Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibawah Langit Malam
Aroma wangi masakan rumahan memenuhi ruang makan yang hangat malam itu. Di atas meja kayu, tersaji hidangan hangat buatan ibunda Arya yang menggugah selera. Mereka bertiga duduk bersama, menikmati makan malam dalam suasana yang tenang dan penuh kekeluargaan—sebuah pemandangan yang tak pernah dirasakan Amanda selama bertahun-tahun hidup bersama Zidan.
Di tengah kenikmatan santap malam, ibunda Arya meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Amanda dan Arya bergantian dengan senyum penuh arti.
"Bukankah kalian berdua dulu teman satu kampus saat kuliah?" tanya ibunda Arya lembut kepada Amanda.
Amanda sempat tertegun sejenak. Ia menghentikan suapannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Arya yang duduk di seberangnya. Memori masa-masa perkuliahan yang sempat tertutup oleh bayang-bayang pernikahan buruknya kini mendadak muncul kembali.
Arya terkekeh pelan, mengusap tengkuknya sembari menatap ibunya. "Ibu masih ingat saja," sahut Arya dengan nada santai.
"Tentu saja Ibu ingat," timpal ibunda Arya sembari tersenyum hangat ke arah Amanda. "Dulu Arya sering sekali cerita soal teman seangkatannya di Fakultas Hukum yang pintar dan gigih. Hanya saja, setelah lulus kalian sempat kehilangan kontak, kan?"
Amanda menyunggingkan senyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "Iya, Bu. Setelah lulus, kami menempuh jalan masing-masing. Saya tidak menyangka kalau takdir akan mempertemukan kami kembali di situasi seperti ini."
"Takdir tidak pernah salah memilih jalan, Nak," bisik ibunda Arya tulus, meremas pelan jemari Amanda di atas meja. "Yang penting sekarang, kamu sudah berada di tempat yang aman."
Percakapan sederhana di meja makan itu perlahan mencairkan sisa-sisa rasa canggung. Di balik kepedihan pengkhianatan yang baru saja dilaluinya, Amanda mulai menyadari bahwa takdir selalu punya cara indah untuk mempertemukan kembali orang-orang baik di saat yang paling tepat.
Makan malam yang hangat itu pun usai. Setelah membantu merapikan piring dan meja makan, Arya pamit untuk beristirahat di kamar tamu lantai bawah. Sementara itu, Amanda dan ibunda Arya melangkah menuju teras depan, menikmati sepoi angin malam yang menyejukkan.
Suasana teras begitu tenang, hanya dihiasi suara jangkrik dan sorot lampu taman yang remang. Ibunda Arya mengusap lembut jemari Amanda sembari menatap wajah wanita muda itu dengan pendar rasa sayang yang meluap.
"Kamu wanita yang sangat baik, Nak," ucap ibunda Arya pelan, merobek keheningan malam dengan nada bicara yang penuh ketulusan.
Amanda menoleh, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih, Bu. Tapi saya rasa... saya hanya wanita yang terlalu bodoh karena terlambat menyadari kejahatan Zidan."
"Bukan bodoh, tapi kamu tulus," potong ibunda Arya cepat namun lembut. Wanita paruh baya itu menerawang jauh ke depan, mengenang masa lalu yang tersimpan rapat. "Tahu tidak, Amanda... Dulu, Arya sempat menangisimu saat dia tahu kamu menikah dengan Zidan."
Amanda tersentak kaget. Matanya membelalak tak percaya. "A-Arya... menangisi saya, Bu?"
Ibunda Arya mengangguk perlahan dengan senyum tipis yang sarat akan makna. "Hari ketika undangan pernikahanmu sampai di tangannya, Arya mengurung diri di kamar. Dia tidak pernah menceritakan perasaannya pada siapa pun, tapi Ibu tahu... hatinya hancur. Dia memendam rasa yang sangat dalam padamu sejak zaman kuliah, namun dia terlambat untuk menyatakannya."
Dada Amanda berdesir hebat. Kata-kata ibunda Arya berhembus seperti angin malam yang menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik ketegasan dan keprofesionalan Arya sebagai pengacara hari ini, ada luka masa lalu yang disimpan pria itu dalam diam.
"Ibu menceritakan ini bukan untuk membebanimu, Nak," lanjut ibunda Arya seraya meremas lembut tangan Amanda. "Ibu hanya ingin kamu tahu, kamu sangat berharga. Dan takdir selalu punya cara yang ajaib untuk menyembuhkan luka."
Amanda membisu, menatap pijar lampu taman dengan tumpukan rasa haru yang tak membuncah. Di malam yang sunyi itu, sebuah rahasia masa lalu telah terkuak, membuka celah harapan baru di atas penderitaan yang baru saja ia tinggalkan.