Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas F
Adrian duduk bersandar santai di sofa ruang kepala sekolah. Satu tangannya memegang segelas es kopi, sementara kakinya disilangin tanpa beban. Mukanya terlihat lempeng, seperti sudah terbiasa dengan situasi ini.
Ceklekk. Pintu ruangan kebuka.
Kepala sekolah masuk dengan napas agak ngos-ngosan. Begitu matanya melihat Adrian, dia langsung memperbaiki letak kacamata dan buru-buru membungkuk kecil.
“Tuan muda Adrian? Waduh, tumben datang nggak ngasih kabar dulu.”
Adrian cuma hanya tersenyum tipis, kelihatan sopan tapi formalitas doang. “Aku cuma mau bahas hal yang sering Ketua Setiawan omongin keayahku . Soal proyek institut riset di Akademi Bintang Terang.”
Mendengar itu, wajah kepala sekolah langsung berubah serius sekaligus tegang.
“Oh, soal itu... Bentar. Asisten!” panggilnya setengah teriak.
Seorang asisten yang dari tadi menunggu di luar langsung buru-buru masuk menghampiri kepala sekolah.
“Ambil semua berkas soal lahan, berkas perizinan dan draf rancangan institut itu. Cepetan ya, jangan pakai lama.”
“Baik Pak!” Asisten itu langsung keluar.
Adrian menyeruput minumannya dengan santai. Sementara kepala sekolah yang duduk di depannya malah kelihatan semakin salah tingkah.
“Institut riset itu... bakal bawa perubahan cukup besar buat sekolah kita,” ucap kepala sekolah, mencoba mencairkan suasana.
“Perubahan besar selalu butuh orang yang bener-bener becus buat ngendaliinnya,” sahut Adrian dingin. “Makanya, aku mau memantau langsung gimana kondisi sekolah ini.”
Sementara itu, suasana di kelas F malah berbanding terbalik. Nggak ada yang peduli tentang sekolah mereka lagi kedatangan tamu penting dan segera dapet proyek lumayan besar.
Ana yang asyik membuka buku paketnya. Di bangku sebelah, dan Fila lagi melototin layar laptop sambil ngelus jidatnya yang mengkerut. Gadis itu bahkan memperbaiki kacamatanya beberapa kali sebelum akhirnya ngeguman pelan, “Baris kode 365. Transmisinya eror.” Ucap Ana ngelirik sekilas ke layar laptop Fila.
“Coba kamu input ulang bagian paling bawah. Tuh ada satu simbol yang ketuker.”
Fila mencoba menuruti omongan Ana. Jarinya langsung menari di atas keyboard. Nggak butuh waktu lama, layar laptopnya langsung kembali normal.
“Berhasil,” gumam Fila. Gadis itu melihat ke Ana sambil senyum.
“Makasih ya.”
“Santai.”
Seorang siswi yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka langsung melotot kaget. “Eh, bentar... Aku nggak salah denger kan? Si Fila barusan bilang makasih ke Ana?”
Bisik-bisik langsung kedengaran dari beberapa meja sekitar. Masalahnya, Fila itu terkenal sebagai Gadis kuper yang irit ngomong. Biasanya nggak penting-penting amat, dia nggak bakal mau buka suara.
Tapi sebelum gosipnya makin melebar, seorang siswi berambut pirang langsung berdiri dan jalan menghampiri meja Ana.
“Heh, Ana. Aku mau nanya.”
“Apa?” sahut Ana males-malesan.
Siswi itu melipat tangan di dada, menatap Ana dengan pandangan merendahkan. “Aku denger gosip katanya kau abis digilir ya? Beneran? Gila sih kalau emang bener, kok masih punya muka buat dateng ke sekolah?”
Detik itu juga, tawa langsung pecah di pojokan kelas. Beberapa siswa bahkan sampai siul-siul ngeledek.
Ana menutup bukunya pelan. Nggak ada riak emosi di wajahnya.
“Kalau nggak punya bukti mending diem deh, nggak usah bacot. Ntar mulutmu malah bawa petaka buat dirimu sendiri.”
Muka siswi itu langsung merah padam karena ngerasa ditantang. “Ana! Kau pikir kau siapa, hah?! Berani banget ngomong begitu ke aku!”
Siswi itu langsung maju, tangannya sudah siap ingin dorong bahu Ana. Tapi gerakan Ana jauh lebih cepet. Dengan satu sapuan kaki yang presisi, Ana membuat keseimbangan gadis itu hilanh.
