Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Ketakutan Mulai Berbisik
Kepanikan Kirana terlihat jelas dari pantulan cermin kecil yang tanpa sadar dipegang Nadia. Dari sudut matanya, ia menangkap wajah pucat itu—bibir yang kehilangan warna, rahang yang mengeras, dan langkah kaki yang tergesa-gesa saat Kirana keluar dari ruang rapat Komite. Tidak ada lagi postur anggun yang biasa dipamerkan. Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang baru saja disentuh rasa takut paling purba: kehilangan kendali.
Panggilan itu pasti tentang “selisih tiga persen.”
Nadia tahu, ketika seorang perempuan seperti Kirana mulai panik, kepanikan itu tak pernah berhenti di satu titik. Ia akan merembes ke mana-mana, menggerogoti kepercayaan, membuat setiap orang di sekitarnya tampak mencurigakan. Dan itulah celah yang harus dimanfaatkan sebelum Kirana sempat menutup barisan.
Serangan pertama telah berhasil. Namun perang sejati belum dimulai.
Malam itu, Nadia pulang larut. Jalanan Jakarta lengang, lampu-lampu kota berpendar seperti mata yang mengintip. Begitu tiba di rumah, ia tak langsung beristirahat. Daster kembali dikenakan, rambut diikat asal, lalu ia duduk di meja kerjanya. Laptop menyala, layar biru pucat memantulkan bayangan wajahnya yang tenang—terlalu tenang untuk seorang perempuan yang sedang mengguncang hidup orang lain.
Di balik ketenangan itu, pikirannya terus berputar. Ruang arsip. Folder data. E-mail. Semua potongan kecil yang, jika disusun dengan benar, bisa merobohkan istana citra Kirana dari dalam.
Babak ini bukan tentang teriakan atau skandal terbuka. Ini tentang manajemen krisis. Dan di medan itu, Nadia merasa seperti pulang ke rumah. Bertahun-tahun ia pernah menjadi konsultan branding, membantu orang-orang seperti Kirana membangun topeng sempurna. Sekarang, ia hanya melakukan kebalikannya—mengajarkan bagaimana topeng itu runtuh.
Pagi berikutnya, bahkan sebelum Kirana sempat mengeluarkan pernyataan resmi atau menyusun narasi penyelamat, Nadia bergerak lebih dulu. Ada satu simpul yang harus dikencangkan: Rina.
Telepon berdering cukup lama sebelum diangkat. Suara Rina terdengar tercekat, seolah malam panjang belum benar-benar berakhir baginya.
“Bu Nadia… ada yang aneh,” ucap Rina tanpa basa-basi. “Bu Kirana menelepon saya jam sepuluh malam. Suaranya… marah sekali. Bukan ke saya, tapi ke akuntan Komite.”
Nadia menegakkan punggungnya, memainkan peran dengan sempurna. “Ada apa, Bu Rina?” tanyanya dengan nada cemas yang terlatih.
“Dia menuntut audit internal Yayasan Tangan Emas. Dua puluh empat jam. Katanya ada Donatur Utama yang menerima e-mail anonim soal selisih dana tiga persen.” Napas Rina terdengar berat. “Bu Kirana menyebut ini serangan terorganisir. Dia ketakutan, Bu. Dia bilang kalau ini bocor ke luar, reputasinya habis.”
Nadia menahan senyum yang hampir muncul. Serangan terorganisir. Kirana memang selalu membayangkan musuh dalam skala besar. Itu kelemahannya.
“Apakah Bu Kirana mencurigai Anda?” tanya Nadia lembut.
“Tidak,” jawab Rina cepat. “Dia hanya meminta saya mengawasi kantor, mencari ‘aktivitas mencurigakan’. Dia… panik.”
“Baik,” kata Nadia, suaranya perlahan berubah—lebih tenang, lebih kokoh. “Dengarkan saya, Bu Rina. Anda harus tetap terlihat kooperatif.”
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Berikan laporan lama yang sudah dipublikasikan. Jangan tunjukkan apa pun yang baru. Dan jika Bu Kirana bertanya lebih jauh, katakan Anda mendengar gosip dari suami salah satu donatur—katanya e-mail itu datang dari sumber internal lama.”
“Sumber internal lama?” Rina mengulang, ragu.
“Mungkin mantan karyawan yang dipecat. Orang lama yang sakit hati,” jelas Nadia. “Itu akan membuat Bu Kirana sibuk menggali masa lalu, bukan mencurigai orang-orang yang masih ada di sekitarnya.”
Rina terdiam sejenak. “Kalau soal gosip dana?”
“Bantah,” jawab Nadia tanpa ragu. “Tapi bantah dengan cara yang tidak terlalu meyakinkan. Tersenyumlah. Katakan, ‘Ah, itu gosip lama, laporan sudah diaudit.’ Tapi biarkan mata Anda menunjukkan kegelisahan. Orang-orang akan lebih percaya pada kegelisahan daripada kata-kata.”
Rina menarik napas panjang. “Saya mengerti.”
“Bu Rina,” tambah Nadia pelan, “apa yang kita lakukan ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Ini untuk memastikan orang-orang berhenti menyakiti anak-anak seperti Rio.”
