OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Raka punya tiga aturan sederhana ketika menghadapi masalah.
Pertama, jangan mengambil keputusan sebelum memahami situasinya.
Kedua, jangan membiarkan emosi mengganggu penilaian.
Ketiga, jangan meminta bantuan Bima untuk sesuatu yang membutuhkan ketenangan.
Sayangnya, pagi itu ia melanggar aturan ketiga.
“Jadi, ada perempuan yang lo suka, keluarganya punya urusan dengan perusahaan keluarga lo, dan sekarang lo sedang menyelidiki dokumen lama yang mungkin berhubungan dengan mereka?”
Raka menatap Bima dari balik layar komputer.
“Kalau lo mengatakannya sekali lagi, gue akan memindahkan tempat duduk lo ke gudang.”
Bima mengangkat kedua tangan.
“Gue cuma memastikan situasinya.”
“Lo sedang merangkum hidup gue seperti sinopsis sinetron.”
“Kalau dipikir-pikir, memang menarik.”
Raka kembali memeriksa laporan di layar.
Sejak percakapannya dengan Nadira malam sebelumnya, satu informasi terus mengganggu pikirannya: lima tahun lalu, seorang laki-laki mendatangi Ratih Prameswari dan mengatakan bahwa pemberi bantuan tidak ingin keluarganya merasa berutang budi.
Orang itu tidak meninggalkan nama.
Setidaknya, itulah yang diingat Ratih.
Raka ingin mencari tahu apakah kunjungan tersebut tercatat dalam dokumen yayasan. Bukan untuk menginterogasi seseorang atau memanfaatkan kedudukannya, melainkan untuk memahami bagaimana bantuan tersebut disalurkan.
Jika yayasan memiliki prosedur pendampingan penerima bantuan, seharusnya ada catatan mengenai kunjungan atau komunikasi dengan keluarga.
Seharusnya.
Masalahnya, beberapa catatan AP-17 yang sudah ditemukan justru menunjukkan bahwa dokumentasi pada periode itu tidak lengkap.
“Rak,” panggil Bima.
“Apa lagi?”
“Lo sudah bilang kepada Nadira kalau lo sedang memeriksa dokumen yang sama?”
“Sudah.”
“Bagus. Jangan sampai dia mengetahui sesuatu dari orang lain sebelum lo sempat menjelaskannya.”
Raka berhenti mengetik.
Kalimat itu membuatnya teringat bagaimana Nadira mengetahui identitasnya sebagai pewaris Adhitama Global.
Saat itu, ia memang belum siap menjelaskan semuanya. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ia telah membuat Nadira merasa dibohongi.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
“Gue akan memastikan dia tahu apa yang memang perlu dia ketahui,” jawab Raka.
Bima mengangguk.
“Bagus. Sekarang, sebelum lo kembali menjadi pewaris perusahaan yang murung, gue mau tanya satu hal.”
Raka mendesah.
“Apa?”
“Kalau Nadira mengajak lo menikah besok, lo bakal jawab apa?”
Raka menoleh perlahan.
“Gue akan menyarankan lo mengambil cuti panjang.”
Bima tertawa begitu keras sampai pelatih mereka berteriak dari ruangan sebelah.
Setidaknya, selama beberapa menit, Raka bisa memikirkan sesuatu selain dokumen lama dan rahasia keluarga.
Namun, ketika latihan dimulai, pikirannya kembali tertuju pada satu pertanyaan.
Siapa laki-laki yang mendatangi Ratih lima tahun lalu?
Nadira sedang membaca catatan hasil pertemuan dengan yayasan ketika Keisha meletakkan sebungkus roti di samping laptopnya.
“Makan.”
Nadira melirik roti itu.
“Aku sudah sarapan.”
“Jam berapa?”
“Sekitar pukul delapan.”
“Sekarang sudah hampir tengah hari.”
“Dan aku belum mati kelaparan.”
Keisha menarik kursi.
“Aku tidak sedang menunggu kamu mati kelaparan. Aku sedang mencegahmu menjadi wartawan pertama yang menikah dengan tumpukan dokumen.”
Nadira tertawa kecil, lalu mengambil roti tersebut.
“Terima kasih.”
Keisha memperhatikan layar laptopnya.
“Masih tentang AP-17?”
Nadira mengangguk.
“Aku sedang menyusun daftar pertanyaan untuk yayasan. Aku ingin tahu apakah ada catatan kunjungan kepada penerima bantuan pada periode itu.”
“Karena ibumu ingat ada seseorang yang datang?”
“Ya. Aku tidak tahu apakah orang itu mewakili yayasan atau datang atas nama pribadi. Tapi kalau ada catatan kunjungan, setidaknya kita punya titik awal.”
Keisha mengangguk.
