Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA MILIK EDWARD RICH CHARTER
Mobil hitam berkilau itu melaju anggun di jalanan kota London yang mulai lengang. Dari balik kaca jendela yang buram oleh embun pagi, Sophia memandangi pemandangan yang berganti cepat—gedung-gedung tua bergaya Victoria, taman hijau dengan pepohonan berdaun gugur, dan rumah-rumah elit yang berdiri tegak di sepanjang jalan berbatu.
Di dalam mobil, suasana terasa tenang. Hanya suara lembut mesin dan desiran ban yang bersentuhan dengan aspal. Aroma kulit asli dari jok mobil begitu khas, berpadu dengan wangi lembut parfum mahal yang menguar dari interior. Sophia duduk di kursi belakang, tangannya menggenggam tas di pangkuan. Sekilas, ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela—seorang gadis sederhana yang kini menumpang dalam kemewahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mobil itu berhenti perlahan di depan gerbang tinggi berukir indah. Dua pilar batu besar menjulang di sisi kanan dan kiri, dengan simbol keluarga yang terukir di atasnya. Charter Residence, begitu namanya. Gerbang besi itu terbuka otomatis, memperlihatkan jalan masuk panjang yang dihiasi lampu taman di sepanjang sisi.
Tatapan Sophia terangkat. Di ujung jalan, berdiri sebuah rumah megah—lebih tepatnya, sebuah istana modern bergaya klasik. Dindingnya berwarna putih gading, dengan jendela tinggi berbingkai emas. Pilar-pilar besar menopang balkon marmer di lantai dua, sementara air mancur di halaman depan memantulkan cahaya mentari pagi, menciptakan kilauan seperti kristal.
Brian kemudian turun dan membukakan pintu. Udara sejuk langsung menerpa wajah Sophia saat kakinya menjejak bebatuan halus halaman istana itu. Ia tertegun, matanya menyapu ke seluruh penjuru rumah besar itu dengan perasaan tak percaya.
"Ini istana, bukan rumah." Gumam Sophia, cukup terdengar di telinga Edward dan Brian. Mereka hanya saling melirik lalu tersenyum tipis. Di saat yang sama, seseorang dengan jas hitam rapi muncul dari balik pintu mendekati mereka.
"Selamat datang di kediaman Charter, Nona Sophia." Sambut pria paruh baya itu mengejutkan Sophia.
Pintu besar berlapis ukiran kayu mahoni terbuka lebar, saat Edward mengajak Sophia masuk ke dalam rumah megah itu. Sophia menelan saliva saat melihat interior yang begitu memukau. Langit-langit tinggi berhias lampu gantung kristal, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Marmer putih membentang di bawah kaki, sementara karpet merah lembut melapisi anak tangga yang menjulang ke lantai atas.
"Alex, bawa dia masuk dan tawarkan beberapa hidangan lezat untuknya!" Perintah Edward, sesaat sebelum langkah tenangnya membawa ia pergi. Suaranya terdengar tegas, namun tenang—seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya adalah perintah yang tak mungkin ditolak.
Sementara, Sophia masih diam di tempatnya. Matanya menatap ke sekeliling, berusaha mencerna kenyataan bahwa ia benar-benar berada di sini—di dalam rumah megah seorang pria yang baru kemarin hanya ia kenal sebagai pembeli lukisannya. Jantungnya berdetak cepat, ada sesuatu antara kagum dan takut yang bercampur menjadi satu.
"Silakan, Nona Sophia untuk menunggu di ruang tamu.” Ucap Alex membungkuk sopan. "Jika kau ingin berkeliling sekitar rumah ini, tolong jangan ke arah timur."
"Ke-kenapa?"
Alex tak menjawab. Diamnya terasa tegas, seolah kata-kata tak lagi diperlukan untUk menegaskan peringatan tadi. Ia kemudian berbalik dengan langkah mantap, punggungnya lurus dan bahunya tegap, lalu melangkah pergi meninggalkan Sophia sendirian di ruang tamu.
Kesunyian menyelimuti ruangan begitu pintu di belakangnya menutup pelan, menyisakan gema langkahnya yang semakin menjauh. Sophia berdiri terpaku, matanya menyapu setiap sudut ruang tamu yang luas dan mewah. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke lantai marmer. "Aku tak menyangka bisa menapaki rumah semewah ini. Tuan Edward bilang padaku di mobil tadi kalau aku akan tinggal di sini. Tuhan... jika ini mimpi, segeralah bangunkan aku." Gumamnya. Ia spontan mencubit lengannya sendiri, seolah ingin memastikan bahwa apa yang ia alami bukanlah mimpi. “Au…” Ringisnya pelan, menahan rasa nyeri ringan dari cubitan itu.
Sophia tersenyum. Rasa kagum, takut, dan penasaran bercampur menjadi satu, membuatnya merasa seperti berada di dunia yang asing—dunia mewah yang selama ini hanya bisa ia lihat dalam lukisan-lukisan yang ia buat sendiri.
****