NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 6

"Sekarang beritahu aku Dave, kemana tujuan pengantaran kita ?" tanya Emma sambil fokus mengendarai skuter. Ia sangat lihai menyalip satu persatu kendaraan.

Dave mencermati tampilan di ponsel yang dipegang. "Tujuan pertama ke komplek apartemen Savant Suites," ucapnya.

"Baiklah, pegangan." Seketika Emma menambah kecepatan laju skuter.

Dave yang membonceng, tersentak kaget. Reflek ia berpegangan pada dudukan kulit dibawahnya.

Bagi pria itu, ini pertama kalinya menaiki skuter metic. Adrenalinnya meningkat drastis. Semakin cepat laju skuter, semakin membuat dirinya takut.

"Bisakah lebih pelan ?" kata Dave. Berharap Emma mau mengurangi kecepatan.

Emma tetap pada pendiriannya. Ia terus melajukan skuter cepat dijalanan kota. "Kita sudah terlambat. Kalau tidak cepat, kita akan dapat penilaian buruk," ucapnya.

"Tapi ini terlalu menakutkan dan membahayakan," ucap Dave.

"Kalau kamu pegangan, semuanya pasti aman," jawab Emma.

"Awas !" seru Dave saat Emma menyalip diantara dua mobil. Sesaat ia menutup mata dan menahan napas hingga skuter berhasil menyusup di ruang sempit. "Hampir saja," ucapnya lagi dengan napas yang tidak beraturan.

"Tenang, Dave. Aku handal dalam berkendara," kata Emma penuh percaya diri.

Kini skuter melaju di tanjakan. Emma menambah kecepatannya. Sementara Dave terus berpegangan pada dudukan kulit dibawahnya.

"Setelah ini, persiapkan dirimu," ucap Emma setelah sampai diatas tanjakan.

"Apa maksudmu ?" tanya Dave bingung.

Tiba-tiba skuter meluncur turun dengan cepat. Emma tampak bahagia, sementara Dave berteriak ketakutan. Ia mengencangkan pegangan pada dudukan kulit dibawahnya.

"Yeaaahh, itu tadi sangat menyenangkan," kata Emma dengan ceria, setelah skuter mencapai jalan yang landai kembali. "Gimana menurutmu Dave ?" tanyanya.

Entah kenapa pria itu sekarang merasa pusing. Detak jantungnya juga berdegup kencang. Tangannya terasa lemas. "Itu tadi...tidak menyenangkan...lebih baik kamu kurangi kecepatan," ucap Dave.

Emma tertawa mendengar perkataan Dave. Ia tak menyangka seorang pria yang tadinya berlagak sombong dan tidak tahu diri, ternyata takut menaiki sepeda motor.

Setelah berpacu dengan waktu, akhirnya mereka sampai di tujuan. Skuter diparkir di pinggir jalan.

"Oke kita udah sampai Dave," kata Emma.

"Sebentar," jawab Dave. Ia masih merasa pusing dan lemas. Detak jantungnya juga masih berdetak tak beraturan. "Beri aku waktu mengatur napas. Caramu berkendara benar-benar membuatku takut," lanjutnya.

Emma turun dari skuter. Ia melihat Dave yang tertunduk di belakang. Ia pun tersenyum. "Dasar orang kaya," ucapnya.

Setelah merasa lebih tenang. Dave turun dari skuter. Ia lalu mendekat ke Emma yang sedang membuka delivery box.

"Sekarang apa yang harus dilakukan ?" tanya Dave.

"Beri ceklist di kolom kurir sampai ditujuan," jawab Emma sambil mengambil beberapa kotak pizza. "Setelah itu akan muncul berapa pesanan pizza yang harus kita antar kesini," lanjutnya.

"Oke paham," jawab Dave. "Disini kita ada empat pengantaran pizza," lanjutnya.

"Baiklah, bawa pizza ini," ucap Emma sambil menyerahkan empat kotak pizza ke arah Dave. Sekarang ponselnya berpindah tangan kepadanya. "Kamu yang antarkan pizza ini," lanjutnya.

"Aku ?" jawab Dave. Karena ini baru pertama kali dilakukannya, ia merasa malu jika dilihat orang.

"Iya kamu, kenapa ?" kata Emma.

"Seharusnya berikan contoh dulu kepadaku."

"Kenapa perlu contoh ? Tugasnya kan mudah. Kamu tinggal serahkan pizza ke pembeli. Ingat dengan ramah," ucap Emma. Di akhir perkataannya, ia beri penekanan. "Ayo, kita masuk," lanjutnya.

Mereka berdua pun berjalan masuk ke lobi. Dave, dikedua tangannya membawa empat kotak pizza yang masih terasa hangat.

