Larasati , seorang gadis desa yang lugu dan sederhana, harus menghadapi takdir pahit ketika sepupunya, Gea, kabur di hari pernikahannya dengan seorang pria kaya bernama Nathan karena hamil dengan lelaki lain.
Orang tua Gea, yang merasa posisi perusahaan mereka terancam bangkrut jika pernikahan ini sampai gagal dan membuat keluarga Pratama malu, memaksa Laras, keponakannya untuk menggantikan posisi Gea sebagai pengantin.
Nathan, yang merasa tertipu dan marah, terpaksa menerima pernikahan itu demi menjaga nama baik keluarganya, meskipun hatinya dipenuhi kebencian pada Laras yang dianggap sebagai biak kerok yang menyebabkan Gea kabur di hari pernikahan mereka.
Intrik dan persaingan dalam perebutan kekuasaan di keluarga Pratama menyeret Laras kedalam pusaran kekacauan yang tiada henti.
Akankah Laras bisa menanggung semua ini?
Menjalani pernikahan tanpa cinta dengan suami yang hatinya masih terpatri nama orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMIL???
Pagi datang dengan cara yang tak biasa. Keluarga Diandra akan datang berkunjung, mengantarkan Laras kembali ke rumah setelah Gerry membujuk keras menantu dan keluarga besannya itu agar Laras mau kembali kerumah Nathan, setidaknya hingga acara pengesahan putra sulungnya itu sebagai pewaris utama, terlaksana.
Pratiwi yang awalnya menolak rencana sang suami untuk membujuk kembali Laras, tapi setelah mendapatkan penjelasan mengenai penyakit kejiwaan yang Nathan derita, dia malah yang paling bersemangat.
Maka dari itu, agar semua persiapan bisa berjalan dengan baik, sejak pagi dia sudah tiba di kediaman putra sulungnya itu untuk menyiapkan semuanya sejak pagi.
Dari dapur terdengar suara para asisten rumah tangga sedang menyiapkan sarapan. Bunyi spatula beradu pelan, aroma bawang yang mulai ditumis perlahan mulai memenuhi udara.
Ditengah itu semua, langkah kaki Nathan terdengar pelan saat menuruni tangga. Begitu dia hendak sampai dibawah, aroma masakan yang memenuhi udara, membuat perutnya tiba-tiba terasa mual dan Nathanpun segera berlari menuju wastafel yang ada diruang makan dan mengekuarkan semua isi dalam perutnya.
Huekkk...huekkk...huekkk...
Nathan memuntahkan semua isi perutnya hingga habis tak bersisa, namun rasa mual itu semakin menjadi-jadi hingga dia kembali muntah meski sudah tak ada lagi yang bisa dia keluarkan.
Keringat sebesar biji jagung memenuhi wajah dan tubuhnya, Nathan yang tak tahu apa yang salah dengan dirinya masih berusaha keras untuk mengeluarkan semuanya meski sudah tak ada lagi yang tersisa.
Wajahnya sangat pucat dengan keringat dingin membasahi tubuhnya, tapi Nathan masih terus menunduk dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dengan sendirinya, kesal karena perutnya masih saja terasa mual padahal sudah tak ada lagi apapun yang bisa dia keluarkan, hanya menyisahkan ludah yang beberapa kali dia buang kasar ke wastafel.
Dengan ekspresi frustasi, Nathan menyalakan kran dan membasuh wajahnya yang pucat seperti kertas dengan air yang mengalir.
Pratiwi yang mendengar Nathan muntah-muntah pun segera berlari menghampiri, didikuti oleh bik Inah dibelakang tubuhnya sambil memegang botol minyak angin.
Melihat kondisi Nathan yang sangat buruk, Pratiwi pun segera membantu putra sulungnya itu untuk duduk dan menyuruh bik Inah untuk membuatkan secangkir teh manis hangat untuk mengisi perut Nathan yang kosong setelah muntah tadi.
Melihat botol minyak angin yang bik Inah bawa tertinggal diatas meja, Pratiwi pun mengambilnya dan menyodorkannya kehadapan Nathan.
“Tidak mi, aku tidak suka bau minyak angin ini”, tolak Nathan langsung.
Mendapatkan penolakan keras dari putra sulungnya, Pratiwi tak menyerah dan coba membujuknya “Coba hirup ini, sedikit saja. Aroma minyak angin ini akan sedikit meredakan rasa mualmu”.
Nathan yang sangat lemas hanya bisa pasrah ketika minyak angin yang ada di tangan sang mami sudah berada dibawah hidungnya.
Perlahan, aroma minyak angin mulai masuk dan memenuhi rongga hidung Nathan.
Ajaib, Nathan yang biasanya tak suka bau minyak angin tiba-tiba saja merasa senang ketika menyadari jika perutnya tak lagi bergejolak begitu aroma minyak angin memenuhi rongga hidungnya dan perlahan rasa mual itupun mulai reda.
Satu tangan Nathan spontan bergerak terulur, mengambil minyak angin dari tangan Pratiwi dan menghirupnya dalam-dalam dengan perasaan penuh kelegaan.
"Akhirnya, perutku tak lagi bergejolak seperti sebelumnya", batin Nathan lega.
Begitu teh manis hangat yang dibawa bik Inah tersaji didepannya, Nathan pun segera meneguknya hingga tandas.
Dengan segelas teh manis yang berhasil masuk kedalam tubuhnya, tenaga Nathan pun kembali pulih sehingga diapun segera mengeluarkan ponsel pintarnya yang sedari tadi sudah bergetar.
Nathan tampak aktiv menggulir pesan dan email yang masuk, mengeceknya satu persatu sambil satu tangannya sesekali mendekatkan botol minyak angin ke hidungnya dan menghirupnya dalam-dalam.
Kelegaan yang Nathan rasakan tak berlangsung lama, begitu bik Inah yang berdiri disampingnya mengulurkan satu tangannya hendak meraih gelas teh manis yang telah kosong, perut Nathan kembali bergejolak, membuatnya spontan menjepit hidungnya dengan dua jari.
“Bik, tubuhmu sangat bau. Cepat mandi sana”, ujar Nathan sambil melampaikan satu tangannya yang bebas dengan gerakan mengusir bik Inah yang hanya bisa pergi menjauh sambil menciumi pakaian yang dikenakannya dengan bingung.
“Perasaan pakaian dan rambutku masih harum begini, kenapa sama tuan muda aku disuruh mandi lagi”, gerutu bik Inah sambil berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Bukan hanya bik Inah yang merasa aneh dan sedikit curiga atas tingkah aneh dan tak biasa Nathan pagi ini, Pratiwi juga merasakan hal yang sama.
Untuk membuktikan dugaannya, Pratiwi pun segera bertanya kepada Nathan.
"Nathan, apa kamu sudah menyempurnakan pernikahanmu dengan Laras?", Pratiwi bertanya dengan ekspresi rumit diwajahnya.
Mendengar pertanyaan serius sang mami, Nathan yang semula fokus pada ponsel ditangannya langsung menoleh.
"Tentu saja sudah mi, bukankah itu memang seharusnya", jawab Nathan santai.
Merasa jika apa yang maminya tanyakan bukanlah hal yang penting yang harus dibahas lebih lanjut, Nathan pun kembali memfokuskan diri ke ponsel yang ada ditangannya.
Pratiwi meremas kedua tangannya dengan cemas. Meski dia tak menyukai Laras, tapi bayi didalam kandungan menantunya itu adalah darah daging keluarga Pratama yang bisa membuat posisi Nathan di keluarga Pratama semakin kokoh.
Sebagai pewaris dan memiliki keturunan, bukankah hal itu sangat diharapkan oleh kedua mertuanya, membuat Pratiwi pun menjadi galau.
Dari percakapan yang dia dan suaminya lakukan dua hari sebelumnya, tampaknya tekad Laras untuk bercerai telah bulat dan akan di jalankan begitu posisi Nathan sebagai pewaris telah disahkan secara legal.
Meski keduanya nanti telah bercerai, tapi dukungan keluarga Diandra terhadap Nathan tidak akan pernah hilang selama putra sulungnya itu bisa memberikan keuntungan besar kepada mereka.
Pratiwi yang melihat tampaknya Laras tak tahu jika dia tengah hamil, melihat betapa lantangnya dia mengucapkan keinginannya untuk bercerai, ia takut Laras akan menggunakan anak yang dikandungnya jika tahu dia hamil mengingat betapa kuatnya tekad gadis itu untuk bercerai dengan Nathan.
Nathan yang merasakan kecemasan yang maminya alami pun menoleh, "Ada apa mi, kenapa mami terlihat cemas seperti itu?", tanyanya.
Pratiwi sedikit ragu untuk mengatakan kecurigaannya, tapi dia harus mengatakan hal ini agar Nathan bisa membujuk Laras agar tak jadi bercerai dengannya.
"Ini, hanya kecurigaan mami saja. Melihat kamu mual-mual setelah mencium aroma masakan pagi ini, kok mami kepikiran jika Laras mungkin tengah hamil dan apa yang kamu alami ini biasanya disebut kehamilan simpati dimana justru sang suamilah yang mengalami morning sickness dan ngidam ketika istri tenga hamil", Pratiwi menjelaskan dengan perasaan was-was, takut apa yang dia utarakan bisa mempengaruhi suasana hati sang anak yang memang memiliki gangguan kecemasan yang sedikit berat.
Tapi yang tak Pratiwi duga, Nathan justru sangat gembira dan langsung memeluk maminya dengan senyum lebar.
"Benarkah itu mi, Laras hamil? Laras hamil anakku!", ucapnya bersemangat.
"Ini hanya dugaan mami saja. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa membawa Laras periksa ke dokter landungan", jawab Pratiwi yang iku bahagia melihat senyum lebar yang sudah sangat lama hilang diwajah anaknya.
"Baiklah mi, aku akan membawa Laras untuk periksa ke dokter kandungan nanti, agar semuanya bisa segera terverifikasi dengan cepat", ucap Nathan dengan kedua mata berbinar penuh kebahagiaan.
thanks teh 💪😍
thanks teh
😍💪