Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar rawat.
Ayla sudah duduk di tempat tidur dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya,Di sampingnya ada tas kecil berisi beberapa barang miliknya.
Seorang dokter baru saja selesai memeriksa keadaannya.
"Keadaan kamu sudah jauh lebih baik"kata dokter sambil tersenyum.
Ayla tersenyum lega.
"Jadi aku boleh pulang kan dokter?."
Dokter mengangguk.
"Ya,Hari ini kamu sudah boleh pulang,Tapi tetap jaga kesehatan,Jangan terlalu capek dulu."
"iya,Dok."
Dokter lalu keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup,Ayla langsung menghela napas panjang.
"Akhirnya."
Di sudut ruangan,Bagas yang sejak tadi berdiri sambil melihat ponselnya menoleh.
"Kamu senang?."
Ayla langsung menatapnya.
"Tentu saja,tiga hari di Rumah sakit itu sangat membosankan."
Bagas berjalan mendekat ke tempat tidur.
"Beberapa hari lalu kamu bahkan tidak kuat duduk."
Ayla sedikit cemberut.
"Tidak usah diingatkan."
Bagas hanya tersenyum tipis.
Ayla kemudian menatap tas kecilnya.
"Sepertinya cuma ini barangku."
Bagas langsung mengambil tas itu sebelum Ayla sempat berdiri.
"Aku saja."
Ayla mengerutkan kening.
"Bagas,aku bisa membawa tas kecil itu."
Bagas menjawab santai.
"Aku tahu."
"Lalu?."
"Tapi aku yang bawa."
Ayla menghela napas pasrah.
"Kamu ini benar-benar"
Bagas menatapnya.
"Sudah siap pulang?."
Ayla mengangguk kecil.
"Iya."
Bagas lalu berjalan ke pintu dan membukanya.
"Ayo."
Beberapa menit kemudian mereka sudah keluar dari ruang rawat dan berjalan di lorong rumah sakit.
Ayla berjalan pelan di samping bagas.
Sesekali ia melihat sekeliling.
"Tiga hari di sini rasanya lama sekali."
Bagas meliriknya.
"Kamu bahkan sempat hampir seminggu kalau tidak dipaksa istirahat."
Ayla langsung menatapnya.
"Siapa yang memaksa?."
Bagas menjawab singkat.
"Aku."
Ayla memutar matanya.
"Dasar."
Bagas hanya tersenyum kecil.
Tak lama kemudian mereka sampai di parkiran rumah sakit.
Mobil hitam milik Bagas sudah menunggu di sana.
Bagas membuka pintu penumpang.
"Masuk."
Ayla menatapnya sebentar.
"Kamu seperti sopir."
Bagas menjawab datar.
"Kalau kamu tidak mau,Aku tutup pintunya."
Ayla langsung masuk ke mobil.
"Iya,Iya."
Bagas menutup pintu lalu berjalan ke sisi pengemudi.
Beberapa menit kemudian mobil itu keluar dari area rumah sakit.
Perjalanan menuju panti asuhan terasa cukup tenang.
Ayla menatap keluar jendela mobil.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
"Bagas."
"Hmm?."
"Terima kasih."
Bagas sedikit menoleh.
"Untuk apa?."
Ayla tersenyum kecil.
"Untuk beberapa hari ini."
Bagas kembali menatap jalan.
"Kamu terlalu banyak berpikir."
Ayla sedikit tertawa kecil.
Namun beberapa menit kemudian mobil itu mulai memasuki jalan menuju panti asuhan.
Bangunan panti sudah terlihat dari kejauhan.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang, beberapa anak panti yang sedang bermain langsung melihat ke arah mereka.
"Kak ayla!."
Anak-anak itu langsung berlari mendekat.
Ayla tersenyum lebar.
"Aku pulang."
Beberapa anak langsung memeluknya dengan hati-hati.
"Kak ayla sudah sembuh?."
Ayla mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah."
Sementara itu bagas berdiri di dekat mobil sambil memegang tas kecil ayla,Bagas memperhatikan pemandangan itu dengan tenang.
Salah satu anak panti kemudian menatap bagas.
"Kak bagas juga datang!"
Bagas hanya mengangguk kecil.
