Kisah percintaan yang sangat menyakitkan!
Dimana dia selalu dipermainkan oleh takdir, dihianati oleh kepercayaan dan dijatuhkan oleh pengharapan.
Dialah Dika Feryaldi, laki-laki yang hidup dengan mengandalkan parasnya. Dia bagai parasit, yang hidup tanpa tujuan.
Hidup baginya bagaikan neraka. Dan kebahagiaan baginya adalah hal yang mustahil. Dia selalu bersikap sinis, kasar, dan tidak ingin tersenyum atau tertawa.
Surga baru dia rasakan setelah bertemu dengan wanita cantik bernama Hana Angela. Perempuan dengan kelas sosial yang tinggi, yang mana dia merupakan putri dari keluarga terpandang.
Dika baru mengerti, kalau dia masih bisa bahagia.
Tapi ternyata, lika-liku perjalanan menyakitkan untuk mendapatkan wanita itu harus dia terjang. Saat itulah, seorang Dika berani berkorban untuk seseorang yang dia cintai.
Setelah lama berjuang untuk mengimbangi kelas wanita itu, Dika kembali diruntuhkan oleh penghianatan. Setelah dia mengabulkan semua keinginan orangtua Hana, dia dihianati sebegitu kejam. Ternyata Hana telah dinikahkan dengan laki-laki yang jauh lebih terhormat darinya. Tidak sampai disana saja, dia makin merasa sakit ketika mengetahui kalau semua orang yang dia percayai ikut menghiantinya.
Sampai akhirnya, Dika ingin menyudahi hidupnya. Dia tidak pernah mengerti akan rencana yang Kuasa untuknya.
"Adakah Bahagia Untukku?? Sekali saja, kumohon biarkan aku merasakan yang namanya bahagia."_Dika Feryaldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Perasaan Dika?
Hana turun dari kamarnya. Dia sudah menggunakan pakaian kantor yang sangat cocok di badannya.
Pada saat dia turun ke lantai satu, Hana mendapati kakaknya duduk di sofa, sedang memandangnya.
Tapi Hana mengabaikannya, seolah dia tidak melihat apa-apa di sofa.
"Hana..." Satria tidak tahan ketika adiknya mendiaminya.
Hana tetap berjalan seolah tidak mendengar apapun. Dia memang sangat marah pada kakaknya.
"Hana sayang....aku minta maaf banget. Kakakmu ini gak bermaksud menyakiti kamu," Satria berjalan kearah adiknya, kemudian menghalangi jalan Hana dengan melebarkan kedua tangannya.
Sebenarnya Hana tidak tahan mendiami kakaknya. Bagaimana bisa, dia yang dulunya dekat, bahkan sangat dekat dengan Satria tiba-tiba harus menahan diri untuk diam.
Hana menatap Satria tidak suka, dari ekspresi wajah Hana seolah menyuruh kakaknya menyingkir dari hadapannya.
Satria tidak bereaksi, bahkan dia semakin ngotot. "Pokoknya maafin aku dulu! Biar aku membiarkan mu lewat," Satria membuat tampang memelas.
Hana mengambil jalur lain. Dia malah berbalik dan berjalan menuju pintu belakang. Tapi tiba-tiba, "Eits...kamu mau kemana?" Satria kembali menghalangi jalan Hana.
Hana tentu kesal dengan perlakuan Satria, yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. Tapi dia harus tahan, pokoknya Satria harus minta maaf pada Dika, baru Hana mau bicara lagi padanya.
"Minggir!" ucap Hana kasar. Dia terpaksa mengeluarkan suara karena Satria tidak membiarkannya pergi.
"Tidak! sampai kamu memaafkan aku." balas Satria ngotot.
"Aku tak akan memaafkan anda, sampai anda bersedia meminta maaf pada Dika." Hana sengaja memanggil kakaknya dengan sebutan Anda, biar kakaknya semakin merasa bersalah.
"Tapi, Han..."
"Sekarang minggir! Aku mau kerja dulu!" Hana mendorong tubuh kakaknya, dan berlari menuju tempat mobilnya di parkirkan. Kali ini dia harus naik mobil, soalnya dia gak punya energi lebih untuk berjalan.
Satria melihat adiknya berlalu dari hadapannya. Bagaimana ini bisa terjadi padanya, haruskah dia meminta maaf pada Dika? Tapi jujur saja, dia sangat gengsi kalau harus minta maaf pada orang itu.
*****
"Bagaimana sekarang?" gumam Hana di meja kantornya.
"Apa yang harus kukatakan pada Papa jika Dika tidak mau menerima ku?" Hana menatap laptop dihadapannya.
"Bodoh....Bodoh..... Kenapa aku harus pake acara ngaku kalau aku cinta sama Dika. Kenapa juga aku ngebelain dia sampai segitunya? Padahal, kami kan tidak punya hubungan apa-apa!" Hana membenturkan kepalanya ke meja beberapa kali.
Tiba-tiba, sebuah lampu hijau menyala di atas kepalanya. "Aha...aku tahu harus berbuat apa!" Hana tersenyum lebar dan berjalan kearah pintu ruangannya.
Didepan ruangan Hana, terdapat meja sekertaris nya. Hana membisikkan sesuatu ditelinga sekertaris nya itu, yang kemudian di susul anggukan dari sang sekertaris.
Hana langsung pergi meninggalkan kantor besarnya. Dia mengambil arah jalan kerumah Dika.
"Aduh.... aku gugup sekali," Hana mengusap-usap tangannya supaya mengeluarkan panas. Dia melakukannya sambil menyetir. Biasa, perempuan kan biasanya bisa multitasking.
