~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Dus Tanpa Label (Revisi)
“Ini bukan dus, Ras. Ini tiga tahun hidupmu.” Suara Sekar serak di atas tumpukan kertas yang baru saja ia keluarkan dari dalam kardus.
Pendapa belakang dalem sudah sepi. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh, Sabtu malam, dan lampu gantung menyisakan cahaya kuning di meja jati. Tali rafia yang membelit dus itu tergeletak putus di lantai.
“Sudah kubilang jangan dibuka, Sekar.”
“Aku nggak buka sendirian. Kamu yang nyuruh aku duduk, kan?” Sekar menyeka pipi dengan lengan baju. “Sebelum kamu marah, aku lapor dulu. Rumah gelap. Garasi kosong. Kuncinya ada di bawah pot kamboja, persis seperti kata kamu.”
“Tidak ada yang melihat?”
“Cuma kucing. Pot kambojamu kering banget, Ras. Daunnya layu, kayak sudah sebulan nggak disiram.”
“Biasanya kusiram dengan teh dingin.” Raras tersenyum miring, getir. “Mas Danang yang menyiramnya setelah Senin?”
“Kayaknya nggak ada yang menyiram siapa-siapa.”
Raras mengambil lembar paling atas. Kertas nota berkop sederhana, tulisan tangan Pak Hadi yang rapi dan miring ke kanan. Di sudutnya ada cap kecil dan satu baris tambahan: Atas dhawuh Mbak Raras.
“Ini apa?” tanya Sekar.
“Nota tenggang. Empat puluh lima hari untuk pembelian Mas Danang bulan Maret tahun lalu.”
“Empat puluh lima?” Sekar membelalak. “Pembeli lain berapa lama?”
“Tiga puluh hari, itu pun harus pakai jaminan bank.” Raras membuka nota berikutnya. “Ini prioritas panen. Ini potongan angkut. Ini kiriman yang dipercepat waktu Mas Danang hampir terlambat memenuhi kontrak.”
“Semuanya atas dhawuh Mbak Raras?”
“Semuanya.”
“Dan dia nggak tahu?”
“Tidak.”
“Ras.” Sekar mengangkat satu nota dengan dua jari. “Selama tiga tahun, tiap bulan kamu menyelamatkan dia lewat jalan belakang, lalu kamu diam saja?”
“Itu aturanku, Sekar.” Raras menarik selembar kertas bergaris yang terselip di dasar dus. Tulisan tangannya sendiri, tegas dan terlalu bersemangat. “Empat larangan. Aku menulisnya pada tahun pertama.”
“Baca.”
“Satu, jangan menyebut nama Pramesti di rumah itu.” Suaranya mendatar. “Dua, jangan membetulkan Mas Danang di depan orang. Tiga, jangan menagih terima kasih.”
“Empat?”
Raras membaca baris terakhir sebelum bisa menjawab. “Jangan membuat dia merasa berutang.”
Sekar membuang napas keras. “Itu bukan larangan. Itu cara kamu menyembunyikan diri.”
“Mungkin.”
“Pak Surya menyebut bapakmu orang kampung di depan semua orang, dan kamu diam gara-gara larangan nomor satu?”
“Aku diam karena larangan nomor satu.” Raras menunduk. “Dan itu yang paling kusesali. Bukan karena aku ingin pamer. Diamku membuat mereka merasa benar.”
“Dulu aku menyebut itu kasih sayang.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku menyebutnya kesalahan.” Raras menaruh kertas itu di meja, jemarinya gemetar. “Orang yang tidak tahu dirinya ditolong tidak akan belajar menolong dirinya sendiri. Aku kira aku sedang menjaganya. Ternyata aku mengajarinya bahwa semua bisa didapatkan gratis.”
“Itu bukan salahmu sendiri.”
