tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Payung
Disetiap derap langkahnya pada genangan air hujan terdengar beriak tenang, sementara pandangannya seakan jauh bocah itu layangkan, lurus jalannya ke kubu, lantaran hatinya yang kembali jemu, dikala harus memilih antara menjunjung terhadap guru, atau sebaliknya orang yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.
begitu pula dengan Nahrawi, setelah mendengar jawaban dari muridnya yang selama ini ia hargai, menolak akan ajakannya seraya Zim pun meminta maaf. Namun, meskipun begitu. Nahrawi tetap menghargai keputusan muridnya itu dengan sukarela. "Semoga menjadi berkah dari apa yang kau tekad kan saat ini!" Nahrawi berpesan sebelum melangkahkan kakinya kembali ke surau.
"Insyaallah..." Zim hanya membalasnya dengan bergumam, lalu sama-sama pergi berlawanan arah dari tujuan yang sedang ditempuh oleh gurunya.
Sungai yang sebelumnya jernih, yang mana selalu tampak begitu jelasnya puluhan krikil berlumut dibawah air, kali ini malah berubah menjadi keruh kesetiap tepiannya, lantaran habis diguyur derasnya hujan.
Maka basah lah seluruh pakaiannya dikala telah kembali ke salafiyah. Begitu pula dengan Zim yang terus saja berjalan tak mempedulikan ribuan rintik hujan saling bergantian menimpa seluruh tubuhnya.
"Abang!" panggil suara kecil perempuan yang sengaja berbasah-basahan demi bisa memberikan payungnya kepada bocah itu. Sontak membuat Zim tercengang-cengang seketika, menampakan raut wajahnya yang berkerut heran di depan Nasywa yang rela mengorbankan pakaiannya hanya karena alasan khawatir akan bocah itu.
"Kenapa kau sampai demi-demian seperti ini, teh?
Nanti kalo ada Abah kan bisa kena marah, terlebih jika ketahuan kita tengah berduaan seperti ini!" ujar Zim balik menghawatirkan.
"Abang tidak perlu khawatir mengenai aku. Ambillah, dan jika sempat kembalikan nanti dilain hari!" balasnya sambil menurunkan pandangannya kebawah. Lalu pergi berlalu dengan terburu-buru kembali ke kamarnya yang tak jauh dari tempat Zim berdiri saat itu.
"Terimakasih." ungkap Zim dari kejauhan, namun tak menerima balasan ataupun menoleh ke arahnya sesaat. Mungkin suaranya kini telah terhalang oleh gemercik derasnya air hujan. Namun disaat ia membuka payungnya yang masih dalam keadaan terlipat, tiba-tiba keluar secarik kertas berisikan puluhan kata yang ditulis menggunakan pena, jatuh kepermukaan tanah basah. 'Apa ini?' pikirnya, lalu mengambil kertas itu kembali kedalam genggamannya.
Karena penasaran pada apa yang terdapat pada isi kertas itu, lantas ia pun membacanya dengan seksama.
"Maaf atas ketidak nyamanan Abang...disaat saya rela berbasah-basahan demi bisa menyampaikan sebuah balasan....
kemarin malam aku membaca surat mu, dan aku membalasnya setelah aku renungkan kembali semuanya. Malang nasib mu hingga mebuat seluruh pikiran ku tertuju akan penderitaan mu dahulu...
Mungkin kau tidak pernah mendapatkan keadilan sepanjang hidup mu, dan kau juga berusaha untuk mendapatkan kehormatan itu, lantaran ingin semua orang melihatmu yang selama ini mereka anggap kau tidak ada.
Ada beberapa poin perjuangan mu yang membuat ku kagum, Namun ada beberapa pula yang membuatku kecewa, maaf, aku berkata bukan karena seolah aku mengajari mu, hanya saja niatmu lah yang sejak awal terpaksa pergi ke negri orang adalah sebuah kesalahan. Maka ubahlah semua niat mu...
Jadi tolonglah untuk tidak merasa kecewa, marah, ataupun benci terhadap orang yang sudah menuliskan surat ini. Melainkan koreksi diri kembali serta arahkanlah hati mu ke arah yang lebih lurus lagi.
N."
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