NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Takdir

Sang Pewaris Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: BigMan

~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]

Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.

Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.

Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 - Dua Hati di Bawah Langit yang Membeku

...----------------...

Tiga hari telah berlalu.

Pagi itu, salju turun dengan lembut, menutupi atap rumah-rumah desa dengan selimut putih yang tipis. Udara dingin menusuk, tetapi di dalam rumah kecil milik keluarga Sora, suasana justru terasa hangat.

Kimiko tengah menyiapkan sarapan, aroma sup hangat bercampur dengan kayu bakar yang berderak di perapian. Sora, yang baru saja bangun, masih mengucek matanya sembari menguap lebar.

Namun, sebelum ia sempat duduk untuk sarapan, terdengar ketukan di pintu.

Tuk tuk tuk!

Sora dan Abirama langsung saling berpandangan.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” gumam Kimiko sambil membersihkan tangannya dan melangkah menuju pintu.

Ketika pintu terbuka, udara dingin langsung menyelinap masuk bersama dengan tiga sosok yang berdiri di ambang pintu.

Seorang wanita anggun dengan pakaian tebal berwarna putih gading berdiri dengan tenang, wajahnya dihiasi senyum lembut.

Di sebelahnya, seorang gadis kecil berambut emas—Liliane—tampak terkejut dengan mata membulat. Sementara itu, sosok ketiga, seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian zirah ringan, berdiri dengan tenang di belakang mereka.

“Selamat pagi,” sapa wanita itu dengan suara halus. “Maaf mengganggu di pagi yang dingin ini.”

Kimiko mengerjapkan mata sejenak sebelum membalas dengan sopan, “Tidak sama sekali. Silakan masuk, ini pasti dingin di luar.”

Wanita itu tersenyum. “Terima kasih, tapi kami hanya mampir sebentar. Kami baru saja menetap di desa ini, dan sebagai bentuk perkenalan, saya ingin memberikan sesuatu.”

Ia mengangkat sebuah kotak kayu yang dihias indah, dengan ukiran bunga yang rumit di sisi-sisinya. “Ini kue, buatan tangan kami sendiri. Kami harap keluarga Anda menyukainya.”

Kimiko menerima kotak itu dengan tatapan heran, namun segera membalas dengan senyuman hangat. “Wah, cantik sekali... terima kasih.”

Namun, saat itu juga, Liliane yang sejak tadi diam mulai bergerak maju.

Matanya masih membulat, seolah baru menyadari sesuatu yang mengejutkan.

“Sora…?!"

Sora, yang berdiri di belakang ibunya, hanya bisa menatap balik dengan bingung.

Liliane menoleh ke ibunya, lalu kembali ke Sora. “Ini… rumahmu?!”

Sora mengangguk pelan. “Iya… memangnya kenapa?”

Liliane tampak benar-benar terkejut, seakan-akan dunia baru saja mengubah bentuknya.

“K-Kukira… kau tinggal di rumah yang lebih besar!” serunya tanpa sadar. “Kau terlihat keren! Kukira kau anak bangsawan atau pendekar terkenal!”

Kimiko tertawa pelan mendengar kepolosan gadis itu, sementara Abirama hanya tersenyum tipis.

Sora menggaruk kepalanya, merasa agak malu. “Aku hanya anak biasa…”

Liliane masih tampak belum bisa menerima kenyataan itu. “Tapi… tapi…”

Wanita anggun itu tersenyum lembut. “Liliane, tidak semua orang hebat berasal dari tempat yang besar. Yang penting adalah siapa mereka sebenarnya.”

Liliane terdiam, lalu menatap Sora dengan ekspresi baru—seakan sedang menilai ulang siapa dirinya.

Sementara itu, sosok pria bertubuh tinggi yang berdiri di belakang mereka akhirnya berbicara.

“Sungguh rumah yang nyaman,” katanya dengan suara dalam namun ramah. “Hangat dan penuh kehidupan. Aku bisa mengerti mengapa kau tumbuh kuat di tempat seperti ini, Nak.”