“Pak Hadi mencatat semuanya secara resmi, Sekar. Tidak ada yang disembunyikan dari pembukuan. Tidak ada aturan yang dilanggar. Aku hanya tidak pernah memberi tahu Mas Danang.”
“Jadi, semuanya sah?”
“Sah. Itu sebabnya aku bisa mencabut keringanan itu tanpa menyentuh apa pun yang bukan milikku.”
“Pak Hadi nggak pernah menolak mencatatnya begitu?”
“Pernah. Tahun kedua. Dia bilang, ‘Mbak, nyuwun pangapunten, kula wedi (maaf, Mbak, saya takut).’ Dia takut suatu hari Mas Danang tahu dan merasa dibohongi.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku bilang itu tanggung jawabku, bukan tanggung jawab Bapak.” Raras menutup mata sebentar. “Sekarang Pak Hadi harus menjawab telepon Pak Joko sendirian.”
“Tapi ada bagianku, Sekar. Aku juga harus bertanggung jawab atas bagianku.”
“Ndoro?” Mbok Jinem muncul dari balik pintu pendapa dengan nampan dan dua gelas wedang. Matanya menyapu kertas-kertas di meja, lalu wajah Raras. “Wis bengi, Ndoro. Wedange sampun anget (sudah malam, Ndoro. Wedangnya sudah hangat).”
“Matur nuwun, Mbok.”
“Mbok mboten ndelok napa-napa (Mbok tidak melihat apa-apa).” Ia meletakkan gelas dan mundur. “Kula wonten ing dapur (saya di dapur).”
Sekar menunggu sampai langkah itu menjauh. “Itu cara Mbok bilang dia sayang sama kamu.”
“Aku tahu.” Raras menarik buku hitam kecil dari dasar dus. Sampulnya lusuh dan sudut-sudutnya melengkung karena terlalu sering dibuka. “Ini buku pertamaku.”
“Boleh baca?”
“Satu halaman saja.”
“Kenapa cuma satu?”
“Karena kalau dua, aku tidak akan berhenti.”
Raras membuka bagian tengah buku, lalu membaca dengan suara yang tidak ia kenal. “Sebelas Mei. Kontrak pertama ditolak. Mas Danang duduk di teras sampai subuh. Hujan deras. Jangan ditanya. Wedang jahe, taruh di sebelahnya.”
Sekar tidak berkata apa-apa. Matanya merah, dan ia mengulurkan tisu dari tas tanpa melihat.
“Aku masih ingat bau hujan malam itu,” lanjut Raras. “Dia bilang cuma aku yang tidak memaksanya bercerita.”
“Halaman sebelahnya?”
“Jangan, Sekar.”
“Aku sudah lihat. Dua Maret, hari ulang tahunmu.” Sekar membaca keras-keras, tanpa tega. “‘Mas Danang lembur. Makan nasi kuning sendiri. Kirim fotonya ke Sekar, bilang enak.’ Itu nasi kuning yang kamu foto, Ras. Aku bilang kamu lucu karena makan sendirian.”
“Waktu itu aku memang lucu.”
“Waktu itu kamu sedih, dan aku nggak sadar.”
“Aku tidak bilang sedih, jadi itu bukan salahmu.”
“Kamu masih sayang dia, kan?”
“Masih.” Raras menahan sudut bibir yang bergetar. “Itu yang paling menyebalkan. Aku bisa marah, bisa menolak, bisa menutup pintu. Tapi aku tidak bisa berpura-pura buku ini tidak pernah ditulis.”
“Jadi, kamu mau apa dengan dus ini?”
“Menyerahkannya.”
“Ke Danang?” Sekar hampir menjatuhkan gelasnya. “Setelah semua yang terjadi? Dia bisa salah paham, Ras. Dia mungkin mengira kamu minta balas budi.”
“Aku tidak minta apa-apa.”
“Itu yang dia tidak akan percaya.”