Beberapa menit di dalam mobil, suara ponsel Hana berdering. Secepat kilat dia menyambar dan menatap layar handphone untuk melihat siapa yang menelfon nya.
"Dika?" ucapannya tersenyum.
Tanpa bertele-tele lagi, Hana langsung menjawab, "Hai, Dika, ada apa?"
"Elo gak datang kerumah hari ini?" tanya Dika.
"Sorry, aku lagi sibuk kerja," balas Hana.
"Tapi aku akan datang kesitu sekarang, soalnya ada yang perlu aku sampaikan." tutur Hana.
"Baiklah, gua tunggu kok..." ucap Dika.
Satu jam kemudian, Hana sudah sampai dirumah Dika. Dia langsung turun dan masuk kerumah Dika tanpa permisi.
Didalam, Hana menemui Dika sedang duduk termenung. Langsung saja dia menghampiri laki-laki tampan itu.
"Hai Dika!" sapanya dengan wajah sedih.
"Hana? Elo udah sampai?" Dika menunjukkan wajah senang atas kehadiran Hana di sana.
"Kamu senang aku datang?" tanya Hana tapi tetap dengan wajah sedih.
"Tentu saja." Balas Dika singkat.
Hana duduk di hadapan Dika, dan bertanya, "Mengapa kamu senang?" Entah trik apa yang sedang dimainkan oleh Hana.
Dika memutar otak untuk berpikir. Sebuah jawaban muncul di kepalanya, "Biar ada yang masak, nyuci dan lain-lain." Jawab Dika tersenyum jahil. Hana tahu, Dika hanya bercanda. Makanya dia tidak terlalu menanggapi nya.
Dika menatap Hana yang sepertinya punya masalah. Soalnya jarang banget Hana berwajah murung seperti saat ini.
"Elo ada masalah?" tanya Dika perhatian. Hana langsung menggelengkan kepalanya berulang.
Beberapa menit mereka saling terdiam, Hana mulai mengutarakan maksudnya datang.
"Dika, mulai sekarang, kita tidak bisa bertemu lagi." Hana memulai duluan.
"Kenapa?" tanya Dika santai.
"Aku mau nikah." Jawab Hana tak kala santai.
"Nikah? Sama siapa?" Dika masih tetap dengan gaya santainya. Meskipun dalam hati dia tidak bisa merasa tenang.
"Sama anak teman Papa. Pengusaha sukses." Balas Hana.
"Ohk. Kapan? Biar gua bisa datang," Dika membuat wajah bahagia.
Hana tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini dari Dika. Yang dia harapkan adalah, Dika akan marah dan berusaha mencegah pernikahan itu. Tapi, sepertinya itu semua tidak akan terjadi. Hana sudah kehilangan harapan.
"Mungkin sebulan kedepan," jawab Hana pada akhirnya setelah dia termenung beberapa saat.
" Ohk, jadi maksud kedatangan mu kesini untuk mengundang gua?"
"Iya." Balas Hana.
"Baiklah, gua usahakan datang deh. Entar kalo bisa, gua ajakin semua teman-teman gua," Dika tersenyum hambar.
Hana tenggelam dalam pikirannya. Bagaimana sekarang? Apa yang harus dia katakan pada Papanya. Semua sudah kacau sekarang.
"Dika, bagaimana perasaan mu? maksudku, bagaimana perasaan mu ketika mendengar aku ingin menikah?" tanya Hana.
"Tentu saja bahagia. Kalo elo bahagia, gua juga akan ikut bahagia kok. Apalagi, jika cowoknya baik dan cocok sama elo, wuih...Gua setuju banget," suara Dika terdengar bahagia.
Raut wajah Hana semakin terlarut dalam kesedihan.
Mengapa? Mengapa kamu tidak mengatakan kalo kamu sakit hati, Dika? Apa cuman aku yang mencintaimu? Bukankah kau juga mencintai ku?
"Han? Elo kenapa?" tanya Dika yang melihat Hana sedang tidak fokus.
"Hmmm" jawab Hana.
"Elo kenapa sih? Dari tadi termenung aja..."
"Gak kok. Aku hanya sedang berfikir, dimana membeli gaun pengantin yang bagus." Jawab Hana ketus.
"Udah ya, Dika. Aku mau pergi dulu. Masih banyak tempat yang harus ku kunjungi."
Dika merasa sedih mendengar Hana ingin pergi. "Kok elo bentar amat sih di sini. Belum juga satu jam..." Dika memanyunkan bibirnya.
"Sorry, tapi aku lagi banyak urusan." jawab Hana lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian pergi menuju pintu keluar.
Dika tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melihat kepergian Hana dengan hati yang serasa di tusuk. Jujur saja, dia tidak rela Hana menikah. Tapi untuk sebuah alasan, Dika tidak bisa mencegahnya.
Dalam pikiran Dika, "Hana itu perempuan baik-baik. Dia juga keturunan Nugroho. Sedangkan aku? Aku hanyalah anak jalanan yang brengsek, aku hanya anak orang miskin, mana bisa aku dan Hana bersatu.... seandainya Hana bukan Nugroho....."
Sementara itu, Hana menghapus air matanya ketika hampir merintik. Rasanya ada yang sakit...tapi bukan luka
mampir juga yuk dinovelku
padahal masih ada surat dari hana yg dibawah bi sumi. belum sampai ketangan dika dari situ bisa dijadikan bahan thor .
maaf bukan maksud apa apa, hanya saja kok endingnya jadi gantung gitu gk enak aja jadinya 🙏