Sora menatap pria itu. Tidak seperti pendekar yang menegurnya kemarin, pria ini tidak memiliki aura mengintimidasi. Sebaliknya, ia tampak santai, dengan mata penuh kebijaksanaan yang tersembunyi di balik tubuhnya yang kuat.

Pria itu tersenyum kecil. “Namaku Kouji ,” katanya sambil sedikit menundukkan kepala. “Aku adalah salah satu pengawal keluarga Liliane.”

Sora mengangguk sopan. “Aku Sora.”

Kouji tertawa kecil. “Aku tahu. Liliane sudah banyak bercerita tentangmu.”

Sora melirik Liliane, yang sekarang justru terlihat malu.

Kimiko tersenyum hangat. “Silakan masuk, setidaknya untuk menghangatkan diri sebentar.”

Namun, wanita itu menggeleng pelan. “Terima kasih atas kebaikan Anda, tapi kami harus segera pergi. Hanya ingin memberikan kue ini sebagai tanda persahabatan.”

Kimiko mengangguk paham. “Kalau begitu, terima kasih banyak.”

Liliane, yang tampaknya masih belum puas, menatap Sora dengan serius. “Aku akan kembali! Kita harus bicara lebih banyak lagi!” katanya dengan nada penuh tekad.

Sora hanya bisa tersenyum kecil. “Baik.”

Saat mereka pergi, Sora masih bisa melihat Klaus menoleh ke arahnya dengan senyum ramah.

Dan entah kenapa, senyum itu membuatnya merasa tenang.

Namun, dalam hati kecilnya, Sora tahu… kehidupannya di desa tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

......................

Di sisi lain, Emi berjalan cepat menuju rumah Sora dengan penuh semangat. Udara dingin tak mengurangi keceriaannya, ia ingin mengajak Sora bermain, mungkin ke danau atau sekadar berjalan-jalan di sekitar desa. Namun, saat mendekati rumahnya, langkahnya melambat.

Di depan rumah Sora, Emi melihat tiga sosok asing yang baru saja berpamitan.

Liliane.

Gadis berambut pirang yang baru datang ke desa itu berdiri di depan rumah Sora dengan senyum polosnya. Ia bersama ibunya dan seorang pengawal tinggi yang tampak ramah. Mereka baru saja dari rumah Sora… Kenapa?

Emi menyipitkan mata, hatinya terasa aneh.

Liliane terlihat sangat cantik. Terlalu cantik.

Dengan kulit putih bersih seperti porselen, rambut emas yang berkilau bahkan di bawah langit musim dingin, dan pakaian yang jelas menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga berada. Kontras dengan Emi yang hanya gadis desa biasa, dengan rambut hitam yang selalu diikat sederhana dan pakaian yang sederhana pula.

Dan yang membuatnya semakin merasa aneh… Liliane tampak begitu nyaman berbicara dengan Sora.

Emi menggigit bibirnya.

Saat keluarga Liliane akhirnya berjalan menjauh, Emi menarik napas dalam sebelum melangkah lebih cepat.

Ketika tiba di depan rumah Sora, ia melihat Sora berdiri di depan pintu, menatap kepergian Liliane.

“Pagi,” kata Emi, mencoba menyembunyikan nada canggung dalam suaranya.

Sora menoleh dan tersenyum seperti biasa. “Pagi, Emi. Ada apa?”

Emi melipat tangan di dadanya, berpura-pura bersikap biasa. “Aku ingin mengajakmu bermain. Tapi… siapa gadis itu?”

Nada suaranya sedikit lebih tajam dari yang ia maksudkan, dan ia langsung menyesalinya.

Sora berkedip, lalu tertawa kecil. “Kau maksud Liliane?”

Emi menatapnya dengan tajam, tapi Sora tampak benar-benar tidak sadar.

