Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bima berdiri dari kursinya.
Dia sudah muak meladeni pertanyaan orang-orang bodoh ini.
"Waktu saya terlalu berharga untuk meladeni keraguan kalian," lanjut Bima.
"Konferensi pers ini selesai bagiku."
Bima membalikkan badan dan berjalan turun dari panggung.
"Tunggu, Bima!" panggil Clara panik.
Gadis itu segera berdiri dan berlari menyusul Bima tanpa mempedulikan kamera.
Pak Herman hanya bisa tersenyum pasrah melihat kelakuan calon menantunya itu.
"Maafkan sikapnya," kata Pak Herman pada wartawan yang masih melongo.
"Orang jenius memang terkadang memiliki sifat yang unik dan sedikit temperamental."
"Tapi saya pastikan, rumah sakit kami telah kembali aman seratus persen."
Di luar aula, Clara berhasil meraih tangan Bima.
"Kamu ini kebiasaan sekali pergi tiba-tiba," omel Clara dengan napas tersengal.
"Aku kan sudah bilang jangan tinggalkan aku sendirian di sana."
"Mereka terlalu berisik," jawab Bima santai.
"Lagipula tujuanku hanya menemani kalian, bukan menjadi artis."
"Tapi setidaknya pamit dulu dengan benar!" Clara mencubit pinggang Bima pelan.
"Aduh," Bima pura-pura mengaduh.
"Sakit tahu."
"Bohong," balas Clara sambil tertawa.
"Ototmu itu keras seperti besi, mana mungkin cubitanku terasa sakit."
Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir dengan santai.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Clara.
"Kembali ke kampus," jawab Bima.
"Kamu masih ada jadwal kuliah siang ini kan?"
"Ah iya, aku hampir lupa karena kejadian tadi," keluh Clara.
"Padahal aku ingin membolos dan pergi makan berdua saja denganmu."
"Jangan malas," tegur Bima.
"Nanti nilai ujianmu hancur."
Clara memanyunkan bibirnya lagi namun tetap mengikuti langkah Bima masuk ke dalam mobil.
Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota.
Tepatnya di sebuah gudang bawah tanah yang terbengkalai di pinggiran ibukota.
Suasana di dalam ruangan itu sangat gelap dan lembap.
Hanya ada satu lampu gantung yang menyala remang-remang di tengah ruangan.
Brak!
Sebuah meja kayu hancur berkeping-keping akibat pukulan keras seseorang.
Seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka sayatan di wajahnya berdiri dengan napas memburu.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi namun auranya sangat membunuh.
Dia adalah bos cabang Asosiasi Medis Gelap di wilayah ibukota.
"Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi di sini?" teriak pria itu dengan suara serak.
Matanya menatap tajam ke arah dua orang bawahan yang sedang berlutut ketakutan di lantai.
Di antara dua bawahan itu, terbaring tubuh pria berkerudung hitam yang sebelumnya memantau rumah sakit.
Pria berkerudung itu masih pingsan dengan jarum perak menancap di lehernya.
"K-kami tidak tahu pasti, Bos," jawab salah satu bawahan dengan gemetar.
"Kami menemukan dia sudah tidak sadarkan diri di dalam mobil van."
"Peralatan pemantauannya juga sudah hancur lebur."
Bos itu melangkah maju dan berjongkok di samping tubuh anak buahnya yang pingsan.
Dia mengamati jarum perak kecil yang tertancap presisi di titik saraf leher.
"Jarum perak," gumam bos itu pelan.
"Orang ini dilumpuhkan tanpa perlawanan sama sekali."
Dia mengulurkan tangannya dan mencabut jarum itu dengan kasar.
Pria berkerudung itu seketika tersentak bangun sambil menghirup napas panjang.
"Hah! Hah!" pria itu terbatuk-batuk mencari udara.
Matanya melotot liar dipenuhi kepanikan.
"Tenanglah, bodoh," bentak bosnya.
