Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Peramal, Aku Datang!
Kadang, langkah menuju cinta dimulai dari hal paling absurd, seperti pergi ke peramal sambil pilek dan diawasi mobil misterius.
...Happy Reading!...
...*****...
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Biasanya aku masih menggelinjang dalam piyama kesayangan, tapi kali ini aku sudah berdiri di depan cermin.
Lengkap dengan jaket dan celana panjang. Serius.
Bahkan rambutku sudah dikuncir rapi.
Bukan gaya orang yang akan menemui peramal,
lebih ke arah turis nyasar yang terlalu percaya Google Maps.
Aku tidak membawa tas.
Hanya dompet dan ponsel yang kuselipkan ke kantong jaket beresleting.
Aman. Efisien. Dan yang paling penting-tidak menimbulkan kecurigaan.
Kalau aku keluar rumah sambil bawa tas, ibuku bisa muncul dari balik lemari seperti tokoh horor dan mulai interogasi.
Mau ke mana. Sama siapa. Pulangnya jam berapa.
Terlalu banyak tanya.
Terlalu sedikit kepercayaan.
Dengan pakaian seperti ini, orang-orang pasti mengira aku cuma mau jogging.
Padahal tujuan sebenarnya adalah... pergi ke peramal.
Betapa jauh aku melangkah dari peradaban.
Aku membuka pintu kamar perlahan,
mengintip keluar seperti maling yang hendak kabur dari tempat kejadian perkara.
Kamarku ada di antara kamar Elan dan kakakku.
Untuk turun ke lantai satu, aku harus melewati kamar Elan dulu.
Dan Elan itu kombinasi tukang gosip dan pelapor negara.
Sekali dia tahu, selesai sudah misi rahasiaku.
Langkahku pelan, jantungku berdebar.
Setelah berhasil melewati kamar Elan tanpa insiden, aku menarik napas lega.
Kemenangan kecil.
Lalu turun tangga perlahan seperti pemeran utama film thriller.
Aku merasa seperti bangsawan yang melarikan diri dari rumah besar.
Padahal ini rumah sendiri.
Ruang tengah kosong.
Mama pasti masih di dapur.
Papa sibuk dengan burung-burungnya di halaman belakang.
Aman.
Sampai di pintu utama, aku membuka kunci dengan pelan dan keluar.
Begitu menghirup udara pagi, rasanya seperti baru bebas dari penjara.
Tapi belum sempat bahagia, hidungku mulai terasa gatal.
"Hachim."
Satu bersin. Bisa kutahan.
Tapi lalu-
"Hachim. Hachim."
Baru juga keluar rumah, belum sampai ke gunung,
aku sudah disambut pilek.
Luar biasa.
Mungkin semesta ingin aku berpenampilan memelas saat bertemu peramal.
Aku mengambil sneakers favoritku di dekat gerbang.
Kaos kakinya kuselipkan di dalam sepatu, jadi harus kupakai sambil berdiri.
Tentu saja tidak mudah.
Aku mengomel sepanjang waktu, seperti nenek-nenek yang kehilangan remote TV.
Setelah sepatu terpasang, aku bersin lagi.
Hidungku mungkin sudah semerah tomat.
Tapi aku tetap cantik.
Aku kan Cayra.
Saat hendak melangkah, mataku tanpa sadar melirik ke rumah besar di seberang.
Rumah itu baru beberapa hari ini kembali berpenghuni setelah lama kosong.
Entah kenapa, aku merasa seperti sedang diawasi.
Tapi saat kulihat ke arah jendela-tidak ada siapa-siapa.
Hanya mobil mewah yang terparkir di halaman.
Mobilnya hitam mengilap.
Tipe kendaraan yang biasanya muncul di drama Korea,
saat aktor utamanya datang ditemani efek angin.
Sudahlah.
Mungkin cuma perasaanku.
Atau mungkin... tidak.
Aku mulai menyusuri jalan komplek.
Udara masih sejuk, segar-dan membuatku bersin lagi.
Target pertamaku adalah bubur ayam Pak Tarno di luar komplek, dekat angkringan.
Bukan karena lapar, tapi perut kosong bisa bikin suara-suara aneh saat bertemu peramal.
Tidak sopan.
...*****...
Sampai di gerobak, aku langsung memesan.
"Pak Tarno, bubur biasa tanpa kedelai, teh manis satu, dan sate telur puyuh satu."
"Siap, Neng Caca," jawab Pak Tarno sambil tersenyum.
Bukan Pak Tarno pesulap.
Yang ini lebih ke pesulap perut.
Sambil menunggu, aku duduk di meja kosong dan memesan ojol lewat ponsel.
Rencananya naik ojol ke terminal, lalu naik elf ke arah Candraloka.
Sisanya naik ojek desa-semoga masih ada yang narik.
Makananku datang bersamaan dengan notifikasi bahwa ojolku hampir sampai.
Aku makan cepat.
Tapi hidungku masih ikut beraksi.
Berkali-kali bersin sampai buburnya lebih banyak rasa air mata dan tisu daripada ayam.
Selesai makan, aku bayar ke Pak Tarno.
"Lima belas ribu, Neng."
Aku kasih dua puluh ribu dan menunggu kembalian.
Tapi yang disodorkan malah plastik kecil.
"Ini ada yang nitip buat Neng Caca. Masker," katanya.
Aku mengernyit.
Masker?
Aku memang pilek, tapi bukan selebriti yang punya fans care sampai sejauh itu.
"Dari siapa?"
Belum sempat dijawab, suara klakson motor berbunyi.
Ojolku datang.
"Terima kasih, Pak," ucapku sambil menerima masker dan uang kembalian.
Aku melangkah ke motor tanpa sempat tanya lebih lanjut.
Maskernya kuselipkan ke dalam saku jaket.
Bersebelahan dengan uang kembalian.
Hidung merahku tampaknya memang ditakdirkan untuk memakai itu hari ini.
"Mbak Cayra Ayudhia, ya?" tanya driver ojol.
"Iya, Pak."
Aku memakai helm dan naik ke motor.
Saat motor mulai melaju pelan, aku menoleh ke belakang.
Bukan ke rumah besar itu-karena rumahnya sudah tertinggal di dalam komplek.
Tapi entah kenapa, sensasinya masih terasa.
Rasa diawasi. Rasa dilihat, bahkan saat tidak ada siapa-siapa.
Aku menoleh ke depan.
Dan di situlah dia lagi.
Mobil hitam mengilap itu terparkir diam di dekat tiang listrik.
Bukan di halaman rumah seperti tadi.
Sekarang dia nongol di luar komplek.
Ikut-ikutan nyari bubur, mungkin?
Dadaku terasa aneh.
Bisa jadi kebetulan.
Tapi di dunia ini, bahkan dalam sinetron pun jarang ada kebetulan dua kali.
Tak apa.
Siapa pun dia.
Entah tetangga penasaran.
Stalker dengan selera mahal.
Atau makhluk halus yang naik kasta.
Terima kasih atas maskernya.
"Peramal, aku datang."
Tapi siapa sangka-justru aku yang sedang didatangi sesuatu.
Dan kalau dia memang ngintip dari tadi,
semoga dia tahu satu hal.
Aku tetap bersin dengan cantik.