NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senjata Sampah di Tangan Pembunuh!

Benteng Batu Hitam berdiri seperti raksasa yang terluka di tengah dataran tandus. Temboknya tinggi, dibangun dari batu vulkanik hitam yang dipenuhi bekas pertempuran, goresan, dan percikan darah kering. Udara di sekitarnya tebal dengan bau keringat, besi, dan sesuatu yang lebih tajam, seperti amarah yang terpendam.

Gorgo membawa Xu Hao melalui gerbang utama yang dijaga oleh dua pria kekar dengan aura Nascent Soul. Mereka mengenakan baju kulit tebal dan membawa kapak besar. Saat melihat Gorgo, mereka langsung membungkuk.

"Bos Gorgo! Sudah kembali."

"Bawa tamu untuk ujian besok," geram Gorgo. "Hei Feng, pengembara baru. Dia akan ikut bertahan dari serangan Sekte Pemurnian besok."

Para penjaga memandang Xu Hao dengan tatapan curiga dan evaluatif. Satu dari mereka, pria dengan janggut merah dan mata satu, mengangguk pelan. "Semoga beruntung. Mereka yang datang dari luar biasanya mati cepat di sini."

Xu Hao tidak menjawab, hanya mengangguk.

Gorgo membawanya masuk ke dalam benteng. Di dalam, suasana lebih ramai. Kultivator dengan berbagai tingkat kekuatan beraktivitas. Xu Hao melihat beberapa di tingkat Nascent Soul sedang berlatih teknik, sekelompok di tingkat Soul Formation sedang memperbaiki senjata di bengkel sederhana, dan beberapa yang beraura Soul Transformation duduk di sebuah ruang besar sambil minum minuman keras dan berteriak tentang pertempuran sebelumnya.

"Mereka adalah para Ksatria Kabut," kata Gorgo sambil menunjuk ke arah kelompok Soul Transformation. "Pasukan inti di wilayah Ratu Du Yan. Kau akan bertempur bersama mereka besok."

Gorgo membawa Xu Hao mendekat. Semua mata tertuju padanya, tatapan penuh pertanyaan dan tantangan.

"Ada darah baru!" teriak seorang pria dengan wajah penuh parut dan mata liar. "Dia kurus sekali! Apa dia bisa angkat pedang?"

Tertawa kasar menggema di ruangan.

Gorgo mengangkat tangannya, dan suara langsung reda. "Ini Hei Feng. Soul Transformation. Dia ingin bergabung. Besok dia akan ikut bertahan melawan Sekte Pemurnian. Ratu memberinya tugas, bunuh lima inti mereka. Jika berhasil, dia boleh tinggal."

Seorang wanita dengan rambut pendek merah dan mata hijau menyipitkan matanya. "Hei Feng? Dari mana asalmu? Kenapa mau bergabung di sini?"

Xu Hao menatapnya. "Dari utara. Punya urusan dengan Klan Xu. Ingin jadi kuat dan balas dendam. Di sini katanya tempat yang tepat."

Pria berparut tadi berdiri, mendekati Xu Hao. Dia lebih tinggi dan lebih besar. "Urusan dengan Klan Xu? Cerita yang sering kami dengar. Tapi kau bawa apa? Apa kekuatan spesialmu?"

"Aku bisa bertarung," jawab Xu Hao sederhana. "Dan aku punya senjata ini." Dia mengeluarkan pedang hitam Tianxu dari cincin penyimpanannya.

Suasana mendadak hening, lalu meledak dengan tawa.

"HAHAHA! Lihat itu! Pedang apa? Seperti pedang mainan anak kecil!" teriak pria berparut.

"Besi tua? Kau mau bertarung dengan besi tua?" sambar yang lain.

Wanita rambut merah itu menggeleng. "Hei Feng, di sini kami bertarung melawan musuh yang punya senjata bagus, teknik kuat. Pedang seperti itu akan patah di serangan pertama."

Gorgo sendiri melihat pedang itu dengan ekspresi tidak percaya. "Kau serius? Itu senjatamu? Tidak ada aura, tidak ada kilau. Itu hanya potongan besi."

Xu Hao memegang pedang Tianxu dengan tenang. "Aku terbiasa dengan pedang ini. Cocok dengan gayaku."

"Gaya apa? Gaya mati cepat?" goda pria berparut.

