NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:476
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Anugerah

Anin... Dahulu ia pernah berada pada titik terpuruk. Hidupnya tak pernah berjalan mulus.

Kesakitan mana yang belum pernah dilewati? Saat tak ada hal yang lebih menyakitkan daripada tumbuh diantara keretakan dan berujung pada kehancuran. Anak tengah yang kerap tersisihkan membuatnya tumbuh menjadi sosok yang mudah rapuh. Lalu saat menginjak SMA dia menempuh pendidikan di Jawa, jauh dari orang tua.

Ia pernah punya mimpi. Bermimpi setinggi langit dan terbang melintasi awan menuju tak terbatas. Namun, dunia seakan tak memberinya celah untuk bahagia dan sejenak memenangkan harap.

Dulunya ia seorang pramugari, bahasa kerennya flight attendent, tetapi–ia tersandung batu fitnah yang membuat imagenya lantas tercoreng. Demi Tuhan, Anin masih dendam jika mengingat bagaimana dulu ia dibuat jatuh walau mereka telah mendapat ganjaran, tapi lukanya tak pernah benar-benar sembuh. Ia jadi trauma, tak mudah percaya pada sebagian orang.

Berbicara soal cinta? Anin juga pernah kalah. Ia pernah mengharapkan seseorang, tetapi harus dipatahkan. Lagi dan lagi Anin kalah bukan? Kalau soal kalah Anin memang pemenangnya. Namun, itu dulu ... Sebelum seorang Harsa hadir membawa sejuta bahagia nan menentramkan setelah perjalanan yang cukup panjang berhasil mereka tempuh demi menuju sebuah pernikahan.

Walau pada dasarnya Anin sadar, bukan hidup namanya bila semua selalu berjalan mulus. Tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna, dan tak ada pula pernikahan yang tanpa celah. Kerikil kecil jelas ada, sebagai ujian dalam perjalanan hidup. Sebab, kita semua tak lebih hanyalah wayang yang mengikuti alur. Meski begitu, sekali lagi Anin bersyukur karena Harsa dan Azura adalah kekuatan yang diberi Tuhan untuk membuatnya tetap semangat mengarungi hari diantara banyaknya hal yang membuat patah dan lelah.

Seperti pagi ini ... Anin dan semangat empat limanya tengah sibuk bergelut di dapur, mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Sementara di kursi mini bar Harsa nampak sibuk di depan laptop dengan beberapa berkas di sampingnya.

Kahidupan harmonis yang hampir menyentuh kata sempurna jika dibuang sikap menyebalkan dan hal-hal yang kadang memicu pertengkaran. Di luar itu semua, Harsa adalah sosok suami idaman, dia memang bukan tipe yang romantis dan bermulut manis. Namun, setiap hal kecil yang Harsa lakukan selalu membuat Anin merasa sangat bersyukur.

“Minum dulu susunya mas, keburu dingin nanti!” seru Anin dari balik meja dapur. Wanita 27 tahun itu tengah sibuk mengaduk nasi goreng yang baru saja ia tuangkan kecap manis dan ditambahi sedikit penyedap setelah mengoreksi rasanya yang kurang pas.

Laki-laki berkacamata yang tak bisa mengabaikan titah dari yang mulia ratu di rumah itu langsung meneguk susu yang sejak tadi ia angguri lantaran terlalu fokus. Setelahnya Harsa nampak merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. Bagaimana tidak?Sejak selesai sholat subuh ia sudah sibuk memeriksa berkas untuk persidangan nanti, hingga membuatnya tak sempat untuk membantu Anin mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana biasa.

“Tolong air putihnya segelas dong, Nin,” pintanya sembari melepas kacamata lalu mengucek ujung mata saat pandangnya terasa kabur karena terlalu lama menatap layar dan bergelut dengan tulisan panjang.

“Udah selesai?” Anin bertanya seraya menyodorkan mug kaca berisi air putih ke hadapan laki-laki dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya yang membuatnya tampak manis tiap kali tersenyum.

“Kalau udah, tidur aja lagi. Nanti aku bangunin kalau udah jam delapan.”

“Lumayan, masih ada sejam lebih buat istirahat,” lanjut Anin masih berceloteh saat mengecek jam di layar ponsel suaminya, baru menunjukkan jam enam lewat sembilan belas menit. Jujur, ia kasihan melihat jam tidur Harsa yang tidak teratur hampir setiap kali akan melangsungkan sidang.

Anin hanya menghela napas saat melihat Harsa hanya menampakkan wajah datar. Anin lalu melangkah mematikan kompor yang masih menyala, kemudian kembali lagi ke depan mini bar. Memerhatikan wajah yang tengah menguap itu dengan intens. Hal yang selalu membuat perasaan Anin penuh.

