Shofiyya Mardhia, 30 tahun menikah dengan seorang pria yang ternyata telah menikah dan Memiliki 2 orang putra.
Syafiq Azwar Maliki, 28 tahun terpaksa menikah yang kedua atas keinginan istri pertamanya.
Nuha Syafura, 26 tahun terpaksa meminta dimadu karena sakit yang dideritanya.
Semua menjadi dilema saat Shofii mengetahui kebenaran setelah janji suci terucap.
Sanggupkah mereka terus harmonis?
Bagaimana ketiganya membawa hati yang ingin memiliki namun tak ingin menyakiti ...
Mampukah Syafiq adil, tak berpihak dan tak condong pada salah satunya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
Shofi bergeming. Sesak yang ia rasa semakin menyakitkan, mual hebat memenuhi rongga mulutnya. Ia berlari ke kamar mandi, cairan kuning dan pahit mulai keluar. Berkali-kali ia menekan perutnya ... otaknya menolak kehadiran janin yang tumbuh di sana. Hingga tubuhnya seketika lemas dan ia terjatuh ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raihan tak tenang, pesan yang terakhir ia tulis tak mendapat respon Shofi. Ia berusaha melakukan panggilan tapi tak diangkat. Raihan yang tak tenang merasa harus memastikan segalanya. Ia melajukan Jeepnya menuju rumah Shofi. Syukurnya gerbang rumah Shofi tak terkunci, ia memasukkan jeepnya ke pelataran.
Raihan memanggil-manggil nama Shofi tapi tak ada respon, mencoba menghubunginya tak diangkat juga. Hingga ia yang mulai panik mulai mencari cara untuk masuk ke dalam. Rasa khawatir memenuhi otaknya, Raihan sangat takut terjadi sesuatu pada wanita yang masih mendiami hatinya tersebut.
Pintu dan jendela terkunci rapat. Ingin naik melalui balkon, tapi ia sangsi dengan kondisinya. Ia pun mulai memutari area rumah, mungkin saja ada celah yang membuatnya bisa sampai ke raga Shofi. Hingga ia melihat pintu di bagian belakang rumah. Kalimat basmalah penuh pengharapan dilantunkan sebelum jemarinya memutar handle pintu.
Dan akhirnya ...
"Alhamdulillah ...," ucap syukur dipanjatkan lantaran pintu itu berhasil terbuka, tak terkunci.
Tak menunggu lama Raihan menyisir satu persatu ruangan, hingga tinggal satu ruangan kini yang belum dipijaknya, kamar Shofi. Dengan keras ia menghentak pintu yang terkunci di hadapannya. Hingga setelah beberapa saat pintu terbuka, raga Shofi tak terlihat di sekitar ranjang. Namun sebuah telapak kaki terjulur dari arah kamar mandi, Raihan mendekat dan dengan cepat merengkuh raga tak sadarkan diri tersebut.
_______________
"Permisi! Permisi ...!" Dengan langkah cepat Raihan menerobos hiruk-pikuk manusia yang menghalangi jalannya di muka Rumah Sakit. Shofi langsung ditangani di ruang UGD.
Tak ingin identitasnya atau Shofi dikenali, Raihan membawa Shofi ke Rumah Sakit lain bukan Rumah Sakit yang dikelolanya.
"Anda suaminya?" tanya perawat.
"Iya!" Karena panik Raihan spontan mengiyakan.
•
•
•
Satu jam kemudian ....
"Sayang ... sadarlah ...!" lirih Syafiq terus menyapu kepala Shofi.
"Doakan Bii ...!" Fura di samping Syafiq menguatkan suaminya.
Setelah Shofi masuk ke ruang isolasi namun tak jua sadar, Raihan menghubungi Syafiq melalui Fura. Bagaimana pun Syafiq orang yang bertanggung jawab dengan yang terjadi, ia harus tau kondisi Shofi.
Raihan menggeleng-geleng di kejauhan mengamati interaksi Syafiq pada Shofi juga keberadaan Fura yang duduk di sampingnya. Walau sudah sering mendengar perihal suami beristri lebih dari satu, tapi ia belum pernah melihat hubungan semacam ini secara langsung sebelumnya.
"Ajaklah istrimu keluar, ia pasti letih! Biar aku yang menjaga Shofi!" ucap Raihan.
"Kamu .... Kamu yang memberitahu segalanya pada Shofi, bukan? Harusnya aku sadar sejak awal bahwa kamu adalah Raihan yang sama dengan mantan suami Shofi. Sekarang jawab apa motifmu sebetulnya? Kamu pasti ingin memiliki Shofi kembali, iya kan?" gusar Syafiq mendorong tubuh Raihan hingga bersandar dinding.
"Kamu sangat lancang mencampuri urusan rumah tanggaku! Beruntung tidak terjadi hal buruk pada bayi kami, kalau tidak-----
"Kalau tidak apa? Tidakkah kamu malu Bapak Syafiq! Lelaki pembohong! Menyesal aku mengabarimu tadi!" decih Raihan kecewa dengan perkataan Syafiq.
"Bi ... sudah Bi!" Fura yang sesak melihat kemarahan Syafiq menghela napas lalu mendekati raga Syafiq dan menahannya.