"Sebentar, kamu terlalu berkeringat." Seketika Emma berjalan menuju resepsionis. Ia mengambil beberapa helai tisu dan kembali menghampiri Dave yang terhenti di depan lift. "Ini, hapus dulu keringatmu diwajah," ucapnya sambil menyerahkan tisu ke Dave.

"Kamu tidak lihat, kedua tanganku penuh," jawab Dave. "Bisa tidak lebih peka ?," lanjutnya.

"Dasar pria manja," sahut Emma. Mau tidak mau ia harus mengusap wajah Dave yang basah berkeringat. "Sudah," ucapnya lagi.

"Oke, sekarang buang tisunya," kata Dave.

"Tidak ada ucapan lain ?" tanya Emma. "Ucapan yang seharusnya dikatakan setelah menerima bantuan," lanjutnya.

"Ucapan apa ?"

Emma dengan kesal berjalan ke tempat sampah terdekat. Dengan kasar ia masukan tisu bekas keringat Dave ke dalamnya.

"Hatimu terbuat dari apa sih ?" tanya Emma. Mereka berdua berdiri didepan lift, menunggu pintunya terbuka.

"Memangnya hatiku dan hatimu berbeda ?"

"Entahlah Dave, tidak usah dibahas lagi."

Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Mereka segera melangkah ke dalam.

...----------------...

Pengantaran pertama di lantai sepuluh kamar nomor dua ratus enam puluh satu. Mereka saat ini sudah sampai di depannya.

"Kita sudah sampai, ingat saat pintu sudah terbuka, kamu harus bilang pengantaran Hudson's Pizza dengan ramah." kata Emma.

"Lebih baik beri aku contohnya," jawab Dave.

"Tidak susah, Dave. Kenapa harus perlu dicontohkan."

"Ya...karena aku baru pertama kali melakukan ini."

"Ini mudah sekali Dave. Bersiaplah," Emma mendekat ke pintu. Seketika ia mengetuk pintu. Dave yang belum begitu siap pun terkejut.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya membuka pintu. "Ya ada apa ?" tanyanya.

Dave terdiam. Ia tak mengucap perkataan yang telah disepakati. Sementara Emma yang berdiri disampingnya tersenyum ramah.

"Dave...Dave...Dave...ucapkan," kata Emma lirih sambil beberapa kali menyenggol siku Dave.

"Eeh...selamat siang," ucap Dave kaku. "Ada pengantaran pizza," lanjutnya.

"Ooohh...terima kasih." Perempuan paruh baya itu mengambil sekotak pizza di tumpukan paling atas dikedua tangan Dave.

Dave terdiam tak ada balasan apapun darinya. Sekali lagi, Emma harus menyenggol beberapa kali sikunya.

"Aku harus bilang apa ?" tanya Dave lirih.

"Sama-sama," jawab Emma juga lirih.

"Kenapa kalian berdua berbisik ?" tanya perempuan paruh baya yang masih berdiri didepan mereka.

"Tidak ada apa-apa nyonya. Selamat menikmati pesanan anda," ucap Emma.

Perempuan paruh baya itu pun tersenyum. Lalu membawa masuk pizza dan menutup pintu.

Tepat saat pintu tertutup, Dave bisa bernapas lega. Entah kenapa ia seakan tidak bisa bersikap ramah pada orang lain. Mungkin karena ia dulu dikantor, memiliki kebebasan dan bisa seenaknya memerintah.

"Tinggal tiga pizza lagi," ucap Emma sambil menatap tiga kotak pizza di kedua tangan Dave. "Kita harus cepat selesaikan semuanya," lanjutnya.

Sekarang mereka pindah ke kamar berikutnya. Tepatnya didepan pintu nomor dua ratus enam puluh empat.

"Lakukan hal yang sama," kata Emma. "Sekarang jangan terlalu kaku. Ingat saat pintu terbuka kamu harus ucapkan pengantaran Hudson's Pizza, lalu..."

Belum selesai Emma memberi instruksi, pintu terbuka. Seorang pria berbadan kuat dan tegap berdiri di depan mereka.

"Ada apa ?" tanya pria itu.

Seketika Emma dan Dave menunjukkan senyuman.

"Oh pizza ya ?" tanya pria itu.

"Benar...benar kami mengantar pizza untuk anda," jawab Emma. Ia lalu mengambilkan sekotak pizza dan menyerahkan ke pria itu.

"Terima kasih, ya," jawab pria itu. Setelah itu ia masuk kedalam dan pintu di tutup.

Dave dan Emma langsung bernapas lega. Tadi benar-benar dalam kondisi yang belum siap untuk berhadapan dengan pembeli.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!