Xu Hao tidak marah. "Besok akan kubiarkan pedang ini bicara. Jika aku mati, itu salahku. Jika aku berhasil, kalian akan lihat."

Pria berparut itu mendekat lebih dekat, hampir berhadapan muka dengan Xu Hao. "Nama aku Borok. Aku salah satu pemimpin kelompok kecil di sini. Besok kau akan di timku. Jangan jadi beban. Jika kau memperlambat kami, aku akan bunuh kau sendiri sebelum musuh melakukannya."

"Tidak akan," kata Xu Hao pendek.

Borok menatapnya beberapa saat, lalu mendecakkan lidah dan berbalik. "Baik! Besok pagi kita kumpul di halaman. Jangan terlambat, atau kau akan ditinggal."

Gorgo menepuk bahu Xu Hao. "Kau punya kamar kecil di barak belakang. Istirahatlah. Besok bukan main main."

Xu Hao mengangguk kemudian pergi ke kamar.

Malam itu, Xu Hao duduk di atas tempat tidur keras di barak yang sempit. Beberapa kultivator lain tidur di sekitarnya, mendengkur keras. Dia membersihkan pedang Tianxu dengan kain. Pedang itu memang tampak biasa, bahkan lebih buruk dari pedang besi biasa di pasar. Tapi dia bisa merasakan sesuatu di dalamnya. Sebuah kehampaan yang haus, sebuah potensi yang terkunci.

"Besok," bisiknya pada pedang itu. "Kau akan merasakan darah pertama. Darah musuh. Jangan mengecewakanku."

Dia tidak tahu apakah pedang ini benar benar akan menjadi kuat dengan membunuh, seperti kata pamannya. Tapi dia akan mencoba. Jika tidak berhasil, dia masih punya Pedang Pemutus Dao dan kekuatan Heaven Ascension sebenarnya. Tapi untuk sekarang, dia harus bermain sebagai Hei Feng, Soul Transformation yang membawa pedang tua.

Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga di langit tandus. Suara terompet peringatan berbunyi nyaring di seluruh benteng.

Xu Hao sudah siap. Dia bergabung dengan Borok dan kelompoknya di halaman. Ada sekitar duapuluh orang, semuanya Soul Transformation, dengan Borok sebagai yang terkuat di tahap akhir. Mereka semua memandang Xu Hao dengan sikap tidak peduli atau sinis.

Borok berteriak, "Dengar! Intel bilang Sekte Pemurnian akan serang jalur pasokan kita di Lembah Duri. Mereka kirim sekitar tiga puluh orang. Kebanyakan Soul Transformation, dipimpin oleh beberapa Heaven Ascension awal. Tugas kita jaga titik barat lembah. Bunuh sebanyak mungkin. Jangan biarkan mereka hancurkan gerobak barang!"

Mereka berangkat, berlari cepat keluar dari benteng menuju lembah di barat. Tidak ada kuda, hanya kekuatan kaki dan sedikit teknik mempercepat lari.

Dalam perjalanan, seorang pria muda dengan wajah tajam berjalan di samping Xu Hao. "Nama aku Liang. Aku lihat pedangmu tadi malam. Kau yakin bisa pakai itu?"

Xu Hao melihatnya. "Ya."

Liang menggeleng. "Musuh dari Sekte Pemurnian punya senjata bagus. Mereka pakai pedang cahaya, tombak berenergi. Pedang besimu itu akan tumpul atau patah."

"Kita lihat saja," kata Xu Hao.

Mereka tiba di Lembah Duri. Tempat itu berbatu, dengan semak semak berduri dan tebing curam di kedua sisi. Sekelompok gerobak kayu besar sudah parkir di tengah, dijaga oleh beberapa kultivator lain.

Borok membagi timnya. "Hei Feng, kau dan Liang jaga sisi kanan dekat tebing. Jangan biarkan siapa pun lewat. Jika ada yang mendekat, bunuh."

Xu Hao dan Liang mengambil posisi di balik batu besar. Dari kejauhan, mereka bisa melihat titik titik cahaya mendekat. Itu musuh.

Tidak lama kemudian, pertempuran pecah di sisi lain lembah. Teriakan, dentingan senjata, dan ledakan teknik bergema. Xu Hao dan Liang masih menunggu.

Liang gugup, memegang pedang pendeknya yang berkilau dengan aura api. "Mereka pasti datang juga ke sini."

"Tenang," kata Xu Hao, matanya mengawasi sekeliling.

