NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celah di Mahkota Emas

Kepanikan Kirana terlihat jelas di cermin yang dipegang oleh Nadia—wajah pucat dan langkah kaki yang tergesa-gesa keluar dari ruang rapat Komite. Kirana telah menerima panggilan formal yang menanyakan tentang "selisih 3%" dana Yayasan Tangan Emas.

Serangan pertama Nadia telah berhasil. Sekarang, Nadia harus memanfaatkan gejolak itu sebelum Kirana sempat menyusun benteng pertahanan. Serangan itu harus dilakukan secara berlapis, menciptakan kebingungan dan paranoia, sehingga Kirana mulai meragukan siapa yang ada di pihaknya.

Nadia kembali ke rumah larut malam, tetapi pikirannya tidak pernah meninggalkan ruang arsip dan data curiannya. Ia duduk di meja kerjanya, laptopnya menjadi jendela ke kehidupan rahasia Kirana. Babak pertarungan ini adalah tentang manajemen krisis citra Kirana, dan Nadia, sang mantan konsultan branding, tahu persis bagaimana cara merobohkanya.

***

Pagi harinya, sebelum Kirana sempat melakukan damage control secara resmi, Nadia harus memastikan Rina, sekutu terikatnya, mendapatkan informasi yang benar-benar membuat Kirana panik.

Nadia menelepon Rina. Suara Rina terdengar tercekat. "Bu Nadia, ada yang aneh. Kirana menelepon saya jam 10 malam. Dia marah besar, bukan pada saya, tapi pada akuntan Komite! Dia menuntut audit internal laporan Yayasan Tangan Emas dalam 24 jam."

"Apa yang terjadi, Bu Rina?" tanya Nadia dengan nada cemas yang direkayasa, seolah ia benar-benar tidak tahu apa-apa.

"Katanya ada Donatur Utama yang mendapat e-mail anonim soal selisih dana 3%. Kirana menyebut itu 'serangan terorganisir'. Dia sangat takut. Dia bilang, jika ini bocor, reputasinya akan hancur." Rina berbicara dengan cepat, napasnya tersengal. "Dia meminta saya mencari tahu, apakah ada 'aktivitas mencurigakan' di kantor. Dia tidak mencurigai saya, Bu Nadia, dia hanya panik."

Nadia tersenyum kecil. Serangan terorganisir. Tepat. Kirana selalu berpikir besar.

"Bu Rina, Anda harus tetap tenang," instruksi Nadia, suaranya kini kembali menjadi suara strategis yang meyakinkan Rina. "Berikan Kirana apa yang ia mau. Pastikan Anda menunjukkan laporan yang lama—yang sudah dipublikasikan. Jangan tunjukkan hasil audit yang baru. Dan beri tahu Kirana, Anda mendengar gossip dari suami salah satu donatur bahwa mereka mendapat e-mail itu dari sumber internal yang lama."

"Sumber internal yang lama?" ulang Rina.

"Ya. Mungkin ada karyawan Komite yang dipecat tahun lalu. Itu akan membuat Kirana sibuk mencari musuh di masa lalu, bukan di masa kini. Dan Bu Rina, Anda harus menjadi perisai Kirana. Jika ada yang bertanya soal gossip dana, bantah dengan tegas, tetapi pastikan bantahan Anda tidak meyakinkan."

"Maksudnya?"

"Tersenyumlah, katakan 'Ah, itu cuma gossip lama. Laporan sudah diaudit.' Tapi tatapan Anda harus menunjukkan kekhawatiran. Itu akan membuat mereka percaya bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Kirana harus bekerja keras untuk membela diri tanpa bantuan Anda yang total."

Rina mengangguk, strateginya tampak logis di tengah kepanikan. Nadia telah berhasil menginjeksikan narasi tandingan ke dalam lingkaran Kirana, dan Rina, karena utang budi pada Rio, akan menjalankannya dengan setia.

