angga.

"Iya Aldi... Jangan buru- buru pulang, belum juga minum..." sahut Dandy.

"Aku nggak biasa minum begituan..." sahut Aldi maksudnya minuman beralkohol.

"Ya udah pesan minuman yang lain saja. Orange jus mau...?'' tanya Angga.

Aldi menghela nafas. Angga lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan pandangannya jatuh pada Intan yang sedang berdiri menunggu dipanggil tamu yang akan memesan minuman.

"Lihat tuh cewek yang ada di sana... Cakep kan..?' tanya Angga kepada Aldi sambil menunjuk ke arah Intan.

"Wow itu sih bukan cantik lagi bro... Sempurna..." sahut Dandy.

Sedangkan Aldi hanya diam sambil menatap ke arah Intan.

"Mbak..." Angga mengangkat tangan memanggil Intan. Intan pun langsung menoleh dan menuju ke meja mereka.

"Ada yang bisa saya bantu...?'' tanya Intan dengan senyuman yang begitu manis di bibirnya.

"Duh... mbak, jangan manis - manis dong senyumnya. Aku jadi nggak kuat nih..." ucap Dandy yang paling mesum di antara mereka bertiga.

"Hust... Ganggu saja..." ucap Angga kepada Dandy. Sedangkan Intan nampak cuek tidak mau meladeni Dandy yang menggodanya.

"Mbak, ini teman saya yang alim mau pesan orange jus..." ucap Angga sambil menunjuk Aldi.

Intan pun langsung menoleh ke arah Aldi. Dan mereka berdua saling bertatapan beberapa saat.

Bersambung....

1
Asmara
Wah curiga siapa yg umroh ya ?
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!