NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.

Langkah Awal yang Tak Semudah Itu

Bel istirahat baru saja berbunyi. Suasana kelas mulai riuh, ada yang berjalan ke kantin, ada yang berkerumun membicarakan tugas, sementara Aisyah sedang merapikan buku-bukunya di meja. Rara berdiri di sampingnya sambil memegang botol minum, bersiap mengajaknya pergi.

Belum sempat mereka melangkah, Laras berjalan mendekat dengan ragu-ragu. Tangannya menggenggam buku catatan erat-erat, wajahnya terlihat sungkan, tidak seperti biasanya yang selalu berjalan dengan kepala tinggi. Ia berhenti tepat di depan meja Aisyah, menarik napas pelan, lalu berucap dengan suara lembut dan tulus.

"Syah... boleh nggak sebentar?"

Aisyah menoleh dan tersenyum ramah. "Tentu saja, Lar. Ada apa?"

Laras menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya menatap Aisyah dengan tekad yang kuat. "Jujur... gue mau minta tolong banget sama lo. Gue sadar selama ini pelajaran gue banyak yang tertinggal, dan nilai ulangan kemarin juga belum bagus. Gue pengen banget berubah, mau mulai belajar sungguh-sungguh. Kalau nggak keberatan... boleh nggak lo ajarin gue? Atau setidaknya kasih tahu gue cara belajar yang efektif kayak gue?"

Aisyah terkejut sejenak, namun senyumnya tak luntur. Ia justru merasa senang melihat perubahan itu pada Laras. "Tentu boleh, Lar. Aku senang banget dengar kamu mau berubah. Nanti kita bisa belajar bareng pas istirahat atau sepulang sekolah—"

"NGGAK BOLEH!"

Belum selesai kata-kata Aisyah terucap, Rara langsung memotong dengan nada tinggi, wajahnya berubah tegang. Ia melangkah maju berdiri di antara Aisyah dan Laras, menatap tajam ke arah Laras.

"Lo ngomong beneran apa cuma pura-pura nih, Lar? Jangan bikin Aisyah susah deh!"

Laras tertegun, keningnya berkerut bingung. "Maksud lo apa, Ra? Gue serius nih pengen belajar, nggak ada niat lain."

"Serius kata lo?" Rara tertawa sinis, matanya menyala tak percaya. "Siapa yang nggak tahu sifat lo selama ini? Kemarin aja lo masih berbuat masalah, sekarang tiba-tiba minta diajarin? Nanti kalau Aisyah udah capek ngajarin lo, terus nilainya belum naik juga, lo pasti malah nyalahin Aisyah! Lo pasti bakal marah-marah atau ngomong kasar ke dia kayak yang biasa lo lakuin ke orang lain. Aku nggak mau temanku jadi korban emosi lo lagi!"

"Ra, gue nggak akan begitu!" Laras membalas, suaranya mulai meninggi pula, hatinya perih sekali dianggap begitu. "Gue sudah bilang gue mau berubah! Kenapa lo nggak pernah mau percaya sama aku sekali aja? Apa salahnya kalau gue mau minta bantuan? Apa gue harus selamanya dianggap jahat di mata lo?"

"Karena lo belum pernah buktiin apa-apa!" Rara tidak mau mengalah, jarinya menunjuk ke arah Laras. "Kata-kata itu gampang banget keluar dari mulut lo, Lar. Tapi buktinya di mana? Kemarin lo bilang mau berubah, terus hari ini apa? Langsung minta tolong kayak gitu tanpa usaha sendiri dulu? Jangan jadi orang yang gampang nyusahin orang lain ya!"

"Gue nggak nyusahin! Gue cuma minta bantuannya sedikit, selebihnya gue bakal usaha sendiri!" Laras mulai kesal, dadanya naik turun menahan amarah. "Kenapa lo selalu saja menghalangi aku? Lo itu sebenarnya nggak suka lihat aku mau jadi lebih baik kan? Lo cuma nggak mau aku bisa sama kayak Aisyah!"