***

Setelah menginstruksikan Rina, Nadia kembali fokus pada data. Ia memproses ribuan e-mail Kirana dari folder Dana Peningkatan Kualitas Yayasan Tangan Emas menggunakan algoritma data mining sederhana yang ia bangun sendiri. Ia mencari pola yang menunjukkan Kirana tidak hanya melakukan pengalihan dana 3%, tetapi juga menggunakan Yayasan untuk keuntungan pribadi yang lain.

Nadia menemukan korespondensi Kirana dengan pengelola Yayasan. Kirana sering meminta daftar lengkap anak-anak yatim piatu berprestasi yang menjadi penerima manfaat utama. Kirana bukan hanya meminta data itu, tetapi ia menuntut agar hanya anak-anak yang memiliki good looking atau photogenic yang dimasukkan ke dalam daftar press release dan kalender amal tahunan.

Satu e-mail dari Kirana berbunyi: —'Saya sudah tegaskan, Mas. Anak-anak yang kita foto harus merepresentasikan hope. Tolong ganti foto anak yang sakit-sakitan di bulan Juni. Itu tidak menjual dan tidak sesuai dengan tone Yayasan kita.'—

Nadia merasakan amarah yang dingin menguasai dirinya. Kirana tidak peduli pada amal, ia peduli pada estetika amal yang akan mempercantik citra publiknya. Ia memilah e-mail ini dan bukti transfer dana 3% ke folder khusus: "Bukti Ironi Moral Kirana."

Ia menyadari bahwa bukti e-mail Mr. Taufik (guru yang dipaksa berbohong dalam kasus Aksa) adalah senjata nuklir, hanya boleh digunakan di akhir. Bukti dana yayasan ini adalah racun yang lambat yang akan menghancurkan Kirana di mata komunitas.

***

Serangan data leak pertama hanya menciptakan kepanikan di internal Kirana. Serangan kedua Nadia harus lebih terarah: menargetkan sumber utama Validasi Sosial Kirana—putrinya, Vanya.

Nadia kembali ke data arsip akademik yang ia unduh. Ia mencari file Kirana yang berhubungan dengan Vanya. Ia menemukan puluhan korespondensi Kirana dengan Konsultan Pendidikan luar negeri, guru les privat, hingga surat permohonan rekomendasi. Semuanya menunjukkan Kirana adalah Ibu Over-Controlling yang sempurna.

Nadia menemukan sebuah file yang sangat menarik. Itu adalah draft esai yang diajukan Vanya ke universitas Ivy League di Amerika. Esai itu membahas pengalamannya "mengorganisir program bantuan untuk anak-anak disabilitas mental." Sebuah cerita yang menyentuh dan sangat meyakinkan.

Nadia kemudian menyilangkan data itu dengan e-mail Kirana. Kirana pernah meminta sekretaris pribadinya untuk menyusun timeline dan storyboard untuk esai Vanya, dan bahkan menyewa seorang penulis lepas profesional, tanpa sepengetahuan Vanya.

Bukan hanya itu. Nadia menemukan bahwa Kirana pernah mengirimkan e-mail ancaman yang sangat tegas kepada seorang guru kesenian di sekolah lain. Guru itu sempat mengkritik Kirana karena memaksakan Vanya mengikuti pameran seni yang tidak ia sukai, demi memperkaya CV Vanya.

Nadia menyusun timeline yang jelas: Vanya tidak pernah mengorganisir program disabilitas mental itu—itu adalah program yang dibeli dan disusun oleh Kirana melalui perusahaan event organizer tertentu. Kirana tidak menciptakan seorang anak jenius; ia menciptakan ilusi jenius melalui uang dan kontrol.

Rapat Komite berikutnya adalah kunci untuk meluncurkan serangan ini. Kirana datang dengan air muka yang lebih tegang. Ia mencoba bersikap normal, fokus pada detail table setting Gala Dinner.

"Kita harus pastikan table setting kita mencerminkan keanggunan, bukan kemewahan yang berlebihan. Kita adalah role model moral," ujar Kirana dengan nada yang sedikit terlalu lantang.

Nadia melihat Rina. Rina membalas tatapan Nadia dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran, mencerminkan instruksi Nadia: Bantah Kirana dengan keheningan.