Belum sempat gadis itu melawan dia sudah ambruk ke lantai, telapak kaki Ana sudah menahan pundaknya duluan, membuat posisinya tertahan dengan cara yang memalukan.
“Kalau di rumahmu nggak ada yang ngajarin sopan santun,” ucap Ana dingin tatapannya menusuk, “biar aku yang ajarin di sini.”
“Lepasin aku, bangsat!” teriak gadis itu sambil memberontak.
Melihat hal itu, salah satu siswa langsung berdiri berniat membantu temennya. Tapi Ana langsung menarik kakinya, memutar badannya, dan memberikan tendangan telak pas di bokong siswa itu.
Bugh! Dia langsung jatuh tersungkur di samping meja.
Ana berdiri tegak, lalu dengan santai memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Aku males ribut sama temen sekelas. Tapi kalau drama murahan kayak gini kepancing lagi, aku nggak bakal segan-segan.”
Siswa yang jatuh tadi langsung mengangkat wajahnya dengan mata melotot marah. “Ana, kamu bener-bener—”
Baru aja dia mau ngelangkah maju ingin membales dendam tiba-tiba Yudi, yang dari tadi cuma diem sambil membaca buku di pojokan, langsung ngelirik tajam. Tatapan mata Yudi cukup dingin, tipe tatapan yang siap ngehajar orang kapan aja.
Detik itu juga, langkah siswa itu langsung terkunci. Dia ciut.
Ana melihay Yudi sejenak.
Oh, jadi dia bosnya di kelas F ini, batin Ana. Cuma modal tatapan doang sudah bisa bikin orang mati kutu.
Yudi menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya, seolah sadar kalau dia lagi diperhatiin Ana.
Ana nggak perlu ambil pusing. Dia langsung balik badan dan berjalan keluar kelas begitu saja.
Fila cuma bisa menatap pintu kelas yang baru saja dilewati Ana dengan pandangan takjub
. “Gila... aku nggak nyangka dia bisa sekuat itu.”
Sementara itu, siswi yang tadi diusilin Ana langsung menengok ke arah Yudi dengan muka kesel. “Yudi! Kenapa malah belain dia sih?!”
Dia hanya menunjuk ke arah Fadil yang lagi sibuk megangin bibirnya yang agak lebam. “Tuh lihat, to tadi juga abis ngehajar Fadil kan!”
Fadil yang ditunjuk langsung buru-buru mengangkat tangan sambil menyengir. “Eh, jangan bawa-bawa aku. Tadi itu bukan berantem, elah. Cuma latihan tanding doang.”
“Iya,” sahut Yudi dan mulai beranjak dari kursinya. “Cuma latihan tanding.”
Yudi berjalan santai ke arah pintu kelas, dia melirik sekilas ke arah Fadil. “Dil, ambilkan tisu.”
Fadil mengedipkan mata, sedikit bingung. “Siap, Bos. Tapi bentar dia kenapa dah? Jangan-jangan... selangkangannya kejepit pas berantem tadi?”
Langkah Yudi langsung berhenti di ambang pintu.
Sedetik kemudian, aura di sekitar Yudi langsung berubah sedikit gelap.
Fadil yang sadar dengan omongannya barusan yang sudah kelewat batas langsung pucat. “Eh, bentar, Yud... jangan dianggap serius—”
Nggak pakai ba-bi-bu, Yudi langsung lari keluar mengejar Fadil.
“Waduh, mampus! Jangan marah, Yudi! Aku cuma bercanda!” teriak Fadil panik sambil berlari keluar kelas.
Setelah dua orang sarap itu pergi, suasana kelas F pelan-pelan kembali ke setelan pabrik. Ada yang lanjut bermain laptop, ada yang lanjut ngegosip, dan ada juga yang langsung tidru berbantalkan lengan di atas meja. Nggak ada satu pun yang niat peduli sama keributan barusan.
Tapi di luar kelas, langkah Yudi kedengaran semakin cepet.
Dari ujung koridor yang agak sepi, Ana yang lagi berjalan sendirian bisa medenger suara teriakan histeris Fadil yang makin menjauh.
“Yudi!! Ampun, Yud!! Aku cuma bercanda asliii!”
Ana menoleh sekilas ke belakang.
Bukannya kesel, senyum tipis malah terukir di wajah cewek itu.
Ternyata masuk Kelas F nggak seburuk yang dia kira. Malah jauh lebih seru.