“Mungkin. Tapi kalau aku membiarkan dia menemukannya sendiri di lemari itu, dia akan membacanya dalam keadaan marah.” Raras merapikan nota menjadi satu tumpukan. “Kalau aku yang menyerahkan, dia bisa membacanya dengan malu. Malu mungkin membuat orang berpikir. Marah cuma membuat orang mencari siapa yang harus disalahkan.”
“Itu keputusan berat, Ras.”
“Itu keputusan yang jujur, Sekar. Bedanya cuma dua kata.”
“Kapan?”
“Belum kutentukan. Tapi bukan lewat Pak Surya, bukan lewat pengacara, dan bukan lewat orang ketiga.” Raras mengambil ponselnya. “Aku akan menyerahkannya sendiri.”
“Kamu mau menelepon dia sekarang?”
“Tidak. Aku cuma mau mengirim satu pesan supaya dia tahu dus ini aman.”
“Aman dari siapa?” Sekar mengernyit. “Dari Pak Surya?”
“Dari semua orang yang akan menafsirkannya sebelum dia sempat membaca. Dari Ibu, dari Bapak, dari pengacara, dari Niken. Dari aku juga, kalau aku salah menyusun kata.”
“Kamu takut salah menyusun kata?”
“Aku takut terdengar seperti orang yang menang, Sekar. Aku tidak mau ini jadi ajang pembuktian.”
Sekar menggeser kursinya lebih dekat. “Aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana malam ini. Kalau kamu mau menangis, menangis saja. Aku jaga pintunya.”
“Kamu punya jadwal besok, Sekar.”
“Jadwalku bisa dipindah. Kamu nggak bisa.”
Raras mengetik dengan jempol kiri. Jempolnya berhenti di huruf ketiga, lalu bergerak lagi sampai kalimatnya selesai: Mas, dus di lemari belakang ada padaku. Isinya milik kita berdua. Aku akan menyerahkannya sendiri.
Ia membacanya dua kali. Di layar, nama Danang masih tertulis sama seperti tiga tahun lalu, tanpa foto, hanya nama.
“Kirim,” bisik Sekar.
“Sebentar. Kalau terkirim, dia akan tahu kunci itu sudah tidak ada di tempatnya.”
“Terus?”
“Dia akan tahu aku sudah masuk ke rumah itu tanpa dia.” Raras mengembuskan napas. “Aku belum siap melihat wajahnya waktu membaca pesan itu.”
Ibu jarinya sudah menyentuh panah ketika bunyi singkat memecah keheningan pendapa. Di bagian atas layar, di bawah nama yang sama, muncul tulisan kecil yang ia kenal sampai ke bentuk hurufnya.
Danang sedang mengetik…
Raras menahan napas. Sekar memegang lengannya.
Tiga titik itu bergerak, berhenti, lalu bergerak lagi. Satu menit. Dua menit. Lalu tiba-tiba hilang, meninggalkan layar kosong dan pesan Raras yang belum terkirim di kolom bawah.
“Dia sedang menulis pesan buat kamu,” kata Sekar.
“Dia menghapusnya.”
“Berarti kalian sama-sama menghapus.” Sekar menelan ludah. “Menurutmu, dia mau bilang apa?”
“Aku tahu kalimat pertamanya. ‘Ras, aku cuma mau tanya satu hal.’ Selama tiga tahun, dia selalu mulai begitu kalau sedang takut.” Raras tersenyum tipis. “Dan dia selalu batal bertanya.”
“Ras, kamu tetap mau mengirim pesanmu?”
“Kalau kukirim sekarang, aku melakukannya karena takut sepi, Sekar. Bukan karena sudah yakin.”
“Lalu?”
“Jadi, aku tidak akan mengirimnya.”
Raras mengangkat jempolnya dari panah itu. Lalu, satu per satu, ia menghapus setiap huruf pesannya sampai kolom itu kosong, persis seperti kolom milik Danang.
lanjuut
🙏💪