Kadang kala Anin masih tak menyangka. Ia merasa lucu, bagaimana dulu ia bisa menerima ajakan random dari laki-laki yang hampir sembilan tahun lebih tua darinya ini hanya karena dia menawarkan keseriusan dan menjanjikan kehidupan yang layak untuk masa depan.

“Kamu punya pacar?” Pertanyaan Harsa tiga tahun lalu pada suasana lebaran saat ia tengah main di rumah Maurin, sahabat karib semenjak ia menempuh pendidikan di Semarang.

Kala itu masih suasana lebaran dan laki-laki yang kini suaminya itu masih berada di kota kecil, kampung halaman mereka. Sekedar informasi, sejak kuliah sampai memulai karir sebagai jaksa–Harsa memang sudah tinggal di Jakarta. Sehingga setelah menikah, mau tak mau Anin harus ikut ke mana pun Harsa membawa.

“Anin gak pacar-pacaran. Mau langsung nikah aja nanti, kan, Nin?” Dan yang menjawab itu adalah Maurin, teman sekaligus adik keempat dari Harsa.

Maurin berkata sambil menyikut tubuhnya yang kala itu hanya memutar mata malas karena ke-asbunannya, membuat pria yang tengah memberi makan ikan dari sisi teras belakang itu malah tersenyum sambil manggut-manggut penuh arti.

“Kalau nikah sama aku, mau gak?”

Satu kalimat yang tak Anin tanggapi karena hanya ia anggap sebagai angin lalu itu ternyata malah jadi hal yang paling membuatnya terkejut. Bagaimana tidak? Setelah itu, Harsa malah menjadikan Maurin makcomblang. Temannya itu malah tiba-tiba sibuk mempromosikan Harsa–kakaknya untuknya.

Harsa tak henti-henti menghubungi, tak gencar mendapati. Awalnya Anin agak risih dan kikuk karena sebelumnya tak pernah dekat dengan pria yang lebih dewasa, apalagi Harsa terbilang sangat matang dengan usia mereka yang terpaut hampir sepuluh tahun.

Namun, usaha laki-laki itu pada akhirnya membuat Anin luluh juga. Walau butuh waktu beberapa bulan sebelum akhirnya akad menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan. Bersama Harsa, Anin merasa seperti punya rumah. Bersama Harsa, Anin seperti mendapatkan kasih sayang yang selama ini ia butuhkan. Bersama Harsa, Anin merasa segala kebutuhan dan keinginannya dalam diperlakukan bisa terpenuhi.

 Namum, yang paling aneh bukan hanya itu. Melainkan bagaimana bisa diantara banyaknya pilihan di luar sana, Harsa malah memilihnya. Padahal hidup di kota besar dengan gemerlapnya kehidupan di sana Harsa harusnya bisa mendapatkan yang lebih dan setara dengan ia yang karirnya cemerlang, tetapi nyatanya pria itu malah dengan mutlak memilihnya–seorang Anindyaswari. Bahkan kini mahligai rumah tangga mereka sudah berlayar lumayan jauh.

“Mas,” panggil Anin saat samar-samar ingatan tentang awal mula mereka bersama perlahan memudar. Berganti dengan sosok Harsa yang tengah beranjak dari duduknya, mengitari meja bar hanya untuk menghampirinya. Membuat Anin lantas tersenyum geli, dari gelagatnya saja Anin bisa menebak apa yang diinginkan suaminya ini.

“Ngantuknya bisa ditahan, tidur juga bisa diganti nanti. Tapi ...” Harsa menggantung ucapan saat tangannya sudah berhasil memeluk tubuh yang masih terbalut apron dan menariknya hingga ke dalam kukungan.

 Dicumbunya ceruk leher Anin, ia hirup dalam aroma sang istri sembari menyesap kulit leher hingga bahunya dengan penuh gairah. Harsa tiba-tiba turn on. “... ada hal yang lebih urgent dan gak bisa ditunda,” lanjutnya setelah membalik tubuh Anin tepat menghadap dirinya. Tatapan Harsa sudah sangat berkabut sayu. Ini masih pagi buta dan Anin selalu berhasil membuatnya menyala.

“Dimohon kerja samanya, bu Anin yang terhormat!”

Tangan Anin lantas mengalung di leher Harsa, kalimat yang barus saja suaminya itu sampaikan sungguh membuatnya sangat terhibur. Ya, sebentar lagi mereka akan mengerjakan proyek besar tentu kerja sama sangat dibutuhkan.

“Boleh?”

“Bentar aja.”

“Mumpung Zura masih tidur.”

