Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Udara sore di atrium pusat perbelanjaan itu terasa cukup sejuk, berpadu dengan alunan musik latar yang lembut dan derap langkah pengunjung yang berlalu-lalang.
Maya baru saja keluar dari sebuah toko buku dengan kantong kertas berisi novel terbaru di tangan kanannya. Ia berniat mencari kafe untuk sekadar menikmati secangkir teh hangat sebelum pulang ke rumah.
Namun, langkah kakinya terhenti seketika di dekat pilar besar berlapis marmer hitam.
Pandangannya menangkap sosok yang sangat ia kenal—pria dengan jaket bomber hitam yang begitu familiar di matanya.
Jantung Maya berdegup kencang, bukan karena debar rintihan rindu, melainkan karena keterkejutan yang langsung merayapi seluruh nadinya.
Bagas.
Pria itu berdiri hanya beberapa meter darinya, membelakangi posisinya. Namun, bukan itu yang membuat Maya terpaku di tempat.
Tangan Bagas, tangan yang kemarin menggenggam tangannya dengan begitu hangat dan penuh janji, kini terjalin erat dengan jemari wanita lain.
Rania. Wanita ber dress midi putih dengan senyum simpul yang tampak begitu percaya diri di sisi Bagas.
"Bagas..." bisik Maya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di antara bisingnya suara eskalator.
Mereka tampak sedang tertawa kecil, menikmati momen santai seolah dunia di sekitar mereka tidak ada artinya.
Rania menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Bagas, dan pria itu sama sekali tidak menolaknya.
Sebaliknya, Bagas merangkul pinggang Rania dengan lembut, mendekatkan tubuh wanita itu agar semakin rapat dengannya.
Maya merasa dunia seakan runtuh seketika. Dunianya berputar pelan, menyisakan sesak yang luar biasa di dadanya.
Selama ini, Bagas selalu beralasan sibuk dengan urusan kantor, lembur hingga larut malam, atau harus dinas luar kota mendadak.
Pesan-pesan singkat yang dikirimkan Bagas selalu terasa dingin dalam beberapa minggu terakhir, namun Maya selalu mencoba untuk memaklumi.
Ia pikir Bagas hanya lelah. Ternyata, lelah itu dibagikan pada orang lain, sementara waktu luangnya dihabiskan di tempat mewah ini bersama Rania.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Maya mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan bulir air mata yang mendesak untuk tumpah.
Ia ingin mendekat. Ia ingin berteriak dan meminta penjelasan langsung dari mulut pria itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian, Gas?" gumam Maya pada dirinya sendiri, jemarinya mencengkeram erat tali kantong kertas belanjaannya hingga nyaris kusut.
Ia melangkah maju satu langkah, berniat menghampiri mereka.
Namun, tepat saat itu, Bagas menolehkan kepalanya ke arah samping, dan mata mereka nyaris beradu pandang.
Maya dengan cepat menarik kembali tubuhnya, bersembunyi di balik pilar besar untuk menghindari tatapan langsung.
Keringat dingin bercampur rasa sakit memenuhi rongga dadanya.
Rasanya begitu nyeri, seperti dihantam kenyataan pahit yang selama ini ditutup-tutupinya rapat-rapat.
Maya memejamkan matanya sejenak, mencoba meredam gemetar di sekujur tubuhnya.
Di kejauhan, suara tawa Rania terdengar renyah, disusul oleh suara Bagas yang membalas dengan nada yang begitu lembut
nada suara yang dulu selalu berhasil membuat Maya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
"Kamu mau minum apa lagi, Ran? Atau mau kita cari es krim dulu sebelum pulang?" tanya Bagas dengan suara beratnya yang khas, terdengar jelas terbawa angin AC mal.
Rania tertawa kecil, mencolek hidung Bagas dengan gemas. "Kamu ini, ngajak jalan tapi malah nanya terus.
Terserah kamu deh, asal sama kamu, aku ikutan aja."
Bagas tersenyum, senyuman tulus yang dulu hanya diperuntukkan bagi Maya. "Yaudah, yuk ke sana. Biar gak kemalaman."
Maya menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, menahan isak tangis yang hampir lolos dari bibirnya.
Ia menyaksikan punggung kedua orang itu berjalan menjauh, bergandengan tangan menyusuri lorong mal yang semakin padat menjelang malam.
Di tempatnya berdiri, Maya merasa seolah ia ditinggal sendirian di tengah keramaian.
Pengkhianatan ini nyata, terpampang jelas di depan matanya tanpa ada ruang untuk menyangkal lagi.
Maya mengepalkan kedua tangannya, menghapus air mata yang telanjur jatuh di pipinya dengan kasar.
Ia sadar, setelah hari ini, tidak akan ada lagi alasan untuk percaya pada janji-janji manis Bagas.