"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat 2
"Nak Reyhan, tunggu dulu." ucap Ibu Friska berusaha melerai perdebatan ini. Apalagi keputusan Reyhan yang tak mau mengikuti lomba atau kejuaraan lagi. Padahal masih ada beberapa event yang diikuti oleh Reyhan untuk mewakili sekolah.
"Semua perlombaan yang diikuti Nak Reyhan ini sama pentingnya untuk sekolah dan pesertanya. Beberapa sertifikat juara yang diikuti, bisa digunakan untuk mengajukan beasiswa dan syarat masuk di beberapa sekolah lanjutan. Apalagi ini bukan event Nasional, tapi Internasional." lanjutnya dengan raut wajah paniknya.
Bisa habis Ibu Friska nanti kalau sampai Reyhan mengundurkan diri dari ajang perlombaan yang sudah dipersiapkan oleh sekolah. Apalagi ada dua lomba yaitu renang dan pembuatan robot yang sedang diikuti oleh Reyhan. Bahkan keduanya itu bukan ajang event Nasional, tapi Internasional. Reyhan hanya mengedikkan bahunya acuh. Jika memang semua piala itu tidak dibutuhkan, lebih baik dia fokus saja pada pelajaran yang masuk dalam Ujian Nasional.
"Reyhan mau belajar matematika aja biar nggak dibilang otaknya kosong. Nanti bilang sama kepala sekolah ya, Bu. Saya mengundurkan diri dari lomba robot dan renang. Alat dan perlengkapan kemarin yang sudah disiapkan, buang aja." ucap Reyhan yang langsung berdiri kemudian pergi dari ruang BK.
"Woah... Abang leyhan ngambek. Syukulin... Sekolah ini ndak akan juala lagi tanpa Abang leyhan," ucap Elova dengan ledekannya kemudian menyusul Reyhan keluar.
"Maaf saya menyela, Pak Dayat dan Ibu Friska. Seharusnya Pak Dayat sebagai guru memberikan motivasi dan support agar siswa tersebut bisa ikut lomba baik dalam bidang akademik atau bukan. Tidak semua anak-anak mempunyai minat atau menyukai hal yang berkaitan dengan akademik. Contohnya Reyhan yang lebih menyukai hal di luar akademik yaitu membuat robot dan renang," ucap Aluna sambil menghela nafasnya pelan.
"Saya paham kalau matematika dan mata pelajaran itu penting untuk sekolahnya. Namun jangan dipaksa sekeras itu sampai dibuat mentalnya down. Kami sebagai orangtua juga paham kok kalau bidang akademik pun penting. Namun jujur saja, kami sebagai orangtua akan mengarahkan anak untuk mempunyai cita-cita sesuai dengan minatnya. Jika memang sekolah ini tidak bisa mendukung minat dari siswanya, kami akan memindahkan Reyhan ke sekolah lain." lanjutnya.
"Benar. Kami selaku orangtua pasti akan mengajari dan mendampingi Reyhan untuk belajar. Entah itu di bidang akademik atau non akademik. Namun jika sekolah ini tidak mendukung atau mempermasalahkan minat Reyhan di bidang non akademik, saya akan memindahkan dia. Mumpung ini masih awal semester," tambah Bian dengan keputusannya.
Ibu Friska tambah pusing dengan keputusan dari orangtua Reyhan. Masalah yang awalnya sepele karena Reyhan jarang masuk pelajaran matematika, malah melebar karena omongan tak terkontrol dari Pak Dayat. Jika sampai kepala sekolah atau pendamping event kejuaraan mendengar, mereka pasti akan heboh. Pak Dayat sendiri langsung terdiam dan bingung harus bagaimana. Egonya tersentil tapi masih tinggi.
"Kita bisa diskusikan permasalahan ini baik-baik Pak, Bu. Jangan dulu pindahkan Reyhan dari sekolah ini. Kami sangat mendukung pencapaian dan minat dari setiap siswa baik itu dari bidang akademik atau bukan. Ini hanya kesalahpahaman saja," ucap Ibu Friska dengan pelan.
"Pak Dayat, lebih baik anda minta maaf atas ucapan Bapak pada Reyhan dan orangtuanya." lanjutnya sambil menatap pada Pak Dayat dengan tatapan permohonan.