Anin yang sejak tadi dilanda sensasi mendebarkan hanya tersenyum mendengar perkataan Harsa. Dibalik sikap kalem lelaki ini, ia memang terkadang sangat lihai berkata-kata. Tidak heran, dia adalah seorang jaksa. Anin tak boleh lupa jika seorang Jaksa tentu harus pandai berkata-kata. Jika tidak, bagaimana ia akan mencecar pelaku dan mendakwanya dalam persidangan?

Anin masih tersenyum. Sungguh ia merasa lucu. Sebab tahu betul suaminya tidak sedang meminta izin, melainkan menyampaikan penegasan mutlak yang tak bisa ditawar.

Ia tergelitik karena Harsa malah membuat situasi seolah-olah ia yang menjadi penentu, padahal sejak awal Harsa sudah memegang kendali. Terbukti dengan tangannya yang kini sudah menyusup ke balik baju. Satu mendaki puncak dadanya, berujung pada memilin pelan di sana dan yang satu lagi sudah bergerilya ke dalam celana pendeknya, mendarat di antara selangkangan, menjamah pusat senggamanya. Membuat Anin meremang, tubuhnya menegang. Ia sangat menikmati sentuhan Harsa yang selalu berhasil membuat tubuhnya seperti dialiri listrik bertegangan tinggi.

“Ah....”

“Mas–hmmm ... kapan sih kamu berhenti memanipulasi keadaan?” lirih Anin di sela desahan yang lolos saat jemari Harsa membelainya dengan sangat lembut.

Laki-laki itu menyeringai, menampakkan cekukan di pipi, membuat Anin kian berdebar. Salah satu bagian yang membuatnya jatuh hati adalah senyuman smirk pak Jaksa ini–apalagi ketika mereka tengah berbagi peluh, Harsa selalu tampak seksi dan menawan.

Tangan yang tadi mencengkram kaos Harsa itu bahkan ikut bergerilya, menjamah tubunya dengan tak kalah brutal.

“Sepertinya kali ini kita ga bisa lama-lama.”

“Waktunya mepet.”

Anin hanya bisa mengangguk paham bersamaan dengan tubuhnya yang terangkat saat Harsa menggendongnya seperti bayi koala. Dengan posisi celana yang ternyata sudah melorot–Anin setengah naked.

Jika ini pertama kali, mungkin Anin akan malu, tapi sayangnya mereka telah sering seperti ini dan bahkan hampir semua bagian di rumah ini pernah menjadi tempat bercinta. Mungkin karena anak mereka masih kecil, sehingga lebih leluasa dan tak perlu khawatir terpergok.

“Ck!” Harsa berdecak geram setelah melepas ciuman bergelora mereka. Ia sudah hampir membawa Anin masuk kamar, tapi disambut pemandangan Zura yang menggeliat tanda akan bangun membuat Harsa panik.

Hasratnya harus segera dituntaskan, tapi pikirannya malah bergelut memikirkan bahwa mereka harus buru-buru bukan karena waktu, melainkan karena takut Zura bangun dan akan menangis bila tak mendapati mereka di sisinya.

“Kenapa?” Anin yang juga sudah sangat bergairah agak kesal saat ciuman panas mereka harus berhenti. Tangan yang melingkar di leher Harsa itu bergerak mengusap rambut hitamnya dengan lembut.

“Kita harus cepet, nanti Zura bangun,” jawab Harsa cepat dan langsung merebahkan Anin ke sofa di ruang keluarga lantai dua itu.

Dan entah untuk yang keberapa kalinya mereka kembali menyatu, saling memacu kala hasrat kian memuncak, menuntut diri bersama-sama mencapai puncak kenikmatan.

.

.

“Ma..., hari ini Zura cantik, kan?” celoteh Harsa yang baru saja muncul dari luar dengan Zura yang sudah tampil cantik memakai pakaian yang Harsa pilihkan. Ceritanya mereka baru saja membagi tugas, sama-sama berperan dalam mengurus anak.

Ya, tadi selepas memandikan Zura, Anin langsung menyerahkan putrinya pada Harsa yang sudah mandi sejak tadi mereka selesai bercinta, bahkan kini laki-laki itu pun sudah siap dengan setelan kemeja biru dongker dengan celana bahannya. Rambut hitam yang sudah tersisir rapi itu tampak berkilau, ia tampak menawan meski sedang menggendong putri mereka.

Sementara Anin, ia yang barus saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya lantas tersenyum melihat tampilan Zura yang outfitnya kelihatan matching. Soal mendandani Zura, Harsa juga tak pernah kalah–dia ahli dalam hal itu.

“Wih, cantiknya anak mama.”