Ayla menoleh ke arah bagas lalu berjalan mendekat.
"Masuk dulu?."
Bagas menatap bangunan panti sebentar,Lalu bagas mengangguk.
"Sebentar saja."
Ayla tersenyum kecil.
"Baik."
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari di rumah sakit,Ayla akhirnya kembali ke tempat yang selalu ayla sebut rumah.
"Bagas."
"Iya."
Ayla menatapnya serius.
"Aku mau sekolah besok."
Bagas langsung menatapnya.
"Nggak."
Jawabannya begitu cepat sampai ayla mengerutkan kening.
"Kenapa nggak?."
"Kamu baru keluar dari rumah sakit."
Ayla langsung menyilangkan tangan di dada.
"Tapi aku sudah sembuh."
Bagas tetap tenang.
"Belum sepenuhnya."
Ayla menghela napas kesal.
"Aku cuma sekolah bukan mau lomba lari maraton."
Bagas menatapnya datar.
"Nggak."
Ayla sedikit meninggikan suaranya.
"Bagas!."
Bagas tetap santai.
"Iya."
Ayla menatapnya bagas.
"bagas aku harus sekolah,Aku sudah tertinggal banyak sekali pelajaran."
Bagas menjawab singkat.
"Gak."
Ayla memegang dahinya.
"Bagas,aku tidak bisa terus tidak masuk sekolah."
Bagas menatapnya beberapa detik.
"Besok kamu istirahat."
Ayla menggeleng keras.
"Nggak,Aku sudah tiga hari tidak masuk."
"Justru itu."
Ayla makin kesal.
"Guru-guru pasti bertanya."
Bagas menjawab tenang.
"Mereka sudah tahu kamu sakit."
Ayla terdiam sebentar,Namun ayla masih belum menyerah.
"Aku cuma duduk di kelas."
Bagas langsung menjawab.
"Kamu juga bilang begitu sebelum akhirnya masuk rumah sakit."
Ayla terdiam lagi,Ayla mencoba cara lain.
"Aku sudah merasa sehat."
Bagas mengangkat alis sedikit.
"Dokter bilang apa?."
Ayla terdiam.
Bagas melanjutkan.
"Jangan terlalu capek dulu."
Ayla memalingkan wajah sedikit.
"Itu cuma saran."
Bagas menjawab santai.
"Dan kamu harus menuruti saran itu."
Ayla kembali menatapnya.
"Bagas,Aku benar-benar tidak apa-apa."
Bagas mendekat sedikit,Tatapannya tetap tenang tapi tegas.
"Ayla."
"Apa?."
"Kamu gak ingat pingsan tiga hari yang lalu."
Ayla langsung terdiam.
Bagas menambahkan pelan.
"Aku gak mau kejadian itu terulang lagi."
Suasana mendadak lebih tenang.
Beberapa detik berlalu.
Namun Ayla masih mencoba melawan.
"Kalau aku tetap pergi?."
Bagas menjawab tanpa ragu.
"Aku gendong kamu seperti gendong karung beras."
Ayla langsung menatapnya kesal.
"Serius?."
"Iya."
Ayla mendesah panjang.
"Kamu menyebalkan."
Bagas tersenyum tipis.
"Aku tahu."
Ayla akhirnya menyerah dan menjatuhkan bahunya sedikit.
"Baiklah."
Bagas mengangguk.
"Besok kamu istirahat."
Ayla masih cemberut kecil.
"Lusa aku sekolah."
Bagas menjawab singkat.
"Kalau kamu benar-benar sudah pulih."
Ayla menatapnya lagi.
"Kamu ini seperti dokter aja."
Bagas berucap santai.
"Lebih galak dari dokter."
Ayla akhirnya tertawa kecil meski masih sedikit kesal.
"Bagas."
"Iya?."
"Kadang aku gak tahu harus kesal atau berterima kasih."
Bagas menatapnya sebentar,Lalu berucap pelan.
"Kalau bisa dua-duanya."
Ayla memutar matanya sambil tersenyum kecil.
Dan seperti biasa,meskipun ayla bersikeras sejak tadi,pada akhirnya tetap bagas yang menang.
Ayla menghela napas panjang lalu berkata pelan.
