Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENANGAN DI RESTAURANT
Siang ini Raniya begitu cantik. Cantiknya alami tanpa dilebih-lebihkan sama sekali. Kasih sayangnya kepada anak-anak juga tampak tulus dari dalam hatinya. Dia terlihat sangat bahagia dengan senyuman natural di bibirnya ketika tengah bersama anak-anak.
Oh Allah... Kapan hatinya dapat ku miliki? Aku sudah tidak sanggup menahan perasaan ini. Perasaan cinta ini terus bertambah dan membesar setiap hari, setiap aku melihat dirinya. Aku takut jika aku dibunuh oleh perasaanku sendiri nantinya...
Mata Taufiq tak berkedip menatap wajah Raniya. Usai shalat zuhur sesuai rencananya dari awal, Taufiq menyempatkan dirinya untuk mengajak istri dan tiga keponakannya itu untuk makan di luar. Sekalian belanja peralatan sekolah Samudra. Tentunya atas izin kantor. Dia mendapatkan cuti setengah hari penuh sebagai hadiah pernikahannya.
"Sudah siap?" Tanya Taufiq berusaha sadar dari keterpanaannya memandangi wajah Raniya.
"Sudah..." Jawab Raniya sembari mengangguk kecil.
Taufiq segera menggendong Sunny dan menggandeng tangan Samudra keluar dari rumahnya.
"Yeeeyyy... Jalan-jalan..." Sorak Samudra kegirangan. Sunny yang mendengarnya pun ikut berlonjak di dalam gendongan Taufiq. Gelaknya berderai menggetarkan hati Raniya.
"Mommy..." Panggil Samudra seraya menyalurkan sebelah tangan lainnya kepada Raniya minta digandeng lagi. Raniya tersentak dari rasa harunya lalu menatap tangan Samudra, dan kemudian menoleh sesaat kepada Taufiq yang juga sedang memerhatikannya.
Raniya tersenyum halus dan menyambut tangan Samudra.
"Bu Liaaaan..."Seru Taufiq bersorak memanggil tetangganya itu.
"Yaaaa..." Sahut Bu Lian dari rumahnya.
"Kami mau keluaar. Ibu ikuut?" Tanya Taufiq berseru.
"Tidaaak... Kalian pergi saja... Selamat bersenang-senang..." Tolak Bu Lian. Perempuan paruh baya itu terlihat melambai-lambaikan tangannya menolak ajakan Taufiq.
Raniya yang melihat, hanya bisa tersenyum dan juga melambaikan tangannya kepada Bu Lian.
"Tadi aku udah ajak Bu Lian, tapi beliau bilang akan ada tamu hari ini." Ucap Raniya ketika mereka sudah memasuki mobil.
"Tamu? Siapa?" Tanya Taufiq bingung. Selama dia mengenal Bu Lian, dia sama sekali tidak pernah tahu asal-usul dan keluarga Bu Lian.
"Entahlah... Kata beliau, keluarga jauh dari desa." Jawab Raniya singkat.
Taufiq mangut-mangut meski dirinya sendiri masih bingung dan penasaran. Tapi dia berusaha acuh dan tidak memikirkannya.
Dia melihat Raniya kesusahan memasang sabuk pengaman karena sedang menggendong langit.
"Sini aku bantu..." Ucap Taufiq langsung mengambil tali sabuk di tangan Raniya. Jemari mereka saling bersentuhan, hal itu membuat darah Raniya berdesir hebat. Hatinya berkecamuk sakit. Sakit karena perasaan itu kembali muncul, bahkan jauh lebih besar dari biasanya.
Raniya menarik lengannya dari sabuk pengaman dan membiarkan Taufiq memasangkannya.
Bodoh kamu, Fiq... Tidak cukup kamu telah membuat Raniya marah tadi pagi, hah?~ Gumam Taufiq.
Karena mereka belum makan siang, Taufiq menepikan mobilnya di depan sebuah restaurant. Di sana Samudra tampak muram memandangi bangunan yang tampak elegant di matanya itu.
"Samudra kenapa? Kok manyun begitu?" Tanya Raniya cemas.
"Sam rindu ibu... Dulu kami sering makan di sini bersama-sama..." Ucapnya lirih.
Raniya tersentak. Hatinya belum tenang karena sentuhan dari taufiq tadi, kini Samudra malah membuatnya kembali terluka. Dia cemburu kepada almarhum ibunya anak-anak.
"Samudra... Kamu lupa dengan apa yang telah Daddy katakan, hmm...? Lupakan ibu... Apa kamu mau Sunny dan Langit bersedih?" Ujar Taufiq memperingati Samudra.
"Maaf, Daddy..." Ucap Sam takut. Tubuhnya gemetaran menahan tangis.
"Fiq... Kamu jangan begitu. Wajar Samudra merindukan ibunya..." Bentak Raniya merasa tidak senang dengan sikap Taufiq.
"Aku juga sudah mengatakannya kepadamu kan, Raniya. Jadi, jangan ada yang protes." Tegas Taufiq. "Sekarang kita masuk ke dalam, dan nikmati makan siang dengan santai." Ujar Taufiq lagi seraya masuk mendahului Raniya dan Samudra.
Raniya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia juga tidak tega melihat kesedihan di mata Samudra saat itu.
"Maafkan Mommy ya, Sayang... Kamu kalau rindu ibu, jangan lupa do'akan biar ibu tenang di surga." Ucap Raniya sembari membelai lembut kepala Samudra.
Samudra mengangguk.
"Sekarang kita ke dalam yuk... Mommy sudah lapar nih... Kamu juga, kan?" Ajak Raniya berusaha membujuk Samudra.
Samudra kembali mengangguk. Raniya dan Samudra masuk dengan bergandengan tangan mengikuti Taufiq yang telah duluan bersama Sunny.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