"Jelaskan padaku kenapa rencanamu gagal total!"
Pria berkerudung itu menelan ludah dengan susah payah.
"B-bos, target kita... pemuda bernama Bima itu," suaranya bergetar hebat.
"Dia bukan manusia biasa."
"Aku melihatnya menyembuhkan puluhan orang yang terkena racun parasit hanya dalam waktu dua puluh menit!"
"Dia menggunakan teknik akupunktur yang mustahil."
"Dan dia menyalurkan energi yang sangat besar untuk memaksa racun itu keluar."
Bos Asosiasi Medis Gelap mengerutkan dahinya dalam-dalam.
"Dua puluh menit?" ulang bos itu tidak percaya.
"Racun Parasit Bayangan Kematian adalah racun tingkat tinggi yang diracik langsung oleh pusat."
"Bahkan profesor medis terbaik di dunia butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari penawarnya."
"Dan anak ingusan itu menyembuhkannya hanya dengan jarum?"
"Benar, Bos!" jawab pria itu panik.
"Dan setelah itu, dia menemukanku yang bersembunyi di dalam van."
"Dia menyerangku dari jarak yang sangat jauh."
"Aku bahkan tidak melihat pergerakannya sama sekali."
"Sialan!" bos itu mengumpat keras.
"Ini benar-benar di luar dugaan kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Bos?" tanya bawahan yang lain.
"Keluarga Herman pasti akan semakin waspada setelah insiden ini."
Bos itu membuang jarum perak yang dipegangnya ke lantai.
"Pemuda bernama Bima itu adalah ancaman besar bagi bisnis farmasi bayangan kita," kata bos itu dingin.
"Selama dia ada di sisi keluarga Herman, kita tidak akan bisa menghancurkan reputasi rumah sakit mereka."
"Kita harus menyingkirkannya secepat mungkin."
"Tapi kekuatannya sangat luar biasa, Bos," sela pria berkerudung itu ragu.
"Aku takut anak buah biasa tidak akan mampu mengalahkannya."
Bos itu menyeringai mengerikan.
"Kalau begitu kita tidak akan menggunakan anak buah biasa," ucapnya penuh kelicikan.
"Aku akan menghubungi markas pusat malam ini juga."
"Kita akan meminta mereka mengirimkan salah satu Pembunuh Bayangan tingkat elit."
Ketiga bawahan itu langsung terkesiap mendengar nama tersebut.
Pembunuh Bayangan elit bukanlah preman murahan.
Mereka adalah ahli bela diri tingkat tinggi yang juga menguasai ilmu tenaga dalam.
"Bima boleh saja hebat dalam menyembuhkan orang," lanjut bos itu.
"Tapi mari kita lihat apakah dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri jika jantungnya ditusuk dari belakang."
Bos itu berbalik dan berjalan menuju tangga keluar.
"Terus awasi pergerakan Bima dan Nona Clara itu," perintahnya tanpa menoleh.
"Cari tahu kelemahannya."
"Siapkan informasi lengkap saat pembunuh elit kita tiba besok."
"Baik, Bos!" jawab ketiga bawahannya serempak.
Gudang bawah tanah itu kembali sunyi menyisakan aura kejahatan yang pekat.
Sementara itu Bima yang sedang mengemudi menuju kampus tiba-tiba bersin kecil.
"Ada yang membicarakanku rupanya," batin Bima santai.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa badai besar sedang mengarah kepadanya.
Namun bagi seseorang yang pernah dilatih di ujung kematian, badai hanyalah hembusan angin lalu.
"Kenapa Bima?" tanya Clara yang duduk di kursi penumpang.
"Apa kamu flu?"
"Tidak," jawab Bima.
"Hanya firasat kecil."
Clara mengangguk dan kembali menatap jalanan di luar jendela.
Hari itu memang terasa panjang, tapi Clara merasa aman selama Bima ada di sampingnya.