NovelToon NovelToon
Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duda
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naim Nurbanah

Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tuan Marcos terbangun perlahan, kelopak matanya membuka sambil melirik arloji di pergelangan tangan kanan. Jarum jam menunjukkan pukul enam pagi. Nafasnya tertahan sejenak saat matanya bertemu sosok wanita muda yang masih terlelap, memeluknya erat di bawah selimut putih yang menyelimuti tubuh mereka. Dingin AC di ruangan membuat wanita itu semakin merapat mencari hangat, sementara Marcos masih terpaku, dadanya sesak antara cinta dan gelora yang bercampur ketidakpastian.

“Ini yang dinamakan kebahagiaan sesaat, ya?” gumamnya dalam hati, suara itu nyaris tak terdengar. Matanya menatap kosong ke langit-langit, berpikir keras.

 “Apa yang kulakukan tadi malam benar? Atau cuma kesalahan yang harus segera aku perbaiki?” bisiknya, merasakan gelombang tanya mengguncang hati.

Tuan Marcos mengernyit pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang sulit ditangkap. Ingatan akan senyuman hangat wanita muda itu kembali menyusup ke hatinya, memberi sedikit rasa hidup yang selama ini hilang. Namun, di balik itu semua, ada bayang-bayang ketakutan yang merayap, takut pada ketidakpastian yang menggelayut, takut pada konsekuensi yang menunggu di depan.

 "Berat sekali kepala ini," gumamnya seraya menyandarkan diri di tepi ranjang, tangan menjalar mengusap ubun-ubunnya.

Sisa minuman semalam jelas masih terasa, membuatnya semakin lelah. Matanya menatap wanita muda itu yang masih terlelap, tubuhnya terbungkus bedcover putih. Ada kehangatan yang mengalir tanpa kata, sekaligus kebingungan dalam hati Marcos yang berusaha menelusuri labirin perasaannya sendiri, meraba masa depan yang belum pasti. Ia bergumam lirih,

 "Syukurlah bukan Lina yang bawa pulang aku malam ini."

Pria itu menyunggingkan senyum simpul, matanya menatap kosong ke depan sambil mengenang kembali malam semalam yang penuh gairah. Jejak merah di leher dan dada wanita itu masih jelas, seolah menjadi cap tak terlihat yang mengklaim dirinya milik Tuan Marcos.

"Semalam... memang tak akan terlupakan," gumamnya pelan, napasnya tertahan saat membayangkan kelelahan dan kerentanan wanita itu.

Namun, di balik senyum itu, hatinya bergolak. Apakah ini kebahagiaan sejati, atau cuma kepuasan sesaat yang akan pudar bersama fajar?

Tangannya mengetap perlahan lengan kursi, pikirannya berkelana ke kemungkinan-kemungkinan buruk. Jika rahasia mereka terbongkar, berapa banyak luka dan kecewa yang akan ia tinggalkan?

"Sudah benarkah aku mengambil jalan ini? Atau justru membuka pintu masalah yang tak kunjung usai?" bisiknya dalam diam, berusaha menenangkan gelombang kekhawatiran yang terus meradang di dalam dadanya.

Pria matang itu menarik napas panjang, lalu menepuk jidatnya perlahan, seolah mencoba mengusir kekacauan yang berputar dalam pikirannya. Matanya menatap kosong ke depan, sementara hatinya bergolak antara penyesalan dan kebingungan.

"Apakah aku terlalu keras padanya?" gumamnya pelan, suara itu hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.

Pikirannya melompat-lompat, menimbang beban tanggung jawab yang menanti di kantor. Dengan langkah gontai, dia berjalan ke kamar mandi, membiarkan air mengalir deras membasuh lelah dan kegelisahannya. Cermin di depannya memantulkan sosok yang sama, namun kini terselubung rasa ragu. Sambil merapikan kemeja, pria itu berusaha menenangkan jiwa.

"Aku harus fokus, jangan sampai ini mengganggu pekerjaan," ujarnya dalam hati.

Otaknya segera bekerja cepat menyusun rencana, memutuskan untuk segera menghubungi Kino, asisten pribadinya. Setelan baju harus sampai di kantor secepat mungkin. Pagi memang masih terlalu dini, tapi persiapan yang matang adalah kunci untuk hari yang sulit.

Tuan Marcos menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke jendela kamar mandi yang berkabut oleh uap air hangat.

“Semoga ini cukup untuk menutupi rasa bersalah yang menghantui,” pikirnya, suara hatinya bergetar meski tahu bayang-bayang itu belum akan pergi begitu saja. Dengan langkah berat, ia memanggil asisten pribadinya,

“Kino, cepat antar setelan jas coklat muda ke perumahan Puri Mayang. Aku kirim lokasi nanti.”

