(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ex Crush
Semalam aku mendapat kabar kalau papa sakit. Seharusnya satu minggu ke depan aku masih di Thailand tapi entah mengapa kecemasan ini lebih berat dibanding biasanya. Tentu bukan kali pertama dia sakit karena kondisi jantungnya.
Sebetulnya gaya hidupnya sudah berubah membaik sejak dua tahun lalu, makanan pun dalam pantauan ahli gizi. Olahraga rutin dilakukan walau hanya golf dan renang.
Tapi dia masih merokok. That's the point. Belum ada pakar yang berhasil menyadarkan betapa bahaya rokok bagi kesehatan manula satu itu. Aku sudah di titik bodo amat. Bukan karena tidak peduli tapi lelah karena nasehat yang selalu dimentahkan.
"You should stop smoking"
"Merokok atau tidak, manusia tetap mati"
See? Itu kata-kata dari lelaki usia lanjut yang semalam terkena serangan jantung. Dia masih saja memohon izin dokter untuk merokok walau sudah terpasang selang infus.
"Mana Kin?"
"Entahlah,"
"Perbaikilah komunikasi kalian. Seharusnya kalian semakin akrab agar cepat memberikan cucu"
Haduh.
Bagaimana cara menyadarkannya kalau pernikahan kami selama ini sandiwara?
Rania datang membawa bouquet bunga lalu menaruhnya di vas. Dia melempar senyum tapi aku membuang muka.
"Selamat ya promosi jabatan baru kamu. Performamu katanya excellent, banyak karyawan tidak percaya kalau putri pewaris mau terjun langsung melayani kebutuhan makan mereka. Good job, Kea."
Sindiran yang dibungkus dengan kalimat apresiasi. Telinga ini terbuat dari baja jadi tidak akan terusik.
Good news or bad news. Luisa gagal menikah dengan Jordan, alasannya karena perselisihan terus menerus tapi aku yakin ada satu rahasia yang ditutupi.
Jordan itu gay, feeling ini kuat berkata demikian. Mungkin karena sirkel pertemananku dulu ada beberapa spesies khusus jadi cukup sensitif dengan aura lelaki yang punya penyimpangan.
Sungguh benar-benar cerita paling menarik di sepanjang hari ini. Aku jadi menduga penyebab serangan jantung Papa karena hal tersebut. Sudahlah sebaiknya Mavis family di blacklist masuk menjadi anggota keluarga karena kedua anak mereka sangat bermasalah. Dua kali sudah Papa kena scam perjodohan yang membuat dua putrinya gagal nikah.
I cant imagine bagaimana hancurnya hati Luisa saat ini. Ah, aku jadi flashback masa suram itu yang ternyata sudah hampir satu tahun berlalu.
Papa memintaku membelikan ayam geprek. Orang sakit satu ini benar-benar bandel ya, padahal sudah disiapkan makanan sehat masih ingin cheating. Setelah mengambil pesanan yang diantar kurir di resepsionis, aku melihat dua orang yang kukenal keluar dari lift yang sama.
Luisa dengan tangan yang merangkul lengan Kin.
Me-rang-kul.
Melihatku memergoki kebersamaan mereka refleks Kin mendorong Luisa lalu mengejarku.
"Gue ketemu dia di bawah pas ngambil paket ini" ucapnya memperlihatkan plastik ayam geprek.
I dont care.
"I heard you just broke up. I thought you were sad but you're not"
"Hidup itu up and down. Kalau kemarin hancur sekarang happy, bukan dosa kan? By the way, kalian benar-benar jadi real couple?"
"Why?"
"Kalau ternyata no chemistry dan tidak saling cocok, keep me updated ya!"
Telunjuknya menunjuk manja ke dada Kin. Ia berlalu mendahului kami masuk ke ruang rawat inap papa.
Perasaan tidak nyaman ini apa ya namanya? Kesal? Jijik? Jealous... atau semuanya?
She starts beating the drums war.
***
Mood these days : whatever
Masih harus kembali ke kantor untuk memeriksa berbagai laporan. Gila! Mengurusi dapur rumah tangga perusahaan itu bikin level stress naik jadi empat puluh persen. Sebelumnya aku masih punya waktu menyelinap keluar kantor untuk jalan-jalan berkedok meeting klien. Sekarang akupun harus pusing mengurusi harga cabe dan bawang merah yang naik sementara budget yang diberikan tidak bisa mengembung lagi. Sambal itu harga mati, harus ada. Karyawan bisa demo kalau tiba-tiba pengadaan sambal dihilangkan.
