Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bayangan di Balik Mahkota
Pukul 08.00 pagi.
Asap tipis mengepul dari tungku perapian di kantor sempit lantai dua milik Hans Lorte. Hujan gerimis di luar memukul-mukul kaca jendela buram.
Pip tertidur lelap di atas sofa usang, berbalut selimut wol tebal. Evelyn duduk di kursi tamu, menggenggam erat cangkir teh panas yang asapnya mengepul ke udara. Gaun pelayannya yang basah telah mengering, tetapi ketegangan di wajahnya belum pudar.
Hans Lorte duduk di kursi kerjanya yang berderit.
Detektif itu telah berganti kemeja putih bersih dan rompi cokelat kering. Anting perak bulan sabit di telinga kirinya berkilat tertimpa cahaya perapian.
Di atas meja kerjanya, lempengan inti kompas kuningan itu tergeletak berdampingan dengan kaca pembesar.
"Ayah saya selalu menduga Lord Sterling punya bekingan kuat," suara Evelyn memecah keheningan. Matanya menatap lempengan kuningan itu. "Tapi cap Royal Military Secret? Itu artinya militer Kerajaan mendanai sekte sesat?"
Hans meneteskan cairan asam nitrat pekat ke atas permukaan lempengan menggunakan pipet kaca.
Tess... SSSSS...
Asap putih berbau menyengat mengepul tipis dari logam kuningan.
"Kerajaan tidak mendanai sekte sesat, Lady Finch," sahut Hans datar, matanya mengintip lekat dari balik kaca pembesar. "Kerajaan mendanai senjata pembunuh massal. The Abyssal Order hanyalah nama samaran untuk proyek penelitian senjata mereka."
Evelyn menelan ludah. "Senjata dari dasar laut?"
"Lord Sterling bukan pemuja iblis. Dia adalah kontraktor militer," analisis Hans dingin. "Retakan spasial, distorsi gravitasi, suhu nol mutlak... itu semua bukan sihir. Itu fenomena fisika dari artefak Atlantik yang ingin diubah menjadi meriam tak terlihat oleh Kerajaan."
Cairan asam nitrat di atas kuningan perlahan mengikis lapisan terluarnya.
Sebuah ukiran mikroskopis mulai muncul di bawah lambang singa mahkota. Bukan sekadar inisial R.M.S, melainkan sebuah deret angka koordinat pelayaran.
Hans memicingkan mata kelabunya. Ia menyalin angka itu ke atas secarik kertas dengan cepat.
"Garis lintang 51.50, garis bujur -0.12," gumam Hans.
Evelyn mengerutkan kening. "Itu koordinat pusat London. Di mana tepatnya?"
"Istana Westminster," jawab Hans. Suaranya datar, namun atmosfer ruangan mendadak terasa mencekik. "Gedung Parlemen. Ruang bawah tanah sayap barat."
Keheningan mutlak menyelimuti kantor kecil itu.
Lawan mereka bukan lagi preman pelabuhan, pedagang culas, atau sekte gelap di gudang kumuh. Lawan mereka mengendalikan denyut nadi politik seluruh Inggris Raya.
Hans meletakkan pensilnya. Rasionalitasnya sedang menghitung probabilitas bertahan hidup di tahap selanjutnya, dan angkanya sangat mendekati nol.
Tiba-tiba, langkah kaki yang sangat ringan terdengar dari tangga kayu di luar.
Sret... sret...
Langkah itu tidak menimbulkan decit lantai. Terlalu halus untuk manusia biasa.
Hans seketika berdiri. Tangan kanannya menyambar tongkat jalan berkepala besi di samping meja. Ia memberi isyarat pada Evelyn untuk mundur dan diam.
TOK. TOK. TOK.
Ketukan pelan dan sopan terdengar dari kaca buram pintu.
Hans melangkah tanpa suara, berdiri di samping kusen. Dengan satu sentakan cepat, ia memutar gagang pintu dan menariknya terbuka lebar.
Lorong itu kosong.
Tidak ada siapa pun. Hanya embusan angin dingin yang masuk dari celah jendela koridor.
Namun, mata Hans menangkap sesuatu di lantai, tepat di depan ambang pintunya.
Sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.
Hans merendahkan tubuhnya. Ia menggunakan ujung tongkat besinya untuk membuka penutup kotak itu secara perlahan.
Di dalamnya, terbaring sebuah jam saku emas berukir lambang bangsawan. Jam yang persis sama dengan milik Tuan Vance di awal kasus ini. Jam yang seharusnya sudah disita oleh Inspektur Hallowell.
Tetapi, jarum detik tembaga pada jam emas itu tidak berputar ke kanan. Jarum itu berdetik konstan memutar ke arah kiri. Menghitung mundur.
Di balik tutup jam tersebut, terselip secarik kertas perkamen kecil dengan tulisan tangan bertinta emas yang sangat rapi:
Kalkulasi yang brilian di Menara Air, Tuan Lorte. Waktu Anda sekarang berdetik mundur. Kami tunggu kehadiran Anda di Istana Westminster. - Divisi Nol.
Hans mengambil perkamen itu. Mata kelabunya menatap lorong tangga yang kosong dan gelap. Ia meraba anting perak bulan sabitnya seraya tersenyum tipis, senyuman sedingin es yang tidak memancarkan ketakutan sedikit pun.
"Pip, bangun," perintah Hans dingin memecah keheningan. "Siapkan mantelmu. Permainan Babak Pertama baru saja selesai."