Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Ingatan malam itu ( 2 ).
Pagi ini Bang Rama bangun kesiangan. Ingatannya semalam tentang Dinda cukup menguras energinya. Jam sholat subuh sudah hampir habis, secepat kilat dirinya bersiap.
...
"Lama amat sih, ngapain aja??" Omel Bang Arben.
"Kesiangan. Kalian duluan saja, saya juga mau cek keadaan Dinda dulu, siapa tau Dinda masih nggak enak badan." Kata Bang Rama sambil memakai sepatu PDLnya.
"Yawes lah, Ben. Kita duluan saja, ada berkas yang belum ku fotokopi juga." Imbuh Bang Sanca.
...
"Dinda.." Bang Rama membuka pintu rumaah dinas yang di pakai para gadis untuk sementara menginap di sana namun salam dan sapaan tak juga segera terjawab. "Abang masuk, ya?"
Langkah Bang Rama pelan tapi saat masuk ke dalam rumah, Bang Rama kaget melihat Dinda tergeletak di samping meja makan.
Bang Rama mempercepat langkahnya, ia meraba dahi Dinda yang sedikit panas lalu memeluknya lembut untuk membawanya dengan hati-hati ke ranjang. Saat memindahkan badannya, ia mendengar suaranya mengigau pelan. "Bang Ardi.. Dinda mau bicara."
Entah kenapa hati Bang Rama terasa terhantam, tapi dirinya hanya bisa menghela nafas perlahan. Ia meletakkan Dinda di ranjang, menutupi dengan selimut, lalu keluar sebentar untuk mengambil air hangat dan handuk basah.
Sekembalinya ke kamar, ia mengoleskan handuk ke dahi dan kening Dinda sambil berbisik. "Bangun, Dinda. Mana yang sakit??"
Dinda masih terus mengigaukan nama Ardi, kadang diselingi tangisan kecil. Bang Rama ingat sekali dengan si Letnan Ardi itu, lettingnya yang dulu sempat bersitegang dengannya karena merasa Dinda diambil alih olehnya. Ia tau Ardi pernah sangat mencintai Dinda, tapi bukan tanpa alasan setelah itu dirinya benar-benar mengambil Dinda dari Ardi.
Tanpa ragu, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Bang Sanca.
'Sanca, tolong laporkan ke senior, saya nggak bisa datang pengajuan nikah hari ini. Dinda PMS sampe pingsan, saya harus merawat Dinda dulu."
Setelah mengirim pesan tersebut, Bang Rama kembali duduk di samping ranjang, menatap wajah Dinda yang pucat. "Setelah ini minum obat dulu, semoga cepet sembuh ya, Dek..!! Abang ada disini temani kamu, meskipun kamu terus panggil nama dia.." ucapnya pelan, sedikit tersenyum meskipun hatinya masih terasa berat.
Tiba-tiba Dinda menggenggam tangannya dengan erat, masih dalam tidur nyenyak. "Kalau Abang cinta, Abang tidak akan pergi sama Vania. Dinda tidak pernah selingkuh."
Bang Rama menyentuh pipi Dinda. Ia teringat keributan saat akhirnya dirinya memutuskan untuk mengambil alih Dinda dari tangan Ardi.
Flashback Bang Rama on..
Bang Rama sudah jengkel karena tidak bisa menghubungi Dinda, padahal Dinda bilang bahwa dirinya tidak lagi bisa membayar uang kontrakan. Tak kehabisan akal, ia kemudian melacak keberadaan Dinda dari sistem dari perangkat kerjanya.
"Di bandara???? Untuk apa Dinda di bandara??" Gumamnya pelan, akhirnya Bang Rama menyambar jaketnya lalu menyusul Dinda ke bandara.
...
Bang Rama melihat Dinda sedang bertemu seorang ibu dan menyerahkan amplop berwarna coklat dan cukup tebal. Dari jarak strategis, ia mendengarkan percakapan yang cukup membuatnya sakit hati. Tapi yang lebih membuat Bang Rama penasaran adalah, penampilan Dinda hari ini.