“Bagaimana dengan Raka?”
Nadira berhenti mengunyah.
“Apa hubungannya dengan ini?”
Keisha menatapnya tanpa ekspresi.
“Nadira, kamu boleh mengelabui editor, sumber berita, bahkan mungkin sebagian pembaca. Tapi jangan berharap aku percaya bahwa kamu tidak memikirkan laki-laki itu.”
Nadira memutar bola mata.
“Aku dan Raka baik-baik saja.”
“Bagus.”
“Kami sedang mencoba menjalani hubungan dengan santai.”
“Bagus.”
“Dan aku tidak ingin urusan keluargaku membuat semuanya menjadi rumit.”
Keisha terdiam sejenak.
“Dira, semuanya memang sudah rumit sebelum kamu dan Raka mulai dekat.”
Nadira menatapnya.
“Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah memastikan bahwa kamu tidak kehilangan dirimu sendiri ketika mencoba mempertahankan hubungan itu,” lanjut Keisha. “Kalau Raka benar-benar ingin bersamamu, dia harus bisa menerima bahwa kamu tetap seorang wartawan yang akan bertanya ketika ada sesuatu yang tidak masuk akal.”
Nadira memandang layar laptopnya.
Itulah yang paling ia khawatirkan.
Ia menyukai Raka. Ia menikmati percakapan mereka, perhatian kecilnya, dan caranya mendengarkan tanpa buru-buru memberikan solusi.
Namun, ia tidak ingin hubungan mereka membuatnya ragu untuk mencari kebenaran.
“Aku tidak akan berhenti bertanya,” katanya akhirnya.
Keisha tersenyum.
“Bagus. Sekarang habiskan rotinya sebelum aku menulis artikel tentang wartawan yang mengabaikan kebutuhan dasar manusia.”
Sore harinya, Ratna Wibisono menerima Nadira kembali di kantor yayasan.
Pertemuan kali ini berlangsung lebih singkat. Ratna telah menyiapkan beberapa informasi tambahan mengenai prosedur pendampingan penerima bantuan medis lima tahun sebelumnya.
“Pada periode itu, program kami memiliki petugas yang bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan keluarga penerima,” jelas Ratna. “Namun, catatan kunjungan tidak selalu disimpan bersama dokumen pembayaran.”
“Di mana catatan itu biasanya disimpan?”
“Sebagian berada di bagian administrasi program, sementara laporan kunjungan lapangan disimpan oleh koordinator wilayah.”
Nadira mencatat jawabannya.
“Apakah daftar petugas yang bertanggung jawab saat itu masih tersedia?”
“Kami sedang mencarinya. Beberapa pegawai sudah tidak bekerja di yayasan, sehingga kami harus memastikan kembali pembagian tugas mereka.”
“Apakah ada catatan khusus mengenai AP-17?”
Ratna membuka map yang dibawanya.
“Ada satu referensi silang menuju daftar korespondensi lama. Kami belum menemukan dokumen yang dirujuk, tetapi nomor tersebut menunjukkan bahwa berkas AP-17 pernah ditangani oleh bagian administrasi pusat.”
“Apakah nama petugasnya tercantum?”
“Belum dalam salinan yang kami temukan.”
Nadira menahan napas, lalu mengembuskannya perlahan.
Lagi-lagi, ia mendapatkan petunjuk tanpa jawaban pasti.
Namun, kali ini ia tidak merasa sepenuhnya buntu.
Ia mengetahui bahwa ada bagian administrasi pusat yang menangani berkas tersebut. Jika daftar petugas berhasil ditemukan, ia mungkin bisa mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pemberitahuan kepada keluarga ibunya.
“Bu Ratna, apakah saya boleh meminta konfirmasi tertulis mengenai temuan ini?”
“Tentu. Kami akan menyiapkan ringkasan resmi mengenai dokumen yang telah diverifikasi, dengan tetap melindungi informasi pribadi yang tidak relevan.”
“Terima kasih. Saya ingin memastikan bahwa catatan yang saya gunakan tidak hanya berdasarkan percakapan.”
Ratna tersenyum tipis.
“Itu keputusan yang tepat.”
Sebelum Nadira meninggalkan ruangan, Ratna memanggilnya kembali.
“Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui.”
Nadira berbalik.
“Pada beberapa program lama, pembayaran bantuan dilakukan melalui rekening penyalur yang berbeda dari rekening operasional yayasan. Karena itu, nama yang tercatat sebagai sumber dana belum tentu sama dengan nama orang yang menyetujui bantuan.”
Nadira terdiam.
“Apakah itu berarti bantuan bisa berasal dari pihak lain?”
“Secara umum, program dapat menerima dukungan dari beberapa sumber yang sah. Tetapi untuk kasus AP-17, kami belum dapat memastikan mekanisme yang digunakan.”
Nadira mengangguk perlahan.
Informasi itu penting.
Selama ini, ia mencari siapa yang membayar operasi ibunya. Namun, ia mulai menyadari bahwa ada beberapa peran berbeda yang perlu dibedakan: pihak yang menyediakan dana, pihak yang menyetujui bantuan, pihak yang mengatur pembayaran, dan pihak yang berkomunikasi dengan keluarga.
Keempatnya bisa jadi orang atau lembaga yang berbeda.
Jika ia ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi, ia harus mengetahui urutannya terlebih dahulu.
Di Adhitama Global, Raka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Ratna melalui pertemuan daring yang dijadwalkan oleh sekretaris ayahnya.
Pertemuan itu membahas evaluasi program lama dan batas akses terhadap arsip yang sedang diperiksa.
“Apakah daftar korespondensi AP-17 sudah ditemukan?” tanya Raka.
Ratna mengangguk.
“Kami menemukan beberapa referensi yang mengarah ke bagian administrasi pusat, tetapi daftar petugas yang menangani berkas tersebut belum ditemukan.”
“Apakah ada catatan mengenai siapa yang menyetujui bantuan?”
“Belum ada dokumen lengkap yang dapat memastikan hal tersebut.”
Raka mencatat jawabannya.
“Bagaimana dengan sumber dana?”
“Pemeriksaan masih berlangsung. Kami tidak ingin menyebutkan nama pihak tertentu sebelum catatan keuangan dan administrasi cocok.”
Raka menghargai jawaban itu.
Setidaknya, yayasan tidak berusaha menutupi ketidakpastian dengan memberikan kesimpulan yang belum didukung dokumen.
Setelah pertemuan berakhir, ia membuka kembali laporan yang telah dibacanya.
Pada halaman terakhir terdapat daftar singkat sumber pendanaan program. Sebagian berasal dari anggaran yayasan, sebagian lainnya dari donasi khusus yang dialokasikan untuk bantuan medis.
Namun, daftar itu hanya menunjukkan kategori pendanaan.
Tidak ada nama individu.
Raka menutup dokumen tersebut.
Ia mulai memahami bahwa mencari jawaban tentang AP-17 tidak akan sesederhana membuka satu map lalu menemukan nama yang dicari.
Jika seseorang memang ingin menjaga identitas pemberi bantuan tetap pribadi, hal itu mungkin dilakukan melalui mekanisme donasi yang sah.
Namun, jika ada dokumen yang tidak lengkap atau pemberitahuan yang tidak pernah dikirim, ia tetap perlu mengetahui apakah prosedur yayasan telah dijalankan dengan benar.
Keduanya adalah persoalan berbeda.
Dan ia tidak ingin membiarkan salah satunya mengaburkan yang lain.
Malam itu, Raka mengajak Nadira makan malam di sebuah restoran sederhana dekat kawasan tempat tinggalnya.
Nadira datang membawa tas kerja dan sebuah buku catatan kecil. Begitu duduk, ia langsung meletakkan buku tersebut di samping gelas air.
Raka menatapnya.
“Kamu membawa dokumen ke tempat makan?”
“Ini bukan dokumen. Ini catatan.”
“Perbedaannya?”
“Dokumen biasanya membuat orang ingin menangis. Catatan hanya membuat orang sedikit pusing.”
Raka tertawa.
“Kalau begitu, aku bersyukur malam ini kamu hanya membawa catatan.”
Mereka memesan makanan, lalu berbicara tentang hal-hal ringan sebelum Nadira menceritakan pertemuannya dengan Ratna.
Raka mendengarkan dengan saksama.
“Jadi, sekarang kita tahu bahwa bagian administrasi pusat menangani AP-17,” katanya.
“Ya. Tapi daftar petugasnya belum ditemukan.”
“Dan sumber dana belum bisa dipastikan.”
Nadira mengangguk.
“Aku juga baru tahu bahwa pihak yang menyediakan dana belum tentu sama dengan orang yang menyetujui bantuan.”
Raka menyandarkan tubuh.
“Itu masuk akal.”
“Sayangnya, masuk akal tidak selalu berarti mudah dibuktikan.”
“Kalau begitu, kita harus mencari bukti.”
Nadira menatapnya.
“Kita?”
Raka terdiam sesaat, menyadari pilihannya menggunakan kata tersebut.
“Maksudku, kamu sedang mencari jawaban. Aku juga sedang memeriksa dokumen yang berkaitan dengan program itu. Selama kita tetap mengikuti prosedur dan tidak mencampuradukkan informasi pribadi, kita bisa sama-sama mencari fakta.”
Nadira memikirkan jawabannya.
Ia menyukai gagasan bahwa mereka bisa saling mendukung tanpa harus mengorbankan batas masing-masing.
Namun, ia tetap perlu memastikan satu hal.
“Raka, kalau ternyata ada kesalahan yang dilakukan seseorang dari keluargamu, kamu akan bagaimana?”
Raka tidak menjawab dengan cepat.
Ia menatap Nadira, lalu meletakkan garpunya.
“Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum mengambil keputusan. Kalau ada kesalahan, aku tidak akan berpura-pura bahwa kesalahan itu tidak ada hanya karena orang yang melakukannya adalah keluargaku.”
Nadira mengamati wajahnya.
“Dan kalau ternyata tidak ada yang salah?”
“Aku juga tidak akan menuduh siapa pun hanya karena ada dokumen yang tidak lengkap.”
Nadira mengangguk perlahan.
“Itu jawaban yang cukup adil.”
Raka tersenyum kecil.
“Syukurlah. Aku tidak ingin gagal dalam ujian yang bahkan tidak tahu kapan dimulainya.”
Nadira tertawa.
“Jangan terlalu percaya diri. Masih ada banyak pertanyaan.”
“Aku mulai menyadari itu.”
Untuk sesaat, mereka hanya menikmati makanan dan percakapan yang tidak terasa seperti pekerjaan.
Kemudian Raka mengulurkan tangan di atas meja.
Nadira menyambutnya tanpa ragu.
“Aku senang kita bisa membicarakan hal-hal sulit seperti ini,” kata Raka.
“Aku juga.”
“Walaupun aku lebih suka kalau kita membicarakan tempat makan berikutnya.”
“Itu karena kamu belum pernah mencoba makanan penutup yang benar-benar enak.”
Raka mengangkat alis.
“Apakah itu tantangan?”
“Anggap saja begitu.”
“Aku terima.”
Nadira tersenyum.
Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti pencarian tentang ibunya, ia bersyukur masih memiliki ruang untuk tertawa.
Ia tidak tahu kapan jawaban itu akan datang.
Namun, ia mulai belajar bahwa membangun kepercayaan bukan berarti mereka harus selalu sepakat atau memiliki semua jawaban.
Terkadang, kepercayaan justru terlihat ketika dua orang berani membicarakan pertanyaan yang membuat mereka takut.
Saat Nadira tiba di rumah malam itu, sebuah pesan baru menunggu di ponselnya.
Nomor tak dikenal.
Kamu sudah mengetahui bahwa AP-17 ditangani administrasi pusat.
Nadira menegang.
Ia tidak pernah mengirimkan informasi tersebut kepada siapa pun selain pihak yang berwenang. Ratna dan Raka mengetahui sebagian temuan itu, tetapi ia tidak tahu siapa lagi yang mungkin memiliki akses.
Pesan berikutnya muncul.
Sekarang tanyakan siapa yang berhak menyetujui bantuan tersebut lima tahun lalu.
Nadira menatap layar.
Ia belum sempat membalas ketika pesan ketiga masuk.
Jangan berhenti pada orang yang mengirim surat. Orang yang mengambil keputusan mungkin tidak pernah muncul dalam dokumen yang kamu lihat.
Nadira segera mengambil tangkapan layar dan menyimpannya bersama pesan-pesan sebelumnya.
Ia tidak membalas.
Ia juga tidak langsung menghubungi Raka untuk menanyakan apakah laki-laki itu mengetahui sesuatu.
Belum ada bukti bahwa pengirim pesan tersebut berkata jujur. Bisa jadi ia memang mengetahui informasi internal. Bisa juga ia sedang mencoba mengarahkan Nadira kepada seseorang yang ingin dijadikan kambing hitam.
Namun, pertanyaan tentang pihak yang menyetujui bantuan memang relevan.
Nadira membuka buku catatannya dan menambahkan satu baris baru.
Siapa yang menyetujui bantuan AP-17, dan apakah keputusan tersebut tercatat secara resmi?
Di rumah keluarga Adhitama, Raka baru saja selesai membaca pesan dari sekretaris ayahnya.
Daftar dokumen yang akan diperiksa keesokan harinya telah disiapkan.
Ada satu berkas tambahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, berasal dari evaluasi internal program bantuan medis.
Raka tidak tahu isinya.
Namun, ia berniat membacanya dengan saksama.
Sebab, semakin banyak informasi yang ditemukan, semakin jelas bahwa persoalan AP-17 bukan sekadar tentang uang yang membayar sebuah operasi.
Ada keputusan yang dibuat lima tahun lalu.
Ada pemberitahuan yang tidak terkonfirmasi.
Dan ada seseorang yang kini berusaha memastikan Nadira terus mencari jawaban.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah orang itu ingin membantu Nadira menemukan kebenaran, atau sedang berusaha mengendalikan apa yang akan ia percayai?