"Ada apa ini, tolong jangan berisik dan mengganggu pasien! Kondisi pasien belum stabil, tolong hanya suaminya saja yang berada di dalam. Anda dan wanita ini sebaiknya menunggu di luar!" Perawat mengarahkan katanya pada Syafiq dan Fura.
"Tapi Sus, saya suaminya!" tegas Syafiq.
"Lho bukankah bapak ini suami pasien?" bingung perawat, hingga terdengar lirih suara memanggil
"Sus ... Sus ..., saya haus!" Shofi yang mendengar bising merespon, ia terjaga!
"Sayang ...." Dengan cepat Syafiq mendekati raga Shofi dan menggenggam jemarinya. Shofi membalik-balikkan jemari berusaha melepaskan jarinya, wajahnya menatap kosong ke luar jendela. Gusar dan kecewa!
"Sus, saya tidak ingin ada lelaki itu di sini! Suruh dia pergi!" lirih Shofi.
"Shof ... dengar dulu penjelasanku!" Syafiq memutari ranjang mengarahkan wajahnya ke arah pandang Shofi.
"Sus ... suruh dia pergi!" Shofi menarik selimut menutup wajahnya.
"Anda tidak bisa mengusir saya, Sus! Saya suaminya!"
"Lho jadi yang mana suami pasien, mas ini atau ini!" bingung Suster.
Shofi membuka penutup wajahnya. "Lelaki itu bukan suami saya!" tunjuk Shofi ke arah Syafiq.
"Shof ...?" lirih Syafiq.
"Bii ... biarkan Shofi mencerna segalanya dahulu, biarkan dia sendiri!" Walau tak suka yang dilihatnya, lagi-lagi Fura memilih menguatkan sang suami dan bersahabat dengan keadaan.
Mendengar ucapan Shofi, perawat meminta Syafiq dan Fura keluar meninggalkan kamar. Sedangkan Raihan yang dikira suami Shofi dibiarkan di dalam.
"Kamu yang mengabari dia, Mas?" tanya Shofi dengan wajah nanar menatap jendela.
"Maaf ... kufikir ia harus tau, tapi ternyata kehadirannya hanya menambah sesakmu!"
"Suamiku membohongiku, Mas! Kenapa kalian yang hadir dalam hidupku selalu memberi sesak?" Bulir jatuh dari mata Shofi.
"Ma-af, bahkan aku tak lebih baik dari Syafiq." Raihan menunduk.
"Kamu yang membawaku ke sini, bukan? Ba-gaimana kondisi ca-lon bayiku?"
"Shof, dengar! Semarah apapun kamu pada ayahnya, jangan menyakiti dirimu, terlebih pada calon bayimu! Ia tidak berdosa! Ada pendarahan sedikit tapi ia baik-baik saja!" Shofi bergeming.
"Setelah ini aku harus bagaimana, Mas!" rahut kacau masih tampak jelas. Shofi menatap sekilas ke arah pintu, Syafiq menatapnya mengiba, ia mengalihkan wajahnya kembali.
"Itu difikirkan nanti! Sekarang pulihkan dulu dirimu dan jangan berfikir banyak hal yang tak sanggup otakmu terima."
Masih dalam pengaruh obat, kelopak mata Shofi semakin menyipit dan ia terlelap kembali.
Adzan maghrib berkumandang, Raihan menjalankan ibadah di samping ranjang Shofi. Shofi terbangun dan minta dibantu berwudhu. 2 Buah tabung infus agaknya membuat Shofi lebih baik. Ia beribadah dengan posisi duduk.
Setelahnya Raihan berusaha menyuapi Shofi tapi ia masih dalam angannya, tak ingin merespon. Netranya kembali menatap pintu namun ia tak menangkap wajah Syafiq. Ia berucap. "Apa ia ma-sih di-sini, Mas?"
"Suamimu pulang mengantar istrinya. Ia akan segera kembali katanya."
"Suamiku mengantar istrinya. Hahh ...! Situasi apa ini? Aku sungguh bodoh!" Shofi berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Shof!" Raihan berusaha menenangkan Shofi.
Shofi tampak resah, ia berucap, "Mas, kamu mau menolongku lagi?"
"Tolong apa?"
"Carikan aku rumah kontrakan sekarang juga! Aku ingin menghilang dari pria i-tu, tolong!"
"Ta-pi Shof?" Shofi mengiba, beberapa saat ia berucap kembali. "Melihat wajahnya sangat menyesakkanku, dan menatap wajah istrinya ... aku merasa sangat berdosa! Bawa aku yang jauh dari Rumah Sakit ini, Mas!"
"Besok kita akan keluar dari sini, tapi kamu harus lebih baik dulu!"
"Apa tidak bisa kita keluar dari rumah sakit malam ini, Mas! Aku sudah lebih baik, sungguh! Semakin cepat akan lebih bagus!" Raihan menatap lekat Shofi. Mencari kemantapan dan keyakinan Shofi akan keputusan yang diambilnya, dan ia menemukannya.
_______________
Beberapa saat setelahnya ....
Shofi benar-benar pasrah kemana Raihan membawanya, ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Ia melamun banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Hingga jeep Raihan berhenti di muka sebuah rumah besar, Shofi terhenyak.
"Di-mana i-ni, Mas?"
"Ayo kita turun!"
"Jawab dulu i-ni rumah siapa?"
"Rumahku!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