Suaranya tegas, tapi ada beban tersimpan di baliknya. Air shower mengguyur tubuhnya, menghapus lelah dan keringat, tapi tidak mudah menghilangkan beban di dadanya. Wajahnya menampakkan sedikit sinar semangat yang jarang tampak akhir-akhir ini.

“Apakah ini karena mimpi semalam?” gumamnya lirih, jari-jarinya membiarkan air mengalir di kulitnya.

 Rasa hangat itu membawa kenangan samar akan sosok istrinya yang telah tiada. Sebuah pertemuan dalam mimpi yang membuat hatinya berdetak berbeda, seolah rindu itu sebentar terbalas.

Namun suasana mendadak berubah begitu Wanda, pembantu yang setia, melangkah masuk ke kamar mandi membawa handuk besar untuk Tuan Marcos. Dengan langkah ringan, ia melilitkan handuk itu sembarangan dari dada hingga ke atas lutut, tanpa melihat perasaannya sama sekali. Jantung itu berdebar tak menentu, campur aduk antara bingung dan jengkel.

 “Kenapa dia bisa sebodoh itu? Apakah dia tidak tahu aku masih berkabung dan butuh waktu sendiri?” batinnya malu sekaligus kesal dengan situasi yang malah makin canggung. Dia menahan amarah, mencoba tetap tenang dan menghela napas panjang.

 “Om, ini handuknya,” suara Wanda mengusir kesunyian, sembari menggantung handuk besar itu di gantungan dalam kamar mandi. Tuan Marcos malah tersenyum nakal, matanya menyipit penuh minat. Baru saja Wanda berbalik hendak keluar,

“Tunggu!” seru Tuan Marcos dengan suara yang tiba-tiba mengandung nada menggoda. Wanda menoleh balik, bola matanya melebar seakan berkata,

 “Ada apa lagi, Om?”

Tuan Marcos menyeringai, matanya menatap tajam ke arah Wanda.

“Kemari lah! Bantu aku gosok punggung dengan sabun. Sekalian saja kita mandi bareng. Lagipula, kamu kan harus cepat siap-siap ke kantor, iya kan? Jangan sampai telat, apalagi pagi ini ada meeting penting,” suaranya tegas, tapi ada nada yang membuat Wanda merinding.

Wanda mengerutkan dahinya, bola matanya menyipit tak percaya. Di dalam pikirannya, ada gelombang was-was yang membuncah. Mandi bareng? Dengan pria yang semalam membuat pinggangnya pegal luar biasa? Bukan hanya pegal, tapi rasa tak nyaman itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Hem, aku mandi sendiri saja, Om. Aku ke kamar mandi dekat dapur saja, ya!”

 Wanda berusaha menolak, suaranya setengah gemetar tapi berusaha tetap kuat. Dia takut, takut kalau mau menuruti, pria itu akan merengkuhnya lagi seperti semalam, makan malam yang tak diundang.

Tuan Marcos menarik alis, senyum tipis berubah jadi serius, suaranya hampir seperti peringatan,

“Kamu yakin mau menolak aku?”

Hati Wanda berdegup lebih cepat. Wajahnya langsung pucat, tangan yang tadi ingin mengelak mendadak gemetar. Ia tahu, menolak Marcos bukan sekadar kata, tapi taruhan berbahaya. Jangan-jangan, kekecewaan pria itu bisa berubah jadi sesuatu yang tak ia inginkan.

Dia menunduk, berusaha menenangkan diri. Namun, ketakutan itu menggulung seperti ombak di hati yang sulit ditenangkan.

Wanda melangkah perlahan mendekati pria yang berdiri di bawah pancuran, air deras mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Tangan Wanda sudah terasa licin oleh sabun cair saat dia mulai menggosok punggung tuan Marcos dengan lembut, seolah mencoba meredakan sesuatu yang tak terucap.

1
Celin Lin
lanjutkan Thor
Yuyun Yunita
terlalu bnyk kata kiasan... 🤔
Yuyun Yunita
knpby salsa selalu mendorong salwa untuk tidur dikamar ayahnya apakah salsa sengaja untk mengikat salwa dan ayahnya karena salsa tak pernah m3nyukai tunangan ayahnya
Sihna Tur
bagus. lanjutkan Thor
Ika Syarif
Luar biasa
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Momyyy ..
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪
Xiao Li: beliau ini punya kuasa lima, sekali seeeetttt... langsung melesat. kagak kek kita yang lelet kek keong🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!