Tiba tiba, dari atas tebing, lima sosok meluncur turun. Mereka mengenakan jubah putih dengan simbol api ungu di dada. Sekte Pemurnian. Tiga di tingkat Soul Transformation awal, satu di tengah, dan satu di akhir.

Pemimpinnya, pria Soul Transformation akhir dengan janggut pendek, melihat Xu Hao dan Liang. "Dua saja? Mudah. Bunuh mereka dan bakar gerobak!"

Liang langsung menyerang, pedang apinya menyala. Xu Hao mengamati sebentar, melihat teknik musuh. Mereka menggunakan teknik pemurnian, serangan energi murni yang bisa melukai jiwa.

Saat salah satu musuh, pria Soul Transformation awal, menyerang Xu Hao dengan tongkat berenergi putih, Xu Hao bergerak.

Dia tidak menggunakan kecepatan penuh, hanya kecepatan Soul Transformation akhir yang dia tunjukkan. Dia menghindari serangan tongkat, lalu mengayunkan pedang Tianxu.

Pergerakannya sederhana, langsung, tanpa embel embel. Pedang hitam itu menyentuh lengan musuh.

Biasanya, dengan pedang tanpa aura seperti itu, paling hanya meninggalkan goresan. Tapi yang terjadi berbeda.

Ssst!

Seperti pisau panas memotong mentega, pedang hitam itu memotong lengan musuh itu dengan bersih. Bukan hanya daging dan tulang, tapi seolah olah juga memotong aliran energi di titik itu. Musuh itu menjerit, tapi jeritannya teredam karena Xu Hao sudah menusukkan pedang itu ke dadanya.

Tidak ada cahaya, tidak ada ledakan energi. Hanya pedang masuk, dan nyawa pergi.

Xu Hao merasakan sesuatu. Sedikit getaran di pedang Tianxu. Seperti sebuah nafas kecil, sebuah kepuasan singkat. Dan dari tubuh musuh yang mati, sesuatu yang tak terlihat diserap oleh pedang itu.

Liang, yang sedang bertarung dengan dua musuh, melirik dan matanya membelalak.

"Bagus! Tapi itu mungkin keberuntungan!"

Musuh yang lain, melihat rekan mereka mati dengan mudah, menjadi lebih berhati hati. Dua dari mereka menyerang Xu Hao bersama sama.

Xu Hao bergerak di antara mereka. Setiap ayunan pedang Tianxu terlihat lambat dan sederhana, tapi selalu tepat pada waktunya, selalu di tempat yang sulit dihindari. Dia tidak menggunakan teknik rumit, hanya dasar dasar pertarungan pedang yang dia pelajari dari mana mana, dibawa ke tingkat kesempurnaan oleh pengalamannya yang luas.

Cret!

Kepala musuh kedua terpental.

Tusuk.

Pedang menembus jantung musuh ketiga.

Semua dalam waktu sepuluh napas.

Liang akhirnya berhasil membunuh lawannya, tapi dia terluka di bahu. Dia menatap Xu Hao dengan takjub dan sedikit takut. "Kau... kau bukan Soul Transformation biasa."

"Sekarang fokus," kata Xu Hao, melihat ke arah pemimpin kelompok musuh dan orang terakhir. Keduanya sudah mundur beberapa langkah, wajah mereka pucat.

Pemimpin itu, si Soul Transformation akhir, mengerahkan energi putih terang. "Teknik Pemurnian Jiwa!"

Sebuah sinar putih menyapu ke arah Xu Hao. Teknik ini menyerang langsung jiwa, bisa membuat kultivator level sama pingsan atau jiwa terluka.

Xu Hao mengangkat pedang Tianxu, bukan untuk menangkis, tapi dia letakkan di depan dadanya. Saat sinar itu menyentuh pedang hitam, sesuatu yang aneh terjadi.

Sinar putih itu seperti diserap, ditelan oleh kegelapan pedang. Tidak ada efek apa apa pada Xu Hao.

Pemimpin itu terkejut. "Apa?!"

Xu Hao melesat, kali ini sedikit lebih cepat. Pedang Tianxu berayun horizontal.

Pemimpin itu mencoba menangkis dengan pedang cahayanya yang berkilauan.

Klang!

Suara logam biasa. Tapi pedang cahaya itu patah, dan pedang hitam terus melaju, memotong leher pemimpin itu.

