Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangkuk es krim
"Bryan," panggil pemuda itu dengan senyum ramah, mengulurkan tangannya di hadapan Celeste. "Aku sepupunya Kak Lucian."
Celeste menyambut jabatan tangan itu dengan sopan. "Celeste."
Bryan tersenyum makin lebar, matanya berbinar antusias. "Aku tahu! Maksudku... aku mengenalmu, kakak ipar. Kamu sahabatnya Kak Roxy, kan? Aku ini sahabat dekatnya Alister, adiknya Kak Roxy!"
Mendengar nama Alister disebut, rasa tegang yang sempat menghimpit dada Celeste seketika menguap. Ia menghela napas lega dalam hati. Jadi panggilan 'Queen' atau raut terkejut Bryan tadi bukan karena rahasia kelam, melainkan sekadar lingkar pertemanan yang saling terhubung.
"Ah... kamu temannya Alister?" sahut Celeste mengangguk-angguk ramah. "Salam kenal, Bryan."
Deg!
Celeste tersentak pelan saat merasakan remasan ringan di pinggulnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati wajah Lucian mendadak tampak begitu kencang dan dingin. Tanpa bersuara, Lucian mendorong pelan pinggul Celeste agar melangkah menuju meja makan.
Bryan yang melihat interaksi itu hanya mendengus geli. Ia paham betul tabiat kakak sepupunya yang sedang diselimuti rasa cemburu hanya karena istrinya mengobrol dengan pria lain, bahkan meski pria itu adalah sepupunya sendiri. Pria-pria di keluarga St. Claire memang memiliki sifat protektif dan possessive yang mendarah daging jika menyangkut pasangan mereka.
Mereka semua mengambil tempat duduk di sekitar meja makan panjang yang bertabur lampu kristal. Tiba-tiba, langkah kaki kecil bergema riang. Sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan berusia 4 tahun berlari masuk sambil berpegangan tangan, diikuti seorang pengasuh wanita dari belakang.
"Mommy, Daddy!"
Kedua bocah itu langsung menghampiri Dominic. Seketika, raut wajah Dominic yang tadinya dingin dan mengerikan meleleh menjadi begitu hangat. Pria itu mengangkat kedua buah hatinya dengan lembut untuk duduk di kursi khusus anak.
Celeste terpana melihat pemandangan itu. Pria sekejam Dominic pun bisa mencair begitu di hadapan keluarganya. Ia lalu melirik Lucian yang duduk tenang di sisinya. Namun, Celeste menyadari satu hal, anak-anak di ruangan ini tampak segan dan tidak berani mendekati suaminya. Lucian duduk bagai patung es yang disegani, tanpa ada keponakan yang berani bermanja-manja padanya.
Apa semenyeram itu suaminya?
Usai kepatuhan do'a yang dipimpin oleh Reginald, jamuan makan malam dimulai dengan tenang. Rumah ini terasa begitu hangat dan harmonis, membuat Celeste sempat merasa beruntung bisa menjadi bagian di dalamnya.
Namun, senyum di bibir Celeste perlahan surut saat tatapannya jatuh pada hidangan steak di piringnya. Orang-orang di sekitarnya memotong daging tebal itu dengan begitu lihai dan anggun. Bahkan anak-anak kecil di meja itu memegang pisau dan garpu dengan sangat profesional.
Celeste mematung. Jemarinya meremas gagang pisau dengan kuat. Tidak ada seorang pun yang pernah mengajarinya tata cara makan ala bangsawan. Mamanya di rumah hanya mendidik Caelia dan Valerie, sementara Celeste selalu dikurung dan dianggap tak perlu belajar hal-hal seperti itu karena hanya menjadi penghuni rumah.
Rasa kaku dan malu mulai merayapi dadanya. Celeste memperhatikan gerakan tangan orang lain, mencoba menirunya, namun gerakannya terasa kikuk.
Srek.
Tiba-tiba, piring steak di hadapan Celeste terangkat. Lucian menukarnya dengan piring miliknya yang berisi potongan daging yang sudah terpotong rapi dengan ukuran sempurna.
"Melihatnya saja tidak akan membuatmu kenyang, Este-ku," bisik Lucian rendah tepat di samping telinganya.
Dia bicara lagi?
Celeste tersentak kaku. Anggota keluarga yang lain sama sekali tidak terkejut mendengar Lucian bersuara, mereka tetap fokus menikmati hidangan seolah hal itu sudah biasa. Saat Celeste menoleh, ia menangkap senyum miring nan tipis terpancar dari wajah tampan suaminya.
"Terima kasih, Ian..." gumam Celeste pelan, dadanya kembali menghangat.
Usai jamuan makan malam, para dewasa berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol. Sementara itu, anak-anak kecil berlarian menuju sudut ruangan yang menyediakan mesin es krim otomatis.
Celeste yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati matanya tertuju ke arah mesin es krim tersebut. Tanpa sadar, langkah kakinya berjalan mendekat. Sejujurnya, Celeste sangat ingin mencicipi es krim itu, namun ia merasa malu karena hanya anak-anak yang berkumpul di sana.
Melihat cup-cup es krim berkilau itu mendadak menerbangkan ingatan masa kecilnya yang pahit. Dulu, mesin es krim di rumah Delacroix hanya diperuntukkan bagi Caelia. Celeste tidak pernah diizinkan menyentuhnya. 'Pembawa sial tidak berhak makan es krim,' begitu kalimat yang selalu terngiang.
Rasa sedih perlahan menggerogoti hatinya. Celeste menunduk, mengusap ujung matanya yang mendadak berair.
Saat ia berniat balik kanan untuk kembali ke ruang keluarga, tubuhnya menabrak dada tegap seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Aroma parfum kayu yang elegan dan familiar langsung menyapa indra penciumannya.
"Jika kamu menginginkannya, silakan diambil," bisik suara bariton Lucian yang hangat di atas kepalanya.
Celeste menggeleng pelan dengan wajah memerah. "Malu, Ian... cuma anak-anak yang makan."
Lucian terkekeh tipis tanpa suara. "Siapa bilang hanya anak-anak? Lihat, Bryan saja sudah menghabiskan dua cup."
Celeste menoleh dan benar saja, Bryan tampak begitu asyik menikmati cangkir es krim ketiganya tanpa beban. Celeste menelan ludah kasar, rasa inginnya kian memuncak.
Lucian lalu melangkah maju, menatap para keponakannya dengan raut wajah tegasnya. "Anak-anak, tolong bergeser sebentar. Auntie kalian juga ingin makan es krim."
Mendengar suara sang paman, bocah-bocah kecil itu langsung bergeser memberi ruang dengan wajah segan sekaligus penasaran.
Wajah Celeste membara merah padam akibat rasa malu. "Lucian...!" bisiknya tertahan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Lucian mengambil satu cup es krim rasa vanila-cokelat, mengisi puncak cone-nya dengan sempurna, lalu menyodorkannya pada sang istri. Celeste menerima es krim itu dengan canggung sebelum akhirnya mencicipi sendok pertamanya. Rasa manis yang lembut seketika memanjakan lidahnya, membuat Celeste tersenyum lebar menikmati es krim itu persis seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
Lucian menunduk mendekati telinga Celeste, merapatkan tubuhnya dari belakang hingga Celeste menegang kaku saat mendengar bisikan pria itu:
"Sekarang giliranmu yang memberiku imbalan manis nanti malam, Este-ku..."