Setelah tujuh tahun nikah, Aris itu tetap saja sedingin es. Kinanti cuma bisa senyum, berusaha sabar. Dia cinta banget, dan dia yakin suatu hari nanti, es di hati suaminya itu bakal luntur.
Tapi, bukannya luntur, Aris malah jatuh hati sama cewek lain, cuma gara-gara pandangan pertama.
Kinanti tetap bertahan, mati-matian jaga rumah tangganya. Puncaknya? Pas ulang tahun Putri, anak semata wayang mereka yang baru pulang dari luar negeri, Aris malah bawa Putri buat nemenin cewek barunya itu. Kinanti ditinggal sendirian di rumah kosong.
Saat itulah, harapan Kinanti benar-benar habis.
Melihat anak yang dia besarkan sendiri sebentar lagi bakal jadi anak cewek lain, Kinanti sudah nggak sedih lagi. Dia cuma menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anak, dan pergi dengan kepala tegak. Dia nggak pernah lagi nanyain kabar Aris atau Putri, cuma nunggu proses cerai ini kelar.
Dia menyerah. Kinanti kembali ke dunia bisnis dan, nggak disangka-sangka, dirinya yang dulu diremehin semua orang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
Tepat di detik ini, tiba tiba ponsel Aris berdering.
Kinanti lantas menoleh, pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di meja. Di layar, terpampang jelas sebuah nama "Sayang".
Kinanti mengira dirinya tidak akan peduli lagi. Namun, setelah mencintainya bertahun tahun, dia tidak mudah melepaskannya. Nama "Sayang" sukses membuat hatinya sakit. Dia pun mengalihkan pandangannya.
Sementara itu, Aris menangkap kesedihan yang tersembunyi di mata Kinanti. Namun, tanpa ragu sedikit pun, dia mengangkat telepon itu di depannya. "Ada apa?" ucap Aris lembut.
Putri tentu juga memperhatikan gelagat ayahnya. Dalam ingatannya, Aris hanya akan bersikap lembut jika berhadapan dengan Dinda. Seakan lupa Kinanti sedang bersamanya, dia bertanya dengan gembira, "Ayah, itu Tante Dinda?"
"Ya," jawab Aris datar.
Putri hendak berkata jika dirinya juga ingin berbicara dengan Tante Dinda, tapi dia tersadar Kinanti sedang duduk bersamanya. Dia tahu ibunya tidak menyukai Dinda. Jadi kata kata yang ingin keluar dari mulutnya pun harus tertelan kembali.
Hal itu tentu membuat suasana hatinya berubah. Dia mengernyitkan alisnya sembari berkata dalam hati, 'Andai saja ibu dan Tante Dinda bisa akur.'
Entah apa yang Dinda ucapkan di ujung telepon. Aris yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya tampak khawatir. Sampai sampai belum selesai sarapan, dia buru buru pergi.
Hal itu tentu membuat Putri juga ikut merasa khawatir. Hanya saja, karena Kinanti sedang bersamanya, jadi dia tidak menanyakannya. Selera makannya pun menghilang, dia menarik Kinanti untuk berdiri, lalu berkata, "Mama, aku sudah selesai makan, ayo kita cepat berangkat."
Meski tidak mengatakannya, Kinanti tahu apa yang Putri rasakan dari sorot matanya. Alasan Putri ingin segera pergi tidak lain adalah karena dia ingin segera tahu apa yang terjadi pada Dinda.
Tapi Kinanti memilih untuk diam. "Kamu baru makan sedikit, bawa aja ke mobil," desak Kinanti.
"Nggak usah, Ma. Aku nggak lapar..."
Kinanti tertegun. Dia tak lagi memaksa.
Begitu masuk ke dalam mobil, tanpa basa basi lagi Putri langsung mengambil ponselnya mengirim pesan pada Dinda. Kinanti tentu menyadarinya, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa pun.
Tak lama kemudian, Dinda membalas dan memberitahu kalau dia sedang demam saja, tidak perlu mengkhawatirkannya. Namun, pesan suara yang Dinda kirim terdengar serak. Hal itu tentu membuat Putri khawatir. Dia pun memberi kabar jika sepulang sekolah nanti akan langsung menjenguknya.
Ada rasa bersalah dalam dirinya saat pesan itu terkirim. Dia sudah lama tidak makan masakan ibunya. Malam ini, sebenarnya dia berencana makan bersama ibunya. Untungnya hal itu belum dia katakan. Saat memikirkannya, diam diam dia melirik ke arah ibunya yang sedang fokus menyetir. Dia merasa lega karena ibunya tidak menyadari apa yang dilakukannya saat ini.
Sesampainya di sekolah, Putri memeluk ibunya dengan erat, sambil berkata, "Ma, aku masuk dulu, ya."
"Ya."
Putri tidak merasakan jawaban dingin Kinanti. Dia melangkah masuk ke sekolah dengan riang gembira.
Setibanya di kantor, Kinanti mendapatkan kabar kalau rapat yang seharusnya berlangsung pukul sepuluh pagi ditunda hingga sore karena Aris ada urusan mendesak. Urusan mendesak yang dimaksud tentu saja menemani Dinda yang sedang sakit.
Kinanti bersikap biasa saja, dia kembali fokus dengan pekerjaannya.
Menjelang pukul dua siang, harusnya Aris sudah berada di perusahaan. Makanya Farel menghubungi semua pemangku kepentingan untuk memulai rapat pukul tiga sore. Tentunya, Kinanti diminta untuk membuatkan segelas kopi untuk pimpinannya itu.
Rapat akan segera dimulai. Saat Aris memasuki ruang rapat, Kinanti yang tengah sibuk mengetik pun mendadak berhenti.
Aris mengganti pakaiannya. Bukan pakaian yang dia lihat tadi pagi.
Pagi tadi, Aris pergi menemui Dinda yang sedang sakit. Pikiran Kinanti melayang, membayangkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi di balik pintu kamar Dinda hingga Aris harus berganti baju. Pemikiran ini membuat Kinanti tertegun sejenak.
Saat tersadar, dia mendapati Aris sedang menatapnya dengan tajam. Mungkin Aris mengira kalau barusan dirinya sedang terkesima menatapnya. Kinanti tampak mengepalkan tangannya saat teringat sikap lembut pria itu pada Dinda tapi justru kasar padanya. Dia pun mengalihkan pandangannya.
Tak lama setelah rapat berakhir, Farel datang menemuinya dan mengatakan bahwa proses serah terima sudah selesai, jadi besok dia sudah tidak perlu datang lagi.
"Baiklah," jawab Kinanti.
Meski Farel tidak mengatakannya, dia tentu akan mencari Farel untuk diizinkan keluar dari perusahaan setelah pekerjaannya selesai. Justru bagus Farel datang menemuinya, menghemat waktu.
Farel tidak menyangka Kinanti akan setuju begitu saja. Ekspresinya yang tenang seolah menyembunyikan badai yang siap meledak setelah dia keluar dari pintu perusahaan ini untuk terakhir kalinya.