"Tidak hanya Reyhan yang mentalnya dibuat down begini karena tak pintar dalam bidang akademik, Bu. Melainkan teman-temannya yang lain juga. Kami memang bukan dari keluarga kaya, tapi tolong jangan dibuat sebagai alasan untuk menyerang anak. Kemiskinan ini murni kesalahan kami sebagai orangtua, bukan Reyhan. Jadi jangan pernah menghina anak yang kurang mampu dalam segi ekonomi," ucap Aluna sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kami permisi..." Bian memilih mengajak Aluna pergi. Pasalnya Pak Dayat pun tak ada niatan untuk meminta maaf atau memberi klarifikasi.
Pak Bian...
Bu Aluna...
Waduh...
Pak Dayat gimana sih? Saya akan laporkan ini pada kepala sekolah,
***
Elova dengan gaya sok dewasanya mendekati Reyhan kemudian menepuk punggungnya. Seakan tengah menguatkan Reyhan. Terlihat sekali jika Reyhan begitu kesal karena tak terima dengan ucapan dari Pak Dayat. Dia tidak akan mau lagi ikut lomba apapun yang berkaitan dengan sekolah ini. Baginya yang penting lulus dari sekolah ini. Masalah belajar, dia sudah sepakat untuk ikut les sesuai dengan saran dari orangtuanya.
"Ndak usah sedih. Abang tuh halusnya senang lho. Ndak capek lagi, pulang sole telus kalau ikut lomba. Pokoknya bisa santai kaya di pantai, pulangnya siang. Nanti bisa jalan-jalan telus cali jajan," ucap Elova menghibur Reyhan.
"Abang bisa temani Lopa telus. Soalnya Lopa suka kesepian kalau ndak ada Abang. Senangnya hati Lopa," lanjutnya. Reyhan menatap adiknya yang tengah membayangkan harinya akan dilalui bersama dirinya jika dia tidak sekolah.
"Apa Abang nggak sekolah aja ya? Di rumah terus kaya Lova," ucap Reyhan tiba-tiba.
"Benal, ndak usah sekolah aja sih. Papa kan olang kaya tujuh tulunan selatus tanjakan. Santai aja," ucap Lova setuju dengan ide dari Reyhan.
Hahaha...
Keduanya malah tertawa saat mendengar ide yang baru saja diungkapkan. Tidak sekolah dan hanya menikmati harta dari Papanya. Lagi pula dia mungkin bisa langsung kerja saja, membantu Bian. Namun orangtuanya pasti tidak setuju karena Bian adalah orang yang sangat mengutamakan pendidikan. Tak berapa lama, tiga orang siswa seumuran Reyhan mendekat ke arah keduanya. Mereka adalah Tama, Aldo, dan Rizky.
"Reyhan, beneran kamu punya Ibu tiri?" tanya Tama dengan tatapan penasarannya.
"Iya. Kenapa emang? Apa ada yang salah? Telutama kamu tuh, mukanya sinis banget. Apa yang salah sama Ibu tiliku itu? Dia baik," ucap Elova dengan tatapan menyelidik ke arah Rizky. Entah kenapa, Elova tak suka dengan ketiga teman Reyhan ini.
"Kamu siapa sih? Ganggu banget orang lagi ngomong," ucap Rizky dengan ketus.
"Dia adikku," ucap Reyhan yang langsung menggenggam tangan Elova.
"Ndak usah temenan sama meleka, Abang. Nanti Abang kena pengaluh buluk," seru Elova melarang Reyhan untuk berteman dengan ketiganya.
Ketiga teman Reyhan itu sampai mengepalkan kedua tangannya karena kesal mendengar ucapan Elova. Apalagi Elova mengatakan bahwa mereka bisa berpengaruh buruk pada Reyhan. Mungkin jika Elova bukan perempuan dan anak kecil, mereka sudah memukulnya. Reyhan menatap ketiga temannya yang tengah melihat ke arah adiknya dengan tajam.
"Jangan lihatin adikku begitu atau aku colok mata kalian," seru Reyhan memberikan peringatan.
"Colok aja pakai tusukan besi sate itu lho, Abang." ceplos Elova membuat mereka membulatkan matanya.
"Padahal niat kita itu baik, Reyhan. Kita ke sini untuk memperingatkanmu biar tidak asal menerima Ibu tiri. Apalagi Ibu tirimu itu buta," ucap Rizky ingin memanas-manasi Reyhan.
Matanya buta, tak menutup kemungkinan hatinya juga.
Jangan pelcaya meleka, Abang. Hati Ibu Aluna sangat baik,
bagus bagus, biar mereka malu tuh🤣
apalagi captionnya menyebutkan makanan basi, pasti mereka bakalan dihujat itu🤣🤣