NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.Malam yang mengguncang 2

Sirene ambulans meraung pelan membelah sunyi dini hari. Raina duduk di bangku belakang, memeluk tas selempangnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar, bukan karena dingin, tapi karena bayangan laki-laki tak dikenal yang ia temukan di pinggir jalan—tak bergerak, penuh luka, dan hampir tanpa napas.

Fahri sesekali menoleh lewat kaca spion.

“Raina, kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.

Raina menggeleng lirih.

Ambulans memasuki area RS Bhayangkara, lampu darurat menyala. Petugas UGD langsung menyambut, memindahkan Julian ke ranjang dorong dan membawanya masuk. Raina mengikuti dari jarak aman, kedua tangannya saling menggenggam gelisah.

Di ruang UGD, seorang dokter jaga memeriksa cepat, wajahnya menegang.

“BPJS atau umum?”

Raina menggeleng. “Saya… saya nggak tau identitasnya, Dok. Saya cuma menemukannya.”

Dokter langsung memberi instruksi.

“Panggil dr. Arya, kasus cedera berat. Siapkan ruang operasi. Tekanan darah drop.”

Raina mematung. Operasi? Secepat itu?

Tak lama kemudian, dr. Arya, dokter bedah paling senior, masuk dengan langkah tegas. Dia memeriksa hasil X-ray awal yang baru saja dicetak.

“Cedera tulang rusuk multipel… kemungkinan pneumotoraks ringan… fraktur lengan… dan syok akibat benturan hebat.” Ia menahan napas sejenak. “Ini lebih parah dari yang terlihat.”

Raina menunduk. Jantungnya ikut sesak.

“Pasien harus ke ruang operasi sekarang,” lanjut dr. Arya. “Tanpa tindakan cepat, kondisinya bisa kritis.”

"Dokter bagaimana dengan bagian kepalanya?say...saya saat menemukannya wajahnya penuh dengan darah "

" Saya sudah cek,darah itu keluar akibat ada robekan di bagian pelipis dan dahi, tidak ada pendarahan dalam,tapi kita akan cek lebih detail "

Para perawat segera mendorong ranjang Julian keluar. Raina hanya bisa berdiri terpaku, melihat punggung para petugas menghilang di balik pintu ruang operasi.

Langkah kaki berat mendekat. Dua orang polisi masuk, salah satunya adalah Ipda Mahendra, perwira yang terkenal teliti.

“Kamu yang menemukan korban?” tanya Mahendra lembut.

Raina mengangguk kecil. “Iya, Pak.”

“Sendirian?”

“Sa—saya pulang kerja. Lalu lihat orang-orang buang sesuatu dari mobil. Setelah mereka pergi, saya cek… ternyata orang.”

Polisi saling bertukar pandang serius.

"Itu seperti yang dia laporkan tadi pak" jawab seorang polisi yang mengikutinya sejak dari klinik.

"Baiklah saya akan menghubungi polisi daerah lain, mungkin ada laporan kecelakaan yang mencurigakan."

"Kamu bisa pulang"

"Bagaimana dengan biaya pengobatan korban pak?" Tanya Raina pelan.

"Saya akan ajukan ke dinas kesehatan atau kedutaan besar,"

"Tapikan identitasnya belum jelas pak, maaf a... apa bisa saya yang tanggung?"

"Say... saya fikir itu akan cukup rumit, saya hanya ingin semuanya lebih mudah saja.saya yakin bisa membayarnya" Ucapan Raina tegas.

"Kamu baik sekali mbak, begini saja,kita ke tempat administrasi, saya akan mengisi administrasinya dan biayanya kita bagi dua"

Raina langsung menatap ibda Mahendra heran

" Kenapa kamu sangat ingin membantunya?bisa saja dia orang jahatkan?!"Tanya ibda Mahendra.

" Saya tidak tahu, saya hanya merasa bertanggung jawab "Jawab Raina pelan.

" Itu juga alasan saya membantumu"

Pintu ruang operasi tetap tertutup, jarum jam terus bergerak. Lima belas menit terasa satu jam. Tiga puluh menit terasa seperti selamanya. Tak ada suara apa pun dari dalam—bahkan langkah kaki.

Lampu indikator operasi tetap menyala merah.

Fahri berdiri dan berjalan mendekati Raina.

“Aku harus balik ke klinik. Kamu yakin nggak apa-apa sendiri?”

"Ada saya yang akan menemaninya hingga operasi selesai" Jawab Ibda Mahendra tegar.

" Ok, aku balik dulu, nanti agak siangan aku kesini lagi "

" Terimakasih mas, maaf sudah sangat merepotkan "jawab Raina tersenyum sedikit.

Koridor itu kembali sunyi.

“Dari keterangan yang kamu berikan dan dokter klinik, kemungkinan besar kecelakaan terjadi di tempat lain,kami akan koordinasi dengan polres daerah lain."Terang ibda Mahendra.

Raina hanya mengangguk, dia kelelahan secara mental dan fisik, namun ruang operasi di depannya seakan tak mengizinkan nya beristirahat barang sebentar.

Waktu berjalan perlahan hingga akhirnya langit pagi mengintip melalui kaca besar rumah sakit. Cahaya hangat yang seharusnya membawa ketenangan justru menambah kecamuk yang mengaduk perut Raina.

Di sela rasa cemasnya, ia baru teringat satu hal—warung makan miliknya.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Bu Wati.

“Halo, Bu… maaf… hari ini saya nggak bisa ke warung, ada… ada urusan penting di rumah sakit.” Suaranya bergetar, namun ia berusaha terdengar normal.

Bu Wati tidak banyak bertanya, hanya berpesan agar Raina menjaga diri. Setelah telepon ditutup, Raina kembali duduk dan menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!