Kultivator terakhir, yang Soul Transformation tengah, berbalik dan mencoba lari. Xu Hao melemparkan pedang Tianxu. Bukan dengan teknik, hanya lemparan kuat.

Pedang itu menancap di punggung musuh, menembus jantungnya.

Semua lima musuh di posisi mereka sudah mati.

Liang terduduk, napasnya tersengal. "Kau... kau bunuh mereka semua. Dengan pedang tua itu."

Xu Hao berjalan mengambil pedangnya dari tubuh musuh terakhir. Pedang itu masih sama, hitam, sederhana, tanpa kilau. Tapi Xu Hao bisa merasakannya, ada perubahan kecil. Suhu pedang sedikit lebih hangat, dan ada getaran halus yang sebelumnya tidak ada.

"Lima," kata Xu Hao. Dia lalu memotong telinga dari setiap mayat, sebagai bukti.

Borok dan yang lain datang, wajah mereka kotor darah dan terkejut. Mereka melihat lima mayat anggota Sekte Pemurnian dan Xu Hao yang berdiri tenang.

"Kau... kau benar benar lakukan," kata Borok, suaranya tidak percaya. "Dengan pedang sampah itu?"

"Ternyata tidak sampah," balas Xu Hao, membersihkan darah di pedangnya dengan kain dari pakaian musuh.

Para kultivator lain saling pandang. Mereka mulai memandang Xu Hao dengan berbeda. Tidak lagi sinis, tapi dengan rasa hormat yang hati hati dan penasaran.

"Kembali ke benteng," perintah Borok. "Perang belum selesai, tapi tugas kita di sini berhasil."

Dalam perjalanan kembali, Liang berjalan di samping Xu Hao. "Kau sembunyikan kekuatanmu. Kenapa?"

"Aku tidak sembunyikan. Aku hanya pakai apa yang aku punya," jawab Xu Hao.

"Tapi pedang itu... aku masih tidak percaya."

"Mungkin aku yang cocok dengan pedang ini," kata Xu Hao, dan itu mungkin ada benarnya.

Mereka kembali ke Benteng Batu Hitam dengan kemenangan. Xu Hao memberikan lima telinga musuh kepada Gorgo, yang menunggu di gerbang.

Gorgo memeriksa bukti itu, lalu menatap Xu Hao. "Ratu akan senang. Kau bisa tinggal. Mulai sekarang, kau adalah Ksatria Kabut, tingkat rendah. Ikut perintah Borok."

Xu Hao mengangguk. Langkah pertamanya di dunia iblis berhasil. Dan pedang Tianxu sudah merasakan darah pertama. Masih sangat lemah, masih sangat jauh dari potensinya, tapi itu awal. Dan Xu Hao sudah menemukan tempat di mana dia bisa membunuh banyak musuh tanpa merasa bersalah, karena di sini, setiap nyawa yang diambil adalah nyawa musuh perang.

Dia melihat ke arah utara, ke arah Klan Xu dan Sekte Immortal. "Aku datang untuk kalian. Dan setiap darah di pedang ini akan membawaku lebih dekat."

---

Tiga hari telah berlalu sejak pertempuran di Lembah Duri. Nama Hei Feng mulai dikenal di kalangan Ksatria Kabut tingkat rendah. Bukan karena kekuatan yang luar biasa, tapi karena keberhasilannya membunuh lima lawan Soul Transformation hanya dengan pedang hitam tua yang tampak tak berguna. Cerita itu menyebar, dibumbui dengan berbagai spekulasi. Ada yang bilang dia menyembunyikan senjata pusaka, ada yang bilang dia punya teknik khusus, tapi kebanyakan hanya menganggapnya sebagai petarung berbakat dengan senjata aneh.

Di menara pusat Benteng Batu Hitam, di ruangan yang dijaga ketat oleh formasi dingin dan beberapa pengawal dengan aura Soul Transformation puncak, Ratu Du Yan duduk di atas sebuah kursi sederhana yang terbuat dari batu halus. Di depannya, Gorgo berdiri dengan postur hormat.

"Laporan tentang Hei Feng," kata Gorgo. "Selain pertempuran tiga hari lalu, dia tidak banyak bicara. Latihan sendiri, merawat pedang tuanya. Tidak bergaul dekat dengan siapapun."