“Ya, dia baru saja pindah ke desa,” lanjut Sora. “Dia datang bersama ibunya untuk memberikan kue sebagai tanda perkenalan.”

Emi mengerutkan kening. “Kue? Hanya untuk keluargamu?”

Sora mengangkat bahu. “Kurasa tidak. Lagipula, ibunya tampaknya orang yang ramah.”

Emi menggigit bibirnya lagi. Kenapa rasanya ada yang menusuk di dalam dadanya?

Ia menghela napas dan mencoba tersenyum. “Huh, jadi sekarang kau punya teman baru?”

Sora menatapnya dengan bingung. “Kenapa kau terdengar seperti itu?”

Emi mengalihkan pandangan. “Terdengar seperti apa?”

Sora tertawa kecil. “Kau terdengar seperti sedang cemburu.”

Darah mengalir cepat ke pipi Emi.

“A-apa?! Siapa yang cemburu?!”

Sora hanya menggeleng dan tersenyum. “Sudahlah, ayo pergi ke pasar.”

Emi mengerutkan kening. “Kenapa ke pasar?”

Sora memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan menatap langit sebentar. “Aku mau membeli beberapa barang untuk ibu. Tapi kalau kau tak mau ikut, tidak apa-apa.”

Emi menatapnya, lalu mendengus pelan. “Hmph. Baiklah, aku ikut.”

Sora tertawa kecil lagi. “Bagus.”

Sambil berjalan bersama ke pasar, Emi melirik ke arah Sora.

Apakah ia benar-benar cemburu?

Ia sendiri tidak yakin. Yang jelas, ia tidak menyukai perasaan ini.

1
Abu Yub
Lanjut thor, aku datang lagi.
Abu Yub
tiba tiba
Abu Yub
merengut
Big Man
Mksh supportnya /Determined//Determined/.. Siap2 kita upp ya
Ernest T
bagus .n mantap .
Ernest T
up sampai sliiiiiiii . Thor semangat
Big Man: siap2 kita upp boss.. /Determined//Determined/
total 1 replies
Big Man
seru kok kak.. namnya aja yg jepang kak.. tp story line nya sma kek pendekar2 timur lain.. hnya saja.. gda kultivator .. tp istilahnya berbeda
Big Man: niat blas chat.. mlah ke post di koment.. asem dah
total 1 replies
Ernest T
lnjutttt. kren
Big Man: terimakasih kak /Applaud/
total 1 replies
Desti Sania
belum terbiasa dengan scien jepang
Big Man: Mudah2n cocok ya.. menghibur.. story line nya hmpir sma kok kak sma pendekar2 timur lainnya.. cmn istilahnya aja yang beda dan gda kultivator di sini /Grin/
total 1 replies
Desti Sania
mungkin
Desti Sania
prolog nya dah keren thor,semoga isinya gak membosankan ya
Big Man: amiin.. thanks kak.. semoga menghibur ya
total 1 replies
Bocah kecil
Abirama bukan kaleng2 keknya.. pra pendekar aja tau dan bisa merasakan kekuatan abirama yang tidak biasa.. menarik.. /Kiss/
Aditia Febrian
Aseekkk... Gass lah.. Hajar mereka Abirama!!! /Determined//Determined/
Bocah kecil
Gass lanjoot...!!!
Aditia Febrian
Makin seruu... /Determined//Determined/
Abu Yub
Aku datang lagi thor/Ok/
Big Man: Mksh thor.. /Kiss/
total 1 replies
Abu Yub
sip
Bocah kecil
Ni bocil sumpahna, yang satu baperan, yang satu cuplas ceplos.. /Facepalm/
Aditia Febrian
Tahapan ujian menjadi pendekar sejati:
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?

Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/
Big Man: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Bocah kecil: Bner.. relate sbnrnya..
untuk menjadi org sukses ya slah satunya :
1. Disiplin
2. Kerja keras.
3. Terusin aja sendiri
/Tongue//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Aditia Febrian
Ngakak parah /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!