"Baiklah aku nggak sekolah besok."
Bagas hanya mengangguk kecil.
"Bagus."
Ayla langsung menatapnya.
"Kamu bahkan nggak berusaha terlihat menang."
Bagas menjawab santai.
"Aku memang menang."
Ayla langsung memukul pelan lengan bagas.
"Bagas!."
Bagas hanya tertawa kecil.
Ayla kemudian menatap ke arah halaman panti yang mulai sepi,Langit sudah berubah menjadi jingga keemasan.
"Kalau begitu besok kamu juga sekolah."
Bagas mengangkat alis.
"Tentu."
Ayla menatapnya curiga.
"Benar?."
Bagas menjawab tenang.
"Aku gak dirawat di rumah sakit."
Ayla kembali memutar matanya.
"Iya juga."
Beberapa detik mereka berdiri dalam diam,Lalu Ayla berkata pelan.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang."
Bagas menjawab singkat.
"Sudah kubilang gak perlu."
Ayla menatapnya.
"Tapi aku tetap mau bilang."
Bagas hanya mengangguk kecil.
Angin sore kembali berhembus pelan di halaman panti.
Beberapa anak panti terlihat melambaikan tangan dari dalam.
"Kak Ayla!Makan malam!."
Ayla langsung menoleh.
"Iya!Sebentar!."
Ayla lalu kembali menatap bagas.
"Kamu mau makan di sini?."
Bagas menggeleng pelan.
"Nggak,Aku harus pulang."
Ayla sedikit mengangguk.
"Baiklah."
Bagas berjalan menuju mobilnya.
Namun sebelum membuka pintu,bagas menoleh kembali ke arah ayla.
"Besok istirahat."
Ayla langsung menjawab cepat.
"Iya,dokter Bagas."
Bagas tersenyum tipis Lalu masuk ke mobilnya,Mesin mobil menyala dan perlahan meninggalkan halaman panti.
Ayla berdiri di sana beberapa saat, memperhatikan mobil itu menjauh,Tanpa sadar ayla tersenyum kecil.
"Bagas benar-benar keras kepala."
Namun di dalam hatinya,Ayla tahu satu hal,Semua yang bagas lakukan selalu karena bagas khawatir padanya.
...••••••...
Setelah makan malam bersama anak-anak panti,Ayla duduk di teras sambil menikmati udara malam.
Sudah tiga hari berada di rumah sakit membuat suasana panti terasa jauh lebih nyaman dari biasanya.
Beberapa anak panti masih bermain di halaman.
"Kak ayla!"
Seorang anak kecil bernama fia berlari mendekat.
Ayla tersenyum.
"Iya?."
Fia langsung duduk di sampingnya.
"Kakak sudah sembuh?."
"Sudah."
"Benar?."
Ayla tertawa kecil.
"Iya."
Fia terlihat lega.
"Soalnya waktu kak ayla pingsan aku sudah tidur,bangun-bangun bunda bilang kak ayla masuk rumah sakit."
Ayla mengangguk.
Fia menunduk sebentar.
"Fia takut."
Ayla langsung mengusap kepala fia pelan.
"Takut kenapa?."
"Takut kak ayla lama pulangnya."
Senyum ayla langsung melembut.
"Nggak akan."
Fia langsung memeluk lengannya.
"Bagus."
Tak lama kemudian beberapa anak lain ikut datang.
"Kak ayla!."
"Kak ayla sudah sembuh!."
"Kak ayla besok sekolah?."
Pertanyaan terakhir membuat ayla sedikit terdiam,Lalu ayla tertawa kecil.
"Nggak."
Anak-anak langsung terlihat heran.
"Loh?."
"Kenapa?."
Ayla menghela napas.
"Ada seseorang yang melarang."
Anak-anak saling pandang.
"Kak bagas?."
Ayla langsung menatap mereka.
"Kalian kok tahu?."
Seorang anak langsung menjawab.
"Soalnya kak bagas galak."
Semua anak langsung mengangguk setuju.
"Iya."
"Galak."
"Seram."
Ayla langsung tertawa.
"Kalau dia dengar bisa marah,Tapi benar."
Ayla menggeleng geli.
Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar nama bagas muncul di layar.
Ayla mengangkat alis.
"Baru juga dibahas."
Fia langsung mendekat.
"Kak bagas?"
Ayla mengangguk.
Anak-anak langsung heboh.
"Angkat!"
"Angkat!"
"Speaker!"
Ayla langsung tertawa.
"Kalian ini."
Akhirnya ayla menerima panggilan itu.
Suara Bagas terdengar dari seberang.
"Sudah makan?."
Ayla langsung menghela napas.
"Kamu telepon cuma buat nanya itu?."
"Iya."
Ayla memijat pelipisnya.
"Sudah."
"Obat sudah diminum?."
Ayla langsung menatap langit.
"Bagas."
"Apa?."
"Aku baru keluar rumah sakit."
"Makanya aku tanya."
Anak-anak yang mendengar itu langsung menahan tawa,Ayla bisa melihat mereka saling menyenggol.
"Sudah diminum."
"Bagus."
"Terus?."
"Terus apa?."
Ayla hampir tertawa.
"Kamu menelepon cuma untuk memastikan aku makan dan minum obat?."
"Iya."
Ayla menggeleng.
"Kamu benar-benar seperti dokter."
"Tadi juga kamu bilang begitu."
Anak-anak mulai tertawa kecil.
Bagas terdengar curiga.
"Kamu tertawa?."
"Nggak."
"Bohong."
Ayla akhirnya tertawa.
"Anak-anak panti sedang mendengarkan."
Hening beberapa detik,Lalu terdengar suara bagas.
"Kenapa?."
Ayla langsung tertawa lebih keras.
"Kamu malah nanya kenapa?."
"Tidak masalah."
Salah satu anak tiba-tiba berteriak.
"Halo kak bagas!."
Semua langsung ikut tertawa.
Bagas terdiam beberapa detik,Lalu menjawab.
"Halo."
Anak-anak langsung semakin heboh.
"Kak Bagas kapan ke sini lagi?."
"Kak Bagas bawa cokelat yah!."
"Kak bagas jangan galak-galak sama kak ayla!."
Ayla langsung menutup wajahnya karena malu.
Sementara dari telepon terdengar suara bagas yang sangat tenang.
"Aku nggak galak."
Anak-anak langsung kompak menjawab.
"Galak!."
Ayla tertawa sampai bahunya bergetar.
Untuk pertama kalinya hari itu,Bagas benar-benar dikeroyok banyak orang sekaligus.
Setelah beberapa menit bercanda,Ayla akhirnya menjauh sedikit dari anak-anak.
"Kamu dengar sendiri kan?."
"Dengar."
"Mereka bilang kamu galak."
"Itu fitnah."
Ayla tertawa lagi.
"Bagas."
"Hmm?."
"Terima kasih."
"Kamu sudah bilang."
"Aku mau bilang lagi."
Di seberang sana hening sesaat,Kemudian bagas menjawab pelan.
"Sama-sama."
Ayla tersenyum kecil.
Angin malam berhembus lembut di halaman panti,Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara,Namun suasana itu justru terasa nyaman,Sampai akhirnya bagas kembali membuka suara.
"Jam berapa sekarang?."
Ayla melihat ponselnya.
"Hampir jam sembilan."
"Masuk."
Ayla langsung mengerutkan kening.
"Apa?."
"Masuk ke dalam."
"Bagas."
"Istirahat."
Ayla langsung tertawa pasrah.
"Bahkan lewat telepon pun kamu masih mengatur."
"Aku tahu."
"Kamu memang tidak berubah."
"Tidur yang cukup."
Ayla menghela napas panjang.
"Baik,Dokter Bagas."
"Kali ini kamu dengarkan."
"Iya."
"Janji?."
Ayla tersenyum kecil.
"Janji."
"Bagus."
Panggilan pun berakhir.
Ayla menatap layar ponselnya beberapa saat,Kemudian tanpa sadar tersenyum.
Dari kejauhan,Fia berteriak.
"Kak ayla senyum-senyum sendiri!."
Wajah ayla langsung memerah.
"Fia!."
Anak-anak langsung tertawa ramai dan malam di panti asuhan pun kembali dipenuhi suara tawa yang hangat.