NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

Keesokan harinya Zafana kembali ke kampus dan kembali bertemu dengan Roos. Mengenai pesan yang dikirim oleh Zafana kepada Roos sungguh membuat Roos penasaran.

“Jadi..kemarin pak Oliver ke rumah lo?”tanya Roos dengan bola mata yang berbinar. Zafana mengangguk dengan lesuh,

“gue baru banget sadar kalau kemarin gue itu sok kepo banget sama pak Oliver"

“Kepo gimana? Lo nanya apa emangnya ke dia?”tanya Roos.

“Gue nanya....’jadi bener ya kalau bapak itu duda" "zafana mengulang pertanyaan yang kemarin ia lontarkan pada Oliver.

“Serius? Terus respon dia  gimana?”tanya Roos.

Zafana menghela, “ya dia jawab iya, terus...dia nanya juga katanya gue udah berapa kali ketemu sama anaknya, padahal gue ngerasa pernah ketemu sama anaknya” Roos mengangguk,

“apa anak yang waktu itu manggil lo mami anaknya pak Oliver?”

“Gue gak tau Roos, gue jadi....ngerasa aneh sama diri gue sendiri”jawab Zafana.

“Kalau iya, gue yakin alasan dia ke rumah lo kemarin itu gara-gara anaknya”ucap Roos.

“Ih, lo tuh kebanyakan nonton drama Roos, pilosofi lo tuh ngaco semua tau gak!”jawab Zafana dengan wajah yang semakin ditekuk.

Roos mendengus sambil melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah yang dibuat kesal. Sepulang kuliah Zafana kembali sendiri dirumah karena Alaska sedang bekerja dan Clara kembali pergi keluar kota untuk membantu pekerjaan Damian. Sebenarnya ia dan Roos berniat untuk menonton drama thriller dirumahnya hari ini, tapi karena cuaca yang mendadak panas membuat Roos membatalkan acara nonton mereka. Zafana menghela setelah berhasil menghabiskan semangkuk bakso yang ia beli saat perjalanan pulang tadi. Perutnya jadi sedikit membuncit karena efek kekenyangan yang timbul dari memakan bakso satu porsi sendiri itu. Biasanya ia selalu memakan bakso berdua dengan Alaska karena selalu merasa kenyang disaat bakso itu baru habis setengahnya. Tapi karena Alaska yang tidak ada dirumah membuat Zafana harus menghabiskannya seorang diri. Di sisi lain, Oliver dibuat fokus dengan jalan raya didepannya. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Zafana karena sejak tadi Enzi dan Aileen terus merengek meminta Zafana untuk datang. Sejak kemarin mereka terus dipaksa untuk bermain dengan Kirana dan itu membuat mereka tidak ingin lagi pergi kemana-mana selain bertemu dengan Zafana. Selain karena itu, Oliver juga ingin melihat senyuman Zafana lagi setelah ia melihatnya tempo hari. Oliver menghentikan mobilnya saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Ponselnya berdering memunculkan nama Sintya dilayar ponselnya. Oliver pun segera mengangkat telpon itu dengan memasangkan earphone Bluetooth ditelinganya.

'Ada apa?' Alvano segera membuka percakapan.

'Kamu setiap aku telepon kenapa ketus banget sih?’

'Ada perlu apa? Saya lagi dijalan, gak bisa diganggu' Terdengar Sintya sedikit berdecak disana.

‘Mama bilang kamu dikantor jadi aku kesini, sekarang kamu dimana?’

‘Saya lagi ada urusan’

'Yaudah Jemput aku didepan kantor kamu sekarang, cepet!'

'Sejak kapan saya jadi supir kamu?'

'Mas, itu kewajiban kamu lho, kamu lupa omongan mama?' '

Apa? Kewajiban? Siapa saya dan siapa anda?' 

Setelah itu Oliver segera memutuskan panggilan telepon tersebut saat lampu lalu lintas kembali berwarna hijau, Oliver pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah Zafana.

Dalam hitungan menit mobil Oliver sudah sampai didepan pagar rumah Zafana dan bisa dilihat dengan jelas jika Zafana sedang membuang sampah dengan  baju rumahannya. Oliver segera turun sebelum Zafana melangkah kembali kedalam rumahnya.

“Lho, pak Oliver?” Zafana baru menyadari keberadaan Oliver dan mobilnya.

“Maaf ganggu waktu kamu”ucap Oliver.

“Iya pak, ada apa ya pak?”tanya Zafana.

“Bisa ikut saya sebentar?”tanya Oliver.

“Ikut? Ikut kemana ya pak?”

Oliver yang baru pertama kali melihat Zafana mengenakan celana pendek diatas lutut dengan kaos ungu kebesaran itu sedikit dibuat terkejut dengan tubuh mungil Zafana. Sedangkan Zafana langsung merasa salah tingkah saat mendapat tatapan seperti itu dari Oliver.

Oliver tersadar lalu membuang pandangannya kearah lain. "Hanya sebentar, setelah itu saya antar kamu pulang lagi"

"T-tapi saya---"

"Hanya dua jam, gak lama"ucap Oliversedikit memohon.