Tolong kembalikan hidupku yang dulu! ARGHHH!!
"Luisa seems to like you. How do you feel?"
"I don't think i should answer it"
Respon Kin dengan pertanyaanku tadi siang masih menyangkut di kepala. Dia menolak menjawab karena bingung atau tidak peduli. Bingung karena tidak yakin dengan perasaannya atau bingung harus memilih antara Keana dan Luisa?
Oh don't choose me if i ever become an option.
Tentu aku tidak akan menyerahkan Kin. Dari kecil Luisa selalu copy paste apa yang kulakukan. Dia selalu menginginkan sesuatu yang sama, termasuk asmara. Ini sudah kali kedua dia mencoba mengambil pasanganku, bahkan dulu Leon pernah terpergok kissing dengannya.
Kok aku jadi overthinking ya, jangan-jangan statusnya dengan Jordan hanya untuk menutupi skandal hubungannya dengan Leon. Jordan itu aura boty nya kuat walau maskulin, seharusnya dia tahu hal itu dari awal.
They broke up but Luisa seems fine. Permainan baru apa yang sedang direncanakan?
***
"Can i sit here?"
Seseorang datang membawa nampan makanan. Wajahnya sedikit bingung melihat situasi kantin yang penuh siang ini. Sepertinya dia butuh kursi kosong.
Semenjak aku memimpin tim makan siang jumlah karyawan yang makan siang di kantor melonjak. Rasa lebih enak, higienis, dan menu variatif. Masalah baru yang harus diatasi yaitu perlunya penambahan kursi dan meja makan. Tapi itu bukan urusanku, biar menjadi project divisi lain.
"Senang sekali bisa bertemu lagi dengan Ibu Keana, biasanya makan di ruang makan eksekutif dengan jajaran direksi."
Huh?
"You don't recognize me?"
Seksama aku memperhatikan karyawan yang duduk di depanku. Oh my gosssh! Ternyata Biru. Ex crush masa high school yang sempat resign dari perusahaan karena dapat beasiswa master di Columbia University.
"Biu-biu?"
"Yes, Biu-biu"
"Sejak kapan kerja lagi disini?"
"Aku tidak bekerja disini lagi, hanya meeting sambil visit sebentar aja"
Aku menarik lanyard yang tergantung di lehernya. Direktorat Jenderal Pajak.
"Congrats sekarang jadi ASN! Gimana kerja under government? Lebih enak mana sama swasta?"
"Plus minus lah. Lebih enak kamu lah kerja di perusahaan sendiri, work life balance. Ya nggak?"
Itu dulu sebelum negara api menyerang. Andai dia tahu posisiku benar-benar seperti babu korporat walau gaji setara dengan jabatan lama.
"Gimana kabar Nina? You two married?"
"Nina ya?"
"Eh Nina kan nama pacar kamu?"
"She married with someone else"
"Hah?"
"Bukan jodoh ya gimana. How about you?"
Finally someone asked my marital status. Gimana ya jawabnya?
"Eh, i catch you later ya! Harus balik kantor urgent"
"Oke take care!"
"Can i get your whatsapp?"
I get so happy when he talks to me. Hubungan kami pernah sedekat pacar tapi tanpa status. Biru sangat populer di high school karena smart, handsome, atlet tenis, dan ketua osis. Kami mulai dekat karena jadi murid tempat English Course yang sama.
Ah, aku ingat. Aku pernah menyatakan perasaan padanya tapi ditolak karena alasan fokus belajar padahal Maminya melarang pacaran. Tapi hubungan itu tidak pernah renggang, hanya disembunyikan dari publik cukup sahabat aja yang tahu. Titik yang membuat kami hilang komunikasi ya karena aku lanjut studi di Yale sementara Biru dapat beasiswa Universitas Indonesia. Kami bertemu lagi di kantor ini empat tahun lalu tapi sekedar cukup tahu karena masing-masing sudah berpasangan.
Mabiru Zayn Purnama. Biu-biu nama kecil yang kuberikan padanya selain mabiu alias my biu. Salah satu part terindah masa high school ya kisah cintanya. Punya crush peringkat satu siswa terbaik justru bikin aku termotivasi punya prestasi juga. Thanks to him karena berhasil bikin aku yang banyak bolos jadi rajin masuk kelas karena enggan melewatkan satu hari tanpa senyumnya.
Goodnight. I hope to meet you in my dreams until i can see you in person again.
Guess who just sent a message?
Damn this feelings.
Kyaaaaa....!!!
Should i response him then continue the story?