Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Part 12
"Bapak ada urusan mendadak ya dengan Tina, makanya Tina dijemput di rumah?" tanya Laily kali ini, yang sempat membuat Tina percaya bila itu alasannya, namun konyolnya bosnya itu menggeleng, seolah mengelak keras pertanyaan itu.
"Tidak kok, Tante. Saya di sini mau menjemput Tina karena memang ini sudah tugas saya sebagai calon suaminya." Alfan menjawab santai, yang kian membuat semua orang kebingungan di sana.
"Calon suami siapa?" tanya Laily dengan sesekali melirik ke arah Tina yang tampak tak percaya, bisa dilihat dari matanya yang membulat sempurna.
"Tina, Tante." Alfan menyunggingkan senyum manisnya, membuat Tante dan Papa Tina menatap ke arah Tina dengan mata ingin meminta penjelasan.
"Memangnya Tina belum cerita ya kalau saya ingin melamar dia?"
"Tina bahkan tidak pernah cerita kalau dia punya pacar," jawab Laily sembari kembali menatap ke arah Tina yang tampak terdiam, merasa bingung harus berbuat apa, mengingat bosnya itu akan membayarnya untuk berpura-pura menjadi calon istrinya. Namun yang tidak Tina mengerti, kenapa bosnya itu masih harus berpura-pura di hadapan keluarganya.
"Tante ... itu ...." Tina bingung harus menjawab apa, namun tantenya itu justru tersenyum begitupun dengan papanya.
"Kamu pasti malu mengatakannya ya, Na? Padahal Tante dan Papa kamu selalu mendukung apapun keinginan kamu asal itu bisa membuat kamu bahagia. Seharusnya kamu bisa lebih terbuka sama Tante, Tante dan Papa kamu kan yang malu kalau sampai tidak tahu hubungan kalian, apalagi pacar kamu sampai ke rumah." Laily mengusap lembut kepala Tina, membuat empunya terdiam dengan sorot mata geram ke arah bosnya, Alfan.
"Bukan begitu, Tante. Pak Alfan itu bos ...."
"Tina memang selalu seperti itu, dia berusaha menyembunyikan hubungan kami, mungkin malu karena saya jelek?" Alfan menyahut lesu, ekspresinya tampak kecewa, yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari mata Tina.
"Ganteng gini kok dibilang jelek? Tina, harusnya kamu itu lebih banyak bersyukur, calon suami kamu itu ganteng, baik juga, masa kamu yang malu? Harusnya kan dia yang malu punya calon istri kaya kamu." Laily berujar ke arah Tina yang kian melongo dengan drama di hidupnya.
"A-apa?" Tina bertanya tak percaya, tanpa menyadari bagaimana Alfan berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Sudah, Tante. Saya tidak pernah malu kok punya calon istri seperti Tina. Malah saya ingin bisa lebih dekat dengan keluarga Tina, terutama sama Om, Papanya Tina." Alfan tersenyum ke arah pria paru baya itu, ia masih belum menyangka bila papanya Tina lumpuh, padahal selama ini ia selalu menyusahkan Tina, tanpa mau mengerti bagaimana dia juga sudah lelah merawat papanya.
"Kalau Nak Alfan benar-benar mencintai Tina, tolong jangan pernah menyakiti Tina, dia sudah banyak berkorban dan menderita selama ini. Mungkin Om tidak akan pernah bisa membahagiakan Tina seperti dulu lagi, tapi Om sangat berharap Tiba bisa bahagia dengan suaminya nanti."
Mendengar suara pria paruh baya yang penuh dengan ketulusan itu, membuat Alfan terdiam, merasa mendapatkan tanggung jawab besar bila benar ia bisa menikah dengan Tina. Sedangkan Tina sendiri juga terdiam, matanya hampir menangis melihat papanya begitu menyayanginya.
"Papa ngomong apa sih? Papa mau hidup sama aku, berjuang sama aku, tetap sehat, tetap tersenyum apapun yang terjadi, itu semua sudah lebih dari cukup buat aku bahagia. Papa yang selalu menguatkan aku selama ini, kebahagiaan Papa, kebahagiaan aku juga." Tina menjawab tulus, suaranya bahkan serak menahan air mata agar tak tumpah.