Saat Kirana berbicara tentang pentingnya Gala Dinner bagi citra sekolah dan dana amal, Nadia mengangkat tangannya.

"Bu Kirana, saya sudah mulai mempromosikan paket lelang konsultasi eksklusif Anda," Nadia memulai dengan suara yang terdengar kagum. "Banyak ibu yang sangat antusias. Mereka ingin tahu rahasia di balik kesempurnaan Vanya."

Kirana tersenyum kaku. "Ah, tentu saja. Itu hanya tentang kerja keras dan konsistensi, Bu Nadia. Tidak ada rahasia."

"Justru itu, Bu Kirana," balas Nadia, tatapannya langsung menusuk. "Para ibu ini ingin melihat bukti bahwa Anda adalah ibu yang paling berhak memberikan konsultasi itu. Mereka ingin melihat, apakah sukses Vanya adalah hasil dari talenta atau sistem."

Nadia berhenti sejenak, membiarkan Kirana merasa sedikit terpojok. "Saya mengusulkan, agar lelang ini semakin bergengsi dan bernilai jual, kita harus menyiapkan kapsul waktu yang berisi e-mail atau korespondensi inspiratif Anda dan Vanya saat mempersiapkan masa depannya, untuk dibuka oleh pemenang lelang dalam lima tahun."

Kirana seketika terdiam. Kapsul waktu? Itu adalah ide yang jenius dari sudut pandang branding—sebuah janji inspirasi yang mahal. Tetapi, Kirana tahu, kapsul waktu itu akan berisi bukti manipulasi esai, ancaman kepada guru, dan korespondensi penulis bayangan yang baru saja Nadia lihat di datanya.

Nadia telah mengajukan jebakan moral yang sempurna. Jika Kirana menolak, ia akan terlihat kikir dan takut rahasia suksesnya terbongkar. Jika Kirana setuju, Nadia akan memiliki jalur yang sah untuk mengebom reputasinya dengan bukti dari arsip yang Kirana sendiri setujui untuk dikapsulkan.

Wajah Kirana mengeras. Ia sadar, persona polos Nadia adalah penyamaran yang berbahaya.

"Bu Nadia," kata Kirana, suaranya kembali dikuasai, tetapi sedikit bergetar, "Ide kapsul waktu itu inovatif. Tapi terlalu kompleks. Kita akan membatasi lelang pada sesi konsultasi lisan saja. Promosi yang berlebihan bisa merusak privasi."

Nadia tidak kecewa. Penolakan itu sudah cukup. Penolakan itu mengirimkan pesan kepada ibu-ibu lain: Kirana punya rahasia yang tidak ingin ia bagi.

Nadia menghela napas, tampak sedih. "Sayang sekali, Bu Kirana. Padahal itu akan bernilai tiga kali lipat. Tapi saya menghormati privasi Anda. Kalau begitu, izinkan saya membuat booklet promosi yang mendetail. Saya akan meminta beberapa testimoni dari guru-guru sekolah Vanya. Testimoni yang menekankan bagaimana etika kerja Kirana dan Vanya selama ini."

Permintaan testimoni ini adalah serangan soft kedua. Nadia akan mengirimkan pesan pribadi ke Mr. Taufik (guru yang dipaksa berbohong dalam kasus Aksa) dan guru kesenian yang diancam oleh Kirana, meminta testimoni 'tulus' tentang Kirana.

Guru-guru itu, yang telah diancam oleh Kirana di masa lalu, akan ketakutan dan kemungkinan besar akan menolak memberikan testimoni. Penolakan mereka akan memicu paranoia Kirana dan membuka peluang baru bagi Nadia.

Nadia telah berhasil meluncurkan dua serangan dalam satu rapat: menimbulkan keraguan pada dana amal (melalui data leak di luar) dan menyerang ilusi kesempurnaan Vanya (melalui jebakan kapsul waktu dan testimoni).

Nadia meninggalkan ruangan dengan perasaan dingin yang puas. Perang melawan Kirana baru saja memasuki babak yang paling menyenangkan: menonton musuh mulai menghancurkan dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!