"Lo jangan menuduh sembarangan ya!" Rara semakin berapi-api. "Aku ini melindungi temanku! Bukan berarti lo mau berubah terus semua orang harus langsung percaya sama lo begitu aja. Butuh waktu buat orang percaya, Lar! Dan lo belum kasih bukti apa-apa!"

"Cukup! Udah berhenti dong!"

Aisyah maju ke depan berdiri di antara mereka berdua, suaranya terdengar tegas namun tetap lembut, membuat keduanya terdiam seketika. Ia menatap Rara dulu, lalu beralih ke Laras.

"Ra, aku tahu lo khawatir sama aku. Dan makasih ya karena lo peduli. Tapi Lar benar... kalau dia mau berubah, kita harus kasih kesempatan dong. Walaupun belum lama, tapi kemarin Lar sudah mulai ada perubahan kok. Jangan langsung menutup pintu buat dia."

Lalu Aisyah berbalik ke arah Laras. "Dan Lar... aku senang banget kamu mau berubah. Tapi aku juga ngerti kenapa Rara ragu. Bukan karena dia jahat sama kamu, tapi karena dia belum yakin betul perubahan itu akan bertahan. Kalau kamu beneran serius, tunjukkan dulu sedikit buktinya. Mulai dari belajar sendiri dulu, coba kerjakan soal-soal yang bisa kamu kerjakan, lalu baru tanya bagian yang kamu beneran nggak ngerti. Itu juga bentuk usaha kamu sendiri kan?"

Laras menunduk, rasa bersalah mulai muncul. Ia sadar nada bicaranya tadi memang masih agak kasar, dan memang belum memberi bukti apa-apa. "Gue... gue ngerti kok. Maaf ya, Ra... kalau sikap gue tadi masih bikin lo ragu. Gue janji, nggak akan nyusahin Aisyah. Gue bakal coba sendiri dulu. Kalau beneran nggak bisa, baru gue tanya. Dan gue nggak akan marah-marah kalau belum bisa paham. Gue janji."

Rara menghela napas panjang, wajahnya sedikit melunak meski masih terlihat ragu. "Oke... kalau lo beneran begitu, baru aku percaya. Tapi ingat ya Lar... sekali lagi lo macem-macem sama Aisyah, aku nggak akan diam lagi. Lo tahu sendiri kan aku bisa kayak gimana kalau orang jahatin temanku."

"Gue tahu... dan makasih, Ra. Setidaknya lo mau dengerin aku sampai habis," ucap Laras tulus, lalu menatap Aisyah. "Nanti sore gue kerjakan dulu soal-soalnya ya, Syah. Kalau ada yang beneran buntu, boleh gue tanya sebentar aja?"

"Tentu saja boleh," jawab Aisyah tersenyum lega. "Semangat ya, Lar. Aku percaya kamu bisa."

Mereka bertiga pun akhirnya berjalan keluar kelas menuju kantin, kali ini tanpa ada ketegangan yang berlebih. Laras berjalan di belakang sedikit, hatinya bertekad lebih kuat dari sebelumnya. Ia tahu jalan berubah memang tidak semudah mengucapkannya, dan ia harus sabar membuktikan bahwa dirinya memang pantas diberi kesempatan. Dan Rara... di samping Aisyah, ia melirik sekilas ke belakang, dalam hatinya berharap kali ini Laras benar-benar serius.

“Gue yakin banget kalau misalkan ini semua adalah akal-akalan dari Laras, gue enggak yakin banget kalau misalkan dia bakalan baik sama kita berdua pasti ada sesuatu nih yang dia lakuin sama kita gue sama sekali enggak terima kalau misalkan dia ngelakuin hal yang jahat!” batin Rara dalam hati yang sama sekali tak terima dan yakin seribu yakin kalau misalnya Laras ada udang dibalik bakwan.

Aisyah tak berpikir apapun ia berpikir biasa aja dan berpikir positif tak ada apapun yang ada di dalam benaknya semuanya baik-baik saja tak ada apapun.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!