Mata berbinar Anin dan pujianya disambut dengan rentangan tangan yang disertai tawa antusias dari Azura, bayi yang tadinya sangat anteng dalam gendongan Papanya itu seketika makin bersemangat begitu melihat ibunya.

“Pilihan papa emang gacor semua ya nak, ya.” Anin mendusel pipi gembul Zura sembari menggenggam tangan mungilnya. Membuat bayi gembul itu tergelak, tangannya meronta-ronta hendak menarik handuk yang membungkus rambut sang mama. Ia ingin meraih mamanya.

“Siapa dulu dong stylistnya?” Harsa bertanya bangga dengan wajah pongah. Tak lupa lesung pipi yang muncul setiap kali ia tersenyum membuatnya tampak manis dan menawan.

“Iya deh papa si paling gacor.” Anin mencebik gemas, tangannya terarah mencubit perut Harsa lalu melangkah ke depan meja rias. Bersiap memulai serangkaian perawatan wanita.

“Auh, sakit, tau!” Harsa meringis sembari mengusap perutnya. Kebiasaan buruk Anin padanya.

Ia lalu mengikuti langkah Anin dan langsung melepaskan Zura untuk bergerak bebas, bayi 17 bulan itu memang sedang aktif-aktifnya mengerjakan proyek di mana pun yang ia suka. Sementara Harsa, bapak satu anak itu lebih memilih duduk di sofa sambil sesekali mengecek ponsel.

“Kok belum berangkat? Udah jam sembilan loh ini.” Anin memperingatkan lewat pantulan cermin saat ia baru saja melihat jam. Melihat suaminya yang malah duduk santai sambil memerhatikan ponsel dan sesekali menatap anak mereka membuat Anin gemas sendiri.

“Ini mau berangkat." Dan tepat setelah diperingatkan sang istri, Harsa langsung bangun dari duduknya setelah menengok jam di tangan.

“Nanti sore jadi belanja bulanannya, kan? Anin kembali bertanya, mengingatkan rencana mereka.

“Iya. Pokoknya tunggu aku pulang, jangan pergi kalau cuma berdua.”

Anin yang biasanya selalu pergi belanja bulanan sendiri tiba-tiba heran saat Harsa melarangnya bepergian jika tanpa dirinya. Harsa melarang tanpa alasan yang jelas membuat Anin bingung, padahal biasanya boleh-boleh saja, lalu kenapa tiba-tiba sekali harus menunggu padahal ia dan Zura juga bisa pergi berdua.

“Emangnya kenapa sih, Mas? Biasanya juga kan nggak apa-apa kalau kamu lagi sibuk.”

Harsa menoleh sejenak, balas menatap istrinya melalui pantulan cermin, wanita itu tengah memakai deodorant. Harsa menghela napas sebelum berkata, “ya nggak ada apa-apa sih sebenarnya, cuma pengen nemenin aja.”

“Kasian juga kamu kalo belanja banyak mana sambil gendong Zura, emang gak kewalahan?”

Kini balik Anin yang menghela napas. Ucapan Harsa memang ada benarnya, hanya saja sebenarnya ia tak apa-apa walau agak kewalahan tapi yah kalau suaminya itu mau bantu tentu akan lebih baik.

“Aku berangkat dulu, ya.” Harsa berdiri dari duduknya sembari merapikan pakaian. Ia lalu melangkah menuju Zura yang tengah menghambur mainannya. Bayi gembul itu sangat antusias, mengira Papanya akan menggendong. Ia menghentakkan tangan sambil berceloteh saat Harsa meraihnya lalu menciumi seluruh wajahnya dengan gemas.

Sementara Anin, ia sudah berdiri di samping suaminya sembari memerhatikan interaksi dua orang tersebut.

“Papa kerja dulu, ya.” Harsa beranjak setelah meletakkan putrinya agar kembali sibuk dengan mainan.

“Ga usah antar ke luar. Langsung pakai baju aja,” ujar pria itu setelah menarik Anin untuk mengecup keningnya. Kebiasaan sederhana yang selalu dilakukan setiap kali berpamitan dan biasanya Anin akan mengantar hingga depan pintu, tapi kali ini ia menyarankan agar Anin tidak melakukannya karena posisi istrinya itu yang belum berpakaian lengkap.

Anin mengangguk mengerti sembari mengusap lengan Harsa. “Semoga sidangnya berjalan lancar.”

“Semangat!” Anin mengepalkan tangan sambil tersenyum. Membuat Harsa hanya tertawa melihat sikap istrinya yang memang selalu pandai berkata-kata dan bersikap manis.

Tangan Harsa tergerak mengusap punggung mulus Anin lalu meraih tasnya dan keluar setelahnya.

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!