Du Yan menatap jendela batu yang terbuka, memandang ke arah dataran tandus di luar. "Dia tidak sederhana, Gorgo. Aku merasakannya sejak pertama kali bertemu. Darahnya tidak biasa, tapi yang lebih menarik adalah caranya bertarung. Liang yang kau suruh mengawasinya bilang, dia bergerak sangat efisien. Tidak ada gerakan berlebihan. Seperti... dia sudah terbiasa membunuh."

"Banyak di antara kita yang terbiasa membunuh, Ratu."

"Tapi tidak seperti itu. Dia seperti penebang pohon yang ahli, setiap tebasan pasti tepat sasaran. Dan pedangnya itu..." Du Yan mengerutkan kening. "Aku amati dari jauh saat pertempuran. Tidak ada energi, tidak ada hukum. Tapi entah kenapa, bisa memotong senjata berenergi Sekte Pemurnian dengan mudah. Seolah olah menolak atau menelan energi yang menyentuhnya."

Gorgo mengangguk pelan. "Apa yang Ratu ingin lakukan? Dia sudah membuktikan nilainya. Tapi jika dia berbahaya..."

"Setiap orang di sini berbahaya, Gorgo. Itu yang membuat kita kuat." Du Yan berbalik, matanya yang coklat dengan kilatan merah itu menatap Gorgo. "Panggil dia. Aku ingin bicara langsung."

Gorgo membungkuk, lalu keluar.

Tak lama kemudian, Xu Hao yang dipanggil memasuki ruangan. Dia masih mengenakan pakaian sederhana yang sama, dengan pedang Tianxu di pinggangnya. Dia membungkuk dengan hormat yang wajar.

"Ratu Du Yan, Salam."

Du Yan tidak segera menyuruhnya duduk. Dia mengamati Xu Hao dari atas ke bawah, tatapannya seperti mencoba mengupas lapisan samaran. "Hei Feng. Prestasimu di Lembah Duri sudah sampai ke telingaku. Lima Soul Transformation Sekte Pemurnian dibunuh sendirian. Mengesankan."

"Itu karena mereka meremehkanku, Ratu," jawab Xu Hao sederhana.

"Atau karena kau sengaja tampak lemah sehingga mereka meremehkanmu." Du Yan tersenyum tipis. "Duduklah."

Xu Hao duduk di kursi batu di seberangnya. Gorgo berdiri di samping, tangan di gagang kapak besar di pinggangnya.

"Kau bilang ingin balas dendam pada Klan Xu," kata Du Yan. "Tapi kau tidak pernah ceritakan detailnya. Tidak apa. Di sini, setiap orang punya masa lalu yang lebih baik tidak ditanya. Tapi aku ingin tahu, sejauh mana ambisimu?"

Xu Hao menatapnya. "Ambisiku?"

"Ya. Kau hanya ingin jadi prajurit biasa, membunuh beberapa anggota Klan Xu lalu mati di suatu tempat? Atau... kau ingin lebih? Ingin naik, punya pengaruh, punya pasukan sendiri untuk menyerang langsung markas mereka?"

Xu Hao terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan. "Tentu ingin lebih. Tapi aku baru datang. Tidak punya apa apa."

"Kau punya kemampuan. Dan di sini, kemampuan adalah mata uang." Du Yan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku butuh komandan baru. Gorgo sudah terlalu sibuk mengatur wilayah. Aku butuh seseorang yang bisa memimpin pasukan kecil, melaksanakan misi penting, dan membunuh banyak musuh. Posisi itu memberimu wewenang, sumber daya, dan kesempatan untuk membunuh lebih banyak anggota klan klan orthodox."

"Dan syaratnya?" tanya Xu Hao langsung.

Du Yan mengangkat satu jari. "Dua ribu jiwa."

Xu Hao tidak bereaksi berlebihan. "Dua ribu musuh?"

"Ya. Dua ribu kultivator dari pihak musuh. Minimal tingkat Nascent Soul. Semua harus dibunuh di bawah komando atau langsung oleh tanganmu. Bukti harus ada. Telinga, atau benda pengenal khusus mereka." Du Yan menatapnya tajam. "Itu bukan tugas kecil. Banyak yang mencoba, tapi mati sebelum mencapainya."

Xu Hao mengangguk perlahan, matanya tetap tenang. "Dua ribu jiwa kah."

"Berat? Kau bisa menolak. Tetap jadi prajurit biasa, bunuh beberapa orang, lalu mati suatu hari nanti." Kata Du Yan.