Kalimat itu mengunci kesetiaan Rina lebih kuat daripada ancaman apa pun.
Setelah telepon ditutup, Nadia kembali ke laptopnya. Inilah bagian yang paling ia nikmati—menyusun potongan kebenaran. Ia menjalankan algoritma data mining sederhana yang ia buat sendiri, menyaring ribuan e-mail Kirana. Kata kunci: yayasan, donasi, publikasi, citra.
Perlahan, pola itu muncul.
Kirana sering meminta daftar anak yatim piatu berprestasi. Bukan sekadar data, melainkan foto. Deskripsi. Sudut pengambilan gambar. Bahkan ekspresi wajah. Anak-anak yang terlalu kurus, terlalu sakit, atau tidak “menjual” diminta untuk disisihkan dari materi publikasi.
Satu e-mail membuat jari Nadia berhenti bergerak.
“Saya sudah tegaskan, Mas. Anak-anak yang kita foto harus merepresentasikan harapan. Tolong ganti foto anak yang terlihat sakit di bulan Juni. Itu tidak sesuai tone Yayasan kita.”
Dada Nadia terasa dingin. Ini bukan sekadar manipulasi. Ini dehumanisasi yang dibungkus amal.
Ia membuat folder baru, menamainya dengan sederhana namun tajam: Bukti Ironi Moral Kirana. Di sanalah ia menyimpan e-mail itu, bersanding dengan bukti pengalihan dana tiga persen.
Di sudut pikirannya, nama Mr. Taufik muncul. Guru yang dipaksa berbohong demi melindungi citra Kirana dan menghancurkan Aksa. Bukti tentang pria itu adalah senjata terakhir. Belum waktunya. Senjata nuklir hanya dikeluarkan saat perang harus diakhiri.
Untuk sekarang, racun lambat jauh lebih efektif.
Serangan kedua harus lebih terarah. Nadia tahu, sumber validasi sosial terbesar Kirana bukanlah yayasan atau gala dinner. Itu adalah Vanya—putrinya. Mahkota yang selalu dipamerkan.
Ia membuka folder arsip akademik. Korespondensi dengan konsultan luar negeri, guru les, rekomendasi. Semuanya menunjukkan satu hal: kontrol berlebihan yang dibungkus ambisi.
Lalu ia menemukan draft esai Vanya untuk universitas Ivy League. Cerita tentang program bantuan untuk anak-anak disabilitas mental. Indah. Mengharukan. Terlalu sempurna.
Nadia mencocokkannya dengan e-mail lain. Timeline. Storyboard. Invoice penulis lepas profesional.
Vanya tidak pernah menulis esai itu sendirian.
Lebih jauh lagi, ada e-mail ancaman Kirana kepada seorang guru kesenian yang berani mempertanyakan paksaan Kirana terhadap Vanya. Semua potongan itu menyatu menjadi satu kesimpulan pahit: Kirana tidak membesarkan anak jenius. Ia membeli ilusi kejeniusannya.
Rapat Komite berikutnya menjadi panggung yang tepat.
Kirana datang dengan wajah tegang, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. “Kita harus mencerminkan keanggunan, bukan kemewahan berlebihan. Kita ini role model moral,” katanya.
Nadia memperhatikan Rina. Perempuan itu diam, wajahnya cemas. Tepat seperti yang diminta.
Ketika giliran berbicara tiba, Nadia mengangkat tangan. “Bu Kirana, saya sudah mulai mempromosikan paket lelang konsultasi Anda. Banyak ibu sangat antusias. Mereka ingin tahu rahasia di balik kesuksesan Vanya.”
Senyum Kirana menegang. “Itu hanya kerja keras dan konsistensi.”
“Justru itu,” kata Nadia lembut namun menusuk. “Mereka ingin bukti. Apakah itu talenta alami atau sistem yang terbangun.”
Ia berhenti sejenak. “Bagaimana kalau kita buat kapsul waktu? Berisi korespondensi inspiratif Anda dan Vanya. Dibuka lima tahun lagi oleh pemenang lelang.”
Hening.
Nadia bisa melihat ketakutan di mata Kirana. Kapsul waktu adalah mimpi buruk yang dibungkus ide brilian.
“Itu terlalu kompleks,” jawab Kirana akhirnya. “Kita jaga privasi.”
Penolakan itu cukup. Lebih dari cukup.
“Kalau begitu,” lanjut Nadia dengan nada tulus, “saya akan membuat booklet promosi. Dengan testimoni guru-guru Vanya. Tentang etika kerja dan prosesnya.”
Itu serangan kedua. Halus. Tanpa darah. Namun mematikan.
Nadia tahu, para guru itu akan ketakutan. Dan ketakutan mereka akan menjadi cermin bagi paranoia Kirana.
Saat rapat berakhir, Nadia melangkah keluar dengan hati dingin dan pikiran jernih. Ia tidak merasa bersalah. Ia hanya merasa… tepat.
Perang ini belum selesai.
Namun kini, Kirana telah mulai menghancurkan dirinya sendiri—dan Nadia hanya perlu berdiri cukup dekat untuk menyaksikannya.