"I-iya deh pak, saya ganti baju dulu"Zafana akhirnya menyetujui lalu berjalan masuk kedalam rumahnya.

Oliver menatap ponselnya yang terus menyala didalam mobilnya. Ia menunggu Zafana dengan sabar diluar mobil sambil bersandar di salah satu sisi pintu mobil itu. Beberapa menit kemudian Zafana kembali lagi dengan pakaian kasual seperti biasanya. Tapi yang berbeda, kali ini ia memakai rok bukan celana.

Oliver terdiam menatap penampilan Zafana dari atas kepala sampai ujung kaki. Zafana merapikan bajunya sebentar lalu kembali menatap Oliver.

"Maaf, pak"ucap Zafana yang merasa sangat tidak enak.

Zafana mengerutkan keningnya saat melihat Oliver yang menatapnya seperti itu.

"Pak?"ucap Zafana sambil melambaikan tangannya didepan wajah Oliver membuat pria itu tersadar dari lamunannya.

"Baju saya jelek ya pak? Atau rok saya yang terlalu pendek? Saya ganti deh ya pak"ucap Zafana sungkan.

"Eng---gak usah, kamu pakai itu aja"jawab Oliver kemudian membukakan pintu mobil untuk Zafana.

"Serius pak? Kalau jelek bisa saya ganti"tanya Zafana

Oliver mengalihkan pandangannya. "Masuk, saya udah ditunggu"

Tanpa banyak bicara Zafana segera masuk kedalam mobil milik Oliver tersebut lalu mereka segera melaju menuju rumah Oliver.

Diperjalanan Zafana hanya diam sambil memainkan ponselnya. Ia tidak tau lagi aplikasi apa yang harus ia buka karena semua aplikasi tampak membosankan saat ini. Sedangkan Oliver sejak tadi sangat merasa gemas dengan kaki Zafana yang putih mulus.

Tidak ingin membuat Zafana tidak nyaman Oliver pun memberikan jaketnya yang tersimpan ditempat duduk bagian belakang kepada Zafana.

"Tutup kaki kamu"ucap Oliver

Zafana menerima jaket itu lalu menutupi kakinya.

‘Ternyata dia baik juga ya’-batin Zafana.

Sampainya mereka didepan rumah Oliver, Zafana malah dibuat bingung dengan bangunan mewah didepannya.

"Bapak gak ada niatan buat culik saya, kan pak?"tanya Zafana

Alvano menoleh. "Untuk apa saya nyulik kamu, merepotkan.

"ketus Oliver membuat Zafanamemutar bola matanya malas.

"dan saya minta nanti ketika didalam bicaranya jangan kaku seperti ini. Panggilannya aku-kamu dan jangan panggil saya bapak"ucap Oliver membuat Rheyna mengangkat kedua alisnya bingung

"Lho, kenapa pak?"tanya Zafana.

Oliver menempelkan jari telunjuk didepan bibirnya, “ini bukan kelas, jadi jangan banyak bertanya"

Oliver turun lalu membukakan pintu mobil untuk Zafana. Ia pun segera keluar dan menatap punggung Oliver yang sudah berjalan lebih dulu. Melihat itu Zafana hanya mendengus lalu mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua pun akhirnya masuk kedalam rumah yang ternyata sangat sepi. Oliver menoleh lalu menggenggam tangan Zafana menuju sebuah kamar. Terlihat dua balita yang sedang tertidur dengan seorang gadis yang juga berbaring sambil memainkan ponselnya, ia menatap kearah Oliver lalu mendudukan dirinya.

Zafana mengernyit saat melihat Enzi, ia merasa tidak asing dengan bocah itu. Tapi ia juga lupa pernah melihatnya dimana. Maklumi saja, Zafana ini termasuk REMAJA JOMPO INDONESIA jadi agak pikun-pikun sedikit.

"Baru pada tidur??"tanya Alvano membuka suara

Aqila mengangguk, “dari tadi ngerengek mulu nanyain abang”

Oliver melirik kearah Zafana, “oh gitu”

"Abang tadi mama Rina nelepon ke Qila nanyain abang”ucap Aqila

Alvano hanya menghela setelah mendengar ucapan Aqila lalu mendudukan dirinya disamping Aileen.

“Kenapa, bang?”tanya Aqila

"Tadi Sintya maksa abang buat jemput dia, mungkin karena abang gak mau jadi dia ngadu ke mama"jawab Oliver

Aqila menghela, “lagi-lagi tuh cewek, tapi untung aja gak abang jemput"ucapnya.

Alvano merebahkan tubuhnya memeluk Aileen membuat Zafana bingung dengan keberadaan nya disini  sebenarnya untuk apa.

Aqila melirik kearah Zafana yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka berdua,

"kakak ini siapa, bang?”

"Kenalan aja”jawab Oliver singkat.

1
JULIAN
Mohan bantuanya karna saya masi pemula klu ada kesalahan dlm penulisnya tolong dibantu untuk saya perbaiki🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!