Xu Hao menggeleng. "Tidak. Aku tidak menolak." Dia berdiri, lalu membungkuk lagi. "Jika diberi kesempatan di perang besar, bukan dua ribu. Aku bisa membunuh sepuluh ribu jiwa."

Ruangannya mendadak sunyi. Gorgo membelalak, lalu tertawa kasar. "Sepuluh ribu? Kau bicara omong kosong! Dalam satu pertempuran terbesar pun, sulit mencapai angka itu!"

Du Yan tidak tertawa. Matanya menyipit. "Kau sangat percaya diri, Hei Feng. Atau kau hanya bicara besar?"

"Bukan bicara besar, Ratu," kata Xu Hao, suaranya datar namun penuh keyakinan. "Aku butuh kesempatan. Perang besar, di mana musuh berkumpul banyak. Beri aku pasukan kecil yang bisa bergerak bebas, beri aku wewenang untuk memilih target, dan aku akan penuhi ambisimu. Sepuluh ribu jiwa. Untukku, itu adalah langkah pertama."

"Langkah pertama untuk apa?"

"Untuk menghancurkan Klan Xu sepenuhnya."

Gorgo menggeram. "Banyak yang bilang seperti itu. Tapi Klan Xu masih berdiri kokoh."

"Karena mereka belum bertemu denganku," jawab Xu Hao, dan kalimat itu diucapkan dengan tenang yang lebih menakutkan daripada teriakan.

Du Yan mengamatinya lama sekali. Udara di ruangan terasa semakin dingin. "Baik," katanya akhirnya.

"Kau ingin kesempatan. Aku beri. Dua minggu lagi, akan ada konflik besar di perbatasan timur wilayahku. Klan Bai dan Sekte Pemurnian bersekutu untuk menyerang Kota Kabut. Mereka akan kirim setidaknya tiga ribu pasukan. Kau akan ikut, bukan sebagai prajurit biasa. Aku beri kau lima puluh orang pilihanku. Pimpin mereka. Lakukan kerusakan sebanyak mungkin. Jika kau bisa membunuh seribu jiwa dalam pertempuran itu, aku akan pertimbangkan memberimu pasukan lebih besar untuk target sepuluh ribumu."

Xu Hao membungkuk. "Aku terima. Tapi untuk lima puluh orang itu, aku minta wewenang penuh. Latihan, strategi, keputusan di medan perang. Tanpa campur tangan."

Gorgo ingin protes, tapi Du Yan mengangkat tangan. "Wewenang penuh. Tapi jika kau gagal, atau jika pasukan itu hancur karena kebodohanmu, kau akan menghadapiku untuk dihakimi. Dan hukumannya bukan kematian cepat."

"Dimengerti."

"Gorgo akan beri daftar lima puluh orang itu. Mereka adalah yang tangguh tapi sulit diatur. Jika kau bisa kendalikan mereka, itu sudah ujian pertama." Du Yan berdiri. "Pergilah. Persiapkan dirimu. Dan ingat, Hei Feng. Aku memberikan kesempatan ini karena aku melihat sesuatu padamu. Jangan buat aku menyesal."

Xu Hao membungkuk sekali lagi, lalu keluar dari ruangan dipandu oleh Gorgo.

Di koridor, Gorgo melihatnya dengan ekspresi rumit. "Sepuluh ribu jiwa. Kau gila."

"Mungkin," kata Xu Hao. "Tapi jika tidak gila, untuk apa hidup di dunia seperti ini?"

Gorgo terdiam, lalu mengangguk pelan. "Baik. Besok pagi kau akan dapat daftarnya. Mereka tidak akan senang diperintah orang baru. Siap siap menghadapi pemberontakan."

"Biarkan mereka datang," kata Xu Hao, lalu berjalan pergi menuju baraknya.

Di ruangan, Du Yan masih berdiri di jendela. Matanya memandang ke arah barak tempat Xu Hao pergi.

"Hei Feng," bisiknya. "Siapa sebenarnya dirimu? Darah kuno, teknik aneh, pedang misterius, dan ambisi membunuh sepuluh ribu jiwa. Apakah kau akan menjadi pedang terbaik yang pernah kupegang, ataukah kau akan berbalik menusukku?"

Dia menghela napas. Di dunia perbatasan yang kejam ini, mengambil risiko adalah bagian dari kehidupan. Dan sesuatu dalam nalurinya mengatakan, pria dengan pedang hitam itu sepadan dengan risikonya.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!