"Anak ku itu komandan, dia juga tentara. Kalau mau menikah sama dia ya harus kasih aku uang. Aku nggak pernah mau punya menantu miskin. Ingat ya, kau ini yatim piatu, hidup di gubug reyot. Mana tau kau anak kupu malam, atau anak maling." Kata Ibu Nurmala, Ibu Bang Ardi.
"Saya akan berusaha lebih keras lagi Bu. Ini uang untuk ibu, gaji Dinda dan bonus bulan ini jadi sebelas juta rupiah." Dinda menyerahkan uang itu namun sebelum sampai ke tangan ibu Nurmala, Bang Rama sudah menyambarnya.
Dinda sungguh syok melihat sosok yang ada di belakangnya. Ia ternganga sampai tidak bisa berkata-kata.
"Penindasan macam apa ini?? Yang seharusnya memberi adalah pihak pria, bukan wanita. Kalau seperti ini sama saja anda merampok." Tegur Bang Rama membuat ibu Nurmala terdiam kebingungan.
Tak lama Bang Ardi datang, ia melihat ibunya berhadapan dengan Bang Rama dan Dinda.
"Ada apa, Bu?" Tatapan mata Bang Ardi nampak sinis pada Bang Rama dan Dinda.
"Ardiiii.. Ya ampun, untung saja kamu datang. Laki-laki ini melempar uang itu ke wajah ibu, memintamu untuk meninggalkan Dinda, ternyata laki-laki ini pacarnya Dinda. Selama ini kamu sudah di tipu." Kata ibu Nurmala dengan tangisnya.
Amarah Bang Ardi langsung meluap, ia mencengkram krah pakaian Bang Rama dengan erat. "Beraninya kamu ada main di belakangku..!!"
Tatapan Bang Rama tak kalah sinis. "Kalau aku memang mau main di belakangmu, pantang bagiku hanya memacarinya saja. Kau tau sendiri, wanita apa yang tidak pernah kudapatkan."
Bang Ardi begitu kesal mendengarnya. "Kau inginkan dia??? Ambil dia untukmu, habiskan..!! Aku tidak butuh wanita pengkhianat..!!"
"Baang.. Dinda bisa jelaskan."
Ibu Nurmala langsung mengambil alih saat Dinda akan bicara. Ia menarik lengan putranya yang nyaris menitikan air mata. "Sudah, Ardi..!! Seharusnya kau sadar, Tuhan sudah menyelamatkanmu dari wanita rakus ini. Dia pasti sudah di apa-apakan sama temanmu itu, percaya sama Ibu..!!"
Bang Ardi menurut dan berjalan bersama ibunya.
~
"Dinda nggak mau ikut Abang. Gara-gara Abang, Dinda jadi putus sama Bang Ardi." Teriak Dinda.
"Dengar dulu Abang bicara..!!!"
"Nggak mauuuuuuuuu..." Dinda terus menepis dan menolak berbicara dengan Bang Rama.
"Dindaaaaaaaaa..!!!!!!!!!" Bentakan Bang Rama begitu kuat menegur Dinda.
Dengan sisa tenaga, Dinda masih memukuli dada Bang Rama, meluapkan kesal dalam hatinya,
Dinda histeris hingga menangis. Bang Rama pun akhirnya memeluk Dinda. "Sudah ya Dinda..!! Sekarang Abang kembalikan perkataan ibunya Ardi. Seharusnya kamu sadar, Tuhan sudah menyelamatkanmu dari pria bo*oh itu. Jangankan untuk membelamu, mendengarkanmu saja tidak di lakukannya. Sekarang, kau ikut Abang.. Kita mulai mengenal dari awal."
"Tapi Dinda cinta sama Bang Ardi."
"Cintanya pria dewasa tidak begitu, Dinda. Kamu berjuang mati-matian untuknya tapi Ardi, dia mendengar sepihak kata tanpa mendengarmu. Kamu sampai jadi SPG rokok karena uangmu untuk ibunya Ardi, kan??" kata Bang Rama. "Otak udang juga jangan keterlaluan, kamu berhak bahagia. Nikah sama Abang mau nggak? kita juga sudah kena sidang."
Flashback Bang Rama off..
"Abang tidak paham dengan perasaan ini. Tapi kenapa mendengarmu menyebut nama pria lain.. Hati ini sakit sekali, Dinda."
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara