Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesedihan Hashirama
Perang besar antara klan Senju melawan klan Uchiha akhirnya meletus. Di lapangan pelatihan klan Senju, seluruh pasukan telah berkumpul dan terbagi ke dalam beberapa kelompok.
Sesaat sebelum keberangkatan, muncul seorang pemuda berambut putih panjang hingga sepinggang. Ia mengenakan pakaian khas klan Otsutsuki dengan sebuah katana yang tersampir di pinggangnya.
"Maaf Ayah, aku terlambat," ucap Raiden sambil menundukkan kepala.
Butsuma menatap putra sulungnya sejenak, lalu berseru, "Tak apa. Segera bersiaplah, Nak! Tunjukkan pada mereka kehebatan klan Senju!" Butsuma mengangkat tangannya ke udara.
"Oooooo! Oooooo! Oooooo!" seru seluruh pasukan serempak.
Butsuma mengangguk dan memberikan isyarat tangan. Dalam sekejap, seluruh shinobi Senju menghilang dari tempat itu, melesat menuju medan tempur.
Di Perjalanan
"Hai Kak, kamu tidak membawa perlengkapan perang?" tanya Hashirama heran. Ia bingung melihat kakaknya hanya memakai pakaian biasa tanpa rompi pelindung, hanya dengan sebilah katana di pinggangnya.
Raiden menoleh, namun ia hanya memberikan senyum tipis sebagai jawaban. Tanpa berkata-kata, ia mempercepat langkahnya, melesat jauh meninggalkan kelompok utama.
Hashirama melongo melihat tingkah kakaknya. "Apa-apaan sikapnya itu? Menyebalkan sekali!" gerutunya.
Mengabaikan kekesalan Hashirama, Butsuma segera memerintahkan seluruh anggotanya untuk menyebar ke segala arah sesuai dengan pembagian kelompok masing-masing.
Sisi Raiden
Raiden tiba lebih dulu di perbatasan, namun suasana masih tampak sepi. Belum ada tanda-tanda kehadiran musuh. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya muncul tiga kelompok orang berpakaian serba hitam yang bergerak cepat menuju ke arahnya.
Melihat ada seseorang yang duduk santai sendirian, salah satu dari musuh tersebut langsung meluncurkan serangan mendadak. Namun, Raiden yang memiliki indra persepsi tinggi serta Tenseigan yang mampu melihat 360 derajat, dengan tenang mengangkat pedangnya yang masih berada di dalam sarung.
Tingggggg!
Suara dentingan logam terdengar nyaring saat mata pedang musuh bertabrakan dengan sarung pedang Raiden. Detik itu juga, serangan-serangan lain muncul dari berbagai arah. Raiden mendorong sarung pedangnya ke depan dengan tenaga besar, membuat penyerang pertama terpental ke belakang.
Dengan gerakan yang sangat sigap, Raiden menangkis rentetan serangan berikutnya dan melompat mundur untuk menjaga jarak.
"Hei! Apa-apaan kalian ini?! Tidak bisakah melihat orang sedang bersantai sejenak, hah?!" seru Raiden ketus.
Ketiga kelompok musuh itu hanya diam membisu. Tanpa basa-basi, mereka kembali menerjang Raiden secara bersamaan. Pertarungan sengit pun pecah. Raiden sengaja tidak menggunakan kemampuan spesialnya; ia hanya ingin mengasah kemampuan berpedangnya.
Di tengah pertarungan jarak dekat, kelompok musuh yang berada di barisan belakang tiba-tiba merapal segel tangan dan menyemburkan api dari mulut mereka.
"Katon: Gokakyu no Jutsu!"
Lima bola api raksasa melesat cepat ke arah Raiden. Sepuluh orang yang tadi menyerang Raiden segera menghilang, berpindah ke posisi aman. Raiden yang melihat ancaman itu segera membentuk segel tangan dengan satu tangan saja.
"Suiton: Dai Bakufu no Jutsu!"
Gelombang air raksasa tercipta, menghantam bola-bola api tersebut hingga menimbulkan kabut asap putih yang sangat tebal. Meski pandangan tertutup kabut, Raiden dapat melihat segalanya dengan jelas berkat Tenseigan. Begitu pula dengan musuh dari klan Uchiha yang menggunakan Sharingan mereka.
Tanpa membuang waktu, Raiden melompat dan mendarat tepat di tengah-tengah sepuluh orang yang mengepungnya tadi. Kilatan cahaya putih kebiruan terlihat setiap kali Raiden bergerak. Ia menebas punggung dan leher lawan-lawannya dengan kecepatan luar biasa.
Sementara itu, lima orang yang berada agak jauh mulai waspada. Meskipun memiliki Sharingan, kecepatan gerak Raiden terlalu tinggi untuk diikuti oleh mata mereka. Menyadari bahaya yang mengancam, salah satu dari mereka berteriak, "Bahaya! Mundur!"
Namun terlambat. Sebelum ia sempat mencabut senjatanya, kepalanya sudah terbelah oleh tebasan kilat Raiden. Dengan gerakan yang efisien, Raiden menghabisi sisa musuh yang ada dalam hitungan detik.
"Hahhh... selesai juga."
Raiden mengibaskan pedangnya untuk membersihkan sisa darah, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung. Ia pun melangkah menuju titik perbatasan lain untuk membantu yang lainnya.
Di Sungai Perbatasan
Di sisi lain medan perang, Itama sedang terkepung oleh lima anggota klan Uchiha. Ia sudah terpojok dan tidak bisa berbuat banyak. Dengan tangan gemetar, ia hanya mampu mengarahkan kunai ke arah musuh-musuhnya.
Tanpa memedulikan fakta bahwa Itama masih anak-anak, para shinobi Uchiha itu segera menebas lehernya dengan kejam. Setelah memastikan target mereka tewas, mereka segera pergi dari tempat itu karena khawatir kelompok Senju lain akan segera tiba.
Di kejauhan, Hashirama sedang melompat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Tiba-tiba, firasat buruk menghampirinya. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di tepian sungai.
Langkah Hashirama terhenti seketika. Matanya menangkap sosok dengan rambut hitam-putih yang khas—ciri fisik yang hanya dimiliki oleh adiknya, Itama.
Seketika itu juga, Hashirama terduduk lemas. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia tidak percaya bahwa adik kecil yang ia sayangi telah pergi mendahuluinya dengan cara yang tragis. Rekan-rekan sekelompok Hashirama berusaha menenangkannya, lalu mereka segera membawa jasad Itama kembali ke klan untuk dikuburkan secara layak di pemakaman klan Senju.