"Terima kasih," jawab sang Papa sembari tersenyum, sedangkan Tina hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata, ia merasa bersalah karena papanya lumpuh itu semua terjadi karena kesalahannya, andai saat itu papanya tak menyelamatkannya, mungkin papanya masih bisa berjalan dan menikmati hidupnya.
"Sudah jangan bersedih lagi, lebih baik Tina dan Pak Alfan berangkat kerja ya," ujar Laily ke arah Tina.
"Iya, Tante. Aku pamit ya, Papa aku pamit." Tina menyalami mereka seperti biasa, sedangkan Alfan tersenyum ke arah mereka.
"Kami pergi dulu," pamit Alfan yang diangguki Tante dan papanya Tina.
Tina dan bosnya kini sudah masuk ke dalam mobil yang sedang melaju dengan Alfan sebagai sopirnya. Mereka saling terdiam satu sama lain, namun sepertinya Tina lebih terlihat kesal sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Alfan yang justru terdengar seperti tidak memiliki dosa, yang hanya bisa Tina diami seolah tak memiliki kata-kata lagi untuk menanyakan kelakuan bosnya yang menjengkelkan.
"Kalau kamu ada pertanyaan, kamu bisa bertanya ...." Alfan melirik ke arah Tina sesekali, ia tahu wanita itu sedang kesal sekarang, namun ini juga salah satu caranya untuk mendapatkan cintanya.
"Bapak seharusnya tidak perlu menunggu saya bertanya, karena Bapak pasti paham saya kenapa?" Tina menjawab dingin tanpa mau menatap ke arah Alfan.
"Masalah saya menjemput kamu?"
"Iya, itu juga salah satunya. Kenapa Bapak menjemput saya?" Tina menghadapkan tubuhnya ke arah Alfan.
"Mama saya suruh jemput kamu, memangnya ada yang salah?" tanya Alfan terdengar tenang, yang benar-benar membuat Tina muak karena bosnya itu terlalu datar ekspresinya, padahal dia sedang melakukan kesalahan besar.
"Tentu saja salah, Pak. Kita kan cuma pura-pura menjadi pasangan di depan orang tua Bapak, jadi Bapak tidak perlu menjemput saya di rumah. Apalagi tadi Papa saya ada di sana dan dengan seenaknya Anda mengatakan bila kita ini pasangan yang akan menikah? Bapak tahu kan, kita cuma pura-pura, tapi kenapa Bapak harus bertindak sejauh ini?" Tina meluapkan kekesalannya, sedangkan Alfan hanya terdiam, ia sempat berpikir apa yang salah dengan dirinya, sampai Tina begitu tidak menyukainya.
Menurut Alfan, dirinya tidak jelek, bahkan bisa dibilang tampan, memiliki status keluarga yang jelas dan juga terkenal. Bila soal pendapatan uang, tentu saja Tina juga paham berapa gaji per bulannya dan bahkan per harinya. Lalu kenapa semua itu tak membuat wanita itu mau merayunya atau hanya tertunduk dengan rencana dan permainannya. Entahlah, terkadang Alfan juga merasa lelah saat memikirkannya.
"Kamu tahu saya kan? Saya akan bekerja sesempurna mungkin bila itu sudah menjadi keinginan saya. Termasuk perjanjian kita, kamu dan saya harus terlihat seperti pasangan yang sebenarnya di depan siapapun termasuk keluarga kamu." Alfan menjawab lugas tanpa mau menatap ke arah Tina yang terdiam dengan bibir menganga, merasa tak percaya saja dengan bosnya yang selalu saja bersikap seenaknya.
"Tapi, Pak ...."
"Saya tidak mau mendengar keluhan apapun atau kamu tidak saya bayar." Alfan memotong cepat ucapan Tina, membuat wanita itu terdiam tanpa bisa berkata-kata.
Benar-benar menyebalkan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kelakuan bosnya di mata Tina. Bahkan menurut Tina jauh lebih dari itu, karena baginya Alfan adalah sosok bos yang sangat tidak manusiawi dan bahkan terkesan aneh dengan segala tingkah laku setannya.